Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Penanganan Bencana di Sulteng Stagnan dan Tak Menyeluruh

Penanganan Bencana di Sulteng Stagnan dan Tak Menyeluruh

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 11 Des 2018
  • visibility 115
  • comment 0 komentar

Loading

Palu, gardaindonesia.id | Walaupun Bencana alam berupa gempa bumi yang kemudian disusul Tsunami, Likuifaksi dan banjir bandang sudah dua bulan lebih berlalu di Palu dan Donggala, namun penanganan korban semakin tidak jelas. Pemerintah Pusat, Provinsi hingga Kabupaten kota hanya sibuk dengan kepentingan pribadi atau golongannya masing- masing.

Inpres Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Gempa Bumi dan Tsunami di Provinsi Sulteng dan Wilayah Terdampar lainnya seakan hanya buaian Politik belaka. Seluruh Kementerian dan Badan yang terlibat langsung dalam inpres yang dikeluarkan tanggal 28 Nopember 2018 belum nampak signifikan.

Besarnya Bantuan logistik yang masuk ke Sulteng ternyata tidak menyentuh semua korban, bahkan ada warga yang hingga kini belum pernah mendapatkan bantuan sejak tragedi jumat kelabu terjadi. Kehidupan warga di pengungsian semakin memprihatinkan setelah tenda yang mereka dapatkan dari relawan mulai bocor-bocor, dan bantuan logistik sudah tidak lagi mereka dapatkan. Kondisi itu membuat mereka semakin terpuruk sebab sekarang ini; Sulteng sudah memasuki musim penghujan.

Salah seorang warga Duta,Rahman menilai penanganan Pengungsi di Sulteng khususnya Sirenja dan Balaesan Tanjung belum ditangani dengan maksimal, mulai dari Huntara hingga logistik serta kebutuhan lainnya.

“Pemerintah jangan hanya melihat pengungsi yang ada dipinggir jalan, tapi coba masuk ke lokasi pengungsian yang ada di gunung-gunung dan lokasi terpencil,” tegasnya.

Anwar Hakim SH dengan lantang mempertanyakan penanganan Pengungsi di Sulteng, mulai dari bantuan makanan hingga pada penyediaan Hunian Sementara (Huntara) bermasalah. Pengungsi yang berada ditanda-tenda mulai kekurangan makanan dan perlengkapan lainnya, bahkan masih ada warga yang sampai saat ini belum memperoleh bantuan sama sekali.

“Kalau mendengar atau membaca berita luar biasa bantuan ke Sulteng, tapi nyatanya masih ada warga yang tidak kebagian,”ujar Anwar sambil menunjuk warga yang belum memperoleh bantuan, padahal mereka layak menerima sebab tempat tinggal mereka hancur.

Belum lagi pembangunan Huntara yang tidak beres. Awalnya direncanakan 1200 unit dengan anggara sekitar Rp 600 Miliar, tapi sampai saat ini baru 40 persen yang terbangun, jadi sisanya kapan terealisasi. Sementara warga sangat butuh hunian.

“60 Persen Huntara yang belum terealisasi akan berdampak buruk terhadap penanganan Pengungsi di Sulteng,” ujarnya.

Lanjut Anwar, Itu terjadi karena adanya praktek percaloan terhadap main kontrak atau subkontrak dengan para pekerja di lapangan. Padahal 1200 unit Huntara yang sudah direncanakan, telah disesuikan dengan jumlah korban yang ada. Jadi kalau tidak bisa terealisasi keseluruhannya, maka dipastikan ada korban yang tidak kebagian hunian sementara. Persoalan itu tidak bisa dipandang sebelah mata sebab mereka adalah sesama warga negara Indonesia.

”Ataukah Pemerintah sudah tidak lagi menganggap warga negara, sehingga tidak diperlakukan sebagaimana yang diatur dalam inpres no 10 tahun 2018,”tanya aktifis LSM GTI itu.

Anwar menilai Inpres percepatan pembangunan pascagempa di Sulteng hanya buaian politik, seakan hendak dipertontonkan kalau Pemerintah cepat tanggap dengan persoalan yang dihadapi warganya. Padahal kondisi di lapangan sangat timpang, ditandai belum ada program penanganan bencana yang beres 100 persen. Pembersihan material reruntuhan bangunan belum keseluruhan dilakukan, hasil Geologi juga belum ada.

”Mandek penanganan Bencana di Sulteng,” tegasnya.

