Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Jagung dan Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor

Jagung dan Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 11 Mar 2021
  • visibility 92
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Roni Banase

Tanaman Jagung bagi masyarakat yang bermukim di daratan seluas sekitar 15.000 km (termasuk di Negara Republik Demokratik Timor Leste[RDTL]) mempunyai beragam manfaat, mulai dari sebagai makanan pokok yang dapat diolah menjadi Jagung Katemak (rebusan bulir Jagung tua beserta beragam sayur mayur, red) dan Jagung Bose (jagung yang diolah dengan cara ditimpa dalam palungan kayu hingga kulit terkelupas kemudian dimasak dengan santan dan dicampur kacang-kacangan, red) hingga dijadikan Jagung Bunga atau Popcorn.

Namun, untuk saat ini, saya ingin menyuguhkan informasi bagaimana Orang Timor khususnya di Desa Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperlakukan tanaman dengan nama ilmiah Zea Mays yang merupakan salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat terpenting di dunia, selain gandum dan padi.

Bagi warga di Desa Naiola (tempat Papa dan Mama menghabiskan masa tua mereka, red), selain sebagai ketahanan pangan, Jagung juga memiliki nilai historis adat yang sarat makna. Tak hanya asal ditanam, lalu dibiarkan tumbuh sendiri tanpa perawatan, namun sebelum di tanam Saat awal musim hujan (Oktober hingga Maret); Jagung diambil dari tempat penyimpanan selama kurang lebih setahun bahkan lebih yang mana disimpan di lumbung pangan Masyarakat Timor yakni Lopo. Di atas bubungan Lopo, atau loteng Lopo, Jagung disimpan sebagai bibit sekaligus berfungsi sebagai ketahanan pangan.

Prosesi mempersembahkan Jagung hasil panen kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef

Pastinya kita penasaran, mengapa harus disimpan di Lopo, bukannya tinggal membeli saja di toko bibit Pertanian? Karena bagi masyarakat Timor, bibit Jagung yang berasal dari stok yang disimpan telah melewati proses “Pemberkatan” atau telah didoakan oleh 3 (tiga) unsur yakni Allah, Alam, dan Arwah yang memiliki satu kesatuan utuh.

Bagaimana proses tersebut terjadi dan apa saja yang dilakukan oleh Masyarakat Timor? Saya pun tergelitik untuk menelusuri, meski saya lahir dari rahim seorang Ibu berdarah Rote bermarga Mooy dan Ayah asli Orang Timor bermarga Banase dan dibesarkan di Kota Kupang, namun kami telah berkunjung ke tempat kelahiran masing-masing orang tua kami sejak masih kecil dan menikmati setiap proses hidup dari hal sederhana hingga mencermati, mengamati, dan ikut melakukan prosesi upacara adat.

Harus diakui, saya pun jarang menikmati yang namanya Jagung Katemak, selain karena agak keras, makanan ini memang agak susah dicerna oleh lambung yang telah terbiasa dengan asupan nasi, jika dipaksa maka bakal berurusan saat menuju ke kamar kecil, di situ bakal membutuhkan waktu lama. Serupa dengan Jagung Bose, meski agak lunak dengan campuran santan Kelapa, namun serupa bakal berkontraksi dengan lambung.

Makan Jagung Adat Masyarakat Timor di Desa Naiola, tak ada Subordinasi antara Laki-laki dan Perempuan, duduk bersama menikmati Jagung hasil panen

Selanjutnya, saya lebih memilih menyantap Jagung Muda Rebus, seperti yang disuguhkan dalam prosesi upacara “Makan Jagung Adat” atau Tatek Pena Keluarga Banase di Desa Naiola pada Sabtu, 6 Maret 2021, saat menjenguk Papa dan Mama di sana sekaligus mengikuti prosesi tersebut. Sebagai anak sulung laki-laki, saya pun punya tanggung jawab untuk mengikuti lekuk prosesi itu, mulai dari memberikan ucapan terima kasih dengan menyembelih Ayam lalu disuguhkan dengan Jagung hasil bercocok tanam kepada 3 (tiga) unsur hingga pada proses akhir yakni menyantap secara bersama atau “Makan Jagung Adat”.

Yang membuat saya takjub dan kaget, saat “Makan Jagung Adat” kami para lelaki duduk bersama setara dengan kaum perempuan (tak ada Subordinasi), karena semua saudara dalam lingkaran pertalian kawin mawin datang untuk mengikuti prosesi tersebut. Mereka pun harus datang membawa hasil Jagung mereka yang dipotong dan diikat dengan cara beragam.

Saya pun disuguhi 5 tongkol Jagung Muda beserta potongan daging Ayam Rebus dan wajib memakan hingga habis, meski telah mencoba untuk menyantap hingga ludes, namun apa daya lambung tak bisa menyesuaikan. Namun, yang membuat saya terkesan, karena penuturan dari Bapak Tadeus Lae, beliau Ketua Badan Pemasyarakatan Desa (BPD) Desa Naiola. Menurutnya, tradisi “Makan Jagung Adat” masih terpelihara hingga kini dan dilakukan oleh setiap rumpun keluarga di setiap masa Tanaman Jagung telah masuk masa panen, biasanya pada bulan Maret setiap tahun.

Satu Aesap Jagung dan satu Pentauf Jagung diikat dan digantung di Lopo atau Ume Tobe

“Saat Jagung sudah siap panen, maka dipotong dan diikat lalu bakar lilin kepada leluhur sebagai ucapan terima kasih karena telah ikut menjaga dan merawat,” tutur Tadeus seraya menyampaikan hasil Jagung tersebut juga disimpan di Lopo atau Ume Tobe dan dipersembahkan ke Raja untuk disimpan di Lopo Tobe.

