Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Religi » Riak Ombak di Tepian Pulau Waibalun Flores Timur

Riak Ombak di Tepian Pulau Waibalun Flores Timur

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 21 Apr 2019
  • visibility 159
  • comment 0 komentar

Loading

Larantuka-NTT, Garda Indonesia | Sebait sajak tak berjudul mengawali tulisan kecilku ini. Tulisan yang akan menggambarkan indahnya alam kampungku dengan pesona Pulau kecil di laut sana, Pulau Waibalun namanya.

Riak ombak menari di tepian pantai…
Suara merdu burung membahana membelai sunyi…
Angin pantai cumbui dedaunan hijau pewarna nusaku…
Deru dan menderu melanda sunyi di sekujur tubuh pulauku…
Debur dan mendebur sepanjang lorong waktu dari masa ke masa.

Tentunya tidak asing bagi warga Kota Larantuka dan Warga Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur,  karena letak pulau ini yang seolah-olah menjadi bidadari mungil di tengah laut yang bisa dilihat dari Pulau Adonara, Pulau Solor dan Pulau Flores.

Jika anda dari Kupang menggunakan Kapal Fery maka samar-samar tampak pulau Waibalun ketika kapal mulai memasuki kawasan perairan Solor. Demikian juga jika anda dari Kota Makasar ketika memasuki Selat Larantuka, akan tampak pesona Pulau Waibalun menyambut hadirnya para tamu di kota kecil Larantuka; sang bidadari kecil ini menjadi primadona di tengah laut kampungku, Waibalun.

Aku teringat akan kenangan indah di masa kecil, bermain bersama teman-teman ketika pulang sekolah. Merengkuh dayung dan berlomba bersama ombak agar segera tiba ke tepian pantai berpasir hitam di pulau waibalun.

Kami begitu kompak dan bersemangat, meski kadang ada gelombang dan arus yang mencoba menguncang perahu kecil kami (*perahu=tena, dalam bahasa daerah) tradisional milik ayah seorang temanku

Perahu sederhana yang terbuat dari kayu pohon mangga dan dilengkapi dengan kayu bambu sebagai alat keseimbangan perahu pada badan sebelah kiri dan kanannya, yang dalam bahasa daerah Waibalun disebut ‘eler’.

Dua orang teman laki-lakiku semasa SD kala itu, ditugaskan mengayuh dayung. Kami, kaum wanita menyanyikan lagu untuk memberi semangat pada sang pengayuh dayung; tidak sampai 15 menit kamipun berlabuh di tepian pantai Pulau Waibalun. Segera kami bergegas turun, serpihan sinar matahari sore membias hingga ke seluruh isi pulau ini, pohon, tanah, dan tentunya hewan penghuninya.

Ada beberapa jenis burung, kera hutan dan ular laut yang dalam bahasa waibalun disebut ‘haring’ dan dalam bahasa ilmiahnya disebut hydrophinae. Ular laut ini tergolong dalam ular berbisa yang memiliki warna kulit yang khas, berwarna hitam putih bak zebra cross di jalanan. Kebanyakan ular laut jenis ini menjadi penghuni laut laut pulau kecil di seantero perairan planet kita ini.

Pulau Waibalun di Flores Timur

Aku tercengang menatap bisu, sunyi sepi di alam sekeliling kami. Hanya sesekali terdengar bunyi ombak memecah sunyi ketika riak gelombang mencumbui bibir pantainya. Oh..indahnya alamku, angin laut bagaikan menyapu lembut pada setiap wajah pendatang dan tamu pulau.

Suara-suara alam menyapa dari balik bebatuan alam, batu karang berbagai bentuk dan ukuran terhampar di sepanjang pantai pulau ini.

Aku terkesima…, sepertinya batuan ini merupakan batuan endapan dari letusan gunung berapi pada ratusan tahun lalu. Batu karang yang eksotis, menurutku. Air laut yang jernih tentunya mengundang rasa ingin segera mandi.

