Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Kota » Berjualan Saat Covid-19, Pedagang Takjil Minta Kebijakan Pemerintah

Berjualan Saat Covid-19, Pedagang Takjil Minta Kebijakan Pemerintah

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 30 Apr 2020
  • visibility 80
  • comment 0 komentar

Loading

Kota Kupang, Garda Indonesia | Kudapan Takjil Ramadan di daerah Bonipoi, telah ada dan menjadi budaya kuliner sejak 15 tahun lalu, selalu di setiap Ramadan, bakal berjejer para pedagang yang menjajakan takjil (jajanan aneka ragam kue, kolak, dan es buah) menu berbuka puasa bagi umat Muslim di Kota Kupang. Tak ketinggalan, warga Non Muslim pun berburu aneka takjil tersebut yang digelar di trotoar Jalan Urip Sumoharjo, persis di depan Kantor Bank Mandiri.

Namun, suasana saat ini berbeda dengan Ramadan sebelumnya. Di Ramadan 1441H, dampak Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) membatasi ruang gerak interaksi sosial (social distancing) dan interaksi fisik antar sesama atau physical distancing.

Terkait peraturan yang diterapkan secara nasional maupun internasional tersebut, menyebabkan kondisi berjualan para pedagang takjil Ramadan di sekitar Bonipoi tersebut dibatasi bahkan dilarang berjualan di depan Bank Mandiri Urip Sumoharjo yang terletak di Kelurahan Bonipoi, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara (NTT).

Terpisah, Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore kepada Garda Indonesia, usai menerima secara simbolis bantuan APD Standar Covid-19 dari Wahana Visi Indonesia (WVI) pada Rabu, 29 April 2020 di Dinas Kesehatan Kota Kupang, mengatakan akan menggelar rapat koordinasi terkait kondisi tersebut.

“Kita sekarang mau rapat koordinasi untuk mencari jalan keluar karena bagaimana pun mereka juga perlu dibantu tetapi dengan protokol yang harus kita ikuti. Sehingga sebentar kita akan mencari solusi bersama dengan pak Kapolres, pak Dandim dan semua jajarannya. Sekarang kami mau pertemuan di ruang pak Kapolres. Imbauan diberikan setelah diadakan rapat koordinasi,” ungkapnya.

Apa alasan pedagang takjil Ramadan di Bonipoi masih tetap berjualan, meski telah diimbau bahkan dilarang oleh Satpol PP?

Ibu Ida (berkerudung hijau), Pedagang Takjil Kampung Solor saat berjualan di depan Bank Mandiri Urip Sumoharjo

Simak petikan wawancara antara Garda Indonesia dengan pedagang takjil Ramadan (Ibu Astrid dan Ibu Ida) pada Rabu siang, 29 April 2020 di bawah ini:

Garda Indonesia, Saya sudah wawancara dengan Wali Kota menyangkut berjualan di tempat ini, apakah sudah ada imbauan dari pemerintah untuk tidak berjualan di sini? Kenapa memutuskan untuk masih berjualan di sini?

Ibu Astrid: Saya juga kurang tahu soalnya kakak saya masih rapat di atas, kami hanya berharap agar dapat izin karena ini satu tahun satu kali. Kami juga mencari uang untuk lebaran. Jadi mohon perhatian diizinkan untuk berjualan. Kami orang susah dan hanya berharap di bulan suci Ramadan saja. Kami berharap agar pak Wali Kota berbesar hati untuk mendengar kami rakyat miskin ini yang berjualan setahun sekali. Mohon diberi izin supaya kami semua bisa berjualan. Kalaupun tidak diizinkan, saya minta keadilan supaya semua tidak berjualan. Kalau kami di kampung Solor tidak boleh berjualan mestinya adil, baik itu yang di Airmata, Kuanino, bahkan pasar pun harus tutup kalau kami diwajibkan untuk tutup.

Garda Indonesia, Apakah semalam pihak berwajib datang kesini untuk melarang berjualan?

Ibu Astrid : Mereka melarang untuk tidak boleh berjualan!

Garda Indonesia: Apakah mereka mengatakan berjualan tetapi membuat jarak?

Ibu Astrid : Ada, kami diberi imbauan untuk atur jarak, memakai masker, sarung tangan dan menyediakan air cuci tangan. Semua itu sudah kami lakukan tetapi tetap salah. Maksudnya kami sudah lakukan semua imbauan dan aturan tersebut tetapi tetap dilarang untuk tidak berjualan.

Ibu Ida: Kenapa dari awal bulan puasa kami tidak dilarang untuk berjualan? Kami sudah terlanjur belanja untuk berjualan.

Garda Indonesia: Saya peroleh informasi bahwa pedagang melakukan pinjaman di koperasi untuk berjualan?

Ibu Ida: Iya, memang. Kami semua mengambil modal dari yang punya modal. Kalau kami disuruh tutup bagaimana dengan pengembalian modal kami.

