Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi dan Bisnis » Kumham NTT Apresiasi Bank NTT Proteksi Karya dan Ekspresi Budaya Tradisional

Kumham NTT Apresiasi Bank NTT Proteksi Karya dan Ekspresi Budaya Tradisional

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Jum, 29 Apr 2022
  • visibility 50
  • comment 0 komentar

Loading

Kupang, Garda Indonesia | Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kanwil Kumham NTT pada Rabu petang, 27 April 2022 menghelat talkshow bertajuk ‘Strategi menggali potensi kekayaan intelektual di Provinsi NTT’.

Tiga orang narasumber hadir pada acara ini, yakni Wakil Gubernur NTT, Drs. Joseph Nae Soi, M.M., Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, S.H., M.M., dan Kepala SMKN 4 Kupang, Semi Ndolu, S.Pd.

Dimoderatori Kakanwil KemenkumHAM NTT, Merciana Dominika Djone, S.H., acara yang dihadiri sekitar ratusan orang lebih yang memadati halaman kantor Kumham NTT itu mendiskusikan berbagai isu penting.

Di antaranya kebijakan dan implementasi semangat untuk melestarikan serta memproteksi karya intelektual dan ekspresi tradisional yang dimiliki oleh masyarakat kita.

Diskusi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kekayaan Intelektual Sedunia tahun 2022 pada 26 April.

“Harus diakui bahwa belum semua orang sadar bahwa kekayaan intelektual itu harus dilindungi. Namun harus disyukuri bahwa saat ini ada yang sudah mulai sadar untuk mendaftarkan kekayaan intelektual mereka walau kita harus jujur bahwa ada Pemda yang belum sadar untuk mencatatkannya. Ketika ada kasus, orang klaim baru kita ribut bahwa ini milik kami,” kata Merciana membuka diskusi.

Wakil Gubernur, Joseph Nae Soi, saat itu menjelaskan bahwa NTT sangat kaya akan karya-karya intelektual baik komunal maupun perorangan maupun ekspresi budaya tradisional kita.

“Saya bersama Pak Gubernur di mana saja kami selalu katakan bahwa tenunan itu bukan kerajinan tangan melainkan hasil karya intelektual mama-mama kita di kampung. Ini tiada duanya dan harus dipatenkan sebagai karya intelektual. Berikutnya lagi ada tari-tarian, olahraga tradisional dan sebagainya, ini adalah ekspresi budaya yang harus segera dipatenkan,” tegas Josef

Josef mengajak semua pihak untuk segera mendaftarkan kekayaan intelektual yang dimiliki dan jangan sampai baru diurus ketika pihak luar mengklaim barulah diurus.

Josef mencontohkan belum lama ini alat musik sasando dari Rote diklaim sebuah negara di Eropa sebagai alat musik mereka. Kita baru bisa berargumen apabila sudah memiliki bukti Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

Masih pada kesempatan yang sama, Josef menegaskan bahwa Pemprov NTT sudah bergerak cukup jauh dengan menerbitkan regulasi yang mewajibkan digunakannya produk lokal hasil karya UMKM pada hotel maupun restoran di NTT dalam rangka mengantisipasi capital flight.

Tak sampai di situ, di sesi berikutnya, Merciana memberi apresiasi yang tinggi kepada Bank NTT yang selama beberapa tahun terakhir hadir dan ikut memproteksi para pelaku UMKM di provinsi ini dalam memperoleh HAKI.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bank NTT yang sudah sangat peduli terhadap Kekayaan Intelektual. Ini dibuktikan dengan pendampingan yang baik serta difasilitasinya banyak pelaku UMKM mendapatkan HaKI,” tegas Merciana.

Dirut Bank NTT, Harry Alex Riwu Kaho, yang saat itu diberi kesempatan menjawab pertanyaan seputar peranan Bank NTT dalam menjamin keberlangsungan dari para pelaku UMKM yang difasilitasi HAKI-nya, menjelaskan bahwa komitmen Bank NTT dilandasi pada hasil riset dan kajian.

