Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Anak dan Perempuan » Terlalu Melindungi Anak Justru Menghambat Pembentukan Resiliensi

Terlalu Melindungi Anak Justru Menghambat Pembentukan Resiliensi

  • account_circle logikafilsuf
  • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
  • visibility 2.028
  • comment 0 komentar

Loading

Kebanyakan orang tua hari ini tanpa sadar sedang membesarkan anak yang rapuh dengan niat melindungi mereka dari luka. Padahal, setiap kali anak diselamatkan dari kesulitan kecil, ia kehilangan kesempatan membangun kekuatan batin besar. Fakta menariknya, menurut penelitian dari Harvard Center on the Developing Child, anak yang mengalami tantangan dan belajar mengatasinya secara mandiri memiliki tingkat ketahanan mental jauh lebih tinggi dibanding anak yang hidup dalam kenyamanan penuh. Dunia nyata tidak selalu ramah, dan tugas orang tua bukan membuatnya ramah, tapi menyiapkan anak agar mampu berdiri tegak di dalamnya.

Anak yang tumbuh tanpa pernah jatuh tidak akan tahu bagaimana cara bangkit. Itulah paradoks pendidikan modern: niat baik melindungi justru melahirkan generasi yang mudah cemas, takut gagal, dan tidak tahan kritik. Resiliensi, atau daya lenting mental, bukan bawaan lahir. Ia dibentuk dari luka kecil yang disembuhkan dengan bimbingan, bukan dari hidup tanpa luka sama sekali.

1. Anak yang tidak pernah menghadapi masalah kecil tidak akan siap dengan masalah besar

Ketika anak jatuh saat belajar berjalan dan orang tua langsung mengangkatnya, anak kehilangan kesempatan memahami bahwa jatuh adalah bagian dari proses. Begitu pula saat remaja menghadapi masalah sosial, dan orang tua langsung “menyelamatkan” dengan mengatur atau membela, bukan membimbing. Dalam jangka panjang, pola ini menciptakan anak yang selalu menunggu diselamatkan, bukan mencari cara untuk bertahan.

Dalam psikologi perkembangan, konsep ini disebut learned helplessness—perasaan tidak berdaya yang terbentuk karena terlalu sering dibantu. Anak seperti ini tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak mampu tanpa intervensi. Maka, jika ingin anak tangguh, biarkan mereka berproses dengan rasa frustrasi yang sehat. Di logikafilsuf, ada pembahasan menarik tentang bagaimana rasa gagal adalah bagian penting dari pembentukan karakter.

2. Rasa aman yang berlebihan mengganti tantangan dengan ketakutan baru

Orang tua sering mengira rasa aman berarti bebas dari risiko. Padahal, anak yang selalu dijauhkan dari risiko justru menciptakan ketakutan baru: takut mencoba. Mereka tidak takut gagal karena sering gagal, tetapi karena tidak terbiasa gagal. Setiap tantangan dianggap ancaman, bukan peluang belajar.

Contohnya sederhana. Anak yang dilarang memanjat pohon karena khawatir jatuh, akhirnya takut kotor, takut berani, dan takut salah. Padahal luka kecil di lutut jauh lebih ringan dibanding luka besar pada rasa percaya dirinya. Rasa aman sejati bukan berarti tidak ada tantangan, tetapi adanya keyakinan bahwa setiap tantangan bisa dihadapi dengan kemampuan sendiri.

3. Orang tua yang terlalu melindungi sering mengabaikan tugas psikologis anak: belajar mandiri

Masa anak-anak bukan hanya masa bermain, tapi masa berlatih tanggung jawab kecil. Saat orang tua mengambil alih semua keputusan dan kesalahan, anak kehilangan ruang untuk mengembangkan fungsi eksekutif dalam otaknya—bagian yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan pemecahan masalah.

Kemandirian tidak lahir dari kebebasan tanpa batas, melainkan dari kepercayaan yang bertahap. Saat anak diberi ruang untuk gagal dengan aman, mereka belajar menilai risiko, bukan menghindarinya. Pola ini akan mencetak generasi yang lebih siap menghadapi kompleksitas dunia, bukan hanya mencari kenyamanan di dalamnya.

