Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Lukas Enembe, Antara Cahaya dan Luka

Lukas Enembe, Antara Cahaya dan Luka

  • account_circle w.T Kaibou Doo
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • visibility 118
  • comment 0 komentar

Loading

Pada sebuah lembah sunyi di pegunungan Papua, di Kampung Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara, pada 27 Juli 1967 lahir seorang anak laki-laki yang kelak dikenal banyak orang: Lukas Enembe. Ia lahir dengan nama Lomato Enembe. Namun sebelum ia dikenal sebagai pejabat, ia hanya seorang anak kampung—berjalan tanpa alas kaki di tanah merah, menembus kabut pagi yang turun perlahan dari punggung gunung.

Lukas kecil tumbuh dalam keluarga sederhana. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Rumahnya berdinding papan, beratap seng yang berisik setiap kali hujan turun. Di malam hari, suara angin yang menyusup dari celah dinding menjadi nyanyian panjang yang menemani tidurnya.

Ibunya sering berkata,

“Sekolah yang tinggi, nak. Jangan tinggal di gunung terus. Dunia lebih luas dari lembah ini.”

Kata-kata itu melekat seperti doa.

Ia berjalan berkilo-kilo meter untuk sekolah. Jalan berbatu, hujan, dingin, kadang lapar. Tetapi di matanya selalu ada nyala yang berbeda—keinginan untuk keluar, untuk kembali suatu hari nanti membawa perubahan.

Merantau dan bermimpi

Waktu membawanya jauh dari pegunungan. Ia menyeberang lautan, belajar di bangku kuliah di Manado. Dunia terasa asing, tetapi ia bertahan. Ia belajar ilmu pemerintahan, berbicara tentang politik, tentang pembangunan, tentang harapan.

Di asrama yang sederhana, ia sering termenung.

“Suatu hari, saya harus kembali,” gumamnya.

Ia ingin membangun jalan agar anak-anak tidak lagi berjalan jauh. Ia ingin gedung sekolah berdiri di kampung-kampung terpencil. Ia ingin orang-orang pegunungan merasa diperhatikan.

Mimpi itu membawanya kembali ke Papua.

Tangga Kekuasaan

Kariernya menanjak. Dari birokrat, menjadi Wakil Bupati, lalu Bupati, hingga akhirnya ia duduk di kursi tertinggi sebagai Gubernur Papua pada 2013.

Lukas Enembe saat menjadi tahanan KPK. Foto : CNN Indonesia

Nama Lukas Enembe disebut-sebut di kampung dan kota. Spanduk, baliho, sambutan meriah. Ia berdiri di podium-podium besar, berbicara tentang pembangunan, tentang harga diri orang Papua, tentang masa depan.

Di masa kepemimpinannya, jalan dibuka, gedung-gedung dibangun, stadion megah berdiri. Banyak yang memuji. Banyak pula yang bertanya.

Namun di balik jas rapi dan senyum resmi, tubuhnya mulai melemah. Penyakit datang perlahan—sunyi, tak terlihat publik.

Bayang-Bayang Tuduhan

Tahun-tahun terakhir menjadi masa yang berat.

Kasus hukum menyeret namanya. Tuduhan suap dan gratifikasi datang dari pusat kekuasaan. Sorotan kamera tak lagi tentang pembangunan, melainkan tentang penyidikan.

Ia ditangkap pada Januari 2023.

Di ruang tahanan yang dingin, mungkin untuk pertama kalinya sejak lama, ia sendirian tanpa sorak-sorai. Hanya suara langkah penjaga dan detak waktu.

Sebagian orang marah. Sebagian menangis. Sebagian lagi memilih diam.

Papua terbelah dalam pendapat.

Hari-Hari terakhir Lukas Enembe

Tubuhnya semakin lemah. Penyakit ginjal yang lama dideritanya kian parah. Ia dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Di ruang rumah sakit yang sunyi, tak ada lagi panggung politik. Tak ada lagi podium. Hanya napas yang sesekali berat. 26 Desember 2023, kabar itu datang: Lukas Enembe meninggal dunia.

Di tanah Papua, kabut seolah turun lebih tebal hari itu. Tangis terdengar di beberapa sudut kota. Di kampung-kampung, orang berbicara lirih tentang perjalanan seorang anak gunung yang pernah mencapai puncak kekuasaan—dan jatuh dalam badai.

Antara Cahaya dan Luka

Hidupnya adalah kisah tentang mimpi besar seorang anak pegunungan. Tentang kekuasaan yang tinggi dan cobaan yang lebih tinggi lagi. Tentang pujian dan tudingan yang berjalan berdampingan.

