Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Nalar Diserahkan Hidup Ikut Diatur

Nalar Diserahkan Hidup Ikut Diatur

  • account_circle Penulis
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 84
  • comment 0 komentar

Loading

Di banyak tempat, orang menjalani hari dengan pola yang nyaris sama. Bangun, bekerja, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya esok hari. Di sela-sela itu, muncul keluhan tentang aturan, sistem, atau orang-orang yang “berkuasa”. Anehnya, keluhan sering berhenti di sana. Jarang berlanjut menjadi pertanyaan yang lebih dalam: mengapa kita begitu mudah menerima, bahkan ketika merasa tidak sepakat?

Sebuah survei yang dirangkum dalam laporan OECD tentang literasi orang dewasa menunjukkan bahwa banyak pembaca berhenti membaca buku serius setelah usia sekolah, bukan karena tak mampu, tetapi karena merasa tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Buku-buku pemikiran dianggap berat, padahal di sanalah latihan bernalar dilakukan. Dalam bahasa sederhana, nalar jarang dipakai bukan karena rusak, melainkan karena jarang diajak bekerja. Inilah masalah utama yang sejak lama disoroti William Godwin: ketika akal sehat tidak dilatih, manusia cenderung menyerahkan hidupnya pada kebiasaan dan otoritas.

Pelan-pelan saja. Tidak ada tuntutan untuk menjadi berbeda secara drastis. Yang penting adalah memahami beberapa gagasan dasar yang bisa membantu menata ulang cara memandang diri dan dunia.

Menyadari hak bernalar

Godwin percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan bernalar yang setara. Masalahnya bukan pada kecerdasan, tetapi pada keberanian menggunakan nalar itu. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa urusan besar adalah urusan mereka yang “lebih tahu”. Akibatnya, kebiasaan berpikir mandiri jarang dipakai, seperti otot yang lama tidak digerakkan.

Pada kehidupan sehari-hari, ini tampak sederhana. Ketika mendengar aturan baru di tempat kerja, banyak yang langsung patuh tanpa bertanya tujuan atau dampaknya. Bukan karena setuju, tetapi karena merasa bertanya hanya akan menambah masalah. Padahal, bertanya bukan tanda melawan, melainkan tanda memahami. Godwin melihat kesadaran diri dimulai saat seseorang berani mengakui: aku punya nalar, dan berhak menggunakannya.

Kesadaran ini sering datang dari momen kecil. Saat membaca berita dan merasa janggal, lalu mencari sumber lain. Saat berdiskusi dan menyadari bahwa pendapat sendiri berubah setelah mendengar argumen berbeda. Proses ini tidak nyaman, tetapi justru di sanalah kebebasan berpikir tumbuh. Kesadaran diri bukan tentang merasa paling benar, melainkan tentang tidak menyerahkan pikiran begitu saja.

Kebiasaan yang meninabobokan

Setelah kesadaran muncul, tantangan berikutnya adalah kebiasaan. Godwin mengingatkan bahwa kebiasaan sosial sering lebih kuat daripada paksaan. Orang bisa hidup bertahun-tahun dalam pola yang tidak disukai, hanya karena sudah terbiasa. Kebiasaan membuat sesuatu terasa normal, meski sebenarnya merugikan.

Contohnya ada di sekitar. Banyak orang terbiasa menyebut sesuatu “sudah aturan”, tanpa pernah tahu siapa yang membuat dan mengapa. Di rumah, anak jarang diajak berdiskusi karena dianggap belum pantas. Di kantor, ide segar disimpan karena takut dianggap aneh. Kebiasaan ini tidak lahir dari niat jahat, tetapi dari rasa aman semu.

Godwin melihat bahaya kebiasaan yang tidak disadari: ia mematikan refleksi. Ketika sesuatu dilakukan otomatis, nalar berhenti bekerja. Padahal kebebasan tidak pernah tumbuh dari otomatisasi hidup. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilatih sadar, seperti membiasakan membaca argumen berbeda, atau meluangkan sepuluh menit untuk berpikir ulang sebelum menyetujui sesuatu. Kebiasaan baru ini memang terasa canggung di awal, tetapi pelan-pelan menghidupkan kembali daya pikir.