Saat menanam bibit Jagung yang diambil dari Lopo, imbuh Tadeus, Kita memberitahu Kakek dan Nenek yang telah mendahului agar ikut menjaga dan merawat tanaman Jagung. “Saat siap panen, maka kita harus memberitahu para leluhur dan memberikan masing-masing dari hasil kebun kepada Leluhur Laki-laki di Hau Monef atau Kayu Tuhan (potongan kayu bercabang tiga dengan ketinggian berbeda sebagai simbol Bapa, Putra, dan Roh Kudus), sementara untuk Leluhur Perempuan berada di dalam rumah berupa “Tatakan Batu” tempat membakar lilin dan menyuguhkan persembahan hasil kebun,” urainya.

Nah, saat panen Jagung hasil kebun, lalu diikat sebanyak 7 (tujuh) tongkol dalam satu rumpun atau disebut ‘Pentauf’ (sebagai simbol 7 hari dalam seminggu) dan diikat sebanyak 10 tongkol Jagung atau disebut ‘Aisap’ untuk digantung di Lopo dan dijadikan bibit, kemudian dimasukkan ke Ume Tobe dan Lopo Tobe, kemudian diatur untuk diserahkan ke Gereja dan Raja.

“Selanjutnya, 1 Aisap dan 1 Pentauf Jagung hasil kebun diserahkan dan disimpan di Lopo Tobe. Kita yang dapat lebih banyak hasil panen, sementara kita dapat lebih banyak hasil kebun,” urai Tadeus Lae sembari mengajak saya menikmati Jagung Muda Rebus hasil kebun Papa dan Mama sambil menelisik warga desa yang sedang melintasi jalan dengan memikul Potongan Pohon Jagung Muda untuk melakukan hal serupa yang sedang kami lakukan yakni “Tradisi Makan Jagung Adat Masyarakat Timor”.

Foto (*/koleksi pribadi)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terpilih Aklamasi, Wagub JNS Jadi Ketua PMI NTT Periode 2021—2026

    Terpilih Aklamasi, Wagub JNS Jadi Ketua PMI NTT Periode 2021—2026

    • calendar_month Sel, 23 Nov 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi (JNS) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) NTT periode 2021—2026. Terpilihnya Wagub JNS sebagai Ketua PMI NTT tersebut dilaksanakan dalam Musyawarah Provinsi IX Palang Merah Indonesia (PMI) Nusa Tenggara Timur yang dilaksanakan di Hotel Kristal Kupang pada Selasa, 23 November 2021. […]

  • Kaos Politik dan Politik Kaos

    Kaos Politik dan Politik Kaos

    • calendar_month Sab, 30 Apr 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Andre Vincent Wenas Kaos politik itu soal biasa di masa kampanye. Semua partai dan hampir semua kandidat, mulai dari capres, cagub, cabup, cawali, caleg, dan cakades pun memanfaatkannya. Bahkan kampanye pemilihan Ketua OSIS atau Ketua Alumni pun ikut pakai cara ini juga. Tak jadi soal. Pasang logo parpol, foto diri, dan tulisan besar-besar di […]

  • Bersama 43 Eks Pegawai KPK, Novel Baswedan Dilantik Jadi ASN Polri

    Bersama 43 Eks Pegawai KPK, Novel Baswedan Dilantik Jadi ASN Polri

    • calendar_month Jum, 10 Des 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo resmi melantik Novel Baswedan dan 43 eks pegawai KPK lainnya. 44 eks pegawai KPK itu dilantik di Gedung Rupatama, Mabes Polri, Jakarta Selatan. “Kita lantik sesuai Nomor Induk Pegawai 1 Januari 2021 rekan-rekan resmi jadi Pegawai Negeri Sipil Polri,” ujar Kapolri Jenderal Listyo saat prosesi pelantikan […]

  • Korupsi Adalah Musuh Besar Utama Penegakan Hak Asasi Manusia

    Korupsi Adalah Musuh Besar Utama Penegakan Hak Asasi Manusia

    • calendar_month Kam, 10 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pada Kamis 10 Desember 2020, segenap bangsa Indonesia turut memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Mengusung tema “Recover Better – Stand Up for Human Rights” merupakan reminder bagi seluruh umat manusia untuk senantiasa berperan aktif dalam segala upaya perbaikan penegakan HAM di dunia, mengingat HAM sejatinya adalah hak dasar yang […]

  • Kopdit Pintu Air Pecut Semangat Insan Koperasi di Kutai Timur

    Kopdit Pintu Air Pecut Semangat Insan Koperasi di Kutai Timur

    • calendar_month Kam, 24 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Loading

    Sangatta, Garda Indonesia | Filosofi ‘kau susah aku bantu, dan aku susah kau bantu” adalah  dasar pijak koperasi kredit yang mengharuskan semua warga “orang miskin” bisa terlibat saling membantu, bergotong-royong, bahu membahu untuk meningkatkan ekonomi keluarga dengan pola simpan pinjam. Koperasi kredit, sejatinya adalah jembatan emas untuk hidup sejahtera asal anggotanya memahami sungguh cara berkoperasi […]

  • Flobamora Film Festival Siap Tayang Karya Pelajar NTT

    Flobamora Film Festival Siap Tayang Karya Pelajar NTT

    • calendar_month Sen, 10 Okt 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Komunitas Film Kupang (KFK) berhasil menyelesaikan agenda Workshop Film Pelajar (WFP) pada dari Senin—Kamis, 26—29 September 2022). Rangkaian dinamika pun sudah disiapkan panitia bersama para mentor yang membantu dalam penyampaian materi. Sekiranya 20 peserta dengan 5 perwakilan dari setiap sekolah yang mendaftar telah membuahkan hasil, peserta siap menayangkan karya di Flobamora […]

expand_less