Arsip Tag: polsek tasifeto barat

Bus Milenial SEHATI Dirusak Orang Tak Dikenal di Jalan Raya Leoruas

3.839 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Bus Paris Indah rute Atambua – Kupang dengan nomor polisi DH 7156 EB yang ditumpangi sekelompok Milenial SEHATI diserang kelompok orang tak dikenal (OTD) di Bilangan Jalan Raya Dusun Leoruas (km.16), Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis siang, 10 Desember 2020.

Kejadian nahas itu diduga kuat berkaitan dengan situasi politik Pilkada Belu, yang telah dihelat pada Rabu, 9 Desember 2020.

Menurut informasi dari sumber Garda Indonesia menyebutkan, Bus itu melaju dari Kota Atambua menuju Kupang. Namun, ketika tiba di tempat kejadian perkara (TKP), bus yang ditumpangi kelompok Milenial SEHATI tersebut dihadang dan salah satu kaca jendela sisi kanan dirusak.

Awalnya, seperti disaksikan para penumpang Milenial SEHATI, satu dari antara gerombolan pelaku itu mengayunkan benda tajam jenis sabit ke arah sopir bus yang sedang melaju. Sang sopir menyadari adanya serangan itu, lantas menghindar sembari terus melajukan kendaraan yang disetirnya ke arah Halilulik, Desa Naitimu. Meskipun tidak ada korban jiwa, tetapi pelaku terus mengayunkan sabit ke arah bus dan mengenai salah satu kaca jendela bus. Akibatnya, kaca pecah dan serpihan itu jatuh ke dalam bus bersama gagang sabit yang dipakai pelaku, dan melukai tangan salah satu anggota Milenial SEHATI.

Anggota Satuan Brimob kawal bus menuju Nurobo, batas Kabupaten Belu – T.T.U

Sopir pun tak menghentikan bus, lalu mengarahkan bus menuju ke Polsek Tasifeto Barat, guna membuat laporan polisi. Usai dilaporkan, bus nahas itu, lalu melanjutkan perjalanan menuju Kupang dengan dikawal oleh anggota Satuan Brimob sampai di Nurobo (batas Kabupaten Belu – T.T.U). (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)

Bus Romantis Dilempari Batu di Belu, Nyaris Lukai Kepala Satu Penumpang

250 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Bus Romantis dengan nomor polisi DH 7233 EB, rute Atambua-Kupang yang dikendarai sopir, Damianus Bria dilempari batu oleh sekelompok anak muda tak dikenal di Jembatan Maktaen, Dusun Bekomean, Desa Rinbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat pada Senin, 6 Januari 2020 pukul 17.30 WITA.

Akibatnya, kaca bus bagian belakang ditembusi batu hingga dua lubang dan nyaris melukai kepala salah satu penumpang bernama Joel Anabanu (warga Tini, Atambua). Beruntung, Joel hanya menderita bengkak ringan pada kepala bagian kiri. Sedangkan, beberapa penumpang lainnya hanya menderita ringan akibat serpihan kaca.

Usai kejadian itu, Damianus langsung melaporkan ke Polsek Tasifeto Barat dan diterima langsung oleh Kanitreskrim, Marselinus Goran.

Di hadapan Kanitreskrim, sopir menceritakan bahwa bus yang dikemudinya itu sedang melaju dari arah Kupang menuju Atambua. Setibanya di lokasi kejadian, sekelompok anak muda tak dikenal itu langsung memberi isyarat menghentikan bus. Ketika itu, sopir hendak mengerem bus untuk berhenti.

Tetapi, begitu belum sempat berhenti, luncuran batu sudah menghujani kaca bus bagian belakang. Saat itu, sopir tidak tinggal diam, seketika itu juga bus melaju lagi menuju polsek Tasifeto Barat guna menyelamatkan bus dan para penumpang, sekaligus melaporkan ke pihak kepolisian.

Korban pelemparan, Joel Anabanu

Begitu mendapat laporan, dua anggota polsek Tasifeto Barat langsung bergerak menuju TKP. Tetapi, para pelaku sudah tidak berada di tempat. Polisi hanya berhasil memungut barang bukti berupa sejumlah batu dan pecahan kaca bus yang berceceran di lokasi.

Ciri- ciri pelaku seperti disebutkan sopir di hadapan Kanitreskrim, keempat pelaku itu mengenai, masing- masing, jaket merah garis putih tutup kepala, jeket hitam kecoklatan lengan panjang, kaus hitam lengan pendek dan kaus hitam lengan panjang.