Wawancara Garda Indonesia dengan Ketua Koordinator Pedagang Takjil Ramadan Bonipoi :

Garda Indonesia, Apakah kemarin sudah ada koordinasi dengan pihak Pemkot terkait penjualan di sini seperti apa, mungkin ada imbauan dari mereka?

Faizah Shayril: Dari Pemkot belum ada, kalau dari provinsi ada, itu dari pak Kasat Pol PP Provinsi bersama rombongan dengan Kadis Perdagangan, Pak Nasir Abdullah. Mereka datang dan bernegosiasi dengan kita di sini, warga Kampung Solor khususnya karena semua yang berdagang di sini warga Kampung Solor. Jadi ada kesepakatan. Semua yang dianjurkan oleh pemerintah sudah kami ikuti mulai dari cuci tangan, masker, kaus tangan, dan jaga jarak juga sudah kami jalankan.

Biasanya kan padat tapi ini mulai berkurang, masih terlihat padat karena satu rumah dua orang berarti dua meja karena tergantung dari mereka. Ada yang pinjam modal untuk usaha ya usaha. Jadi untuk poin yang diwacanakan oleh pemerintah kan harus stop, kita bisa stop, hari ini pun bisa, cuma apakah pemerintah bisa menjamin apa tidak?. Menjamin dalam arti ada saudara kita yang pinjam dana untuk modal dari gadai emas, gadai motor, gadai BPKB, sampai pinjam koperasi harian bahkan ada yang pinjamannya sampai 10 juta.

Koordinator Pedagang Takjil Ramadan, Faizal Sahyril (berbaju kaos kuning dan bermasker)

Apakah semua itu pemerintah bisa realisasi atau tidak?. Tadi malam kami sudah bicara dengan Kapolresta juga, kami taat akan hukum, tapi apakah pemerintah bisa maklum keadaan kami atau tidak? Jadi kalau kami warga disuruh berhenti bisa, jangankan besok, hari ini pun bisa, tapi apakah bisa datanya kita diminta hari ini selesai atau besok jangan hanya bicara bilang bisa. Hasil akhirnya tidak ada dan kalau berhenti kami cukup aman di sini karena tidak ada yang duduk makan semua bungkus bawa pulang.

Ini bukan prioritas umat muslim saja tetapi untuk semua kalangan membeli setiap tahunnya. Kami sudah 15 tahun berjualan di sini. Kalau mau ditutup, semua ditutup baik itu pedagang yang berjualan pagi, siang, maupun malam semua harus ditutup. Interaksi yang paling fatal adalah pasar karena semua bahan mentah dan bahan jadi dijual di sana. Kalau mau ditutup sekalian semua ditutup, tapi sekali lagi apakah pemerintah bisa menjamin warga Kampung Solor atau tidak?

Cuma yang penting semua itu direalisasikan dengan tuntutan kita, karena tuntutan kita tidak banyak, apa bisa melunasi hutang kita? terus keuntungan kita sehari berapa kalau disuruh berhenti, tidak sudah muluk-muluk keuntungan cukup modal saja dibayar seperti koperasi harian yang sehari 50 ribu, 30 ribu, 60 ribu yang memiliki banyak varian.

Apakah itu semua bisa dilakukan pemerintah kalau menyuruh kami berhenti?. Kalau tidak bisa diizinkan, kami satu bulan saja, apa yang pemerintah anjurkan sudah kami ikuti. Sudah 15 tahun kami berjualan di sini tidak ada pembeli yang duduk makan ataupun nongkrong, yang berbuka puasa juga tidak kecuali sebelum Taman Sonbai ini jadi. Setelah ada taman ini dari tahun kemarin setelah Pak Jeriko mulai aktif tata kota, tidak ada lagi yang duduk atau nongkrong makan di sini.

Di sini, kami semua sepakat untuk melarang jangan sampai ada kemacetan, menjaga kebersihan, jangan terlalu semerawut pokoknya kita juga membantu petugas dari kepolisian. Kita arahkan kendaraan untuk parkir di samping katedral atau sebelah kanan jalan supaya membantu pihak kepolisian agar tidak terganggu untuk mengurus kemacetan di sini.

Garda Indonesia, Apakah Pak ditunjuk oleh Satpol PP untuk mengoordinasikan pedagang takjil di sini?

Faizah Shayril : saya ditunjuk oleh Kasat Pol PP Provinsi karena mewakili dari awal. Ibu saya berjualan di sini bersama adik iparnya. Kebetulan saya ada kemarin malam sehingga ditunjuk sebagai koordinator untuk bertanggung jawab mengatur sesuai arahan bapak-bapak pemerintahan pusat, tapi kalau dari kota tadi belum kesini. Adik sepupu saya mengatakan bahwa pihak dari pemerintah kota datang lagi dengan alasan kenyamanan pejalan kaki atau penggunaan trotoar.

Garda Indonesia, Apakah mereka menegur dan melarang berjualan di sini?

