Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Anak dan Perempuan » Anak dan Murid Hanya Hiasan dan Ladang Keuntungan

Anak dan Murid Hanya Hiasan dan Ladang Keuntungan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 9 Feb 2020
  • visibility 43
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Mochammad Sinung Restendy, M.Pd.I., M.Sos.

Konflik, pertengkaran ataupun pertikaian orang tua adalah satu dari sekian banyak tekanan psikologis bagi anak, yang sangat berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak.

Seringnya tidak ada perhatian pada kondisi psikologis anak yang kadang dilakukan sebagian orangtua, lingkungan ataupun sekolah dapat menimbulkan anggapan dan suasana negatif bahwa anak hanyalah penghias bagi biduk rumah tangga ataupun lingkungan luar seperti sekolah, seolah memiliki seorang anak hanyalah dihadirkan sebagai objek pelengkap di rumah tangga, atau sebagai murid hanya dianggap sebagai target jumlah yang harus dipenuhi oleh sekolah agar ‘bisnis tetap berjalan’.

Mari kita merenung sejenak untuk membicarakan harapan dan pendapat anak agar bisa didengar. Mari kita kesampingkan ego sebagai orang tua ataupun lembaga yang mengabaikan kepentingan anak, terlebih lagi jika mengeksploitasi anak, apalagi menganggap anak dijadikan lahan mengeruk uang.

Kasus yang kadang sering kita dengar di lingkup sekolah yaitu adanya pungutan liar, negosiasi biaya bahkan jual beli meja kelas menunjukkan anak hanya dilihat sebagai potensi mengeruk uang di mata sebagian sekolah, sedangkan di mata sebagian orang tua anak hanya sebagai penghias rumah tangga mereka, saat tetangga, saudara tahu bahwa anak mereka berada di sekolah favorit maka imbalan yang pantas adalah kerapkali pujian-pujian bagi orangtuanya.

Lagi-lagi psikologis anak tertekan dengan harus memantaskan diri sesuai yang diharapkan orang tua. Begitupun sekolah yang dibutakan untuk melengkapi sarana prasarana juga kompetisi gedung tertinggi antar sekolah sehingga menarik iuran terus menerus dan mengorbankan hak dan prestasi siswa dalam arti sesungguhnya – malah fokus terhadap pembangunan infrastruktur bukan terhadap pembangunan karakter anak-anaknya.

Sekolah juga harus berbenah, pernahkah meminta pendapat murid di mana harus meletakkan tempat bermain, kelas, laboratorium, masjid? Pernahkah diajak duduk bersama menyusun kebutuhan-kebutuhan mereka? Pernahkah diajak duduk bersama untuk memutuskan kebijakan sekolah?

Maka disinilah sekolah harus partisipatif, karena ukuran kesuksesan bukan banyaknya gedung tinggi ataupun ruang kelas tetapi kemampuan siswa yang berkembang tanpa adanya eksploitasi juga penerapan cara penguatan siswa yang salah dengan cara sogokan-sogokan harus dihapuskan. Agar orang tua paham dan benar-benar menerima anak dengan keunikan dan kemampuannya masing masing, bukan hanya memaksa anak terus menerus berhias diri padahal hatinya menangis demi membanggakan orangtuanya masing masing!

Anak perlu ditanyakan apa minat dan bakatnya dan dukung ia agar terus berkembang.

Anak yang dipandang sebagai ziinatun hayat (perhiasan dunia) ataupun qurrota ayun (penyejuk hati) selalu dalam catatan dimana anak tersebut harus mampu berperilaku solih (baik) bukan anak yang melakukan penyimpangan-penyimpangan akibat dari pola pendidikan yang salah, dan pola pendidikan dan pengasuhan yang salah inilah yang mengakibatkan jangka panjangnya bisa saja anak menjadi aduwwun (musuh) ataupun fitnatun (ujian), oleh karenanya perlu dididik dan diajari dengan benar.

Jika menilik dari konsep Watson yang melihat bahwa belajar mengharuskan interaksi dan respon secara natural dan aktif maka sebenarnya ada yang salah dalam pola pengasuhan dan pendidikan di sebagian keluarga juga sekolah di Indonesia. Belum ada upaya secara sadar dan sukarela dari mereka sendiri murid dan anak untuk mengembangkan kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang terjadi sebaliknya yaitu penekanan sebagian orangtua ataupun lembaga.

Memaksakan persepsi orangtua kepada anak jelas tidak bisa, karena simpel saja orang tua ataupun sekolah tidak akan pernah bisa memaksa anak untuk menjadi sesuai dengan kemauan mereka (walaupun tujuan sama tetapi perlu upaya bersama bukan memaksakan). Jadi iya, visi-misi sekolah ataupun di lingkup keluarga boleh sama tetapi penerapan strategi dan metodenya jelas harus berbeda (atau tidak sama rata) pada setiap anak, karena setiap anak memiliki keunikan masing masing (murid boleh berseragam tetapi jiwa dan karakter mereka beragam, jangan selalu disamakan).

Maka dengan diskusi dan membangun konsekuensi logis bersama secara otomotis mengajarkan anak dengan logika dan kedewasaan bukan hanya hukuman-hukuman dan sogokan-sogokan yang terkesan memaksakan! Dari upaya aktif diskusi dan membangun konsekuensi logis maka akan bertahap tertanam dari dini tanggung jawab dan kedisiplinan, dan itu butuh upaya sadar secara aktif partisipatif dari sekolah dan masyarakat sehingga anak dan murid benar-benar dianggap ada dan didengar pendapatnya.

