Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam Pengguncang Markas Polisi

Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam Pengguncang Markas Polisi

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
  • visibility 870
  • comment 0 komentar

Loading

Publik ramai membicarakan sosok pemberani, dan mantan Satpam. Sosok ini telah mengguncang markas polisi. Dialah Syamsul Jahidin, bukan Syamsul yang itu ya. Ini asli Syamsul pemberani.

Namanya, dari lahir memang Syamsul Jahidin. Ia bukanlah dari akademi kepolisian, bukan dari barisan keluarga ningrat, melainkan dari pos satpam. Tempat paling jujur untuk belajar tentang negara, menjaga pintu, melihat siapa yang masuk, siapa yang keluar, dan siapa yang pura-pura tidak salah padahal jelas salah.

Syamsul lahir di Pangesangan, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tempat itu mungkin tak banyak disebut dalam rapat kabinet, tapi dari sanalah lahir anak muda yang kelak mengguncang birokrasi negara. Orang lain di usia 20-an sibuk tampil estetis di Instagram, Syamsul justru kuliah sambil jaga pintu demi membiayai mimpinya. Ketika teman-temannya pamer OOTD, Syamsul pamer shift malam. Ironisnya, justru shift malam itulah yang melatih keberaniannya. Keberanian yang kelak membuat 4.351 polisi harus kembali ke markas.

Pendidikan Syamsul tidak main-main. S1 Komunikasi, S1 Hukum, S2 Komunikasi, Magister Hukum Militer, dan kini sedang S3 Hukum. Deretan gelar ini membuat sebagian orang bingung, “Ini orang belajar atau mau buka warung akademik?” Tapi bagi Syamsul, ilmu itu bukan pajangan. Ilmu adalah peluru. Ia menembakkannya langsung ke jantung undang-undang yang dianggapnya bermasalah, UU Polri.

Ketika ribuan polisi aktif duduk manis di jabatan sipil, dari kementerian sampai BUMN, kebanyakan orang hanya menghela napas. Tapi Syamsul mengangkat alis, lalu mengangkat gugatan. Ia bertanya hal paling tabu di republik ini, “Kenapa polisi boleh rangkap jabatan, tapi rakyat biasa dilarang rangkap kerja?”

Pertanyaan sederhana itu menggema sampai ke Mahkamah Konstitusi. MK pun mengetok palu seperti mengentak meja birokrasi yang terlalu nyaman. “Polisi tidak boleh rangkap jabatan! Kembalilah ke markas!”

Seketika, 4.351 polisi yang sebelumnya berkeliaran di ruang-ruang rapat kementerian mendadak seperti anak magang yang dipanggil pulang lebih awal. Jabatan sipil kosong. Tanda tangan macet. Kop surat bingung mau ditujukan ke siapa. Semuanya berawal dari tangan seorang mantan satpam bernama Syamsul Jahidin.

Karier hukum Syamsul memang tak biasa. Ia pernah menggugat pangkat tituler Letkol Deddy Corbuzier. Ia membela bayi tertukar. Ia menjadi mediator di lima pengadilan. Ia advokat, tapi juga filsuf jalanan yang memahami bahwa kadang hukum perlu diketuk lewat humor dan keberanian.

Mottonya, “Berani, benar, berhasil,” bukan sekadar pajangan di bio media sosial. Ia hidup dari itu. Dari keberanian itulah, satu orang tanpa seragam mampu menegur institusi paling berseragam di negeri ini.

Ironinya, Syamsul yang dulu menjaga pintu kini menjaga konstitusi. Ia tahu kapan harus mengizinkan sesuatu masuk, kapan harus menolaknya. Ia mungkin tidak punya bintang di pundak, tapi jelas punya nyali yang bersinar lebih terang dari lampu rotator.

Ketika sejarah bangsa ditulis ulang nanti, ada satu paragraf kecil yang pasti akan dikenang, seorang satpam dari Mataram pernah mengguncang 4.351 polisi hanya dengan pena, logika, dan keberanian.

