Anatomi Kegelisahan (The Cycle of Crisis)
- account_circle Penulis
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 67
- comment 0 komentar

![]()
Secara akademis, perkembangan psikososial manusia dapat dipetakan melalui siklus krisis yang berkelanjutan. Dimulai dari teenage crisis (pencarian jati diri), berlanjut ke quarter-life crisis (keraguan masa depan), hingga mid-life crisis (penyesalan masa lalu). Fenomena ini bukanlah sebuah kerusakan mental, melainkan mekanisme alami manusia dalam memproses makna hidup.
Kegelisahan muncul dari diskrepansi antara keinginan (ekspektasi) dan kenyataan yang selalu berubah secara fluktuatif. Fahruddin Faiz menekankan bahwa sejarah hidup manusia sejatinya adalah sejarah kegelisahan itu sendiri; sebuah bukti bahwa kita adalah entitas yang lemah dan senantiasa membutuhkan pegangan di luar kapasitas diri kita sendiri.
Patologi sosial di “zaman edan”
Dalam perspektif sosiologi-politik yang tertuang dalam lirik Nocturno, masyarakat modern sering kali terjebak dalam kondisi “zaman edan” atau anomi sosial. Ini adalah kondisi di mana nilai-nilai moralitas mengalami degradasi sistemik, digantikan oleh pemujaan terhadap materi dan kekuasaan. Akal sehat dianggap sebagai hambatan, sementara keserakahan diadopsi sebagai ideologi baru.
Pada ekosistem yang korup, individu menghadapi tekanan (pressure) dan kesempatan (opportunity) yang luar biasa untuk melakukan penyimpangan. Bahaya terbesar bukan terletak pada kesalahan itu sendiri, melainkan pada proses rasionalisasi—di mana akal digunakan untuk membenarkan tindakan amoral sehingga nurani kehilangan “sense of guilt” atau rasa bersalahnya secara permanen.
Kebijaksanaan untuk “diam” (The Philosophy of Silence)
Saat kata-kata kehilangan maknanya di tengah hiruk-pikuk disinformasi, “diam” bertransformasi menjadi tindakan filosofis yang tinggi. Diam bukan sekadar absennya suara, melainkan bentuk kesadaran penuh (mindfulness). Dalam tradisi Taoisme dan Stoikisme, diam adalah bentuk pengenalan terhadap batasan kendali diri membedakan mana yang berada dalam otoritas kita dan mana yang merupakan hukum alam.
Setiap vibrasi negatif yang kita keluarkan melalui ucapan memiliki energi yang tidak hilang, melainkan menetap dalam ekosistem sosial. Dengan memilih untuk diam saat tidak memiliki sesuatu yang substantif atau positif untuk disampaikan, kita sebenarnya sedang menjaga higienitas jiwa dari polusi energi negatif yang merusak tatanan batin.
Mengasah mata hati (The Spiritual Cleansing)
Hati nurani berfungsi sebagai Panglima, sementara akal hanyalah pasukan pendukung. Tanpa kejernihan hati, akal akan bertindak sebagai pengacara bagi perilaku buruk, mencari ribuan justifikasi untuk menormalisasi kesalahan. Oleh karena itu, “mengasah mata hati” adalah kewajiban intelektual dan spiritual untuk memastikan navigasi hidup tetap berada pada jalur kebenaran.
Proses pembersihan jiwa (Muhasabah) harus dilakukan secara berkelanjutan melalui habituasi perbuatan positif. Secara teoretis, satu perbuatan baik memiliki kekuatan untuk menggeser residu negatif dalam batin. Kuncinya adalah konsistensi (istiqamah) dan keberanian untuk mengakui kekotoran diri tanpa terjebak dalam skeptisisme atau putus asa terhadap rahmat Tuhan.
Eksistensi kita di dunia ini memang “Kebak Kangelan” (penuh kesulitan). Namun, justru melalui tekanan dan kegelisahan itulah, manusia memiliki peluang untuk melakukan dialektika diri dan naik ke level kedewasaan yang lebih tinggi. Hidup tanpa masalah bukanlah sebuah berkah, melainkan sebuah stagnasi yang mematikan pertumbuhan karakter.
Nasionalisme dan cinta tanah air pun menjadi muara dari kejernihan jiwa ini memberikan yang terbaik melalui kapasitas ilmu dan ketangguhan mental (bandel). Kita ditantang untuk tidak hanya sekadar bertahan hidup, tetapi hidup dengan makna yang jernih di tengah dunia yang semakin keruh.
Pertanyaan untuk Anda: “Manakah yang lebih menakutkan: hidup dalam kegelisahan yang membuat kita terus mencari kebenaran, atau hidup dalam ketenangan palsu yang sebenarnya adalah hasil dari matinya hati nurani?. (*)
- Penulis: Penulis
- Sumber: Logikafilsuf











Saat ini belum ada komentar