Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Kelompok Tani Binaan CIRMA Sulam Impian di Batas RI-Timor Leste

Kelompok Tani Binaan CIRMA Sulam Impian di Batas RI-Timor Leste

  • account_circle Roni Banase
  • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
  • visibility 455
  • comment 0 komentar

Loading

Sefri menangis meronta-ronta meski telah diredam, namun anak berusia lima tahun yang hidup di lahan lokasi semburan panas bumi Napan, perbatasan Republik Indonesia – Timor Leste itu tak mengindahkan upaya bujukan mamanya. Ia tetap bersikukuh seraya memaksa dalam rintihan dan tangisan agar sayur pakcoy kesayangannya dikembalikan seperti semula di bedeng bertanah liat putih tak menyerap air itu.

Bocah itu merasa sangat kehilangan sayur pakcoy organik kesayangannya, saat melihat tanaman hortikultura yang ia rawat, siram, hingga tumbuh subur menghijau di tengah gersangnya alam dan semburan lumpur panas bumi itu harus berpisah dengannya.

Ia tak rela harus berpisah dengan sayur pakcoy organik berwarna hijau merona itu yang dapat hidup subur pada tanah liat putih yang cenderung padat dengan drainase buruk membuat air sulit meresap, yang bisa menyebabkan akar tanaman membusuk.

Tanah liat putih yang bagi kebanyakan masyarakat Timor Tengah Utara (TTU) yang hidup berdampingan dengan warga negara Timor Leste yang sebelumnya menjadi saudara mereka pra jajak pendapat Agustus 1999 hingga Referendum PBB; itu tak dapat diolah sebagai lahan pertanian, namun tak demikian bagi warga eks Timor Timur yang kini telah hidup 26 tahun lamanya berbaur bersamanya saudara mereka hingga melihat dengan bangga Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Napan berdiri dengan megah bersebelahan dengan ladang pertanian mereka.

Dua puluhan petani (70 persen eks Timor Timur dan 30 persen penduduk lokal Napan, Timor Tengah Utara) itu kini dapat tersenyum sembari melihat tanaman hortikultura seperti mentimun, seledri, daun bawang, pakcoy, buncis, tumbuh subur dan menghijau di bedeng olahan binaan Cirma.

Sebelumnya, mereka pasrah akan kondisi alam ekstrem yang mustahil mereka kelola menjadi lahan pertanian hortikultura. Keseharian cuma mengandalkan hasil kebun rutin tahunan seperti jagung dan ubi kayu. Jika ingin menyantap sayur, maka harus menunggu penjual sayur keliling datang tiga seminggu, itu pun dengan harga mencekik.

Namun, asa itu terlecut usai dibimbing dan dibina oleh Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (CIRMA). Melalui pembinaan dan pendampingan dari para relawan atau district focal point (DFC) CIRMA, rela menetap (live in) di rumah para petani dan melihat langsung aktivitas mereka mulai dari proses pembuatan bedeng, membuat pupuk organik hingga penyemaian bibit hortikultura.

Personil CIRMA, Echa saat melakukan monev di Kelompok Tani Pot Ana. Foto : Roni Banase

Proses itu bagian dari visi CIRMA mengentaskan para petani miskin dan miskin ekstrem di Timor Barat.

Kelompok Tani Pot Ana, Desa Napan, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) telah menerapkan pertanian cerdas iklim berbasis organik hingga menjual sayuran ke warga perbatasan Timor Leste.

Poktan Pot Ana dibentuk dan dibina oleh CIRMA telah berjalan empat bulan. Lokasinya berdampingan di PLBN Napan, perbatasan RI—Timor. Pot Ana bermakna lumpur panas kecil.

Mereka menerapkan iuran berjalan 15 ribu rupiah per orang per minggu. Digunakan untuk berbagai kebutuhan kelompok tani seperti pulsa listrik hingga pembelian bibit hortikultura.

Pada lahan kepunyaan Yuliana Abi itu, mereka saling membagi peran dan tugas. Dari satu bedeng panjang, mereka memperoleh hasil 700 ribu rupiah per sekali panen. Nilai rupiah itu sangat bermanfaat bagi mereka, dipakai untuk menabung, membiayai pendidikan anak sekolah hingga dipakai kembali untuk menghasilkan hortikultura lagi.

Sebelumnya, mereka hanya melakukan rutinitas yang kebanyakan dilakukan masyarakat setempat, bertengger dekat perapian saat musim dingin menusuk rusuk hingga memandang hamparan ladang gersang.

