Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 11 Jan 2026
  • visibility 315
  • comment 0 komentar

Loading

Perbedaan sering dielu-elukan dalam slogan, tetapi ditolak dalam praktik sehari hari. Banyak orang dewasa berkata ingin anaknya toleran, namun tanpa sadar memperlihatkan sikap sinis terhadap yang berbeda. Anak menangkap kontradiksi itu jauh lebih cepat daripada nasihatnya.

Riset perkembangan sosial menunjukkan bahwa sikap terhadap perbedaan terbentuk sejak usia dini, bahkan sebelum anak mampu menjelaskannya dengan kata kata. Otak anak menyerap pola sikap dari lingkungan terdekat, bukan dari ceramah tentang toleransi yang terdengar indah tetapi kosong pengalaman.

Dalam kehidupan sehari hari, perbedaan hadir dalam bentuk sederhana. Teman yang logat bicaranya tidak sama, kebiasaan makan yang berbeda, atau cara berpikir yang tidak sejalan. Anak sering bertanya dengan jujur, kenapa dia begitu, dan jawaban orang dewasa pada momen ini menentukan arah berpikir anak ke depan.

Mengajarkan anak menghargai perbedaan bukan tentang memaksa mereka setuju dengan semua hal. Ini soal membantu anak memahami bahwa dunia tidak dibuat seragam untuk kenyamanan satu sudut pandang saja. Dari pemahaman ini, empati dan kedewasaan berpikir tumbuh secara alami.

1. Mulai dari contoh nyata, bukan definisi

Anak belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar. Saat orang tua berbicara hormat tentang orang yang berbeda pendapat, anak menyerap pesan bahwa perbedaan tidak identik dengan ancaman.

Contoh sederhana muncul saat berdiskusi di rumah. Ketika pendapat anak tidak disetujui, respons tenang dan argumentatif menunjukkan bahwa tidak sepakat bukan berarti tidak menghargai. Dari sini anak belajar bahwa perbedaan bisa dikelola tanpa konflik.

2. Validasi rasa tidak nyaman tanpa membenarkannya

Perbedaan kadang membuat anak merasa aneh atau tidak nyaman. Mengabaikan perasaan ini justru membuat anak mencari pembenaran sendiri yang sering berujung prasangka.

Dengan mengakui rasa itu ada, orang dewasa membuka ruang dialog. Anak diajak memahami dari mana rasa tersebut muncul, lalu perlahan melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas. Proses ini jauh lebih efektif daripada langsung menuntut anak bersikap dewasa.

3. Gunakan cerita dan pengalaman sehari-hari

Cerita memiliki kekuatan membangun empati tanpa paksaan. Kisah tentang tokoh dengan latar berbeda membantu anak melihat dunia melalui mata orang lain.

Dalam keseharian, pengalaman kecil seperti bermain dengan teman yang kebiasaannya tidak sama bisa menjadi bahan obrolan reflektif. Diskusi semacam ini sering menjadi pintu masuk untuk pembahasan lebih dalam tentang logika sosial dan cara berpikir yang beragam, topik yang kerap diulas secara eksklusif dalam ruang pembelajaran berbasis refleksi kritis.

4. Ajarkan bedanya tidak setuju dan merendahkan

Banyak anak tumbuh dengan asumsi bahwa berbeda berarti salah. Padahal tidak setuju adalah bagian alami dari interaksi manusia.

Dengan menunjukkan cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan, anak belajar batas yang sehat dalam berpendapat. Mereka memahami bahwa argumen menyerang ide, bukan orangnya, sebuah keterampilan penting dalam kehidupan sosial jangka panjang.

5. Libatkan anak dalam lingkungan yang beragam

Paparan langsung jauh lebih kuat daripada teori. Berinteraksi dengan orang dari latar belakang berbeda membantu anak melihat bahwa stereotip sering tidak sesuai kenyataan.

Lingkungan beragam melatih fleksibilitas berpikir. Anak belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya sendiri, sebuah keseimbangan yang menjadi ciri kedewasaan sosial.

6. Hindari label dan generalisasi

Ucapan sederhana yang menggeneralisasi kelompok tertentu bisa tertanam kuat di benak anak. Label semacam ini menyederhanakan realitas yang sebenarnya kompleks.

Dengan membiasakan bahasa yang lebih spesifik dan adil, anak belajar menilai individu berdasarkan tindakan, bukan identitas kelompok. Pola pikir ini membangun keadilan kognitif yang jarang terbentuk dari nasihat singkat.