Anak akan menjadi aduwwun (musuh ) dan fitnatun (ujian) jika dibesarkan dengan sogokan-sogokan, bullying, hukuman fisik dan psikis yang bisa menyebabkan trauma panjang dan akan merubah tingkah laku anak yang cenderung menabrak norma sosial kedepannya.

Anak itu melihat figur baik di rumah ataupun sekolah, yang akan dijadikan acuan dalam setiap tahap perkembangan dan pertumbuhan kehidupannya mulai dari pembiasaan, penanaman pengertian sampai kepada bisa bijak dan menjadi guru bagi dirinya sendiri. Jika yang menjadi role model baik personal atau kelembagaan bagus, maka akan membentuk karakter kuat dan juga bagus bagi anak dan murid, tetapi jika yang muncul adalah upaya eksploitasi demi nafsu, ego pribadi orangtua dan lembaga juga mafia-mafia pendidikan maka karakter anak dan murid yang terbentuk bisa berbahaya bagi kemajuan bangsa dan negara.

Dari itulah anak bisa menjadi hiasan saat berkembang di alam bebas mereka dengan membentuk jati diri yang mandiri dengan tetap ada arahan, partisipatif dan konsultatif positif dari lingkungan, lembaga dan keluarga sehingga bermanfaat dan jadi kebanggaan masyarakat yang secara garis lurus merupakan keuntungan tersendiri bagi diri, keluarga, masyarakat dan negara. Demi SDM unggul Indonesia! (*)

(*/Penulis merupakan Dosen dan Pengamat Komunikasi Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Editor: Derry Fahrizal Ulum Foto oleh Rony Banase

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Jokowi Kaji Usulan Pemekaran Wilayah di Papua dan Papua Barat

    Presiden Jokowi Kaji Usulan Pemekaran Wilayah di Papua dan Papua Barat

    • calendar_month Rab, 11 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 31
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo menyetujui aspirasi yang disampaikan oleh para Tokoh Papua mengenai pemekaran sejumlah wilayah yang ada di Papua dan Papua Barat. Aspirasi tersebut disampaikan kepada Presiden saat bertemu dengan 61 Tokoh Papua di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 10 September 2019. Tokoh Masyarakat Papua yang juga Ketua DPRD Kota Jayapura, […]

  • Masuk Tiga Besar, NTT Peluang Juara Umum Anugerah Pesona Indonesia 2020

    Masuk Tiga Besar, NTT Peluang Juara Umum Anugerah Pesona Indonesia 2020

    • calendar_month Rab, 17 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 bakal dilaksanakan secara virtual di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 9 April 2021. Pemilihan lokasi dan dilakukan secara virtual terkait pandemi Covid-19 yang masih bergulir hingga saat ini. Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda NTT, Dr. Ardu Marius […]

  • Kejaksaan Agung RI Selamatkan Uang Negara Ratusan Triliun

    Kejaksaan Agung RI Selamatkan Uang Negara Ratusan Triliun

    • calendar_month Sel, 3 Jan 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kejaksaan Agung RI berhasil menyelamatkan uang negara senilai kurang lebih Rp144.215.249.106.909 dan USD61.948.551 sepanjang tahun 2022. Capaian tersebut dilaporkan langsung oleh Kepala Pusat Penerangan Hukum Ketut Sumedana terkait kinerja Bidang Tindak Pidana Khusus dalam menangani sejumlah perkara terkait total kerugian keuangan negara dan perekonomian negara. Adapun rincian kerugian keuangan negara dan […]

  • Pj. Bupati Belu Ajak Stakeholders Dukung Visi–Misi Bupati/Wakil Bupati Terpilih

    Pj. Bupati Belu Ajak Stakeholders Dukung Visi–Misi Bupati/Wakil Bupati Terpilih

    • calendar_month Sel, 20 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | “Melalui kesempatan ini, saya mengajak seluruh stakeholders di Kabupaten Belu untuk memberikan perhatian serius dan optimal agar tujuan untuk menjadikan Musrenbang sebagai instrumen penting dalam perencanaan pembangunan dapat kita wujudkan,” ujar Penjabat Bupati Belu, Zakarias Moruk, M.M. saat sambutan pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Musrenbang RKPD) Kabupaten Belu, […]

  • TETAP DIPROSES! Kasus Panji Gumilang Tak Bisa Restorative Justice

    TETAP DIPROSES! Kasus Panji Gumilang Tak Bisa Restorative Justice

    • calendar_month Sab, 23 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan bahwa kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Panji Gumilang tetap diproses meski ada dua laporan yang dicabut. “Benar ada dua surat pencabutan laporan dari saudara KS dan saudara MIT,” kata Ramadhan dalam konferensi pers di Mabes Polri pada Kamis, […]

  • Empati & Apresiasi Wagub Josef bagi Pemulung TPA Alak dalam Giat PUSPA

    Empati & Apresiasi Wagub Josef bagi Pemulung TPA Alak dalam Giat PUSPA

    • calendar_month Jum, 9 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 29
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Jumat, 9 November 2018 merupakan sesi terakhir dalam rangkaian kegiatan PUSPA (Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) yang diinisiasi dan didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak(PPPA). Dinas PPPA NTT melalui dukungan Kementerian PPPA melakukan rangkaian kegiatan Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat di Tempat Pembuangan Akhir(TPA) Sampah Alak Kota Kupang. Rangkaian […]

expand_less