4. Kelebihan proteksi melahirkan kerapuhan emosional

Anak yang selalu diselamatkan dari kesedihan tidak belajar bagaimana mengelola kesedihan itu sendiri. Ia tumbuh menjadi pribadi yang mudah panik, mudah tersinggung, dan sulit menoleransi frustrasi. Dalam psikologi disebut low distress tolerance, kondisi di mana individu kesulitan bertahan saat menghadapi tekanan emosional ringan sekalipun.

Ironisnya, banyak orang tua yang menganggap anak seperti ini “sensitif”. Padahal, sensitivitas tanpa ketahanan hanya melahirkan kepekaan yang menyakitkan, bukan empati yang mendewasakan. Jika anak dibiasakan menghadapi perasaan sulit—kecewa, ditolak, kalah—dalam lingkungan yang penuh kasih, ia belajar bahwa perasaan itu tidak berbahaya, hanya perlu dihadapi.

5. Anak yang terlalu dilindungi cenderung tidak punya identitas yang kuat

Anak membangun identitas melalui keputusan, kesalahan, dan konsekuensi. Jika setiap langkah diatur, setiap risiko ditiadakan, ia tidak pernah tahu siapa dirinya sebenarnya. Identitas yang matang lahir dari pengalaman mencoba dan gagal, bukan dari instruksi dan perlindungan.

Kita bisa melihatnya dalam kehidupan remaja masa kini: banyak yang cerdas secara akademik, tapi mudah goyah secara emosional. Mereka punya data, tapi tidak punya arah. Pendidikan tanpa pengalaman realitas hanya menciptakan kepintaran tanpa kebijaksanaan. Dunia tidak menunggu mereka siap, maka orang tua pun tak seharusnya menunda anak belajar hidup.

6. Resiliensi tumbuh dari kombinasi kasih dan tantangan

Kasih tanpa tantangan membuat anak lemah, tantangan tanpa kasih membuat anak keras. Keduanya harus seimbang agar anak memiliki hati yang kuat tapi tetap lembut. Orang tua bisa hadir sebagai pelindung emosional, bukan pelindung dari kehidupan. Peran utama bukan menyingkirkan batu di jalan anak, tapi mengajarinya cara melangkah di atas batu itu.

Cinta sejati adalah yang menumbuhkan, bukan yang mengekang. Anak tidak butuh hidup tanpa kesulitan, ia butuh contoh bagaimana menghadapi kesulitan dengan kepala dingin dan hati tenang. Resiliensi lahir dari pengalaman, bukan nasihat.

7. Dunia butuh anak yang tangguh, bukan yang rapuh dengan banyak alasan

Zaman semakin tidak pasti. Ketika tantangan sosial, ekonomi, dan emosional makin kompleks, yang dibutuhkan bukan generasi yang mudah tersinggung, tapi yang mampu bangkit. Orang tua yang bijak tahu kapan harus menolong, dan kapan harus membiarkan anak berjuang. Keduanya adalah bentuk cinta yang sama berharganya.

Resiliensi adalah otot mental yang hanya tumbuh jika digunakan. Semakin sering anak menghadapi tantangan kecil, semakin kuat ia dalam menghadapi badai besar kehidupan. Maka, tugas kita bukan menciptakan dunia tanpa badai, tapi menyiapkan perahu yang tangguh dalam diri anak.

Kita bisa mulai dari hal sederhana: biarkan anak mencoba, biarkan ia salah, lalu dampingi tanpa menghakimi. Jika tulisan ini membuka pemahaman baru, kamu akan menemukan banyak pembahasan eksklusif seputar psikologi pendidikan dan filsafat kehidupan di logikafilsuf.