Ia bukan kisah yang hitam sepenuhnya.

Ia bukan pula putih sepenuhnya.

Ia adalah manusia—dengan ambisi, harapan, kelemahan, dan akhir yang sunyi.

Di lembah Tolikara, mungkin ada seorang anak kecil lain yang sedang berjalan menyusuri jalan berbatu menuju sekolah. Mungkin ia juga menyimpan mimpi yang sama besarnya.

Dan sejarah akan selalu mengingat:

Bahwa dari gunung yang sunyi, pernah lahir seorang anak bernama Lukas.(*)

  • Penulis: w.T Kaibou Doo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemda Lembata & PLN Sepakat PLTP Atadei Energi Baru Terbarukan

    Pemda Lembata & PLN Sepakat PLTP Atadei Energi Baru Terbarukan

    • calendar_month Jum, 4 Apr 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 157
    • 1Komentar

    Loading

    Guna percepatan proses pengadaan tanah PLTP Atadei, Pemda akan memfasilitasi pertemuan mediasi dengan para pemilik lahan di wellpad AT-1 yang akan dihadiri langsung oleh Bupati dan DPRD Lembata.   Lembata | Pemda Lembata menyatakan dukungan penuh terhadap keberlanjutan proses pengadaan tanah untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Atadei. Dukungan tersebut disampaikan langsung Bupati Kanisius […]

  • Yuk Simak Protokol Aktivitas ‘New Normal’ di Pasar ala Dokter Reisa

    Yuk Simak Protokol Aktivitas ‘New Normal’ di Pasar ala Dokter Reisa

    • calendar_month Sen, 15 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pasar tradisional sejak lama menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, sebagai penyokong tulang punggung ekonomi masyarakat. Dari hasil survei profil pasar tahun 2018, oleh Badan Pusat Statistik, ada lebih dari 14.000 pasar tradisional di Indonesia, atau sama dengan hampir 90% dari seluruh jenis pusat perdagangan yang ada di Indonesia. Namun di tengah pandemi […]

  • Komitmen Berantas Korupsi, Mantan Napi Korupsi Jadi Komisaris BUMN ?

    Komitmen Berantas Korupsi, Mantan Napi Korupsi Jadi Komisaris BUMN ?

    • calendar_month Ming, 8 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 199
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Andre Vincent Wenas To the point saja. Perihal siapa yang mesti “mengawal” total aset BUMN yang kabarnya telah mencapai Rp.8,400 triliun ini? Kita tahu bahwa operasional BUMN diawasi oleh Komisaris, maka soal pengangkatan Komisaris di BUMN pun dibikinlah aturan (pedomannya). Beginilah bunyinya: Persyaratan Anggota Dewan Komisaris, syarat materiilnya meliputi: 1) Integritas dan moral dalam […]

  • “Instrumen ASSIST & Rapid Test” Dipakai BNNP NTT Untuk 27 Paslon Pilkada 2020

    “Instrumen ASSIST & Rapid Test” Dipakai BNNP NTT Untuk 27 Paslon Pilkada 2020

    • calendar_month Jum, 11 Sep 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Metode ASSIST atau alcohol, smoking and substances involvement screening test merupakan elemen penting yang dapat digunakan petugas kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), memahami perilaku penggunaan narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza). Instrumen tersebut juga dipakai oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam melakukan pemeriksaan kecenderungan […]

  • MotoGP Mandalika 3—5 Oktober 2025 Tersedia 121 Ribu Tiket

    MotoGP Mandalika 3—5 Oktober 2025 Tersedia 121 Ribu Tiket

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Loading

    Penjualan tiket MotoGP Mandalika 2025 baru mencapai 30 persen dari total 121 ribu kursi, meski skema baru satu tiket tiga hari dinilai lebih menguntungkan penonton. Harga tiket berkisar Rp400 ribu hingga Rp15 juta masih menjadi pertimbangan daya beli masyarakat.   Lombok | MotoGP Mandalika 2025 siap dihelat pada 3—5 Oktober 2025 di Sirkuit Internasional Pertamina […]

  • Plt. Kadis Peternakan NTT drh. Artati Pinta Peternak Tanam Pakan

    Plt. Kadis Peternakan NTT drh. Artati Pinta Peternak Tanam Pakan

    • calendar_month Sel, 17 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Plt. Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), drh. Artati Loasana meminta kepada kelompok peternak sapi untuk menanam pakan sebelum mulai beternak. Demikian dikatakannya ketika mengunjungi Lokasi Ranch (Peternakan) Sonis Laloran mewakili Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat, di Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, pada Senin, 16 November 2020. “Bantuan […]

expand_less