Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Religi » Riak Ombak di Tepian Pulau Waibalun Flores Timur

Riak Ombak di Tepian Pulau Waibalun Flores Timur

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 21 Apr 2019
  • visibility 45
  • comment 0 komentar

Loading

Larantuka-NTT, Garda Indonesia | Sebait sajak tak berjudul mengawali tulisan kecilku ini. Tulisan yang akan menggambarkan indahnya alam kampungku dengan pesona Pulau kecil di laut sana, Pulau Waibalun namanya.

Riak ombak menari di tepian pantai…
Suara merdu burung membahana membelai sunyi…
Angin pantai cumbui dedaunan hijau pewarna nusaku…
Deru dan menderu melanda sunyi di sekujur tubuh pulauku…
Debur dan mendebur sepanjang lorong waktu dari masa ke masa.

Tentunya tidak asing bagi warga Kota Larantuka dan Warga Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur,  karena letak pulau ini yang seolah-olah menjadi bidadari mungil di tengah laut yang bisa dilihat dari Pulau Adonara, Pulau Solor dan Pulau Flores.

Jika anda dari Kupang menggunakan Kapal Fery maka samar-samar tampak pulau Waibalun ketika kapal mulai memasuki kawasan perairan Solor. Demikian juga jika anda dari Kota Makasar ketika memasuki Selat Larantuka, akan tampak pesona Pulau Waibalun menyambut hadirnya para tamu di kota kecil Larantuka; sang bidadari kecil ini menjadi primadona di tengah laut kampungku, Waibalun.

Aku teringat akan kenangan indah di masa kecil, bermain bersama teman-teman ketika pulang sekolah. Merengkuh dayung dan berlomba bersama ombak agar segera tiba ke tepian pantai berpasir hitam di pulau waibalun.

Kami begitu kompak dan bersemangat, meski kadang ada gelombang dan arus yang mencoba menguncang perahu kecil kami (*perahu=tena, dalam bahasa daerah) tradisional milik ayah seorang temanku

Perahu sederhana yang terbuat dari kayu pohon mangga dan dilengkapi dengan kayu bambu sebagai alat keseimbangan perahu pada badan sebelah kiri dan kanannya, yang dalam bahasa daerah Waibalun disebut ‘eler’.

Dua orang teman laki-lakiku semasa SD kala itu, ditugaskan mengayuh dayung. Kami, kaum wanita menyanyikan lagu untuk memberi semangat pada sang pengayuh dayung; tidak sampai 15 menit kamipun berlabuh di tepian pantai Pulau Waibalun. Segera kami bergegas turun, serpihan sinar matahari sore membias hingga ke seluruh isi pulau ini, pohon, tanah, dan tentunya hewan penghuninya.

Ada beberapa jenis burung, kera hutan dan ular laut yang dalam bahasa waibalun disebut ‘haring’ dan dalam bahasa ilmiahnya disebut hydrophinae. Ular laut ini tergolong dalam ular berbisa yang memiliki warna kulit yang khas, berwarna hitam putih bak zebra cross di jalanan. Kebanyakan ular laut jenis ini menjadi penghuni laut laut pulau kecil di seantero perairan planet kita ini.

Pulau Waibalun di Flores Timur

Aku tercengang menatap bisu, sunyi sepi di alam sekeliling kami. Hanya sesekali terdengar bunyi ombak memecah sunyi ketika riak gelombang mencumbui bibir pantainya. Oh..indahnya alamku, angin laut bagaikan menyapu lembut pada setiap wajah pendatang dan tamu pulau.

Suara-suara alam menyapa dari balik bebatuan alam, batu karang berbagai bentuk dan ukuran terhampar di sepanjang pantai pulau ini.

Aku terkesima…, sepertinya batuan ini merupakan batuan endapan dari letusan gunung berapi pada ratusan tahun lalu. Batu karang yang eksotis, menurutku. Air laut yang jernih tentunya mengundang rasa ingin segera mandi.