Menurutmu, apa yang lebih berbahaya: anak yang sering gagal atau anak yang tidak pernah mencoba sama sekali? Tulis pandanganmu di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar lebih banyak orang tua belajar membesarkan anak yang tangguh, bukan hanya nyaman.(*)

 

  • Penulis: logikafilsuf
  • Editor: Roni Banase

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia Akan Jadi Tuan Rumah Pertemuan P4G pada 2022

    Indonesia Akan Jadi Tuan Rumah Pertemuan P4G pada 2022

    • calendar_month Sel, 25 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | P4G merupakan kerja sama untuk mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan Partnering for Green Growth and the Global Goals (P4G) pada tahun 2022. Hal tersebut terungkap saat Presiden Joko Widodo menerima kunjungan Menteri Lingkungan Hidup Korea Selatan Cho Myung-Rae di Istana […]

  • HKDK Ke-77, Yasonna Imbau Insan Kumham Gapai Legitimasi Masyarakat

    HKDK Ke-77, Yasonna Imbau Insan Kumham Gapai Legitimasi Masyarakat

    • calendar_month Sab, 20 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Puncak Hari Dharma Karya Dhika ke-77 dilaksanakan seluruh jajaran Kementerian Hukum dan HAM pada Jumat, 19 Agustus 2022 bertepatan dengan hari lahir institusi para Insan Pengayoman (semula pada tanggal 30 Oktober). Penetapan tanggal ini adalah hasil pengkajian,  penelusuran sejarah, dan bukti-bukti autentik, serta hasil wawancara dengan sesepuh dan para pakar hukum pada tahun 2021. Kantor Wilayah […]

  • Stop Kriminalisasi Penyidik TPPO di Polres Sumba Barat

    Stop Kriminalisasi Penyidik TPPO di Polres Sumba Barat

    • calendar_month Sen, 1 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT,gardaindonesia.id-Ketua Satgas Anti Human Trafficking PADMA Indonesia Nusa Tenggara Timur, R Riesta Ratna Megasari mewakili Gabriel Goa, Direktur Lembaga Hukum dan HAM PADMA Indonesia (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia) sekaligus Dewan Penasehat Kelompok Kerja Menentang Perdagangan Manusia (POKJA MPM) terpanggil untuk membela Penyidik-Penyidik TPPO yang dikriminalisasi karena bekerja serius dan rela berkorban untuk […]

  • Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang Meninggal Dunia

    Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang Meninggal Dunia

    • calendar_month Jum, 4 Apr 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Loading

    Mgr. Petrus Turang (23 Februari 1947 – 4 April 2025) adalah Uskup Agung Kupang sejak 10 Oktober 1997 hingga 9 Maret 2024.   Jakarta | Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang meninggal dunia pada Jumat, 4 April 2025 pukul 06:20 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Beragam ucapan turut berdukacita memenuhi dinding WhatsApp grup dan […]

  • Cahaya Listrik Merebak Kegelapan Desa Boti Dusun Tiga

    Cahaya Listrik Merebak Kegelapan Desa Boti Dusun Tiga

    • calendar_month Ming, 22 Jun 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Masuknya listrik PLN ini bukan hanya memberikan terang pada kegiatan di rumah-rumah, tetapi juga sekolah dan rumah ibadah. Hal ini memungkinkan anak-anak dapat belajar di rumah saat malam hari.   Boti | Tersalurnya listrik ke rumah-rumah menjadi hal biasa di daerah lain, tapi tidak dengan Dusun 3, Desa Boti, Kecamatan Ki’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan […]

  • CSR Astra–14 Guru Muda bagi Pendidikan di NTT, Wagub Josef Apresiasi

    CSR Astra–14 Guru Muda bagi Pendidikan di NTT, Wagub Josef Apresiasi

    • calendar_month Sel, 2 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM mengapresiasi kepedulian PT Astra Internasional yang manfatkan Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan untuk peningkatan mutu pendidikan khususnya di NTT, Provinsi Kepulauan yang memiliki 1.192 pulau besar dan kecil. Pemerintah Provinsi NTT terus berupaya agar semakin banyak perusahaan terlibat […]

expand_less