Bermain di Gedung Tua, Satu Anak Tewas di TTS, Kontrol Orang Tua Dipertanyakan
- account_circle Gery Rudolf Liu
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 37
- comment 0 komentar

![]()
Timor Tengah Selatan | Tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, ketika sebuah bangunan bekas sekolah dasar yang telah lama terbengkalai roboh dan menewaskan seorang anak, Rabu sore, 18 Maret 2026.
Peristiwa nahas itu terjadi di bekas Sekolah Dasar Inpres Oepula, Desa Nifukani, Kecamatan Amanuban Barat. Bangunan yang diketahui sudah tidak digunakan sejak 2023 itu ambruk saat sejumlah anak tengah bermain dan berteduh di dalamnya.
Kapolres TTS, AKBP Hendra Dorizen, mengatakan insiden terjadi sekitar pukul 18.43 Wita. Saat itu, sekelompok anak sedang bermain sepak bola di halaman sekolah.
“Karena cuaca gerimis, mereka kemudian berteduh di dalam bangunan lama yang sudah tidak difungsikan tersebut,” ujar Hendra dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 Maret.
Tak lama kemudian, terdengar suara dentuman keras sebelum bangunan tersebut runtuh dan menimpa anak-anak yang berada di dalamnya.
Saksi dengar dentuman keras
Saksi mata, Agustinus Talan, seorang petani setempat, mengaku mendengar suara keras sekitar pukul 17.30 Wita dari arah lokasi kejadian. Ia kemudian berlari menuju bekas sekolah tersebut dan mendapati bangunan telah roboh.
Saat tiba di lokasi, Agustinus melihat seorang anak, Noldi Kause (9), tertimpa tiang penyangga bangunan di bagian depan. Korban dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat luka berat di bagian kepala.
Bersama dua warga lainnya, Mateos Nenoliu dan Yakobus Nenoliu, saksi kemudian melakukan pencarian di antara reruntuhan dan menemukan korban lain, Juliana Nenohai (13), yang masih tertimbun puing. Korban segera dievakuasi dan dilarikan ke RSUD Soe untuk mendapatkan perawatan medis.
Sementara itu, satu korban lainnya, Mikael Jekson Nenoliu (9), yang mengalami luka ringan pada kaki dan punggung, mendapatkan penanganan awal dari warga sekitar.
Bangunan lama tak digunakan dan tak diamankan
Dari hasil penyelidikan awal, diketahui bangunan SD Inpres Oepula tersebut telah berdiri sejak tahun 1991 dan tidak lagi digunakan sejak 2023 karena kondisinya yang sudah tidak layak.
Meski demikian, bangunan tersebut tidak dilengkapi pengamanan sehingga masih kerap dimasuki anak-anak dan dijadikan tempat bermain, terutama saat berada di sekitar lingkungan sekolah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) TTS, Dianar Ari Aty, menyebut kondisi bangunan yang sudah lapuk diperparah oleh faktor cuaca menjadi penyebab utama robohnya struktur.
“Bangunan ini sudah tidak kokoh lagi dan roboh saat anak-anak berteduh di dalamnya. Warga segera melakukan evakuasi setelah kejadian,” ujarnya.
Pengawasan orang tua jadi perhatian
Peristiwa ini memunculkan sorotan terhadap pengawasan anak-anak, terutama saat berada di sekitar bangunan yang sudah tidak digunakan dan berpotensi membahayakan.
Kapolres TTS menegaskan pentingnya peran semua pihak, termasuk orang tua, dalam memastikan keselamatan anak-anak saat bermain di lingkungan sekitar.
“Ini menjadi perhatian bersama, baik pihak sekolah, pemerintah, maupun masyarakat. Anak-anak perlu diawasi agar tidak bermain di lokasi yang berisiko seperti bangunan tua yang sudah tidak layak,” tegas Hendra.
Pihak kepolisian menyatakan akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kejadian, sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait guna mengevaluasi bangunan-bangunan terbengkalai di wilayah TTS.
Tragedi ini menjadi pengingat penting bahwa bangunan yang sudah tidak difungsikan tanpa pengamanan memadai dapat menjadi ancaman serius, terutama bagi anak-anak yang kerap memanfaatkannya sebagai tempat bermain. (*)
- Penulis: Gery Rudolf Liu











Saat ini belum ada komentar