Sore itu, aku bersama rekan Panitia Pesta Nelayan dan mahasiswa dari Kota Kupang yang datang untuk mengikuti Kegiatan Prosesi Semana Santa di Kota Larantuka; yang dimulai dari Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Santo.

Mereka mengadakan kegiatan pembersihan di Pulau Waibalun. Dengan semangat, mereka bekerja membantu kami untuk mempersiapkan acara pada hari senin nanti, pesta nelayan yang akan diadakan ini merupakan bagian dari rangkaian “Festival Bale Nagi 2019”. Kegiatan ini menjadi ajang bergengsi tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Flores Timur.

Penulis saat berada di tepian Pulau Waibalun

Pulau Waibalun atau yang sering disebut “Nuha” oleh warga setempat merupakan pulau kecil yang memiliki kekhasan tersendiri. Jika anda sedang berada di pulau ini, perasaan damai akan muncul. Namun, anda tak boleh melakukan hal-hal yang merusak alam pulaunya, jika benar terjadi, maka anda akan mendapat teguran dari sang penghuni pulau.

Sosok halus yang tidak terlihat namun diyakini ada. Sang penjaga pulau yang merupakan sosok tak terlihat ini selalu dipercaya kehadirannya. Oleh karena itu, pada setiap tahun masyarakat setempat mengadakan ritual adat yang dilaksanakan oleh suku “Le Hadjon”.

Suku ini dipercaya secara turun temurun melaksanakan Upacara Adat “Pau Haring” atau memberi makan ular haring, Sang Penunggu Pulau. Yah…suatu tradisi yang masih dipegang teguh oleh Suku Hadjon hingga pada zaman modern seperti sekarang ini.

Tradisi yang perlu diwariskan oleh kaum muda turunan Suku Hadjon. Nenek moyang kita dulu tahu dan mengerti akan keseimbangan alam, tentang pelestarian alam. Bagaimana manusia harus benar-benar menghargai alam itu sendiri sebagai sumber hidup.

Dengan adanya ritual tersebut ,mereka tahu bagaimana rasa syukur itu selalu diucapkan. Dengan demikian, alampun akan bersahabat dengan manusia.

Laut di sekeliling Pulau Waibalun di Flores Timur kaya akan ikan, cumi-cumi, kerang atau siput dan dan beberapa sumber daya alam laut lainnya. Masyarakat setempat sering melakukan kegiatan menangkap ikan disana, juga sering mencari kerang atau siput atau dalam Bahasa Waibalun disebut “gimang”.

Aktifitas ini cukup menghabiskan energi, namun terkesan asyik dan menyenangkan. Sebulan sekali, ketika senja tiba, banyak penduduk setempat berbondong-bondong untuk mencari kerang di Pulau Waibalun. Sambil bercerita bersama keluarga dan sahabat. Hmhmm…..sungguh menyenangkan.

Bercerita bersama alam dan mendengar alam menyuguhkan suara-suara indah di balik bebatuan. Sesekali.., nampaklah makluk-makluk kecil yang mengintip dari celah serpihan karang dan terhempas bersama ombak. Sungguh suatu suasana alam yang eksotis. Begitu asyiknya hingga malam menjemput senja di Pulau Waibalun.

Alam telah memberikan kenikmatan bagi kita, sekarang bagaimana cara kita melestarikannya. Mungkin dengan aktifitas rutin sebagai warga masyarakat untuk selalu membersihkan dan merawatnya. Selain memberikan pesona alamnya, Pulau Waibalun juga diajadikan lokasi wisata rohani dengan adanya Patung Yesus Gembala Yang Baik yang terletak pada bagian atas pulau ini.

Patung ini diresmikan pada masa pemerintahan Alm. Bapak Felix Fernandez, yang kala itu menjabat sebagai Bupati Flores Timur. Inilah awal, Pulau Waibalun dijadikan salah satu destinasti wisata alam dan religi.

