Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Bangun RS Marianum Kimbana, Suster Provinsial SSpS Timor Dinilai Bohongi Warga Lokal

Bangun RS Marianum Kimbana, Suster Provinsial SSpS Timor Dinilai Bohongi Warga Lokal

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 24 Okt 2021
  • visibility 87
  • comment 0 komentar

Loading

Belu–NTT, Garda Indonesia | Lukas Kaisadu, warga Dusun Kimbana menilai mantan Kepala Provinsial SSpS Timor telah membohongi warga lokal Dusun Kimbana, Oetfo dan Dusun Leoruas pada tahun 2015 silam, awal perencanaan pembangunan Rumah Sakit Marianum Kimbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu dialami warga lokal di masa kepemimpinan Kepala Provinsial SSpS Timor saat ini, Sr. Aloisia Teti, SSpS dan pimpinan proyek (pimpro), Fredrikus Bele.

Diceritakan Lukas Kaisadu pada Senin siang, 18 Oktober 2021 bahwa proyek pembangunan RS Marianum berlokasi di Kimbana yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Suku Beihale. Rencana pembangunannya dilakukan sejak enam tahun lalu (2015, red). Kala itu, mantan Kepala Provinsial SSps Timor yang kini sudah diganti oleh Kepala Provinsial  SSpS Timor yang baru, Sr. Aloisia Teti, SSpS, pernah mendatangi rumah orang tua Lukas Kaisadu dengan tujuan meminta bantuan ayah kandungnya, Herman Kalla selaku Kepala Suku Beihale untuk diadakan acara adat peletakan batu pertama, sekaligus dukungan pengawalan proses pembersihan lokasi pembangunan hingga ketika proses pembangunan dimulai.

Permintaan itu diterima pihak Lukas Kaisadu dan Herman Kalla tanpa dibayar, lantaran dijanjikan untuk memperkerjakan warga lokal yang berdomisili di 3 dusun terdekat, yakni Dusun Kimbana, Oetfo dan Dusun Leoruas sebagai tenaga buruh prioritas. Kesepakatan itu pun dinyatakan secara tertulis dan ditandatangani oleh dua orang wakil pemerintahan Dusun Kimbana, yakni ketua RW V, Frandus Hale dan Ketua RT II, Dami Berek.

“Waktu itu, suster kepala provinsial yang lama datang langsung di rumah. Dia datang sama–sama dengan pimpro lama. Suster datang minta kami untuk kawal pembersihan lokasi, supaya tidak ada orang yang datang tegur. Dan itu, kami lakukan secara sukarela, tanpa dibayar. Perjanjian tentang prioritas tenaga buruh lokal itu ditandatangani oleh Ketua RW V dan Ketua RT II Dusun Kimbana. Nah, fakta yang kami hadapi sekarang justru realisasi dari kesepakatan itu sama sekali tidak ada. Faktanya nol! Ini ‘kan suster dan pimpro tipu kami orang lokal,” berang Lukas Kaisadu.

Selanjutnya, Lukas menegaskan bahwa isi kesepakatan tertulis enam tahun lalu, jumlah tenaga buruh lokal tidak dibatasi. Berapa pun tenaga buruh yang dibutuhkan, semuanya harus diambil dari warga lokal tiga dusun sesuai dengan spirit Kongregasi SSpS “pemberdayaan masyarakat lokal”.

“Sekarang, suster provinsial dan pimpro baru itu datang, mereka lupa tentang semua janji yang dulu. Kami warga lokal melamar kerja, mereka bilang tenaga buruh sudah cukup. Tapi, saya cek di dalam, justru mereka diam–diam bawa tenaga buruh banyak dari luar,” kesal Kaisadu.

Ada pun cerita lain, bahwa pimpro Fred Bele sebelumnya pernah meminta Lukas Kaisadu agar memberikan kesempatan kepada 20 orang tenaga buruh yang dibawanya dari luar. Lantas, Lukas pun sepakat tetapi dengan syarat orang lokal tiga dusun menjadi tenaga buruh prioritas sebagaimana termuat dalam kesepakatan tertulis bersama mantan Kepala Provinsial SSpS Timor dan pimpro yang lama, enam tahun lalu.

“Kami ketemu enam mata dengan Fred Bele. Dia bilang, kalau bisa dia sisip tenaga buruh 20 orang yang dia bawa dari luar. Saya setuju, tapi dengan syarat orang lokal tetap jadi prioritas, nanti sisanya baru ambil dari 20 orang itu. Kita sudah mengerti dengan dia, malah sekarang dia balik lagi dengan dia punya orang yang jadi prioritas. Kami yang orang lokal kerja di bawah tekanan. Mereka bilang, kalau kami mau tetap kerja, kami hanya dibayar 50 ribu per hari tanpa makan dan minum. Sementara, dia punya orang dibayar 70 ribu per hari. Kami tidak tahu, dia punya tenaga buruh itu tanpa makan minum seperti kami atau tidak? Padahal, pekerjaan kami sama,” urai Lukas kecewa.