Sore itu, aku bersama rekan Panitia Pesta Nelayan dan mahasiswa dari Kota Kupang yang datang untuk mengikuti Kegiatan Prosesi Semana Santa di Kota Larantuka; yang dimulai dari Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Santo.

Mereka mengadakan kegiatan pembersihan di Pulau Waibalun. Dengan semangat, mereka bekerja membantu kami untuk mempersiapkan acara pada hari senin nanti, pesta nelayan yang akan diadakan ini merupakan bagian dari rangkaian “Festival Bale Nagi 2019”. Kegiatan ini menjadi ajang bergengsi tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Flores Timur.

Penulis saat berada di tepian Pulau Waibalun

Pulau Waibalun atau yang sering disebut “Nuha” oleh warga setempat merupakan pulau kecil yang memiliki kekhasan tersendiri. Jika anda sedang berada di pulau ini, perasaan damai akan muncul. Namun, anda tak boleh melakukan hal-hal yang merusak alam pulaunya, jika benar terjadi, maka anda akan mendapat teguran dari sang penghuni pulau.

Sosok halus yang tidak terlihat namun diyakini ada. Sang penjaga pulau yang merupakan sosok tak terlihat ini selalu dipercaya kehadirannya. Oleh karena itu, pada setiap tahun masyarakat setempat mengadakan ritual adat yang dilaksanakan oleh suku “Le Hadjon”.

Suku ini dipercaya secara turun temurun melaksanakan Upacara Adat “Pau Haring” atau memberi makan ular haring, Sang Penunggu Pulau. Yah…suatu tradisi yang masih dipegang teguh oleh Suku Hadjon hingga pada zaman modern seperti sekarang ini.

Tradisi yang perlu diwariskan oleh kaum muda turunan Suku Hadjon. Nenek moyang kita dulu tahu dan mengerti akan keseimbangan alam, tentang pelestarian alam. Bagaimana manusia harus benar-benar menghargai alam itu sendiri sebagai sumber hidup.

Dengan adanya ritual tersebut ,mereka tahu bagaimana rasa syukur itu selalu diucapkan. Dengan demikian, alampun akan bersahabat dengan manusia.

Laut di sekeliling Pulau Waibalun di Flores Timur kaya akan ikan, cumi-cumi, kerang atau siput dan dan beberapa sumber daya alam laut lainnya. Masyarakat setempat sering melakukan kegiatan menangkap ikan disana, juga sering mencari kerang atau siput atau dalam Bahasa Waibalun disebut “gimang”.

Aktifitas ini cukup menghabiskan energi, namun terkesan asyik dan menyenangkan. Sebulan sekali, ketika senja tiba, banyak penduduk setempat berbondong-bondong untuk mencari kerang di Pulau Waibalun. Sambil bercerita bersama keluarga dan sahabat. Hmhmm…..sungguh menyenangkan.

Bercerita bersama alam dan mendengar alam menyuguhkan suara-suara indah di balik bebatuan. Sesekali.., nampaklah makluk-makluk kecil yang mengintip dari celah serpihan karang dan terhempas bersama ombak. Sungguh suatu suasana alam yang eksotis. Begitu asyiknya hingga malam menjemput senja di Pulau Waibalun.

Alam telah memberikan kenikmatan bagi kita, sekarang bagaimana cara kita melestarikannya. Mungkin dengan aktifitas rutin sebagai warga masyarakat untuk selalu membersihkan dan merawatnya. Selain memberikan pesona alamnya, Pulau Waibalun juga diajadikan lokasi wisata rohani dengan adanya Patung Yesus Gembala Yang Baik yang terletak pada bagian atas pulau ini.

Patung ini diresmikan pada masa pemerintahan Alm. Bapak Felix Fernandez, yang kala itu menjabat sebagai Bupati Flores Timur. Inilah awal, Pulau Waibalun dijadikan salah satu destinasti wisata alam dan religi.