Risiko menyerahkan pikiran

Jika kebiasaan patuh terus dipelihara, risikonya tidak langsung terasa, tetapi dalam jangka panjang sangat nyata. Godwin menilai bahwa menyerahkan pikiran kepada otoritas siapa pun bentuknya membuat manusia kehilangan tanggung jawab atas pilihannya sendiri. Ketika hasilnya buruk, yang disalahkan selalu pihak luar.

Pada kehidupan sehari-hari, ini terlihat saat orang berkata, “Saya cuma ikut perintah.” Kalimat ini terdengar netral, tetapi menyimpan bahaya. Ia memutus hubungan antara tindakan dan tanggung jawab moral. Seseorang bisa melakukan hal yang tidak ia yakini, hanya karena merasa tidak punya pilihan.

Risiko terbesar dari sikap ini adalah tumpulnya empati dan penilaian moral. Ketika nalar tidak digunakan, manusia mudah terbawa arus. Godwin khawatir bukan pada kekacauan, melainkan pada kepatuhan tanpa pikir. Masyarakat seperti ini tampak tertib, tetapi rapuh. Begitu aturan berubah atau otoritas keliru, sedikit yang mampu berdiri dengan penilaian sendiri.

Solusi melalui dialog dan nalar

Bagi Godwin, solusi tidak datang dari revolusi mendadak, melainkan dari dialog rasional yang terus-menerus. Ia percaya bahwa kebenaran lebih kuat jika lahir dari pertukaran gagasan, bukan dari paksaan. Ini terdengar sederhana, tetapi jarang dipraktikkan.

Di kehidupan nyata, dialog rasional bisa dimulai dari hal kecil. Diskusi keluarga tanpa nada menggurui. Rapat kerja yang memberi ruang berbeda pendapat tanpa sanksi sosial. Lingkungan belajar yang menghargai pertanyaan, bukan hanya jawaban cepat. Semua ini membangun kepercayaan pada nalar kolektif.

Godwin menekankan bahwa perubahan yang sehat tidak membutuhkan figur sempurna. Ia membutuhkan orang biasa yang mau berpikir jujur dan mendengarkan. Ketika dialog menjadi kebiasaan, otoritas tidak lagi berdiri di atas ketakutan, melainkan di atas persetujuan yang sadar. Inilah solusi yang tidak spektakuler, tetapi berakar kuat.

Konsistensi dalam mengelola pikiran

Kesadaran, kebiasaan, risiko, dan solusi akan sia-sia tanpa konsistensi. Godwin melihat kebebasan sebagai proses panjang, bukan tujuan instan. Menggunakan nalar sekali-dua kali tidak cukup. Ia harus dilatih seperti kebiasaan harian.

Konsistensi tampak dari pilihan kecil: tetap membaca meski lelah, tetap bertanya meski tidak populer, tetap berpikir meski hasilnya belum jelas. Seperti menyisihkan waktu lima belas menit sehari untuk refleksi, atau menunda keputusan impulsif dengan berpikir ulang. Tidak heroik, tetapi nyata.

Dengan konsistensi, seseorang tidak mudah goyah oleh tekanan sesaat. Ia tahu mengapa memilih, dan siap menanggung akibatnya. Inilah kebebasan versi Godwin: tenang, rasional, dan bertanggung jawab. Bukan bebas tanpa batas, melainkan bebas dalam mengelola diri.

Pada akhirnya, hidup tidak menunggu kondisi ideal untuk berubah. Ia bergerak ketika seseorang memutuskan menggunakan nalarnya, lalu menjaganya tetap hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Perubahan besar lahir dari pengelolaan kecil yang konsisten.