“Bahwa dari riset dan kajian itu kita menjumpai ada ketidakharmonisnya kecerdasan berpikir, kecerdasan bertindak dan kecerdasan kampanye. Oleh karena itu strategi menggali kekayaan intelektual itu harus diimbangi dengan berpikir secara cerdas, bertindak cerdas, dan kampanye cerdas,” urai Alex.

Alex  menambahkan, strategi berikutnya adalah memetakan seluruh kekayaan intelektual agar di bawah dalam strategi kampanye yang memadai.

Ketika suatu saat nanti produk  ini masuk ke pasar domestik maupun internasional, maka kekayaan intelektual inilah yang akan menjadi harga dan branding bahwa UMKM dari NTT mampu menguasai pasar. Didukung dengan kampanye-kampanye cerdas, maka walau badai COVID merontokkan berbagai bisnis besar, namun UMKM mampu membuktikan dirinya sebagai fundamental dalam perekonomian nusantara, dan mereka tidak bergeser sedikit pun.

“Ini adalah bukti dukungan dari Bank NTT untuk melakukan kolaborasi serta partisipasi aktif dan membangun sinergitas dengan semua pihak bahwa kekayaan intelektual NTT harus dikerjakan dalam keselarasan berpikir cerdas, bertindak cerdas dan kampanye secara cerdas. Ini yang terus kita galang sehingga mulai muncul branding-branding lokal yang go international melalui marketplace, ataupun melalui iven-iven yang kita dorong untuk silakan UMKM menampilkan kekayaan intelektual mereka baik itu merek, paten maupun indikasi geografis. Dan ini yang akan terus kita gelorakan bersama seluruh pihak termasuk Kanwil Kemenkumham yang terus memberikan support pada Bank NTT dalam berbagai upaya menjaga dan memproteksi kekayaan intelektual,” tegas tamatan Undana Kupang ini.

Masih menurutnya, dengan memberikan perlindungan atas hak paten, hak cipta dan merek tentu akan memproteksi pemilik HAKI di pasar lokal, internasional, sehingga ketika dia menampilkan hasil produknya tentu memiliki nilai perlindungan pada karyanya.

“Tidak terbatas disitu melainkan kendali mutunya pun dilakukan, yakni Bank NTT bekerja sama dengan BP-POM, SNI untuk usaha-usaha yang dihasilkan benar-benar diterima oleh standar pasar baik domestik maupun internasional. Selain itu untuk indikasi geografis, Bank NTT bekerja sama dengan Deknarasda, yang memfasilitasinya dengan sosialisasi mengenai pentingnya sebuah narasi. Jika tidak dinarasikan dengan baik maka pasar akan sulit menakar seberapa besar nilai intelektual sebuah karya tradisional kita. Narasi ini dikemas secara digital sehingga abadi,” ungkap Alex.

Talkshow berlangsung cukup meriah, apalagi dihadirkannya mini expo bagi para pelaku UMKM. Beraneka produk mereka pamerkan baik itu makanan ringan berbahan lokal, maupun aneka busana berbahan dasar tenunan khas NTT. Panggung pun ditata cantik, dengan dekorasi bunga hidup yang didukung oleh Ance Florist.(*)

Sumber (*/Humas Bank NTT)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelanggan Rumah Tangga Pecut Kinerja PLN Tahun 2023

    Pelanggan Rumah Tangga Pecut Kinerja PLN Tahun 2023

    • calendar_month Sen, 3 Jun 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta | PLN (Persero) sukses mencatatkan penambahan pelanggan sebanyak 3,5 juta menjadi total 89,15 juta pelanggan di tahun 2023. Keberhasilan ini pun turut mengantarkan PLN meraih keuntungan terbesar dalam sejarah perseroan dengan laba bersih sebesar Rp22,07 triliun pada tahun 2023, sekaligus mencetak hattrick rekor laba bersih tertinggi selama 3 (tiga) tahun berturut-turut sejak 2021. Direktur […]

  • Gubernur Viktor Laiskodat : “Kita Hebat Namun Perlu Konsolidasi!”

