Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Warga Empat Desa di Manggarai Demonstrasi Bisu Jalan Rusak

Warga Empat Desa di Manggarai Demonstrasi Bisu Jalan Rusak

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 1 Okt 2025
  • visibility 240
  • comment 0 komentar

Loading

Kerusakan jalan ini berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga kesulitan mengakses ke kota untuk menjual hasil pertanian seperti kopi, kemiri, dan kakao.

 

Manggarai | Demonstrasi sebagai bentuk ekspresi politik dan sosial merupakan fenomena penting dalam dinamika masyarakat modern. Dalam konteks pembangunan infrastruktur, khususnya jalan, peran partisipasi masyarakat sangat krusial untuk menjamin keberlanjutan dan efektivitas pembangunan tersebut.

Manggarai, sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang masih mengandalkan akses jalan sebagai sarana utama mobilitas dan distribusi barang, mengalami berbagai tantangan infrastruktur, terutama kerusakan jalan yang sering kali tidak mendapatkan perhatian memadai dari pemerintah daerah.

Kerusakan jalan ini berdampak signifikan pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga kesulitan mengakses ke kota untuk menjual hasil pertanian seperti kopi, kemiri, dan kakao.

Hal ini akan menyebabkan biaya transportasi atau kendaraan menjadi mahal karena alasan jalan rusak, memaksa mereka menjual hasil pertanian kepada tengkulak dengan harga yang amat rendah.

Selain itu, kondisi jalan yang buruk juga membahayakan keselamatan pengendara, bahkan setiap pengendara roda dua yang melintasi jalan tersebut nyaris terancam kehilangan nyawa.

Dalam kajian pembangunan, infrastruktur jalan merupakan elemen vital dalam mendukung perekonomian dan mobilitas masyarakat. Kualitas jalan yang buruk dapat menghambat distribusi barang dan jasa, meningkatkan biaya transportasi, serta menurunkan kualitas hidup masyarakat (Sutrisno, 2018).

Selain itu, kerusakan jalan yang dibiarkan berlarut-larut dapat menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi antar daerah.

Demonstrasi bisu yang dihelat oleh warga empat desa di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan bentuk protes terhadap kondisi jalan rusak yang telah berlangsung lama. Jalan utama yang menghubungkan keempat desa yakni Desa Lando, Desa Beamese, Desa Perak, dan Desa Golo dengan Kota Kecamatan dan Kabupaten Manggarai telah mengalami kerusakan parah, mengakibatkan kesulitan akses bagi warga, terutama dalam hal transportasi dan perekonomian. Kerusakan Jalan tidak hanya berdampak buruk terhadap mobilitas warga, tetapi juga terhadap aspek ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Kondisi ini kemudian memicu reaksi sosial berupa demonstrasi, menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana pembangunan jalan ini dipilih dalam bentuk demonstrasi bisu seperti yang dilakukan oleh warga empat desa di Manggarai tersebut.

Hal ini menegaskan bahwa masyarakat tidak hanya pasif, tetapi aktif dalam mengawasi dan mengevaluasi pembangunan yang ada.

Mardikanto et. al. (2013) menegaskan bentuk protes non-verbal seperti demostrasi bisu memiliki makna simbolis yang kuat.

Oleh karena itu, demonstrasi bisu dipilih sebagai metode non-verbal yang efektif untuk menyampaikan pesan tanpa menimbulkan konflik terbuka dan memiliki pesan moral yang sangat mendalam terhadap pemerintah daerah Kabupaten Manggarai.

Solidaritas masyarakat memperkuat tawaran terhadap pemerintah daerah

Demonstrasi bisu juga mencerminkan solidaritas sosial antar desa yang menghadapi masalah infrastruktur serupa.

Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan membuka kesempatan bagi mereka untuk ikut menentukan dan mengawasi kebijakan pembangunan daerahnya. Solidaritas ini memperkuat posisi tawar masyarakat terhadap pemerintah daerah, sehingga harapannya adalah tuntutan mereka mendapat respons yang lebih serius (Sari dan Prabawati: 2020). Sedangkan Kurniawan (2020) dalam penelitiannya di Desa Kampung Baru, Nganjuk, menekankan bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur jalan sangat penting untuk mewujudkan good governance.

Maka, demonstrasi bisu ini dipilih sebagai bentuk kontrol sosial terhadap pemerintah daerah Kabupaten Manggarai, menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana pembangunan jalan.

Kondisi ini kemudian memicu reaksi sosial berupa demonstrasi, menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana pembangunan jalan ini dipilih dalam bentuk demonstrasi bisu.

Bentuk demonstrasi bisu

Demonstrasi bisu sebagai bentuk protes merupakan taktik yang memiliki makna simbolis kuat. Dengan menghilangkan suara dalam aksi protes, warga mengekspresikan ketidakpuasan mereka secara damai dan efektif, sekaligus menarik perhatian publik dan pemerintah dengan cara yang berbeda dari demonstrasi konvensional yang biasanya berisik dan penuh tuntutan verbal.

Selain itu, demonstrasi bisu juga dapat dilihat sebagai strategi resistensi non-verbal yang mengedepankan pesan moral dan etis, menuntut tanggung jawab dan perhatian tanpa memicu konflik yang lebih besar.

Implikasi sosial dan politik

Keterlibatan empat desa dalam demonstrasi ini menandakan adanya solidaritas antar komunitas yang menghadapi masalah infrastruktur serupa. Solidaritas ini memperkuat posisi tawar masyarakat terhadap pemerintah daerah, sehingga harapannya adalah tuntutan mereka mendapat respons yang lebih serius.