Jika selama ini banyak keputusan diambil tanpa benar-benar dipikirkan, pertanyaannya sederhana: kapan terakhir kali nalar diberi ruang untuk memimpin, bukan sekadar mengikuti? (*)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Agen Premium dan Minyak Solar di Kabupaten Sabu Raijua Terbakar

    Agen Premium dan Minyak Solar di Kabupaten Sabu Raijua Terbakar

    • calendar_month Kam, 13 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Sabu Raijua, Garda Indonesia | Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) yang selama ini melayani kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat Kabupaten Sabu Raijua, terbakar pada Rabu, 12 Februari 2019 sekitar pukul 14.00 WITA. APMS milik dari Aba Zaenal Alboneh ini berlokasi di Desa Robo Aba, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara […]

  • Melki Laka Lena Bakal Jadi Menteri di Kabinet Indonesia Emas

    Melki Laka Lena Bakal Jadi Menteri di Kabinet Indonesia Emas

    • calendar_month Sel, 20 Feb 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Emanuel Melkiades Laka Lena atau akrab disapa Melki Laka Lena bakal menempati posisi sebagai salah satu menteri dalam Kabinet Indonesia Emas Prabowo Gibran. Komposisi kabinet Indonesia Emas akan menganut struktur kabinet Ir. Soekarno (presiden pertama Republik Indonesia, red) yang menyertakan posisi menteri muda untuk memastikan keterwakilan anak muda dalam pemerintahan secara substantif. […]

  • Inovasi Akuaponik-Ternak (3 in 1) untuk Ketahanan Pangan Keluarga Terdampak Stunting di Desa Penfui Timur

    Inovasi Akuaponik-Ternak (3 in 1) untuk Ketahanan Pangan Keluarga Terdampak Stunting di Desa Penfui Timur

    • calendar_month Sel, 16 Des 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Loading

    Tim PKM Undana di Desa Penfui Timur yang diketuai oleh Ir. Yohanis Umbu Laiya Sobang, M.Si. CRA, CRP, CRMP. beranggotakan Dr. Magadarita Riwu dan Dr. Marthen Makaborang, S.P, M.Sc. ini mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran secara terpadu dengan pemeliharaan ternak skala rumah tangga.   Kupang | Sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi keluarga dan menekan angka […]

  • Satu Putaran Pilpres Itu Tidak Masuk Akal

    Satu Putaran Pilpres Itu Tidak Masuk Akal

    • calendar_month Sab, 30 Des 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Randaru Sadhana Setiap orang masih bebas berpendapat bukan, karena negara kita belum mengubah sistem demokrasinya? Oke, mari kita bercerita, dengan melihat kondisi yang berkembang di sekitar kita. Datangnya suara maupun pendapat itu dari mana, kalau bukan fenomena yang nampak di depan mata kita? Dalam hukum sendiri ada tiga macam penelitian yang memperlihatkan perbedaannya, […]

  • Sri Mulyani Sebut Bayar Pajak Itu Mulia Layaknya Bayar Zakat dan Wakaf

    Sri Mulyani Sebut Bayar Pajak Itu Mulia Layaknya Bayar Zakat dan Wakaf

    • calendar_month Jum, 15 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Loading

    Sri Mulyani mencontohkan manfaat pajak yang telah membantu 10 juta keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH), 18 juta keluarga penerima bantuan sembako, hingga modal usaha untuk UMKM.   Jakarta | Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyamakan kewajiban membayar zakat dan wakaf dengan membayar pajak, karena ketiganya merupakan bentuk penyaluran hak orang lain yang ada dalam […]

  • Presiden Jokowi Terima Nama Calon Anggota KPU & Bawaslu 2022—2027

    Presiden Jokowi Terima Nama Calon Anggota KPU & Bawaslu 2022—2027

    • calendar_month Ming, 9 Jan 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo menerima tim seleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan calon anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) masa jabatan 2022—2027 di Istana Kepresidenan Bogor, pada Kamis, 6 Januari 2022. Sebanyak 11 anggota tim seleksi hadir untuk menyampaikan laporan hasil seleksi anggota KPU dan Bawaslu sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang […]

expand_less