Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Cara Mengajarkan Anak Agar Berani Mengambil Keputusan

Cara Mengajarkan Anak Agar Berani Mengambil Keputusan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 10 Sep 2025
  • visibility 202
  • comment 0 komentar

Loading

Banyak orang tua tanpa sadar mendidik anak untuk selalu menunggu arahan. Akibatnya, ketika dewasa, mereka bingung menentukan pilihan, takut salah, dan cenderung ikut arus.

Fakta dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa keterampilan mengambil keputusan sejak dini berhubungan erat dengan tingkat kepercayaan diri dan kemampuan memimpin di usia dewasa. Pertanyaannya, mengapa anak yang pintar sekalipun sering tumbuh menjadi pribadi yang ragu-ragu saat menghadapi pilihan hidup?

Dalam keseharian, hal sederhana seperti memilih baju atau menentukan makanan sering kali diambil alih oleh orang tua. Alasannya praktis: agar cepat dan tidak ribet. Namun kebiasaan kecil ini membuat anak kehilangan kesempatan melatih otot mental dalam mengambil keputusan. Anak akhirnya terbiasa bergantung, dan semakin lama semakin sulit berani memilih.

1. Memberi ruang pada pilihan kecil

Anak belajar berani mengambil keputusan bukan dari hal besar, tetapi dari pilihan sederhana sehari-hari. Ketika mereka diminta memilih antara dua baju, menentukan menu sarapan, atau memutuskan permainan apa yang ingin dimainkan, itu adalah latihan berharga yang membangun rasa percaya diri.

Contoh mudah, seorang anak diberi kesempatan memilih apakah ia ingin membaca buku cerita atau menggambar sebelum tidur. Dari luar terlihat sepele, tetapi bagi anak, proses memilih ini memberi rasa kepemilikan terhadap tindakannya.

Kebiasaan memberi ruang pada pilihan kecil membantu anak menyadari bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi, entah itu menyenangkan atau mengecewakan. Dari sinilah fondasi keberanian mengambil keputusan besar akan tumbuh.

2. Mengajarkan logika sederhana dalam memilih

Anak sering kali takut salah karena mereka tidak tahu dasar dari pengambilan keputusan. Memberikan mereka kerangka berpikir sederhana bisa membuat proses ini terasa lebih jelas. Misalnya, ajarkan konsep sebab-akibat atau untung-rugi dengan bahasa yang mudah mereka pahami.

Seorang anak yang bingung memilih antara bermain di luar atau menonton televisi bisa diajak berpikir, “Kalau main di luar, kamu bisa lari-lari dan sehat. Kalau nonton, kamu bisa istirahat tapi mungkin kurang bergerak.” Dengan begitu, anak belajar bahwa keputusan bukan tentang benar atau salah, tetapi tentang konsekuensi yang harus dipertimbangkan.

Cara ini menumbuhkan keberanian karena anak tidak lagi memilih secara buta, melainkan dengan alasan. Di sinilah peran orang tua sebagai fasilitator, bukan pengendali.

3. Menormalisasi kesalahan sebagai bagian dari proses

Ketakutan terbesar anak dalam mengambil keputusan adalah salah. Mereka merasa kesalahan akan berujung pada kritik atau hukuman. Padahal, kesalahan justru merupakan ruang belajar yang paling efektif.

Contohnya, seorang anak yang memilih membawa mainan ke sekolah lalu mendapat teguran dari guru. Alih-alih dimarahi, orang tua bisa mengajaknya merefleksikan, “Apa yang bisa kamu lakukan lain kali supaya tidak ditegur?” Dengan begitu, kesalahan tidak dipandang sebagai akhir, melainkan proses belajar.

Menormalisasi kesalahan mengajarkan anak bahwa keberanian mengambil keputusan lebih penting daripada hasil sempurna. Dalam jangka panjang, mereka tumbuh menjadi individu yang berani mencoba tanpa takut gagal.

