Arsip Tag: kepala bi ntt

Berdayakan Perempuan Entas Kemiskinan & Stunting dengan Usaha Ayam KUB

687 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat kunjungan ke lokasi peternakan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (Ayam KUB) AFRO (Advocacy and Research of Rural Farming Development) Farm yang dikelola Mardianus Epafroditus Ili, S.P. pada Minggu siang, 8 Agustus 2021.

Kunjungan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT bersama Kadis Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Viktor Manek di lokasi peternakan Ayam KUB yang berlokasi di Desa Baumata Timur, Taebenu Kabupaten Kupang yang menyuplai kebutuhan ayam untuk masyarakat di wilayah Kota Kupang, dan beberapa kabupaten lainnya; guna melihat secara langsung lokasi peternakan ayam kampung yang menghasilkan telur, daging, dan daging olahan.

Kepada Garda Indonesia, I Nyoman Ariawan Atmaja membeberkan, dengan pola usaha Ayam KUB AFRO Farm dapat dikembangkan untuk mengentaskan kemiskinan. “Polanya bagaimana memberdayakan perempuan-perempuan di kampung (mama-mama kita) dapat memelihara Ayam KUB untuk menghasilkan telur sebagai sumber makanan dalam rangka pengentasan kemiskinan dan stunting,” ujarnya seraya mengungkapkan bahwa pemilik AFRO Farm lulusan BI Young Entrepreneur School.

Selain itu, imbuh I Nyoman Ariawan Atmaja, Usaha Ayam KUB dapat dijadikan program kemandirian ekonomi. “Jadi bagi lembaga berupa Keuskupan, Sinode, Parisada, MUI, Pesantren, yayasan lain dapat melakukan program bagi umatnya masing-masing. Dengan modal kerja rendah, apalagi menggunakan bahan sederhana dari bambu, maka tak mahal dengan kisaran modal 22—25 juta bagi pengembangan biakan anak Ayam KUB,” urainya.

Tetapi, lanjut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, untuk program  mengentaskan stunting dan kemiskinan dapat mengambil Usaha Ayam KUB skala kecil berupa 2 (dua) kandang kecil dengan kisaran modal 8—10 juta rupiah setiap kepala keluarga. “Tadi saya hitung misalnya harga kandang 2 juta dan ayam KUB terus ayam KUB 8 juta, maka setiap KK dapat berproduksi dan menghasilkan 10 (sepuluh) telur per hari untuk kebutuhan protein bagi keluarga selama kurun waktu 5 bulan hingga 2 tahun,” beber I Nyoman Ariawan Atmaja.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja (tengah berbaju putih bertopi) saat melihat kandang pengembang biakan Ayam KUB

Sementara, tandas I Nyoman Ariawan Atmaja, untuk program kemandirian ekonomi dapat menggunakan kisaran modal 50—100 juta. “Dapat menggunakan kandang pembesaran dengan modal pembesaran DOC (Day Old Chicken) Ayam KUB berjumlah 1.000 ekor beserta pakan,” ujarnya.

Pengelola AFRO Farm Ayam KUB, Mardianus Epafroditus Ili, mengatakan bahwa permintaan Ayam Kampung di Kota Kupang per bulan mencapai di atas 500 ekor, dan pihaknya belum sanggup memenuhi permintaan pasar sehingga sangat diperlukan lebih banyak lagi peternak-peternak ayam kampung yang lain untuk memenuhi permintaan pasar.

Ayam Kampung, ungkap Making sapaan akrabnya, mengubah hidup, bahkan di negara berkembang, beternak ayam adalah pekerjaan perempuan atau ibu-ibu yang secara telaten dan tekun memelihara ayam guna pemenuhan konsumsi rumah tangga dan sisanya dijual ke pasar. “Pakan ternak di AFRO Farm Ayam KUB menggunakan pakan yang dicampur dengan jagung dan menggunakan minuman “Jamu” dari bahan herbal yang terbuat dari berbagai pohon daun pepaya, sere, dan lain-lain guna menyehatkan Ayam Kampung,” terang Alumni Fakultas Peternakan Undana Kupang.

