Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Regional » Polemik Panjang Hutan Adat Besipa’e, Intervensi Pemprov & Aksi Heboh

Polemik Panjang Hutan Adat Besipa’e, Intervensi Pemprov & Aksi Heboh

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 17 Mei 2020
  • visibility 45
  • comment 0 komentar

Loading

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Polemik berkepanjangan lahan Desa Adat di Besiapa’e Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (T.T.S), Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyisakan fakta panjang yang seharusnya menjadi perhatian Pemerintah Provinsi NTT.

Hingga pada puncak polemik saat kunjungan mendadak Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) pada Selasa, 12 Mei 2020, yang menyisihkan aksi heboh ibu-ibu Besipa’e dengan bertelanjang dada di hadapan Gubernur NTT dan rombongan.

Baca juga :

http://gardaindonesia.id/2020/05/15/emi-nomleni-ketua-dprd-ntt-angkat-bicara-soal-aksi-heboh-di-besipae-tts/

Seperti apakah kisah panjang tersebut, mari simak petikan wawancara Garda Indonesia dan Pendamping Desa Adat Besipae, Sherly Asbanu, melalui percakapan telepon pada Sabtu, 16 Mei 2020 pukul 12.00 WITA—selesai :

Garda Indonesia: Salam Sehat Kakak Sherly, bisa disampaikan seperti apakah kisah lahan di Besiapa’e yang saat ini menjadi polemik berkepanjangan?

Sherly Asbanu: Di Desa Mio tersebut masyarakat yang tinggal di situ cukup lama. Dulu mereka tinggal di belakang hutan. Sewaktunya masa kepemimpinan Pak Piet Tallo (saat tersebut menjabat sebagai Bupati T.T.S dua periode 1983—1993, red) mereka memiliki kontrak pemerintah NTT dengan Aussie-Australia. Waktu itu Besipa’e digunakan untuk peternakan, kontraknya dari tahun 1982—1987.

Setelah selesai, pemerintah Australia menyerahkan kembali kepada masyarakat adat yang ada di situ, mereka tidak menindaklanjuti dan mereka lapor ke Pak Gubernur (Ben Mboi masa jabatan 1983—1988, red). Dari pemprov mereka buat perjanjian lagi dari tahun 1987—2012, selama 25 untuk tanah tersebut digunakan oleh pemprov melalui Dinas Peternakan.

Setelah itu, tidak ada perpanjangan kontrak lagi akhirnya masyarakat setempat melindungi Hutan Adat itu dengan membuat pagar keliling. Tahun 2012, pada masa kepemimpinan Pak Frans Lebu Raya (Gubernur NTT ke-7 masa jabatan 2008—2018, red), mereka ingin memperpanjang kontrak tapi masyarakat adat tidak mau sampai mereka dipaksa hingga menurunkan polisi, tentara, pol PP hingga dikepung, tetap pemprov tidak bisa melawan.

Akhirnya pemprov tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Yang mereka tuntut adalah pemprov tidak boleh memakai tempat itu lagi karena setelah dipakai tidak ada perawatan.

Warga Desa Adat Besipa’e di Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (T.T.S), Provinsi NTT

Garda Indonesia: Seperti apakah perlakuan masyarakat Besipa’e terhadap lahan tersebut?

Sherly Asbanu: Itu adalah Hutan Adat yang dijaga oleh masyarakat adat setempat.

Mereka boleh membersihkan rumput-rumput sekitar hutan dan menanam hasil bumi hingga menjualnya, tetapi tidak boleh memotong kayu-kayu yang ada di situ. Dari zaman Belanda, masyarakat sudah menegaskan tentang hutan tersebut, akan tetapi pemprov datang dengan seenaknya.

Garda Indonesia: Apa kapasitas Kakak Sherly bagi masyarakat Besipa’e?

Sherly Asbanu :Tahun 2016, kami dengan masyarakat mengadakan demo di Supul, tambang mangan. Saya saat itu sebagai aktivis tambang dan sebagai pendamping pemilik lahan. Pemilik lahan Hutan Adat itu Nabuasa dan Selan. Sewaktu diminta ke Besipa’e, masyarakat menceritakan semua kepada kami.

Mereka meminta agar OSM memfasilitasi mereka sehingga bisa membuat laporan sampai ke presiden. Karena sampai saat itu dari pemerintah provinsi tidak ada mau duduk bersama masyarakat untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Garda Indonesia: Sebenarnya, apa yang menjadi permintaan masyarakat Desa Adat Besipa’e terhadap Pemprov NTT?

Sherly Asbanu: Masyarakat di situ sudah meminta agar hutan tersebut tidak boleh dipakai, apalagi mau menanam kelor karena itu Hutan Adat. Jikalau demikian, maka harus duduk bicara dengan pemilik tersebut agar diserahkan.