4. Memberi teladan melalui keputusan orang tua

Anak belajar bukan hanya dari teori, melainkan dari apa yang mereka lihat sehari-hari. Ketika orang tua berani mengambil keputusan dengan tenang dan bertanggung jawab, anak menangkap pola itu dan menirunya.

Misalnya, orang tua yang menjelaskan alasannya memilih bekerja dari rumah ketimbang keluar kota, menunjukkan kepada anak bahwa setiap keputusan memiliki dasar pertimbangan dan konsekuensi. Anak belajar dari contoh nyata, bukan sekadar nasihat kosong.

Di titik ini, penting bagi orang tua juga terbuka dengan keraguan. Mengatakan, “Aku masih mempertimbangkan” atau “Aku memilih ini karena lebih baik untuk kita,” memberi pesan bahwa pengambilan keputusan adalah proses, bukan jawaban instan. Konten semacam ini banyak saya bahas lebih dalam di logikafilsuf, tempat saya menguraikan strategi parenting dari sudut pandang filsafat dan psikologi.

5. Menghargai keberanian, bukan hanya hasil

Ketika anak berani mengambil keputusan, apresiasi sebaiknya diberikan pada keberaniannya, bukan pada hasil akhirnya. Fokus pada proses membuat anak merasa aman untuk mencoba lagi meski hasilnya tidak sesuai harapan.

Seorang anak yang memilih tampil di depan kelas meski grogi layak mendapat pujian atas keberaniannya, terlepas dari seberapa baik ia berbicara. Penghargaan semacam ini memperkuat rasa percaya diri dan mendorong anak untuk terus berlatih mengambil keputusan.

Dengan begitu, anak belajar bahwa nilai keberanian tidak kalah penting dibanding nilai kesempurnaan. Mereka akan lebih siap menghadapi tantangan hidup tanpa terus mencari pengakuan eksternal.

6. Mengajarkan refleksi setelah membuat keputusan

Keberanian mengambil keputusan tidak cukup berhenti pada tindakan, tetapi juga pada kemampuan merenungkan hasil. Anak yang diajak berdiskusi setelah mengambil keputusan akan lebih cepat memahami pola dan memperbaiki kesalahan.

Contoh, setelah anak memilih ikut kegiatan olahraga ketimbang kursus musik, orang tua bisa bertanya, “Apa yang kamu rasakan setelah ikut? Apa yang menurutmu menyenangkan, apa yang tidak?” Pertanyaan ini mengasah kesadaran dan evaluasi diri.

Refleksi membuat anak mengerti bahwa setiap keputusan membawa pengalaman baru yang bisa dijadikan bekal untuk keputusan selanjutnya. Dengan cara ini, anak belajar dari dirinya sendiri, bukan hanya dari instruksi orang lain.

7. Memberi batasan yang sehat dalam pilihan

Kebebasan tanpa batas justru bisa membuat anak bingung. Karena itu, memberi pilihan yang sehat dengan batasan jelas adalah cara terbaik untuk melatih mereka mengambil keputusan secara terarah.

Seorang anak boleh memilih ingin tidur jam 8 atau jam 9, tetapi tidak bisa memilih untuk tidak tidur sama sekali. Batasan ini memberi ruang kebebasan sekaligus struktur yang menenangkan.

Dengan adanya batasan, anak belajar bahwa kebebasan bukan berarti tanpa arah. Mereka paham bahwa keputusan yang baik lahir dari keseimbangan antara keinginan pribadi dan aturan yang ada di sekitarnya.