Jangan lupa!, untuk datang dan menghadiri Festival Bale Nagi, Pesta Nelayan pada setiap tahunnya di Pulau Waibalun. Lautku bersih, Lautku kaya. Marilah kita lestarikan demi masa depan anak cucu kita.
Semoga! (*)

Penulis (*/Helmy Tukan, Guru dan Pegiat Literasi di Kabupaten Flores Timur)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Membangun Perbenihan Tanaman Pangan di NTT

    Membangun Perbenihan Tanaman Pangan di NTT

    • calendar_month Ming, 25 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Emmanuel Richardo, S.P. Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda Anggota Ikatan Pengawas Benih Tanaman Indonesia (IPBTI) Sektor pertanian sampai saat ini masih menempati peringkat pertama dalam menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nusa Tenggara Timur (NTT)  selama kurun waktu 2015—2019 di mana setiap tahunnya berada di angka yang mendekati 30%, tanaman pangan menyumbang antara […]

  • OJK Perkuat Pembiayaan Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil

    OJK Perkuat Pembiayaan Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil

    • calendar_month Sen, 19 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Loading

    Hingga Maret 2025, kredit kepada industri TPT dan alas kaki tercatat mencapai Rp160,41 triliun, atau setara 2,03 persen dari total kredit perbankan nasional. Kontribusi Industri TPT terhadap penyerapan tenaga kerja pada 2024 mencapai 4 juta orang atau sebesar 32,79 persen dari total tenaga kerja pada industri padat karya.   Jakarta | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) […]

  • Himprosma Unimor Gelar Lomba Cepat Tepat Matematika

    Himprosma Unimor Gelar Lomba Cepat Tepat Matematika

    • calendar_month Sel, 7 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Loading

    Kefa-TTU, Garda Indonesia | Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika (Himprosma) pada Universitas Negeri Timor (Unimor) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menggelar kegiatan Lomba Cepat Tepat Matematika (LCTM). Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan bakat para pelajar tingkat SLTP dan MTS Se-Daratan Timor di bidang Ilmu Pendidikan Matematika tersebut, dilaksanakan di Aula Serba Guna […]

  • Wapres Gibran Santap di Subasuka Resto, Don Putra : Terima Kasih

    Wapres Gibran Santap di Subasuka Resto, Don Putra : Terima Kasih

    • calendar_month Ming, 11 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Loading

    Pengakuan staf Subasuka, mereka mendapat informasi dari pihak Istana bahwa nama Subasuka Resto muncul di saat-saat terakhir. Mereka membutuhkan tempat yang nyaman dan representatif untuk Wapres Gibran santap siang hari.   Kupang | Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, Rabu, 7 Mei 2025 dijamu santap siang di Subasuka Restoran Kupang. Jauh sebelumnya, sudah ada […]

  • TERPILIH AKLAMASI, Petrus Eryah Pimpin BEM FKIP Undana

    TERPILIH AKLAMASI, Petrus Eryah Pimpin BEM FKIP Undana

    • calendar_month Ming, 24 Mar 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Formatur badan legislatif mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (BLM FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) melakukan pemilihan ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) di lantai satu  kantor FKIP Undana Kupang pada Sabtu, 23 Maret 2024. Hasil dari pemilihan tersebut, Petrus Eryah mahasiswa semester lima (V) dari program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan […]

  • Padma Maluku Minta Pemerintah Siapkan Tenaga Kerja di Blok Migas Masela

    Padma Maluku Minta Pemerintah Siapkan Tenaga Kerja di Blok Migas Masela

    • calendar_month Rab, 4 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Perwakilan Pelayanan Advokasi Untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia (Padma – Indonesia) Provinsi Maluku meminta pemerintah pusat untuk menyiapkan tenaga kerja yang bisa dipakai pada saat blok migas Masela dan Blok Moa Selatan beroperasi. “Sebagai anak daerah Maluku, kami tegaskan hal itu agar pemerintah tidak hanya membangun wacana soal Migas, tetapi lupa […]

expand_less