Jangan lupa!, untuk datang dan menghadiri Festival Bale Nagi, Pesta Nelayan pada setiap tahunnya di Pulau Waibalun. Lautku bersih, Lautku kaya. Marilah kita lestarikan demi masa depan anak cucu kita.
Semoga! (*)

Penulis (*/Helmy Tukan, Guru dan Pegiat Literasi di Kabupaten Flores Timur)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bintang Puspayoga Terima Tongkat Estafet PPPA dari Yohana Yembise

    Bintang Puspayoga Terima Tongkat Estafet PPPA dari Yohana Yembise

    • calendar_month Jum, 25 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia periode 2014—2019 Yohana Yembise menyerahkan jabatannya kepada Menteri PPPA RI I Gusti Ayu Bintang Darmawati atau Bintang Puspayoga pada kegiatan Pisah Sambut Menteri PPPA di Jakarta pada Kamis, 24 Oktober 2019. Yohana Yembise mengaku sudah mengenal Menteri Bintang sebelumnya, sebagai istri Mantan […]

  • Dirjen Perhubungan Udara Pantau & Pastikan Harga Tiket Sesuai Aturan

    Dirjen Perhubungan Udara Pantau & Pastikan Harga Tiket Sesuai Aturan

    • calendar_month Sab, 29 Des 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Dunia penerbangan Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun. Hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah penumpang yang menggunakan moda transportasi udara. Kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan juga menjadi andil cukup besar terhadap meningkatnya trend penggunaan moda transportasi udara. Core Business dalam industri transportasi udara adalah keselamatan, untuk […]

  • Bali Bakal Punya Transportasi MRT pada Tahun 2028

    Bali Bakal Punya Transportasi MRT pada Tahun 2028

    • calendar_month Jum, 27 Jun 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Loading

    Langkah ini diambil demi menghadirkan transportasi modern yang tetap sejalan dengan nilai-nilai adat dan budaya lokal Bali.   Jakarta | Pemerintah Provinsi Bali resmi bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk melanjutkan pembangunan MRT Bali. Pemprov DKI Jakarta melalui PT MRT Jakarta (Perseroda) dan Pemerintah Provinsi Bali bekerja sama dalam pengembangan transportasi MRT. […]

  • “Kenyang Tak Harus Nasi” Diversifikasi Pangan Lokal di Provinsi NTT

    “Kenyang Tak Harus Nasi” Diversifikasi Pangan Lokal di Provinsi NTT

    • calendar_month Kam, 20 Agu 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Agar dapat meningkatkan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal, pada Rabu, 19 Agustus 2020, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia menyelenggarakan Gerakan Diversifikasi Pangan serentak secara nasional. Gerakan ini sekaligus mengajak masyarakat untuk mengubah pola konsumsi agar tidak tergantung pada satu komoditas saja. Dinas Pertanian […]

  • Jabat Pj Wali Kota Kupang 5 Bulan, Linus Lusi Fokus 5 Agenda

    Jabat Pj Wali Kota Kupang 5 Bulan, Linus Lusi Fokus 5 Agenda

    • calendar_month Rab, 28 Agu 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 46
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang | Penjabat Wali Kota Kupang, Linus Lusi minta seluruh kepala perangkat daerah Kota Kupang sebelum akhir tahun 2024 ini, bekerja lebih keras dan cepat, tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri dan memastikan pelayanan kepada masyarakat lebih maksimal. Lanjut Linus Lusi, seluruh ASN dan pimpinan perangkat daerah harus fokus pada 5 (lima) agenda prioritas, antara […]

  • Yakub Ismail Estafet Pimpin Apindo Banten Periode 2019—2024

    Yakub Ismail Estafet Pimpin Apindo Banten Periode 2019—2024

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Loading

    Tangerang, Garda Indonesia | Berpulangnya Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) provinsi Banten, Alm. Eddy Mursalim beberapa waktu lalu menjadi duka bagi keluarga besar APINDO Banten. Betapa tidak, Alm. Eddy Mursalim yang juga merupakan wakil ketua dewan guru institut Karate-do Indonesia (INKAI) DAN VIII tersebut sudah sejak lama dikenal sebagai sosok yang aktif dalam hubungan Industrial […]

expand_less