Secara politis, aksi ini dapat dilihat sebagai bentuk kontrol sosial atas pemerintah lokal, menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana pembangunan jalan.

Demonstrasi ini juga menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan, bukan hanya sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang memiliki hak dan kewajiban dalam pengelolaan sumber daya publik.

Dampak ekonomi dan kesejahteraan

Jalan yang rusak menyebabkan gangguan distribusi barang dan jasa, peningkatan biaya transportasi, dan penurunan aksesibilitas ke pusat-pusat ekonomi.

Hal ini berkontribusi pada menurunnya produktivitas dan kesejahteraan masyarakat desa. Dengan adanya demonstrasi ini, diharapkan pemerintah dapat mengalokasikan sumber daya untuk memperbaiki jalan, sehingga meningkatkan konektivitas dan membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Perbaikan jalan yang memadai juga dapat meningkatkan akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Demonstrasi bisu yang dilakukan oleh warga empat desa di Manggarai atas perbaikan jalan rusak merupakan manifestasi penting dari aspirasi masyarakat terhadap keadilan dan pembangunan yang merata.

Bentuk demonstrasi ini bukan hanya sekadar protes, tetapi juga pesan moral yang menuntut perhatian dan tindakan konkret dari pemerintah. Maka, tulisan ini menggarisbawahi pentingnya peran masyarakat dalam pembangunan infrastruktur serta perlunya pendekatan yang inklusif dan partisipatif dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Selain itu, demonstrasi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus berakar pada kebutuhan nyata masyarakat, terutama di daerah-daerah yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.(*)

Penulis: Karolus Leo, Mahasiswa Sementara Satu, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

 

 

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Jokowi Berpakaian Adat Dolomani Saat HUT Ke-77 RI

    Presiden Jokowi Berpakaian Adat Dolomani Saat HUT Ke-77 RI

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Hari ini, 17 Agustus 2022, saya menghadiri upacara peringatan HUT ke-77 Kemerdekaan RI dengan baju adat Dolomani. Tahukah Anda, baju adat yang saya kenakan ini dari daerah mana? Tulis Presiden Jokowi dalam Twitter @jokowi Pakaian adat Dolomani berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. Dilansir dari Tribunnews Sultra, pakaian adat dolomani adalah salah […]

  • Bank NTT Pemercantik Wajah Pasar Kasih Naikoten Kupang

    Bank NTT Pemercantik Wajah Pasar Kasih Naikoten Kupang

    • calendar_month Sab, 8 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Sabtu pagi, 8 Juli 2023 sekitar mulai pukul 06.00 WITA—selesai, tampak para karyawan ganteng dan bersih, karyawati cantik dan memesona dari Bank NTT kantor pusat rela berjibaku memungut sampah, menyapu hingga mempercantik wajah pasar teramai di ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada rangkaian menjelang HUT ke-61 Bank NTT, aksi Bank […]

  • Pasca Gempa NTB; Rehabilitasi & Rekonstruksi Rumah Warga & Fasilitas Publik Terus Berjalan

    Pasca Gempa NTB; Rehabilitasi & Rekonstruksi Rumah Warga & Fasilitas Publik Terus Berjalan

    • calendar_month Sen, 22 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Loading

    Lombok,gardaindonesia.id | Pasca bencana gempa bumi di Lombok Nusa Tenggara Barat; Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secara bertahap terus menyelesaikan rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan fasilitas publik serta rumah masyarakat di sejumlah daerah terdampak gempa. Bantuan pemerintah bagi masyarakat untuk membangun rumahnya yang hancur akibat gempa sudah banyak yang disalurkan dan ratusan rumah sudah […]

  • Mimpi George Hadjoh, Kota Kupang Bersih & Hidup 24 Jam

    Mimpi George Hadjoh, Kota Kupang Bersih & Hidup 24 Jam

    • calendar_month Sab, 3 Sep 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 169
    • 1Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase Penjabat Wali Kota Kupang George Hadjoh mengimpikan ibu kota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kota Kupang dapat bergeliat hidup selama 24 jam dan menjadi kota terbersih di Indonesia. Komitmen tersebut bukan hanya sekadar ucapan belaka atau lips service, namun terejawantah dalam tindakan nyata. Dimulai sehari pasca-pelantikan sebagai Penjabat Wali Kota oleh […]

  • OJK: Bank NTT Kian Bagus, Teruslah Berinovasi

    OJK: Bank NTT Kian Bagus, Teruslah Berinovasi

    • calendar_month Sen, 11 Jul 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT, Japerman Manalu, menegaskan, tahun ini Bank NTT memasuki usia 60 tahun dan tentu telah melalui berbagai proses yang sangat panjang dan tentunya memiliki suatu kematangan sebagai lembaga perbankan. “Bank NTT tentunya telah melalui berbagai tantangan. Sudah semakin baik hari demi hari dan bagus perkembangannya,” katanya […]

  • ‘Coffee Morning’ Bersama Jurnalis, Bupati Belu: Tidak Ada Niat Batasi Wartawan

    ‘Coffee Morning’ Bersama Jurnalis, Bupati Belu: Tidak Ada Niat Batasi Wartawan

    • calendar_month Jum, 7 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH,Finasim didampingi Wakil Bupati, Drs. Aloysius Haleserens,M.M. bertatap muka atau  coffee morning bersama seluruh wartawan – wartawati  yang bertugas di wilayah Kabupaten Belu, di restoran Hotel Matahari Atambua, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat pagi, 7 Mei 2021. Agenda coffee morning, selain sebagai ajang saling […]

expand_less