“Saya rem mau berhenti, lihat mereka banyak, langsung lari terus datang lapor polisi. Mereka lempar banyak sekali. Mereka anak kecil semua. Mereka tahan itu, mungkin mau pajak (memalak uang, red). Mereka ada empat orang, palang pas di jembatan,” tukas Damianus.

Korban pelemparan itu, lantas diarahkan Kanitreskrim untuk divisum di poliklinik terdekat. (*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)

Enam Rumah di Belu Hancur Diserang Massa, Wartawan Diancam

740 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Enam rumah warga di Dusun Kimbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dilempari batu hingga hancur berantakan oleh massa sesama warga Desa Bakustulama pada Kamis, 2 Januari 2020 siang.

Pantauan media ini di TKP, kelompok massa dari Dusun Asora dan Dusun Kimbana A mendatangi enam rumah di Dusun Kimbana B dengan membawa berbagai senjata tajam seperti pedang dan tombak. Setibanya mereka di TKP, kelompok massa itu langsung melempari rumah- rumah itu secara bergilir. Akibatnya, rumah milik Frandus Hale, Lukas Kaisadu (2 rumah), Eli Mali, Sili Mali (2 rumah) mengalami kerusakan berat pada bagian jendela dan pintu.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu lantaran saat massa menyerang, pemilik rumahnya telah menghindar dan menyelamatkan diri sehingga tidak ada perlawanan sama sekali.

Anggota Polsek Tasifeto Barat dipimpin langsung oleh Kapolsek Hadi Syamsul Bahri dibantu Babinsa Desa Bakustulama, Serda Armindo Do Santus yang saat itu hadir di TKP berhasil meredakan situasi dan membubarkan amukan massa tersebut.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun Garda Indonesia, bahwa penyerangan itu dipicu oleh kesalahpahaman antar kedua kelompok anak muda di Kimbana A, pada 31 Desember 2019 malam.

Malam akhir tahun itu, Irsan dan Imus (anak dari Frandus Hale) dipukul oleh Alfred dan Robert di Dusun Kimbana A. Merasa tidak puas, Irsan bersama adik kandung dari bapaknya Lukas Kaisadu mencari dan memukul Robert hingga sekarat di Bundaran Tugu Seroja Halilulik, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat. Robert pun langsung dibawa keluarga ke Rumah Sakit Marianum Halilulik guna mendapatkan perawatan.

Wartawan media ini pun sempat dibentak dan diancam oleh salah satu anggota massa atas nama Ignasius Bau di depan Kantor Camat Tasifeto Barat. “Kau datang ini buat apa? Kau wartawan pulang! Macam- macam saya potong kau dengan parang,” ancamnya mendekat ke arah wartawan dengan pedang di tangan.

Kapolsek Hadi Syamsul Bahri yang dimintai komentar terkait kronologis kejadian di sekitar TKP pada Kamis siang, belum bisa memberikan keterangan. Menurutnya, pihak kepolisian masih perlu penyelidikan intensif. “Sabar ya, kita masih perlu selidiki”, tanggapnya. (*)

Penulis (*/HH)
Editor (+ rony banase)

Reskrim Polsek Tasbar Limpahkan Berkas Kasus Kades Nanaet ke Kejari Belu

422 Views

Atambua, Garda Indonesia | Polsek Tasifeto Barat, Resor Belu telah melimpahkan berkas kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh Kepala Desa Nanaet, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Kandrianus Taek ke Kejaksaan Negeri Belu oleh Kanit Reskrim, Aiptu. Marselinus Goran, pada Senin, 9 Desember 2019 pukul 15.00 WITA.

“Selamat siang, sekadar info bahwa berkas perkara penganiayaan yang dilakukan oleh Kades Nanaet sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Belu oleh Kanit Reskrim polsek Tasbar, Aiptu Marselinus Goran, hari ini pukul 15.00 WITA,” tulis Kapolsek, Iptu. Hadi Syamsul Bahri, SH kepada Garda Indonesia melalui pesan WhatsApp.

Untuk diketahui, Kepala Desa Nanaet, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu, NTT, Kandrianus Taek dilaporkan ke Polsek Tasifeto Barat pada Rabu, 4 Desember 2019, lantaran diduga kuat telah melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap warganya sendiri.