Adapun harga per kilogram Ayam KUB 75 ribu rupiah. Sementara harga telur Ayam KUB Rp.150.000,- (seratus lima puluh ribu) per tray ‘rak’, atau per butir 5.000 rupiah.
“Harga pokok produksi (HPP) dari 1 ekor ayam kampung itu 55.000 rupiah, namun tergantung lagi dari harga pakan saat ini apalagi di masa pandemi, namun paling rendah HPP di angka 45.000 rupiah, dari total 3.000 Ayam KUB yang diternakkan AFRO Farm,” tandas Making.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Pulau Padar & Eksplorasi Bank Indonesia Perwakilan NTT

592 Views

Oleh : Roni Banase

Mengenal Pulau Padar di gugusan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); bagi yang belum pernah melihat langsung, cukup dengan melihat lekukan indah pulau tersebut melalui uang lembaran Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) terbitan Bank Indonesia.

Namun, bagi yang telah melihat langsung, menapaki, merasakan degup jantung turun naik, hingga ritme nafas tak beraturan saat mulai menapaki etape pertama berupa 113 anak tangga kayu hingga ke puncak Pulau Padar yang memiliki ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan laut tersebut, pastinya akan memperoleh sensasi tersendiri.

Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau ini relatif lebih dekat ke Pulau Rinca daripada ke Pulau Komodo, yang dipisahkan oleh Selat Lintah. Pulau Padar tidak dihuni oleh ora (biawak komodo). Di sekitar pulau ini terdapat pula tiga atau empat pulau kecil (sumber : wikipedia)

Pulau Padar juga diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena berada dalam wilayah Taman Nasional Komodo, bersama dengan Pulau Komodo,Pulau Rinca dan Gili Motang.

Rombongan Bank Indonesia Perwakilan NTT menapaki Pulau Padar

Saya pun berkesempatan dapat menelusuri lekuk, panorama dan sensasi Pulau Padar secara langsung bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja; Deputi Kepala Perwakilan (Tim Perumusan dan Implementasi KEKDA), Hery Catur Wibowo dan rombongan pada Sabtu pagi, 19 Juni 2021, pasca-Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) bertajuk “Kilau Digital Permata Flobamora” pada Jumat, 18 Juni 2021 di Puncak Waringin, Labuan Bajo.

Bertolak sekitar pukul 07.30 WITA dari dermaga Hotel Ayana Labuan Bajo, kami menggunakan speedboat dan menempuh waktu sekira 1 (satu) jam menuju Pulau Padar. Sensasi yang kami raih, berupa suguhan pemandangan menakjubkan berupa deretan pulau-pulau kecil yang mengitari di alur perjalanan dan menjumpai beberapa Kapal Pinisi yang sementara menabuh jangkar maupun melintas. Kesempatan berharga tersebut, kami abadikan dengan memotret dan membuat video amatir bersama (berencana mengunggah ke media sosial, namun terkendala sinyal tak stabil).

Setiba di Pulau Padar sekitar pukul 08.30 WITA, telah berlabuh dan bersandar beragam Kapal Pinisi dan speedboat yang mengantar para pelancong, wisatawan nusantara maupun mancanegara. Hawa panas kisaran 30°C menyambut kami, pertanda ucapan selamat datang kepada rombongan Bank Indonesia Perwakilan NTT.

Saya pun menapaki anak tangga berbahan kayu ulin di etape pertama untuk menghitung jumlahnya, pasca-etape pertama mulai terasa pegal di kaki dan deru nafas berburu (maklum, semenjak menjadi Jurnalis, waktu tidur malam di atas pukul 02.00 WITA dan memasuki usia 50-an). Lalu, kami berfoto bersama maupun berswafoto mengabadikan momen tersebut. Tampak puluhan orang telah berada di etape pertama, mereka juga larut dalam takjub sambil mengabadikan momen.

Panorama Pulau Padar dilihat dari etape kedua

Melanjutkan eksplorasi ke etape kedua, nafas kian memburu, saya pun berada pada urutan terakhir (dari 13 orang dari rombongan Bank Indonesia Perwakilan NTT). Semangat dan sindiran motivasi pun terlontar dari mulut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja. “Ayo, Jurnalis, semangat, masa baru begini sudah lemas!” ucapnya. (karena saya berbalut kaos bertuliskan “Jurnalis Ramah Anak” hehehe).