    Gubernur Viktor Laiskodat : “Kita Hebat Namun Perlu Konsolidasi!”

    • calendar_month Kam, 2 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Loading

    Mbay-Nagekeo, Garda Indonesia | “Kita ini hebat-hebat tapi belum mampu konsolidasi. Kita perlu konsolidasi kekuasaan, konsolidasi anggaran dan konsolidasi informasi. Mari kita bangun sejarah baru, buat daerah jadi lebih hebat lagi”, tegas Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam pertemuannya bersama seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Nagekeo, bertempat di Aula Kantor Bupati Nagekeo, Rabu, 1 Mei […]

  • Lahan Tidur Lapas Kalabahi Jadi Produktif & Bermanfaat bagi Masyarakat Alor

    Lahan Tidur Lapas Kalabahi Jadi Produktif & Bermanfaat bagi Masyarakat Alor

    • calendar_month Sen, 20 Sep 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Loading

    Kalabahi, Garda Indonesia | Pasca-sidak mendadak pada Minggu siang, 19 September 2021  sekitar pukul 11.10 WITA–selesai di Lapas Kalabahi, Kakanwil Kemenkumham Provinsi NTT, Marciana Dominika Jone melihat progres pengolahan lahan tidur Lapas Kalabahi seluas 15.000 m2 (1,5 hektar) di Kadelang yang dioptimalkan menjadi ladang sayur oleh Kalapas Kalabahi dan warga binaan pemasyarakatan (WBP). Lahan tersebut […]

  • Ketika Gubernur Ancam Penjarakan Rakyatnya dan Umpat Mereka “Monyet”

    Ketika Gubernur Ancam Penjarakan Rakyatnya dan Umpat Mereka “Monyet”

    • calendar_month Sel, 30 Nov 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 45
    • 1Komentar

    Loading

    Oleh : Emanuel Dapa Loka Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat kembali berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri. Dari beberapa potongan video yang beredar luas, terjadi perdebatan sengit dengan Umbu Maramba Hawu. Tampak ia dengan keras dan kasar mengancam memenjarakan, mengancam memukul dan mengumpat rakyatnya dengan kata “monyet”. Dengan cara ini, dia telah merendahkan martabat rakyatnya sendiri. Mengetahui […]

  • Kementerian PPPA Dorong Industri Rumahan Jadi Ciri Khas di Cilegon

    Kementerian PPPA Dorong Industri Rumahan Jadi Ciri Khas di Cilegon

    • calendar_month Jum, 13 Des 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Loading

    Cilegon, Garda Indonesia | Kementerian PPPA melalui Deputi Perlindungan Hak Perempuan melakukan kunjungan ke Kawasan Industri Rumahan (IR) di Kelurahan Bendungan, dan PT. Chetam di Kota Cilegon, pada Selasa, 10 Desember 2019. IR Kelurahan Bendungan Kota Cilegon merupakan binaan dan Pilot Project Kemen PPPA sejak tahun 2016—2018. Mewakili Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), […]

  • Ketika Para Penulis Belajar “Kudeta” Gaya Politisi

    Ketika Para Penulis Belajar “Kudeta” Gaya Politisi

    • calendar_month Ming, 1 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Denny Januar Ali RA Kartini sudah menulis sebelum tahun 1911. Di tahun itu, kumpulan suratnya diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Bung Karno sudah menulis di tahun 1917—1925. Tulisannya di era ini kemudian dibukukan dengan judul “Di bawah Bendera Revolusi.” Para penulis sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1911, 1917, seratus sepuluh […]

expand_less