Gubernur Sulteng Drs H Longki Djanggola, M.Si., yang dimintai komentar mengatakan bahwa sebelum ada Inpres Nomor 10 tahun 2018 keluar, Pemerintah Pusat, mulai Presiden, Wapres dan BNPB selaku ketua harian sudah bekerja sangat optimal. Tinggal koordinasi antar sektor/kementerian teknis perlu ditingkatkan, agar setiap ada bencana bisa langsung terkoordinasi penanganannya di lapangan.

”Menurut daya listrik sebelum inpres keluar, Pemerintah Pusat sudah bekerja optimal untuk penanganan bencana di Sulteng,” ungkap Gubernur Djanggola.

Penulis: Burhan Jawachir
Editor (+rony banase )

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Pertama, 8 Kab di NTT Papar Hasil Perolehan Suara Pemilu 2019

    Hari Pertama, 8 Kab di NTT Papar Hasil Perolehan Suara Pemilu 2019

    • calendar_month Sel, 7 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Hasil Perhitungan Perolehan Suara Pemilu Tahun 2019 Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur, mulai digelar pada Selasa, 7 Mei 2019 pukul 09.00 WITA di Aula Sahid T More Hotel Kupang, dibuka oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi dan dihadiri oleh Wakapolda NTT, Brigjen Pol Joni Asadoma dan […]

  • Semangat Menenun Sanggar Nunupu Kuneru Diapresiasi Dekranasda Belu

    Semangat Menenun Sanggar Nunupu Kuneru Diapresiasi Dekranasda Belu

    • calendar_month Kam, 27 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Loading

    Belu – NTT, Garda Indonesia | Ketua Dekranasda/TP PKK Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dra. Freni Indriani Yanuarika dan Wakil Ketua Rinawati BR Perangin Angin, S.E., M.M. bersama rombongan berkunjung ke Sanggar Tenun Ikat Nunupu Kuneru di Kelurahan Manumutin, RT 12, RW 04, Kecamatan Kota Atambua, pada Selasa, 25 Mei 2021; memberikan apresiasi […]

  • Mahfud MD: Tinggal 4 Minggu Lagi, Pilkada Serentak Jangan Jadi Klaster Baru

    Mahfud MD: Tinggal 4 Minggu Lagi, Pilkada Serentak Jangan Jadi Klaster Baru

    • calendar_month Sab, 7 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Gunung Kidul, Garda Indonesia | Menko Polhukam Mahfud MD mengaku gembira mendapatkan laporan bahwa pelaksanaan tahapan-tahapan Pilkada sejauh ini tidak menimbulkan klaster baru Covid-19, karena tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. “Saya gembira dengar laporan Bawaslu dan KPU tadi. Kenapa, karena sebelum Pilkada disetujui dulu, terjadi protes supaya ditunda karena saat ini sedang covid. Tapi alhamdulillah, […]

  • Pencapaian Spektakuler Bank NTT, Bukti Leadership Kuat

    Pencapaian Spektakuler Bank NTT, Bukti Leadership Kuat

    • calendar_month Jum, 27 Mei 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Dua tahun terakhir, Bank NTT yang adalah bank kebanggaan masyarakat NTT ini, selalu mendapat tempat yang spesial, serta berdiri satu deretan dengan bank-bank besar di tanah air. Penghargaan itu datang dari berbagai lembaga, di antaranya lembaga penerbitan yang fokus pada dunia perbankan, maupun kepercayaan dari Bank Indonesia (BI) untuk menjadi salah […]

  • Ketua DPR RI: “Pidato Presiden Jokowi dalam IMF-WB, Pidato Era Milenial“

    Ketua DPR RI: “Pidato Presiden Jokowi dalam IMF-WB, Pidato Era Milenial“

    • calendar_month Sab, 13 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Loading

    Nusa Dua-Bali, gardaindonesia.id | Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai pidato Presiden Jokowi tentang kondisi perekonomian dunia pada pembukaan Rapat Pleno Pertemuan Tahunan IMF – World Bank 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, sangatlah tepat. Terlebih, pidato disampaikan dalam bahasa millenial yang mudah dicerna. Tak heran, jika Presiden Jokowi mendapat standing ovation dan menjadi […]

  • Semangat Oma Rahel di TMMD-111 Kodim 1627/Rote Ndao

    Semangat Oma Rahel di TMMD-111 Kodim 1627/Rote Ndao

    • calendar_month Sen, 28 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Loading

    Rote Ndao-NTT, Garda Indonesia | Usia bukan penghalang bagi perempuan lanjut usia (lansia), warga Desa Lekona, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah Baakti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)-111, di usia menggapai 71 tahun, tak menjadi halangan bagi nenek/oma yang biasa disapa Oma Rahel Nauk untuk ikut dalam kegiatan […]

expand_less