Saya benar-benar merasakan keletihan, terasa berat untuk mengangkat kaki menapaki anak tangga yang terbuat batu dengan cor semen yang sedikit terjal, perasaan khawatir plus phobia ketinggian pun merasuki diri. Namun, terkikis saat menjumpai anak perempuan berumur 10 tahun yang tampak bersemangat bersama orang tuanya menapaki Pulau Padar.

Meski dengan tertatih tatih, saya melanjutkan menapaki anak tangga menuju ke etape ketiga. Seperti biasa, saya tertinggal jauh di belakang dan rombongan Bank Indonesia Perwakilan NTT melesat jauh di depan. Setahap demi setahap,  meski berat, saya berupaya mengangkat kaki terus melangkah dan berpapasan dengan beberapa wisatawan nusantara dan mancanegara dari Taiwan dan Eropa.

Sambil berbincang dan menuruni Pulau Padar, mereka berbincang, “Berapa banyak ya kalori yang dibakar?” tanya salah satu wisatawan ke yang lain. Saya pun tersentak, wah ini kesempatan untuk membakar lemak di pinggang dan perut (maklum perut mulai membuncit, hehehe). Berbekal pecut diksi “Pembakaran Kalori” itu, muncul energi baru, meski nafas saya semakin memburu dan rasa capek kian menggerogoti.

Pose bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT dan rombongan di Pulau Padar

Menjumpai Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT dan rombongan di etape, saya pun disambut canda tawa, mereka telah asyik mengagumi karya ciptaan Tuhan terhadap Pulau Padar. Lalu, saya mengabadikan setiap landscape dan memotret mereka dengan Canon DSLR 1100 tentengan sehari-hari (meski pinjam ke kakak tertua, hehehe).

I Nyoman Ariawan Atmaja pun tampak duduk di salah satu bongkahan batu besar sambil berujar, “Di sinilah, tim fotografer Darwis Triadi bermalam selama 3 (hari) dan memotret Pulau Padar hingga hasil fotonya dipasang di lembaran pecahan uang 50 ribu,” ungkapnya. Saya takjub, memotret dengan kamera standar saja bagus, apalagi dengan kamera profesional. Kami pun berpose bersama di lokasi tersebut dengan berbagai pose dari gaya sesuka hati hingga simbol QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) ‘standarisasi pembayaran menggunakan metode QR Code dari Bank Indonesia’.

Lalu, kami melanjutkan ke etape keempat, pemberhentian terakhir menapaki Pulau Padar. Dari lokasi tersebut, sejauh mata memandang tampak daratan Pulau Rinca dan Pulau Komodo tempat bermukim Komodo, atau juga disebut Biawak Komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies biawak besar yang terdapat di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Biawak ini oleh penduduk asli Pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat, Ora.

Di etape ini, kami mengabadikan momentum dengan memotret diri dan berpotret bersama. Lalu, kembali menuruni anak tangga dan saya pun kembali menempati posisi terakhir karena terasa pegal di pangkalan paha dan berasa benar capek. Setiba di etape pertama, rombongan Bank Indonesia Perwakilan NTT telah menikmati Kelapa Muda Pulau Padar berharga Rp.40.000,- (empat puluh ribu rupiah) per buah (wajar ya karena Kelapa Muda harus dibawa dari Labuan Bajo? Mahal di ongkos angkut pakai kapal).

Lalu, sambil menikmati Kepala Muda di Pulau Padar, saya pun melirik jam tangan dan melihat waktu telah menunjukkan pukul 10.00 WITA. Ternyata membutuhkan waktu 1 jam 30 untuk menapaki dan menuruni Pulau Padar di bawah panas terik matahari di Nusa Tenggara Timur. (*)

Foto-foto (*/koleksi roni banase)

UMKM di NTT Masih Individual & Lemah, Perlu Peningkatan Kapabilitas

457 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Sekitar 437.000 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyerap hampir 78 persen atau sebesar 1,5 juta tenaga kerja di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 64,7 persen (sesuai data BPS). Demikian disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja usai even Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) pada Sabtu malam, 19 Juni 2021.

