BI Optimis Perekonomian Indonesia Naik Hingga Kisaran 5,9 Persen Tahun 2027
- account_circle Penulis
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 78
- comment 0 komentar

![]()
Bank Indonesia berkomitmen terus memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas.
Jakarta | Bank Indonesia (BI) meluncurkan Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025, bertema “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” pada Rabu, 28 Januari 2026. Laporan ini mengulas evaluasi dan prospek ekonomi global dan domestik, serta pelaksanaan kebijakan Bank Indonesia pada 2025 dan arah bauran kebijakan pada 2026.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan 3 hal penting, yaitu optimisme, komitmen, dan sinergi (OKS). Optimisme perlu terus dibangun dan diperkuat sehingga dapat memperkuat prospek perekonomian. Pertumbuhan ekonomi 2025 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 4,7-5,5%, dan akan meningkat menjadi 4,9-5,7% pada 2026 dan terus naik menjadi 5,1-5,9% pada 2027. Stabilitas harga tetap terjaga dengan inflasi terkendali pada kisaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027. Komitmen perlu diperkuat untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan ekonomi nasional.
Lebih lanjut dipaparkan Perry, inflasi juga diperkirakan 2,5±1% pada 2026 dan 2027. Perry menyatakan BI dan pemerintah berkomitmen memastikan inflasi tetap berada di target sasaran. Dari sisi perbankan, pertumbuhan kredit ditargetkan mencapai 8—12 persen pada 2026 dan 9—13 persen pada 2027.
BI pun bakal memperluas digitalisasi sistem pembayaran bersama Asosiasi Sistem pembayaran Indonesia (ASPI) dengan target 17 miliar transaksi pada 2026. Sementara melalui QRIS ditargetkan mencapai 60 pengguna yang 45 juta adalah UMKM.
Bank Indonesia berkomitmen terus memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas. Sementara itu, sinergi juga perlu terus diperkuat untuk lima area penting; memperkuat stabilitas perekonomian, mendorong sektor riil melalui hilirisasi sumber daya alam (SDA) dan industrialisasi; memperkuat ekonomi kerakyatan; meningkatkan pembiayaan perekonomian; dan mengakselerasi digitalisasi.
Sementara, Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, menegaskan pentingnya orkestrasi kebijakan pusat hingga daerah, dengan mengedepankan OKS yang disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia. “Tema LPI tahun 2025 ini menegaskan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan, baik pusat maupun daerah, dalam menjaga ketahanan ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan” paparnya saat peluncuran LPI 2025 dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT bersama mitra, Pemprov NTT, instansi vertikal, ISEI Cabang Kupang, dan pimpinan redaksi media massa.
Adidoyo menekankan keselarasan program pemerintah pusat dan daerah di bidang pangan, energi, tenaga kerja, dan ekonomi kerakyatan akan menjadi kunci keberhasilan transformasi ekonomi menjadi lebih tangguh dan mandiri.
Selain itu, imbuh Adidoyo, sinergi juga perlu terus diperkuat dalam mempercepat transformasi ekonomi NTT menjadi lebih produktif, dengan inovasi yang tepat sasaran. Pemahaman yang baik atas risiko dan potensi ke depan, diharapkan sinergi dapat diprioritaskan kepada inovasi konkret yang mampu menjadi solusi permasalahan jangka pendek, menengah hingga jangka panjang.(*)
- Penulis: Penulis
- Editor: Roni Banase
- Sumber: Humas BI NTT











Saat ini belum ada komentar