Faizah Shayril : Kenapa baru tahun ini ditegur sedangkan dari tahun-tahun sebelumnya tidak dilakukan. Kami bukan bandel tapi ini berdasarkan realitas, selama 14 tahun sebelumnya kami berjualan di trotoar, di depan kantor bupati lama, di aspal, tapi kenapa kami yang harus disoroti. Itulah yang membuat kami tidak menghargai penyampaian dari pihak pemkot tadi, jadi mereka bilang akan balik. Kami berdagangan dua kali dalam satu minggu, kalau mau larang berjualan terus barang mentah yang sudah kami beli seperti minyak goreng, tepung, telur, pisang mau dibawa ke mana?

Penulis, editor dan foto (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alasan Gus Dur Perintah Banser Jaga Gereja di Hari Natal

    Alasan Gus Dur Perintah Banser Jaga Gereja di Hari Natal

    • calendar_month Jum, 24 Des 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Loading

    Saat ini sudah sangat lumrah para pejabat mengucapkan Selamat Natal. Bahkan seorang gubernur yang demikian diidamkan untuk tidak menyampaikan ucapan saat 25 Desember, akhirnya tetap melakukannya. Hal ini memberikan pesan bahwa mengucapkan Selamat Natal bukanlah sebuah aib, apalagi mengantarkan yang bersangkutan menjadi kafir. Ada nilai yang ingin disemaikan bahwa dalam urusan mengucapkan hari raya bagi […]

  • Lahan Seluas 150 Hektar Terbakar di Kolaka Timur

    Lahan Seluas 150 Hektar Terbakar di Kolaka Timur

    • calendar_month Ming, 1 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Loading

    Kolaka-Sulawesi, Garda Indonesia | Lahan dengan luas sekitar 150 hektar yang terbagi pada 3 desa dan 2 kecamatan di Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara, terbakar pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019. Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo menyampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kolaka Timur telah menyatakan status siaga darurat […]

  • Presiden Jokowi Jadi Irup Upacara Pemakaman Alm. BJ Habibie

    Presiden Jokowi Jadi Irup Upacara Pemakaman Alm. BJ Habibie

    • calendar_month Kam, 12 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Saat ini, Jenazah B.J Habibie disemayamkan di rumah duka, Jl. Patra Kuningan XIII/3 Jakarta Selatan. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/09/11/bj-habibie-tutup-usia-imo-indonesia-ucap-belasungkawa/ Informasi yang diterima oleh media yang tergabung dalam IMO-Indonesia dari Rubijanto (Sespri Alm. BJ Habibie-red) bahwa rencananya pada pukul 12.30 WIB di rumah duka Jl. Patra Kuningan XIII/3 Jakarta Selatan akan dilakukan […]

  • Wajib Pakai Masker & Hindari Kerumunan! Operasi Gabungan Tertibkan per 14 Mei

    Wajib Pakai Masker & Hindari Kerumunan! Operasi Gabungan Tertibkan per 14 Mei

    • calendar_month Kam, 14 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | “Mulai Kamis, 14 Mei 2020, petugas gabungan bersama TNI Polri akan lebih tegas menertibkan penggunaan masker dan mengatur aktivitas warga di tempat-tempat umum, karena kita masih temukan warga yang berkumpul di lokasi-lokasi publik,” ungkap Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore pada Rabu, 13 Mei 2020. Selain itu, tegas Wali Kota […]

  • Siapkan Prajurit Berfisik Prima, Korem 143/HO Helat Latihan Ketangkasan HTF

    Siapkan Prajurit Berfisik Prima, Korem 143/HO Helat Latihan Ketangkasan HTF

    • calendar_month Kam, 6 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Loading

    Kendari, Garda Indonesia | Pada Kamis, 6 Februari 2019 bertempat di Tanah Makorem 143/Halu Oleo, Kelurahan Nanga-nanga, Kecamatan Baruga Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara telah dilaksanakan Apel pengecekan kegiatan HTF Personel Jajaran Makorem 143/HO. How To Fine The Fighter atau yang lebih dikenal dengan sebutan Materi HTF merupakan salah satu materi latihan yang disiapkan untuk […]

  • Spanduk Pengobatan Gratis Dipajang, Ini Respons Anggota DPRD Belu Fraksi Golkar

    Spanduk Pengobatan Gratis Dipajang, Ini Respons Anggota DPRD Belu Fraksi Golkar

    • calendar_month Jum, 23 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Loading

    Belu–NTT, Garda Indonesia | Salah satu program prioritas pengobatan gratis bagi seluruh masyarakat Kabupaten Belu yang dijanjikan Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin, Sp.Pd – KGEH., FINASIM. dan Wakil Bupati, Drs. Aloysius Haleserens, M.M. pada masa kampanye politik beberapa waktu lalu, siap diluncurkan. Hal ini tampak dipajangnya spanduk pencanangan pengobatan gratis di tempat–tempat umum, salah satu […]

expand_less