“UMKM sangat memiliki peran strategis di ekonomi NTT, dengan melihat kondisi tersebut, maka perlu Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder berkolaborasi menyatukan langkah sehingga UMKM dapat dikembangkan dengan baik dari sisi kelembagaan, kapabilitas, dapat bagaimana mereka dapat mengakses pembiayaan,” terang I Nyoman Ariawan Atmaja sembari mengungkapkan Dana PEN dari pemerintah yang disalurkan Bank Indonesia tahun 2021 sekitar Rp.51 Triliun.

Dana PEN Bank Indonesia bagi UMKM tersebut tak ada capping ‘dialokasikan’ untuk masing-masing provinsi, imbuh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, asalkan UMKM memenuhi syarat administrasi dan syarat assessment dari Perbankan, maka mereka dapat mengakses secara penuh. “Ini yang perlu kita siapkan. Dan beberapa kelemahan UMKM hasil interaksi kami selama 2 tahun yakni pertama dari sisi kelembagaan yang belum terbangun dengan baik sehingga UMKM masih bersifat individual dan belum menjadi kelembagaan yang kuat,” urai Nyoman Ariawan.

Kelemahan kedua, urai Nyoman Ariawan, terkait kapabilitas yang belum merata. “Jika dapat order ‘pesanan’ maka kuantitas dan kualitas tak dapat dicapai. Tak hanya itu, packaging  ‘pengemasan’ juga belum bagus, maka perlu penguatan dari sisi packaging sehingga layak menjadi oleh-oleh khas NTT,” ungkapnya seraya mencontohkan kemasan yang bagus punya La Moringa, Lewi’s Organics, dan La Bajo (3 dari 11 UMKM yang ikut serta dalam even Bangga Buatan Indonesia di Labuan Bajo)

Nyoman Ariawan pun membeberkan hasil survei Bank Indonesia, hampir 87 persen terdampak pandemi Covid-19 yang mana terjadi penurunan terhadap omzet. “Sehingga perlu didorong agar pemasaran bisa lebih bagus dan tepat sasaran,” katanya.

Kelemahan terakhir terkait pembiayaan, ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT yang fokus mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi ini pun menyampaikan bahwa dirinya telah duduk bareng selama 8 (delapan) bulan dengan OJK, DJPB, OPD.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja saat berbincang dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, Johny G Plate saat Even Gernas Bangga Buatan Indonesia

“Belum ada yang siap secara kelembagaan maupun kapabilitas yang dapat mengakses dana pembiayaan dari pemerintah melalui Perbankan, kecuali di Perdagangan,” urainya seraya mengungkapkan sebelumnya pernah dijanjikan 300 Kelompok Ternak Sapi oleh Bupati Kupang, hingga saat ini hanya terdapat 17 kelompok yang telah dibiayai oleh Bank Negara Indonesia (BNI).

Lanjut Nyoman Ariawan Atmaja seraya menandaskan, “Bagaimana pertumbuhan ekonomi NTT bisa bagus di atas 5—7 persen, jika hal-hal tersebut tidak siap? Bagaimana jika pertumbuhan itu sustainable kalau sektor riil tak siap untuk diakseskan ke Perbankan? Itulah permasalahan utama kita di Nusa Tenggara Timur!”

Peningkatan Kapabilitas UMKM oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT

Guna menyikapi kondisi tersebut, beber I Nyoman Ariawan Atmaja, Bank Indonesia Perwakilan NTT menyiapkan beberapa langkah di antaranya:

Pertama, Kelas Online UMKM via zoom (juga berlaku umum, red) dengan kapasitas seribu orang setiap 2 (dua) minggu. “Namun, terkendala sinyal dan infrastruktur yang belum memadai di NTT,” urainya.

Kedua, BI YES (Young Entrepreneur School) dengan kelas Basic ‘Dasar’ dan Advance ‘Lanjutan’ yakni kelas khusus untuk membangun usaha dan mengembangkan usahanya yang telah ada.

