Patung Macan Putih Desa Balongjeruk Kediri Viral, Yuk Telisik Sosok Pematung
- account_circle Beni Kueswandi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 60
- comment 0 komentar

![]()
Berbekal pengalaman seni yang ia miliki, Suwari mengaku telah mencurahkan seluruh kemampuan terbaiknya demi mewujudkan patung macan putih yang menjadi ikon desa.
Kediri | Publik ramai membicarakan soal patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, tersimpan kisah kerja keras seorang seniman lokal.
Suwari (60), pematung yang namanya kini viral, mengungkapkan bahwa patung tersebut rampung dalam waktu relatif singkat, hanya 18 hari. Warga asli Balongjeruk ini bukan sosok asing di dunia seni.
Sebelum memilih vakum karena faktor usia, ia dikenal sebagai seniman ludruk dan kerap mengisi panggung sebagai pemukul kendang.
Berbekal pengalaman seni yang ia miliki, Suwari mengaku telah mencurahkan seluruh kemampuan terbaiknya demi mewujudkan patung macan putih yang menjadi ikon desa. Menurutnya, proses pengerjaan dilakukan sesuai arahan dan permintaan Kepala Desa Balongjeruk, termasuk menyesuaikan cerita rakyat setempat yang melatarbelakangi sosok macan putih tersebut.
“Permintaannya memang patung macan putih sesuai cerita desa. Dari bentuk sudah mengikuti gambar, hanya warna lorengnya yang disesuaikan. Konsep awal berwarna kuning, lalu kami ubah menjadi putih agar selaras dengan cerita,” tutur Suwari kepada wartawan.
Kisah ini menegaskan bahwa di balik sebuah karya yang viral, terdapat dedikasi, pengalaman panjang, dan sentuhan seni tradisi yang turut membentuk hasil akhirnya.
Terungkap alasan di balik ekspresi patung macan putih Kediri.
Suwari, pembuat patung macan putih yang belakangan menyita perhatian publik, akhirnya angkat bicara.
Ia mengaku sengaja membuat tampilan patung tersebut tidak terlalu garang. Tujuannya sederhana namun penuh pertimbangan: agar patung itu tidak menimbulkan rasa takut, terutama bagi anak-anak yang melintas di sekitar lokasi.
Tak hanya soal desain, Suwari juga membeberkan fakta di balik proses pengerjaan patung tersebut. Untuk seluruh jasanya, ia menerima upah sebesar Rp 2 juta yang bersumber dari anggaran kepala desa.
Sistem pengerjaan dilakukan secara borongan, sementara seluruh kebutuhan material, mulai dari semen, pasir, besi, hingga kawat, disediakan langsung oleh pihak desa. Dengan keterbatasan biaya dan waktu, Suwari mengaku tetap berusaha menampilkan karya terbaiknya. Baginya, patung macan putih itu bukan sekadar pesanan, melainkan simbol desa yang harus ramah dipandang semua kalangan, dari orang dewasa hingga anak-anak.(*)
- Penulis: Beni Kueswandi
- Editor: Roni Banase











Saat ini belum ada komentar