7. Ajak anak merefleksikan pengalaman berbeda

Refleksi membantu anak mengolah pengalaman menjadi pemahaman. Setelah bertemu atau berinteraksi dengan yang berbeda, obrolan ringan tentang apa yang mereka rasakan dan pelajari memperdalam makna pengalaman tersebut.

Dari refleksi ini, anak mulai melihat perbedaan sebagai sumber belajar, bukan ancaman. Sikap ini menjadi bekal penting untuk hidup di masyarakat yang kompleks dan terus berubah. Menghargai perbedaan bukan keterampilan bawaan, melainkan kebiasaan berpikir yang dibentuk pelan-pelan.(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selesai!, Konflik Tapal Batas Ngada-Manggarai Timur di NTT

    Selesai!, Konflik Tapal Batas Ngada-Manggarai Timur di NTT

    • calendar_month Sab, 15 Jun 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Loading

    Ngada-Bajawa, Garda Indonesia | “Agar kita semua tahu, bahwa tidak ada pembangunan yang dapat dilaksanakan dalam permusuhan dan perpecahan. Dimanapun itu, tak akan pernah ada !”,Itulah sepenggal pesan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam sambutannya pada acara seremoni pemasangan pilar batas antara Kabupaten Ngada dan Manggarai Timur di Bensur, Desa Sambinasi Barat Kecamatan Riung […]

  • 234 KK Warga Sumba Barat Daya Nikmati Listrik di Tengah Pandemi Covid-19

    234 KK Warga Sumba Barat Daya Nikmati Listrik di Tengah Pandemi Covid-19

    • calendar_month Sen, 4 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Loading

    Sumba Barat Daya, Garda Indonesia | PT PLN ( Persero) UP3 Sumba bersama Pemerintah Sumba Barat Daya menyalakan listrik bagi 234 pelanggan di Desa Bila Cenge Kecamatan Kodi Utara dan Desa Dinjo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara (NTT) pada Kamis, 30 April 2020. 234 KK tersebut terdiri dari 125 Pelanggan […]

  • Politeknik Negeri Kupang Dukung Usaha Dodol Pisang Legit Sari via Program PPUD

    Politeknik Negeri Kupang Dukung Usaha Dodol Pisang Legit Sari via Program PPUD

    • calendar_month Jum, 26 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Politeknik Negeri Kupang (PNK) dengan dukungan Kemenristek DIKTI melakukan penerapan dan pengembangan hasil riset perguruan tinggi untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Mitra Kelompok Usaha ‘Dodol Pisang Legit Sari’ yang berlokasi di Kelurahan Nunleu Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jenis dukungan yang merupakan bagian dari Pengabdian Kepada Masyarakat […]

  • Alm. Anthonius Gunawan Dianugerahi Adikarya Dirgantara Pralabda

    Alm. Anthonius Gunawan Dianugerahi Adikarya Dirgantara Pralabda

    • calendar_month Ming, 11 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Loading

      Makasar, gardaindonesia.id | Alm. Antonius Gunawan Agung, merupakan Petugas Air Traffic Controller (ATC) AirNav Indonesia di bandara Mutiara SIS Al Jufri Palu yang gugur dalam tugas ketika memandu pesawat Batik Air ID 6231 lepas landas tepat saat gempa bumi mengguncang Palu (28/9/18) lalu. Untuk mengenang jasanya, nama almarhum akan diabadikan menjadi nama Gedung Mini […]

  • Pleno KPU NTT: Viktor Laiskodat & Josef Nae Soi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2018-2023

    Pleno KPU NTT: Viktor Laiskodat & Josef Nae Soi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT 2018-2023

    • calendar_month Sen, 9 Jul 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT,gardaindonesia.id – Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dilaksanakan mulai 7-9 Juli 2018. Penghitungan suara dimulai Sejak Sabtu/7 Juli 2018 dengan hanya 14 kabupaten yang diplenokan hasil penghitungan suaranya. “Rapat pleno rekapitulasi dilanjutan untuk 8 (delapan) kabupaten karena delapan kabupaten […]

  • Hari Perempuan Internasional Ke-109, DPPPA NTT Helat Aksi Kemanusiaan

    Hari Perempuan Internasional Ke-109, DPPPA NTT Helat Aksi Kemanusiaan

    • calendar_month Rab, 6 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional ke-109 pada Jumat, 8 Maret 2019; Pemprov NTT melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan aksi kemanusiaan berupa Donor Darah, Pemeriksaan Kesehatan Gratis (IVA dan PAP SMEAR), dan Demo Kecantikan. Aksi Kemanusiaan tersebut diikuti oleh Ibu-Ibu Bahyangkari Polda NTT, […]

expand_less