Saat Penculikan Maduro, AS Kerahkan 32 Unit Pesawat Buatan Indonesia
- account_circle Rosadi Jamani
- calendar_month Sel, 6 Jan 2026
- visibility 422
- comment 0 komentar

![]()
Kita ke Venezuela. Ternyata dalam aksi penculikan Maduro oleh tentara Amerika, ada keterlibatan Indonesia. Pada aksi bak film Holywood itu, Trump mengerahkan 150 unit pesawat. Ternyata ada pesawat buatan Indonesia yang ikut terbang. Bukan aktor figuran, bukan juga cameo lewat.
Laporan The New York Times menyebutkan salah satu armada yang digunakan adalah CN-235, pesawat hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol. Lebih epiknya lagi, militer AS diperkirakan mengoperasikan sekitar 32 unit CN-235 dalam berbagai varian. Tiga puluh dua. Itu bukan numpang parkir, itu sudah satu skuadron arisan lengkap dengan notulen.
CN-235-220 adalah pesawat angkut militer ringan-menengah yang kerjanya mirip petugas logistik paling setia. Datang cepat, pergi senyap, beres urusan tanpa banyak drama. Kapasitas angkutnya mencapai 4.700 kilogram atau sekitar 36 penumpang. Kalau suasananya militer total, ia bisa membawa 49 tentara atau 34 pasukan terjun payung.
Keunggulan CN-235 ada pada bakatnya mendarat di tempat yang tidak Instagramable. Dengan kemampuan short take-off and landing, pesawat ini bisa lepas landas dan mendarat di landasan pendek dan tak beraspal. Mau aspal retak, tanah keras, atau jalur yang lebih mirip jalan kebun, dia santai. Ditenagai dua mesin turboprop General Electric CT7-9C masing-masing 1.750 shaft horsepower, atau 1.870 SHP dengan APR, pesawat ini punya performa hot and high yang efisien, irit bahan bakar, dan sanggup terbang hingga 11 jam. Sebelas jam. Itu cukup untuk satu operasi, dua briefing ulang, dan satu sesi debat siapa yang salah baca peta.
Dari sisi performa, CN-235 punya berat lepas landas maksimum 16.500 kilogram, berat pendaratan maksimum sama, dan berat muatan maksimal 5.200 kilogram. Kecepatan jelajah maksimumnya 237 knot, versi ekonomisnya 169 knot, dengan batas ketinggian 25.000 kaki. Jangkauan terbangnya 414 nautical mile dengan muatan maksimal, 2.110 nautical mile dengan bahan bakar penuh, dan jarak maksimum 2.293 nautical mile dengan cadangan bahan bakar 45 menit. Ini pesawat yang kalau bicara efisiensi, bikin bendahara militer senyum tanpa perlu sidang.
Fungsinya pun seluas ambisi geopolitik, transportasi pasukan, menjatuhkan paratroop, patroli maritim, peperangan anti-kapal selam, logistik, evakuasi medis, pengiriman udara, hingga konfigurasi VVIP/VIP. Bodi lebar, kabin bertekanan, teknologi sayap tinggi, pintu ramp belakang untuk bongkar muat cepat, dek penerbangan canggih, desain tangguh, perawatan mudah, dan konsumsi bahan bakar ekonomis. Pendek kata, ini pesawat pekerja keras yang tidak banyak gaya tapi selalu dipanggil saat keadaan genting.
Tak heran CN-235 diminati banyak negara. Brunei Darussalam, Malaysia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Burkina Faso, Senegal, serta negara-negara di Timur Tengah, Amerika Latin, Asia, dan Eropa sudah melirik. Produksinya pun didorong untuk ditingkatkan, bukan cuma demi kebutuhan dalam negeri, tapi juga karena dunia, termasuk negara adidaya, sudah memberi sinyal, karya Indonesia layak dipercaya.
So, ketika dunia sibuk memperdebatkan penculikan Maduro, dan konspirasi tingkat dewa, ada satu fakta kecil yang patut kita nikmati sambil tertawa bangga. Di langit operasi paling dramatis itu, pesawat buatan Indonesia terbang tenang. Tanpa pidato. Tanpa klaim moral. Hanya mesin yang berputar, data yang bicara, dan satu pesan, kadang kebanggaan nasional datang bukan dari teriak paling keras, melainkan dari terbang paling jauh.(*)
- Penulis: Rosadi Jamani











Saat ini belum ada komentar