Namun kini, mereka dapat menyulam impian menjadi aktivitas bertani saat matahari pagi menyeruak dari ufuk timur. Mereka kembali merawat dan menyiram tanaman hortikultura dengan air yang bersumber dari embung menggunakan pompa air bantuan dari CIRMA.(*)

  • Penulis: Roni Banase

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hemat 15 Triliun, Prabowo Minta Potong Perjalanan Dinas Luar Negeri

    Hemat 15 Triliun, Prabowo Minta Potong Perjalanan Dinas Luar Negeri

    • calendar_month Kam, 5 Des 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang | Presiden Prabowo Subianto meminta anggaran perjalanan dinas pejabat dipotong, terutama perjalanan dinas luar negeri. Ia ingin perjalanan luar negeri para pejabat dikurangi 50 persen dari total anggaran yang terdata di kementerian atau lembaga masing-masing. “Saudara-saudara, hitungan kita perjalanan luar negeri saja itu, Indonesia ini perjalanan luar negeri pejabat-pejabat, USD 3 miliar. Saya minta […]

  • ‘109 Check Point’ Arus Balik, Pemudik Wajib Punya Surat Bebas Covid-19

    ‘109 Check Point’ Arus Balik, Pemudik Wajib Punya Surat Bebas Covid-19

    • calendar_month Sab, 15 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Bogor, Garda Indonesia | Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Istiono memastikan akan ada pengetatan arus balik Lebaran 2021. Sebanyak 109 check point atau penyekatan disiapkan di seluruh wilayah Indonesia guna memastikan para pemudik membawa surat swab antigen atau PCR Swab sebelum memasuki ibu kota DKI Jakarta. Adapun jumlah 109 check point ini […]

  • Mutasi Pejabat Pemkot Kupang, Wali Kota Kukuhkan Pejabat Nomenklatur Baru

    Mutasi Pejabat Pemkot Kupang, Wali Kota Kukuhkan Pejabat Nomenklatur Baru

    • calendar_month Sen, 9 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Wali Kota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore melantik 50 pejabat administrator, pengawas dan fungsional di lingkup Kota Kupang, pada Senin, 9 Agustus 2021 di Kantor Wali Kota Kupang; bertujuan mengisi sejumlah jabatan kosong, sekaligus mengukuhkan para pejabat pada perangkat daerah yang mengalami perubahan nomenklatur. Beberapa jabatan kosong yang terisi dalam […]

  • George Hadjoh Panen Jagung di Kebun Tafa Pertanian Terintegrasi

    George Hadjoh Panen Jagung di Kebun Tafa Pertanian Terintegrasi

    • calendar_month Sab, 22 Okt 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Penjabat Wali Kota Kupang George Hadjoh meresmikan salah satu lokasi pertanian terintegrasi di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Baca juga: https://gardaindonesia.id/2022/10/kebun-tafa-pertanian-terintegrasi-di-kota-kupang/ Kebun seluas lebih kurang 7 (tujuh) hektar yang dinamakan Kebun Tafa milik Eddy Lau itu dikelola dengan konsep agrowisata dan pertanian terintegrasi oleh […]

  • Gempa Bumi M7,7 Guncang Maluku Tenggara Barat, Terasa Hingga Kupang

    Gempa Bumi M7,7 Guncang Maluku Tenggara Barat, Terasa Hingga Kupang

    • calendar_month Sen, 24 Jun 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Senin, 24 Juni 2019, pukul 10.53.40 WITA, wilayah Laut Banda diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa bumi ini berkekuatan M=7,7 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M=7,4. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 6,44 LS dan 129,17 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 289 km […]

  • Definisi Orang Kaya vs Miskin ala Viktor Laiskodat

    Definisi Orang Kaya vs Miskin ala Viktor Laiskodat

    • calendar_month Sel, 15 Agu 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Andre Vincent Wenas Ternyata gampang kok membedakan orang kaya dari orang miskin, begini versi Viktor Laiskodat. Dalam acara ulang tahun Bapanas (Badan Pangan Nasional) disampaikannya begini, “Jadi ciri khas manusia kaya, itu lihat di tempat makannya. Kalau nasinya ambil banyak itu orang miskin, tapi kalau proteinnya banyak itu orang kaya.” Viktor Laiskodat adalah seorang […]

expand_less