Tak hanya itu, ucap I Nyoman Ariawan Atmaja, Bank Indonesia juga bekerja sama dengan berbagai instansi seperti BPOM untuk penyediaan Sertifikat Halal, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan PIRT. “Kondisi tersebut dapat mendukung UMKM dari sisi kelembagaan agar semakin kuat dan layak di pasaran,” harapnya.

I Nyoman Ariawan Atmaja dan Johny G Plate saat memperagakan simbol QRIS

Bank Indonesia pun, pungkas I Nyoman Ariawan Atmaja, duduk bareng dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), DJPB, dan Biro Ekonomi Setda Provinsi NTT guna membangun “Pokja Pembiayaan” dengan target mendorong bank-bank untuk membiayai UMKM NTT melalui Pilot Project

“Jadi off taker kita siapkan, misalnya ternak sapi yakni Klik Daily akan siap mengambil seluruh produksi Sapi di NTT, dan Bank akan memberikan pembiayaan termasuk melakukan pendampingan terhadap kelompok ternak. Mengapa Sapi? Karena NTT terkenal dengan produksi Sapi, lalu Babi, dan Kambing. Dan kondisi ini sementara berjalan,” bebernya.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

PIPEBI Peduli Korban Badai Seroja di Desa Tuapukan & Pukdale Kab Kupang

263 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI) menggalang donasi dan memberikan bantuan berupa beras, minyak goreng, telur, mie instan dan gula pasir kepada korban bencana Badai Seroja di Desa Tuapukan dan Pukdale, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat, 23 April 2021.

PIPEBI Peduli Bencana Alam NTT terlaksana atas donasi dari Ibu-ibu Anggota Dewan Gubernur, Ketua Dewan Pembina PIPEBI yaitu istri dari Gubernur BI, PIPEBI di seluruh komisariat di dalam dan luar negeri, dan Ibu-ibu yang tergabung dalam Ikatan Wanita Bank Indonesia (IWABI) yang diserahkan oleh  Ketua Panitia PIPEBI, Icha Heri Catur dan didampingi oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja kepada Camat Kupang Timur, Deny Tadoe, S.Pd. dan Perwakilan Kodim 1604/Kupang, Mayor Edy.

Masyarakat bahu membahu menyiapkan konsumsi di dapur umum Kodim 1604/Kupang

Icha Heri Catur menyampaikan bahwa donasi yang terkumpul disalurkan kepada pihak internal pada 21 April 2021, sedangkan untuk eksternal di 3 (tiga) lokasi yakni kepada BPBD Provinsi NTT di aula El Tari, di Desa Tuapukan dan Desa Pukdale dilaksanakan pada Jumat, 24 April 2021. “Ibu-ibu PIPEBI menyampaikan keprihatinan atas bencana yang terjadi di NTT, semoga bantuan ini dapat  meringankan beban yang dialami oleh warga terdampak bencana,” ujarnya.

Senada, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT I Nyoman Ariawan Atmaja mengungkapkan bahwa bantuan yang diberikan sebagai bentuk empati dari Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia dan Ikatan Wanita Bank. “Mudah-mudahan bantuan ini meringankan beban masyarakat sehingga segera bangkit beraktivitas melakukan kegiatan ekonomi. Semoga bantuan ini dapat melayani masyarakat dan sampaikan salam kami kepada Bapak Bupati dan Tokoh Masyarakat,” ulasnya.

PIPEBI saat menyerahkan bantuan ke Posko Darurat Bencana di Gereja Elim Desa Tuapukan, Kecamatan Kupang Timur

Camat Kupang Timur Deny Tadoe, S.Pd., menyampaikan terima kasih kepada Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT dan PIPEBI yang dapat berkenan memberikan bantuan kepada masyarakat Desa Tuapukan. “Di sini yang mengalami bencana yang cukup parah, tak ada sesuatu yang dapat kami balas, namun hanya doa tulus dari masyarakat di Kupang Timur, semoga berkat berlimpah bagi Bapak dan Ibu-ibu,” ucapnya.

