Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month 23 jam yang lalu
  • visibility 113
  • comment 0 komentar

Loading

Perbedaan sering dielu-elukan dalam slogan, tetapi ditolak dalam praktik sehari hari. Banyak orang dewasa berkata ingin anaknya toleran, namun tanpa sadar memperlihatkan sikap sinis terhadap yang berbeda. Anak menangkap kontradiksi itu jauh lebih cepat daripada nasihatnya.

Riset perkembangan sosial menunjukkan bahwa sikap terhadap perbedaan terbentuk sejak usia dini, bahkan sebelum anak mampu menjelaskannya dengan kata kata. Otak anak menyerap pola sikap dari lingkungan terdekat, bukan dari ceramah tentang toleransi yang terdengar indah tetapi kosong pengalaman.

Dalam kehidupan sehari hari, perbedaan hadir dalam bentuk sederhana. Teman yang logat bicaranya tidak sama, kebiasaan makan yang berbeda, atau cara berpikir yang tidak sejalan. Anak sering bertanya dengan jujur, kenapa dia begitu, dan jawaban orang dewasa pada momen ini menentukan arah berpikir anak ke depan.

Mengajarkan anak menghargai perbedaan bukan tentang memaksa mereka setuju dengan semua hal. Ini soal membantu anak memahami bahwa dunia tidak dibuat seragam untuk kenyamanan satu sudut pandang saja. Dari pemahaman ini, empati dan kedewasaan berpikir tumbuh secara alami.

1. Mulai dari contoh nyata, bukan definisi

Anak belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar. Saat orang tua berbicara hormat tentang orang yang berbeda pendapat, anak menyerap pesan bahwa perbedaan tidak identik dengan ancaman.

Contoh sederhana muncul saat berdiskusi di rumah. Ketika pendapat anak tidak disetujui, respons tenang dan argumentatif menunjukkan bahwa tidak sepakat bukan berarti tidak menghargai. Dari sini anak belajar bahwa perbedaan bisa dikelola tanpa konflik.

2. Validasi rasa tidak nyaman tanpa membenarkannya

Perbedaan kadang membuat anak merasa aneh atau tidak nyaman. Mengabaikan perasaan ini justru membuat anak mencari pembenaran sendiri yang sering berujung prasangka.

Dengan mengakui rasa itu ada, orang dewasa membuka ruang dialog. Anak diajak memahami dari mana rasa tersebut muncul, lalu perlahan melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas. Proses ini jauh lebih efektif daripada langsung menuntut anak bersikap dewasa.

3. Gunakan cerita dan pengalaman sehari-hari

Cerita memiliki kekuatan membangun empati tanpa paksaan. Kisah tentang tokoh dengan latar berbeda membantu anak melihat dunia melalui mata orang lain.

Dalam keseharian, pengalaman kecil seperti bermain dengan teman yang kebiasaannya tidak sama bisa menjadi bahan obrolan reflektif. Diskusi semacam ini sering menjadi pintu masuk untuk pembahasan lebih dalam tentang logika sosial dan cara berpikir yang beragam, topik yang kerap diulas secara eksklusif dalam ruang pembelajaran berbasis refleksi kritis.

4. Ajarkan bedanya tidak setuju dan merendahkan

Banyak anak tumbuh dengan asumsi bahwa berbeda berarti salah. Padahal tidak setuju adalah bagian alami dari interaksi manusia.

Dengan menunjukkan cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan, anak belajar batas yang sehat dalam berpendapat. Mereka memahami bahwa argumen menyerang ide, bukan orangnya, sebuah keterampilan penting dalam kehidupan sosial jangka panjang.

5. Libatkan anak dalam lingkungan yang beragam

Paparan langsung jauh lebih kuat daripada teori. Berinteraksi dengan orang dari latar belakang berbeda membantu anak melihat bahwa stereotip sering tidak sesuai kenyataan.

Lingkungan beragam melatih fleksibilitas berpikir. Anak belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya sendiri, sebuah keseimbangan yang menjadi ciri kedewasaan sosial.

6. Hindari label dan generalisasi

Ucapan sederhana yang menggeneralisasi kelompok tertentu bisa tertanam kuat di benak anak. Label semacam ini menyederhanakan realitas yang sebenarnya kompleks.

Dengan membiasakan bahasa yang lebih spesifik dan adil, anak belajar menilai individu berdasarkan tindakan, bukan identitas kelompok. Pola pikir ini membangun keadilan kognitif yang jarang terbentuk dari nasihat singkat.

7. Ajak anak merefleksikan pengalaman berbeda

Refleksi membantu anak mengolah pengalaman menjadi pemahaman. Setelah bertemu atau berinteraksi dengan yang berbeda, obrolan ringan tentang apa yang mereka rasakan dan pelajari memperdalam makna pengalaman tersebut.