Lukas Kaisadu pun tak segan–segan menyebut Fred Bele sebagai pribadi licik yang hanya mau memperdaya dan menindas warga lokal. Lukas pernah dijanjikan oleh Fred Bele untuk menjadi tenaga pengawas khusus bagi tenaga buruh lokal tiga dusun, yakni Dusun Kimbana, Oetfo dan Dusun Leoruas.

“Ternyata apa? Orang lokal datang lamar tidak diterima karena bilang sudah cukup. Kami sudah selama 2 minggu lebih, tiap hari hanya bolak balik. Hari ini datang, mereka bilang besok datang lagi, begitu terus setiap hari. Kami masuk cek, ternyata orang luar paling banyak, sedangkan orang lokal hanya 8 orang. Mereka bikin kami seperti boneka mainan saja. Mereka buat begini, siapa yang tidak marah? Kami sudah cukup sabar, ikut mereka punya permainan. Kalau tidak mau kami orang lokal masuk kerja, ya kasih tahu jujur saja supaya kami tidak usah bolak–balik tiap hari,” tandas Lukas Kaisadu dengan wajah marah. (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Juri Tetapkan Juara Festival Desa Binaan Bank NTT 2022

    Juri Tetapkan Juara Festival Desa Binaan Bank NTT 2022

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Tim juri Festival Desa Binaan Bank NTT dan Festival PAD Tahun 2022, Selasa (13/12) akhirnya memutuskan 3 (tiga) juara yang mana melibatkan peserta dari 115 desa di seluruh NTT. Tak hanya itu, juri pun memutuskan 1 (satu) desa sebagai desa favorit dan dari internal Bank NTT, mereka memberi penghargaan kepada PIC […]

  • ‘Digital Lounge’ Ketiga Bank NTT Hadir di Labuan Bajo

    ‘Digital Lounge’ Ketiga Bank NTT Hadir di Labuan Bajo

    • calendar_month Sen, 25 Apr 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | Terus hadir dengan inovasi baru dalam layanan perbankan, itulah Bank NTT. Menjawab kebutuhan akan layanan perbankan yang cerdas dan serba digital, maka PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur (PT. BPD NTT) menghadirkan digital lounge di Labuan Bajo. Ini adalah satu-satunya layanan digital di seluruh daratan Flores, dan menjadi satu-satunya […]

  • PLTU Timor 1 Unit 1 Siap Suplai Listrik di Daratan Timor

    PLTU Timor 1 Unit 1 Siap Suplai Listrik di Daratan Timor

    • calendar_month Rab, 26 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) berhasil melaksanakan tahapan sinkron atau first synchronization pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Timor 1 (2×50 MW) Unit 1 dengan sistem kelistrikan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa, 25 Juli 2023. Manager PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Proyek Nusa Tenggara […]

  • Pasien Sembuh Covid-19 Meningkat 3.064, Kasus Meninggal Tembus Angka 1.007

    Pasien Sembuh Covid-19 Meningkat 3.064, Kasus Meninggal Tembus Angka 1.007

    • calendar_month Rab, 13 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kembali mencatat jumlah penambahan kasus sembuh Covid-19 per Selasa, 12 Mei 2020 pukul 12.00 WIB menjadi 3.063 setelah ada penambahan sebanyak 182 orang. “Kasus sembuh meningkat 182 orang menjadi 3.063 orang,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto dalam keterangan resmi di […]

  • Gugus Tugas : Kaum Muda Kebanyakan Tidak Sadar Terinfeksi Covid-19

    Gugus Tugas : Kaum Muda Kebanyakan Tidak Sadar Terinfeksi Covid-19

    • calendar_month Kam, 7 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr. Budi Santoso mengatakan kebanyakan kaum muda tidak sadar telah terinfeksi Covid-19 sehingga tidak merasa sebagai pembawa virus yang bisa menularkan kepada orang lain. “Bagi kaum muda, Covid-19 kebanyakan tidak ada gejala atau tidak ada gejala klasik yang sering kita sebut sebagai orang […]

  • Folemako—Tradisi Makan Adat dari Kabupaten Timor Tengah Utara

    Folemako—Tradisi Makan Adat dari Kabupaten Timor Tengah Utara

    • calendar_month Ming, 21 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Loading

    Naiola-T.T.U, Garda Indonesia | Begitu banyak tradisi makan adat [budaya tradisional] yang menjadi budaya daerah di 22 kab./kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); salah satunya adalah tradisi makan bersama secara adat di Kabupaten Timor Tengah Utara (T.T.U). Folemako (dibaca Fole’ Mako’) merupakan tradisi turun temurun masyarakat adat dari semua suku yang berada di bawah […]

expand_less