Sementara ini, imbuh Camat Kupang Timur, terdapat 3 (tiga) posko yang masih aktif yakni di Tuapukan, Gereja Elim, dan Desa Pukdale. “Pemerintah Kabupaten Kupang usai bencana mendirikan posko untuk makan minum (hari pertama hingga ketujuh, red), namun saat sekarang diutamakan pelayanan perbaikan sekitar 2.000 rumah. Oleh karena itu, para pengungsi kembali ke rumah masing-masing,” ungkapnya seraya menyampaikan sekitar 3.000 nasi bungkus disiapkan oleh Dapur Umum Kodim 1604/Kupang untuk disalurkan kepada masyarakat hingga Senin, 26 April 2021.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)

Pasca-Badai Siklon di NTT, Layanan Perbankan Kembali Normal

370 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pasca-badai Siklon Tropis Seroja di wilayah Provinsi NTT, layanan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT tetap berlangsung normal, baik layanan tunai berupa penyetoran dan penarikan Bank serta penukaran, maupun layanan non tunai berupa pertukaran warkat debet. Termasuk layanan Bank Umum kembali beraktivitas normal pada Selasa, 6 April 2021.

Di wilayah Provinsi NTT terdapat 62 kantor cabang Bank dan 313 ATM Bank serta layanan kliring di pada 15 Perbankan dan 2 Penyelenggara Warkat Debet (PWD) telah beroperasi.

Guna memastikan kembali beroperasinya layanan Perbankan khususnya di Kota Kupang, maka Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmajaya langsung meninjau 4 (empat) Bank pada Selasa siang, 6 April 2021. Kunjungan awal Nyoman Ariawan pada Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Kupang di Kelurahan Tode Kisar dan disambut oleh Kepala BNI Cabang Kupang, I Gede Wirata dan staf.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Nyoman Ariawan Atmaja (kanan) dan Kepala BRI Cabang Kupang, Stefanus Juarto (kiri)

Kepada awak media, Ia menyampaikan bahwa Bank Indonesia selalu bekerja sama dengan Perbankan dan lembaga terkait. “Termasuk kita berterima kasih kepada teman-teman PLN dan Telkom yang telah menyediakan jaringan listrik dan telekomunikasi sehingga seluruh pembayaran tunai dan non-tunai di seluruh Nusa Tenggara Timur khususnya Kota Kupang dan daerah lain dapat berjalan dengan baik,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja.

Selain itu, tandas Nyoman, kunjungan ini juga untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Perbankan siap melayani karena biasanya usai bencana, masyarakat membutuhkan uang tunai misalnya untuk membeli sembako dan keperluan lainnya.

Sementara itu, Kepala BNI Cabang Kupang, I Gede Wirata, menyampaikan bahwa layanan BNI khususnya anjungan tunai mandiri (ATM) BNI yang sementara tak berfungsi atau off akibat badai sebanyak 20 unit. “Total ATM BNI di dalam Kota Kupang sebanyak 105 unit, sementara ini antrean masih wajar dan tak mengalami kendala dan aktivitas lain telah berfungsi normal dengan jam pelayanan sejak pukul 09.00—15.00 WITA,” urainya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Nyoman Ariawan Atmaja (tengah) bersama Kepala BCA Cabang Kupang, Liau Tjung Nyap (kanan) dan staf

Selanjutnya, I Nyoman Ariawan mengunjungi Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Kupang dan diterima oleh Stefanus Juarto selaku Pemimpin Cabang. Kepala awak media, Stefanus mengungkapkan seluruh unit kerja BRI telah melakukan pelayanan termasuk ATM. “Untuk sementara ATM yang berfungsi 15 yang berada di unit kerja sedangkan 58 ATM lain belum berfungsi terkait belum adanya pasokan listrik,” terangnya sembari menyampaikan unit kerja BRI Sabu Raijua pun telah normal pasca-badai.

Kunjungan berikutnya, I Nyoman Ariawan memantau aktivitas Perbankan di Bank Central Asia (BCA) dan Bank Artha Graha. Ia pun memastikan Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Perbankan guna melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga operasional sistem pembayaran dan pemenuhan kebutuhan uang rupiah senantiasa dapat dilaksanakan.

Penulis, editor dan foto (+roni banase)