Dari refleksi ini, anak mulai melihat perbedaan sebagai sumber belajar, bukan ancaman. Sikap ini menjadi bekal penting untuk hidup di masyarakat yang kompleks dan terus berubah. Menghargai perbedaan bukan keterampilan bawaan, melainkan kebiasaan berpikir yang dibentuk pelan-pelan.(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Viktor: “TLM Mampu Dirikan Fondasi Kuat bagi Masyarakat NTT!”

    Gubernur Viktor: “TLM Mampu Dirikan Fondasi Kuat bagi Masyarakat NTT!”

    • calendar_month Sab, 7 Des 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Perayaan Perak HUT ke-25 Yayasan Tanaoba Lais Menekat (TLM) dan TLM Grup pada Jumat, 6 Desember 2019 pukul 18.00 WITA—selesai di Restoran Timor Raya dihadiri oleh segenap anggota dan pengurus TLM Grup, anggota KSP TLM, KSU Talenta, dan Koperasi Konsumen TLM; Ketua Sinode GMIT Pdt Merry Kolimon; Pembina TLM Grup, Paul […]

  • Gubernur VBL : Konstruksi Bangunan Kita Harus Tahan Gempa dan Bencana

    Gubernur VBL : Konstruksi Bangunan Kita Harus Tahan Gempa dan Bencana

    • calendar_month Kam, 15 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Loading

    Sabu Raijua, Garda Indonesia | Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat mengunjungi Sabu Raijua untuk melihat dampak dari Badai Seroja mengatakan, hingga saat ini, badai yang terjadi di NTT telah terjadi dua kali. Ke depanya perlu mengantisipasinya dengan kebijakan yang lebih mementingkan keselamatan masyarakat. “Tentunya momentum seperti ini, kita belajar, ke depanya agar konstruksi bangunan […]

  • Penjara Penuh! Pemerintah Dorong Hapus Hukuman Minimum Pengguna Narkoba

    Penjara Penuh! Pemerintah Dorong Hapus Hukuman Minimum Pengguna Narkoba

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 368
    • 0Komentar

    Loading

    Wakil Menteri Hukum, Edward Omar Sharif Hiariej, menjelaskan bahwa ketentuan pidana minimum yang sebelumnya mengharuskan pengguna narkoba dijatuhi hukuman penjara dengan batas minimal tertentu akan ditiadakan.   Jakarta | Pemerintah mengusulkan penghapusan ketentuan pidana minimum khusus bagi pengguna narkoba dalam Rancangan Undang-Undang Penyesuaian Pidana (RUU PP). Usulan ini disampaikan sebagai respons atas kondisi lembaga pemasyarakatan […]

  • Pesan Viktor Laiskodat Ke Pj Gubernur NTT Ayodhia Kalake

    Pesan Viktor Laiskodat Ke Pj Gubernur NTT Ayodhia Kalake

    • calendar_month Sel, 5 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Ayodhia G. L. Kalake, SH, MDC  merupakan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi resmi dilantik oleh Mendagri Tito Karnavian menjadi Penjabat (Pj) Gubernur NTT menggantikan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Adreanus Nae Soi, yang berakhir masa jabatannya pada 5 September 2023. Ayodhia Kalake bersama 8 orang Pj. Gubernur lainnya dilantik […]

  • Marsda TNI Hendri Alfiandi Dilantik Jadi Kepala Basarnas

    Marsda TNI Hendri Alfiandi Dilantik Jadi Kepala Basarnas

    • calendar_month Kam, 4 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) punya kepala badan baru. Dia adalah Marsekal Muda (Marsda) TNI Hendri Alfiandi yang dilantik oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi pada Kamis, 4 Februari 2021 pukul 09.00 WIB di Ruang Mataram Gedung Karya Kementerian Perhubungan. Alumni Akademi Angkatan Udara Tahun 1988 tersebut menggantikan Marsekal Madya […]

  • 1 Januari 2019 KD Resmi Ditutup, Pitrad-Pitrad Menyusul

    1 Januari 2019 KD Resmi Ditutup, Pitrad-Pitrad Menyusul

    • calendar_month Sel, 1 Jan 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, gardaindonesia.id | Per tanggal 1 Januari 2019, hari pertama tahun baru 2019, Pemkot Kupang benar-benar menepati komitmen dan konsisten melaksanakan penutupan lokalisasi Karang Dempel (KD) di daerah Tenau Kelurahan Alak Kecamatan Alak Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menindaklanjuti Keputusan Walikota Kupang Nomor : 176/KEP/HK/2018 tentang Penutupan Lokalisasi Karang Dempel di Kelurahan Alak […]

expand_less