Di republik yang sering lelah oleh drama kekuasaan, nama Syamsul Jahidin hadir seperti alarm yang menyadarkan kita bahwa keberanian tidak butuh pangkat, hanya butuh tekad.(*)

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Coop TLM Indonesia Berbagi Kasih di Tengah Pandemi 2020

    Coop TLM Indonesia Berbagi Kasih di Tengah Pandemi 2020

    • calendar_month Jum, 18 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Coop TLM Indonesia sebagai salah satu unit usaha yang diinisiasi pendiriannya oleh Yayasan TLM GMIT dan bernaung di bawah Sinode GMIT, memberikan bantuan kepada sumur bor kepada masyarakat Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui rilis yang diterima Garda Indonesia pada Kamis, 17 Desember 2020, […]

  • Anak Disabilitas di Sunter Diculik dan Alami Kekerasan Seksual, Kemen PPPA Kecam

    Anak Disabilitas di Sunter Diculik dan Alami Kekerasan Seksual, Kemen PPPA Kecam

    • calendar_month Rab, 7 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kasus penculikan dan kekerasan seksual yang dilakukan PB (39) yang berprofesi sebagai tukang bakso kepada seorang anak perempuan penyandang disabilitas memicu kemarahan publik. Korban diculik dan disekap oleh pelaku di kawasan Sunter, Jakarta Utara, kemudian berpindah ke Boyolali, Jawa Tengah, dan Jombang, Jawa Timur selama 23 hari, sejak 8—30 September 2020. […]

  • Kapan Kita Dewasa? Kasus Patung Bunda Maria & Kesebelasan Israel

    Kapan Kita Dewasa? Kasus Patung Bunda Maria & Kesebelasan Israel

    • calendar_month Ming, 26 Mar 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 134
    • 1Komentar

    Loading

    Oleh: Andre Vincent Wenas Memang kekanak-kanakan, bagaimana sih cara berpikir orang-orang yang mengaku dewasa di negeri ini? Bagaimana mungkin bisa berpikir bahwa patung bisa mengubah iman seseorang. Lalu, tak lama kemudian ada kesebelasan junior, U20 (under 20 years old) dari Israel, yang mau ikut kompetisi, di mana Indonesia jadi tuan rumah, dianggap bisa mempengaruhi sikap […]

  • Julie Sutrisno Laiskodat Ajak Anak Bajawa Konsumsi Ikan & Marungga

    Julie Sutrisno Laiskodat Ajak Anak Bajawa Konsumsi Ikan & Marungga

    • calendar_month Rab, 1 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Loading

    Ngada-NTT, Garda Indonesia | “Dalam 5 (lima) tahun ke depan, kami akan terus mengampanyekan gerakan makan ikan dan kelor (marungga). Tujuannya, terutama untuk memberantas gizi buruk, stunting dan untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat di Nusa Tenggara Timur”, kata Julie Sutrisno Laiskodat yang ditemui usai membawakan materinya, dalam Kegiatan Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Sekolah […]

  • Pemerkosa & Pembunuh Pdt Cantik Melinda Zidemi Ditangkap

    Pemerkosa & Pembunuh Pdt Cantik Melinda Zidemi Ditangkap

    • calendar_month Jum, 29 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Loading

    Palembang, Garda Indonesia | Setelah menjadi buron, 2 (dua) pelaku kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Pendeta Melinda Zidemi (24) akhirnya ditangkap. “Pelakunya sudah ditangkap, dua orang, sekarang langsung dibawa ke Mapolda,” ungkap Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Supriadi, saat ditemui di Mapolda, Kamis/28 Maret 2019. Dirilis dari hebatriau.com, lanjut Kabid Humas Polda Sumsel, menyampaikan bahwa […]

  • Pelantikan Presiden dan Kabinet Telah Selesai, Saatnya Bekerja

    Pelantikan Presiden dan Kabinet Telah Selesai, Saatnya Bekerja

    • calendar_month Ming, 27 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Jaga persatuan dan kesatuan. Inilah pesan penting yg tersirat pasca pengumuman hasil kabinet Indonesia Maju. Pasti ada yang tidak puas, namun harus disambut baik. Dengan mengajak rivalnya ke kabinet, tentu saja pilihan yang bijak. Demi kemajuan bangsa. Dan kerelaan Prabowo juga harus dihargai. Harus menjadi tradisi politik di tanah air. Meski […]

expand_less