Kepada awak media, korban Gregorius Leto (47), biasa disapa Lius, warga RT02/ RW02, Dusun Fatmalakan A, Desa Nanaet, mengaku dianiaya oleh kades, Kandrianus Taek di lokasi perjudian bola guling. Perjudian tersebut berlangsung bertepatan dengan acara rumah adat Laho’an di Laktutus, Desa Fohoeka, Kecamatan Nanaet Duabesi pada Rabu 4 Desember 2019 pukul 01.00 dini hari.

Menurut korban, saat itu kades sedang bermain judi bola guling. Korban, lalu berteriak agar bola itu melingkar di angka taruhannya kades. ”Begitu kades dengar saya teriak, dia bilang kau siapa? Kau dari mana? Kau warga mana? Saya tidak kenal kau! Lingkar apa?,” tuturnya mengulang kata kades.

Korban, lalu mendekat ke kades dan mengatakan, dirinya warga Desa Nanaet. Korban sendiri merasa aneh jika kades mengaku tidak mengenalinya sebagai salah satu warga masyarakat di desanya. “Kades tidak kenal saya? Saya ini kades punya masyarakat Desa Nanaet. Masa kades tidak kenal saya,” ungkapnya lagi meniru kata kades malam itu.

Lebih lanjut, korban menuturkan, saat itu juga kades langsung mengepal mulutnya sebanyak satu kali, ditambah tendangan di dada korban sebanyak tiga kali. “Dia pukul saya di mulut satu kali, tendang lagi saya tiga kali di dada, tapi saya tidak balas”, ujarnya dengan suara agak berat sembari mengusap dadanya seakan menahan nyeri yang menurutnya masih terasa.

Malam itu juga korban dibawa sanak keluarga ke Rumah Sakit Marianum Halilulik guna mendapatkan perawatan sekaligus pemeriksaan oleh dokter. Korban juga sudah diambilkan hasil visumnya dan diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit.

Sementara itu, Kades Nanaet Kandrianus yang ditemui awak media di Mapolsek Tasifeto Barat membantah semua penyampaian korban. Kades mengatakan, dirinya sama sekali tidak memukul korban. Katanya, korban datang ke tempat judi itu sudah dalam keadaan mabuk minuman keras (miras). Melihat keadaan korban yang sedang mabuk parah itu, kades lalu menyuruh korban untuk pulang tidur saja di rumah.

Saat itu, menurut kades, ada dua orang anggota brimob mendatangi TKP untuk menyelamatkan dirinya. Kades pun mengatakan bahwa dua anggota itulah yang memukul korban lantaran melihat korban mengancam dan hendak menyerang kades. Kades mengaku, dirinya langsung meninggalkan lokasi kejadian menuju ke dalam rumah adat lalu tidur sampai pagi.

“Sebenarnya saya ini yang korban, bukan dia. Tadi malam ada juga dua orang teman kepala desa di tempat itu. Dia ancam mau tikam kami. Tapi Kepala Desa Nanaenoe bilang kau bunuh kami nanti kau masuk penjara. Lius jawab bilang saya masuk penjara bisa keluar kembali, tapi kamu sudah mati,” kisahnya mengulang kembali ungkapan korban.

Kapolsek Tasifeto Barat, Iptu Hadi Syamsul Bahri, SH mengimbau kepada kedua belah pihak agar menahan diri untuk tidak melakukan hal- hal anarkis, tidak melakukan pembalasan satu sama lain yang sifatnya merugikan kedua belah pihak. Hadi Syamsul menyampaikan bahwa terhadap pengaduan masyarakat tersebut, pihak kepolisian tetap akan melakukan penyelidikan, apakah benar terjadi tindak pidana tersebut.

Jika penyelidikannya sudah bisa ditingkatkan ke penyidikan, pasti ditingkatkan. Sekarang, pihaknya sedang membuat laporan polisi sebagai dasar dalam melakukan penyelidikan, melakukan pemeriksaan terhadap saksi- saksi, mencari petunjuk tambahan, cari alat bukti lain untuk membuat terang suatu tindak pidana.

Ia berharap, masyarakat mempercayakan pihak kepolisian untuk menangani perkara ini secara profesional. ”Kami dari kepolisian tidak akan memihak salah satu pihak karena kami akan bekerja sesuai dengan prosedur yang ada. Kalau memang benar terjadi tindak pidana, baik itu penganiayaan maupun pengeroyokan, maka yang melakukan harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya,” pungkasnya.(*)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)