Jika menanam kelor dan membuat pabrik maka pohon-pohon tersebut pasti harus dipotong sedangkan pohon-pohon tersebut kalau dipotong dan diambil oleh masyarakat lain akan dimasukkan dalam penjara. Pemotongan pohon-pohon tersebut harus melalui acara adat.

Makanya, saya mengatakan bahwa pemerintah provinsi dalam hal ini Pak Gubernur (Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat [VBL]) harus menyelesaikan secara adat dan harus meminta kepada mereka.

Garda Indonesia: Apakah benar bahwa lahan seluas 3.700 hektar tersebut memiliki 2 (dua) sertifikat?

Sherly Asbanu: Kemarin ada yang mengatakan bahwa tanah tersebut memiliki dua sertifikat. Itu betul.

Bahwa setelah selesai masa kontrak, pemprov secara diam-diam membuat sertifikat dan itulah yang membuat masyarakat tidak mau dan marah. Mereka tidak akan keluar dari tempat tersebut, mereka meminta agar Pak Gubernur jangan datang dan meminta mereka untuk keluar dari tempat tersebut.

Penulis dan editor (+rony banase)
Foto utama (*/istimewa, warga Adat Besipa’e)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panglima TNI : TNI-Polri Siapkan Operasi Kemanusiaan di Pulau Galang

    Panglima TNI : TNI-Polri Siapkan Operasi Kemanusiaan di Pulau Galang

    • calendar_month Ming, 8 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Loading

    Kepulauan Riau, Garda Indonesia | Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) bersama seluruh komponen bangsa lainnya sedang mempersiapkan operasi kemanusiaan di Pulau Galang, termasuk rencana pembangunan rumah sakit khusus untuk menangani wabah Virus Corona atau Covid-19 oleh Pemerintah atau instansi terkait. Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi […]

  • Waisak di Kota Kupang, Umat Buddha Ambil ‘Tirta’ di Baumata

    Waisak di Kota Kupang, Umat Buddha Ambil ‘Tirta’ di Baumata

    • calendar_month Rab, 15 Mei 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Hari Raya Waisak 2568 BE/2024 jatuh pada tanggal 23 Mei. Beragam aktivitas pun dihelat oleh umat Budha di Indonesia, termasuk di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ketua Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) Provinsi NTT, Indra Effendy, S.E. menguraikan rentetan seremoni perayaan Waisak 2024 dengan melakukan karya bakti tabur bunga dan ziarah di taman makam […]

  • Polisi dan TNI Adang Massa Aksi GEBRAK Menuju Gedung DPR/MPR

    Polisi dan TNI Adang Massa Aksi GEBRAK Menuju Gedung DPR/MPR

    • calendar_month Jum, 16 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Ribuan peserta aksi massa Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) yang akan bergerak menuju depan Gedung MPR/DPR RI untuk melaksanakan unjuk rasa menolak revisi UU Ketenagakerjaan dihadang oleh kepolisian dan TNI. Penghadangan terjadi di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Jakarta Utara. Di Koja, Kepolisian Jakarta Utara menghalangi mobil komando […]

  • Listrik PLN Tanpa Kedip MotoGP Mandalika 2023

    Listrik PLN Tanpa Kedip MotoGP Mandalika 2023

    • calendar_month Sen, 16 Okt 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | PLN (Persero) sukses memasok listrik yang andal dan tanpa kedip atau zero down time pada perhelatan MotoGP yang berlangsung di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, NTB pada 13—15 Oktober 2023. Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Priandi Satria mengatakan, peran PLN dalam menyukseskan gelaran internasional ini sangat penting. Selama penyelenggaraan, beban […]

  • Kumham NTT & Unika Santu Paulus Ruteng Diseminasi Kekayaan Intelektual

    Kumham NTT & Unika Santu Paulus Ruteng Diseminasi Kekayaan Intelektual

    • calendar_month Ming, 26 Sep 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Loading

    Ruteng, Garda Indonesia | Menindaklanjuti perjanjian kerja sama antara Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Nusa Tenggara Timur dan Universitas Katolik (UNIKA) Indonesia Santu Paulus Ruteng, dilaksanakan Workshop ‘temu wicara’ Promosi dan Diseminasi Kekayaan Intelektual, bertempat di aula Kampus Unika Santu Paulus Ruteng pada Jumat, 24 September 2021. Temu wicara yang dihadiri oleh 40 orang […]

  • Kerja Sama Sejak 2009, Bank NTT Kukuhkan Lagi ‘MoU’ dengan Sinode GMIT

    Kerja Sama Sejak 2009, Bank NTT Kukuhkan Lagi ‘MoU’ dengan Sinode GMIT

    • calendar_month Sel, 22 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Menjelang Natal 2020, Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (Bank NTT), kembali mengukuhkan sinergisitas layanan bersama Sinode GMIT dalam penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS) yang dilakukan pada Senin, 21 Desember 2020 di aula Kantor Pusat Bank NTT. MoU yang ditandatangani Direktur Utama Bank NTT, Alex Riwu […]

expand_less