Mengajarkan anak berani mengambil keputusan bukan soal memaksa mereka dewasa terlalu cepat, melainkan membekali mereka dengan keterampilan hidup yang akan berguna sepanjang hayat. Menurut Anda, apa keputusan pertama yang sebaiknya mulai dilatih pada anak di rumah? Tinggalkan jawaban Anda di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar semakin banyak orang tua mendapatkan wawasan baru.(*)

Sumber (*/logikafilsuf)

 

 

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Percakapan terakhir Didi Kempot dengan Letjen Doni Monardo

    Percakapan terakhir Didi Kempot dengan Letjen Doni Monardo

    • calendar_month Jum, 8 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Loading

    Catatan Egy Massadiah Sulit percaya untuk menerima kenyataan bahwa Didi Kempot telah berpulang, Selasa pagi, 5 Mei 2020. Betapa tidak. Di tengah kesibukan menangani amuk virus corona, setidaknya dalam tiga hari terakhir, nama Didi Kempot selalu jadi salah satu topik pembicaraan Letjen Doni Monardo. Apa pasal, nama Didi Kempot memenuhi hari-hari Doni Monardo? Bermula dari […]

  • Gubernur NTT : Segera ! Kita Punya ‘Laboratorium Swab PCR Test’ Sendiri

    Gubernur NTT : Segera ! Kita Punya ‘Laboratorium Swab PCR Test’ Sendiri

    • calendar_month Kam, 16 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Usai mengadakan Rapat Kerja Pemprov NTT dengan Menteri Sosial RI melalui video telekonferensi pada Kamis, 16 April 2020 pukul 13.30 WITA, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) menyampaikan dalam waktu tak lama lagi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal memiliki Laboratorium Swab PCR Test sendiri. Mantan Anggota DPR RI Fraksi Partai […]

  • Tiga Kali Beruntun, Dirut PLN Darmawan Prasodjo Jadi CEO Of The Year

    Tiga Kali Beruntun, Dirut PLN Darmawan Prasodjo Jadi CEO Of The Year

    • calendar_month Kam, 12 Des 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta | Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo kembali dinobatkan sebagai CEO of The Year untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak 2022. Darmawan terpilih di antara CEO terbaik dari berbagai perusahaan swasta maupun badan usaha milik negara (BUMN) di ajang CNBC Indonesia Awards 2024 pada Rabu, 11 Desember 2024. Penghargaan tertinggi dalam kategori CEO […]

  • BEDUKK Ramadan Pertamina Edukasi Hemat Pakai Bright Gas

    BEDUKK Ramadan Pertamina Edukasi Hemat Pakai Bright Gas

    • calendar_month Ming, 23 Mar 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 92
    • 1Komentar

    Loading

    Program BEDUKK dilaksanakan bersama Hiswana DPC NTT, Komunitas Kupang Kawasaki Ninja, UMKM dan Yayasan Panti Asuhan Nurussa’adah bertempat di Panti Asuhan Nurussa’adah, Kota Kupang – NTT.   Kupang | Selain menyiagakan infrastruktur sarana dan fasilitas untuk menjamin ketersediaan energi masyarakat selama periode Ramadan hingga Idulfitri 1446H tahun 2025, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Sales […]

  • Ratusan Sembako PLN Warnai Sukacita Natal Bersama Warga Naioni Kupang

    Ratusan Sembako PLN Warnai Sukacita Natal Bersama Warga Naioni Kupang

    • calendar_month Rab, 10 Des 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Loading

    Rasa syukur dan haru juga disampaikan oleh salah seorang penerima bantuan, Emilya Janriana, ia sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan sembako yang diberikan oleh PLN.   Kupang | Menghadirkan semangat kebersamaan dan kepedulian menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (PLN UIW NTT) melalui program tanggung […]

  • Layanan Internet PLN Desa Pintar di Poco Leok Manggarai

    Layanan Internet PLN Desa Pintar di Poco Leok Manggarai

    • calendar_month Sen, 28 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Selain penyediaan layanan internet, melalui program PLN Peduli Desa Berdaya di kawasan geotermal PLTP Ulumbu unit 5-6 Poco Leok, PT PLN (Persero) UIP Nusra aktif mendukung terwujudnya desa pintar, sehat, dan mandiri melalui sejumlah program lainnya, di antaranya budidaya hortikultura, serta pemugaran sanitasi dan MCK.   Ruteng | PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa […]

expand_less