Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Mengenal Abu Janda, Kontroversial Alumni University of Wolverhampton Inggris

Mengenal Abu Janda, Kontroversial Alumni University of Wolverhampton Inggris

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 80
  • comment 0 komentar

Loading

Pada alam semesta media sosial Indonesia, sebuah galaksi digital yang isinya campur aduk antara debat politik, meme receh, dan orang marah tanpa sebab, muncul satu karakter yang kehadirannya seperti meteor panas yang selalu berhasil menabrak linimasa. Namanya Permadi Arya. Namun publik lebih mengenalnya dengan nama panggung yang terdengar seperti karakter legenda rakyat yang nyasar ke X, Abu Janda.

Ia lahir di Cianjur pada 14 Desember 1973. Secara biografi, kisah hidupnya sebenarnya terdengar elegan. Bahkan hampir seperti brosur beasiswa internasional. Ia pernah menghabiskan masa mudanya di Singapura, belajar di Informatics IT School, lalu melanjutkan studi hingga ke Inggris di University of Wolverhampton. Bidang yang ia tekuni bukan sembarangan, Ilmu Komputer serta Business & Finance. Dua disiplin ilmu yang biasanya melahirkan orang-orang serius yang hidupnya diisi dengan grafik ekonomi, analisis data, dan rapat yang penuh kata “strategi”.

Secara teori, kombinasi pendidikan seperti itu harusnya menghasilkan seseorang yang tenang, metodis, dan mungkin sibuk memantau indeks saham sambil minum kopi mahal di kantor kaca bertingkat.

Namun hidup Permadi Arya mengambil belokan yang bahkan penulis skenario film India pun mungkin akan menyerah mencoba menebaknya.

Setelah pulang ke Indonesia, ia sempat bekerja di berbagai sektor serius, dunia sekuritas, perbankan, hingga industri tambang batu bara. Dunia yang biasanya penuh angka, laporan keuangan, dan pembicaraan tentang investasi jangka panjang. Akan tetapi di suatu titik sejarah hidupnya, ia melakukan transformasi karier yang begitu dramatis sehingga jika dijadikan grafik, garisnya pasti patah seperti detak jantung di film rumah sakit.

Ia berubah menjadi konten kreator. Bukan sembarang konten kreator. Ia spesialis dalam satu bidang langka, memproduksi kontroversi.

Di X, Abu Janda menjelma seperti generator badai digital. Setiap cuitannya terasa seperti batu yang dilempar ke sarang lebah nasional. Reaksinya selalu sama. Warganet langsung berkerumun, sebagian marah, sebagian menertawakan, sebagian lagi hanya menonton sambil menikmati drama seperti menonton sinetron politik yang tidak pernah tamat.

Tahun 2019 menjadi salah satu bab penting. Pada periode itu, Abu Janda tampil sebagai pembela rezim yang sangat vokal. Ia hadir hampir di setiap perdebatan politik di media sosial, seperti komentator pertandingan sepak bola yang tidak pernah kehabisan napas. Cuitannya tajam, nyaring, dan sering membuat suhu linimasa naik drastis.

Ironinya, banyak orang lupa, pria ini pernah tinggal di tiga negara: Indonesia, Singapura, dan Inggris. Globalisasi biasanya menghasilkan wawasan luas. Dalam kasus Abu Janda, globalisasi justru menghasilkan keberanian tanpa batas untuk berdebat di internet.

Lalu datang plot twist berikutnya.

Pada 2023, arah dukungan politiknya berubah 180 derajat. Jika politik adalah kompas, maka kompas itu diputar seperti baling-baling kipas angin. Perubahan ini membuat sebagian orang kebingungan, sementara sebagian lain hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Beginilah politik era algoritma.”

Belum selesai sampai di situ.

Abu Janda juga pernah mengklaim dirinya sebagai anggota Banser setelah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar di Magelang. Keanggotaan ini langsung memicu diskusi panjang. Banser dikenal dengan citra keteduhan dan moderasi, sementara karakter digital Abu Janda sering dianggap identik dengan kegaduhan.

Pihak GP Ansor pun beberapa kali harus menjelaskan kepada publik, ia hanya anggota biasa dan tidak mewakili organisasi. Sejumlah tokoh bahkan menegaskan, pernyataan-pernyataannya adalah tanggung jawab pribadi dan tidak mencerminkan nilai NU maupun Aswaja.

Seolah panggung X belum cukup, Abu Janda juga merambah layar televisi. Debat politik menjadi arena baru. Gayanya penuh energi. Suara keras, interupsi cepat, dan ekspresi yang membuat suasana studio kadang terasa seperti arena gladiator modern.

Puncak dramanya terjadi pada Maret 2026. Dalam sebuah acara televisi, pembawa acara Aiman Witjaksono sampai harus mengusirnya dari studio secara langsung. Momen itu langsung viral dan beredar luas di media sosial. Bagi sebagian penonton, adegan itu terasa seperti episode reality show yang terselip di tengah program diskusi politik.

Drama lain muncul pada April 2025 ketika beredar kabar, Abu Janda akan diangkat menjadi komisaris di PT Jasamarga Tollroad Operator. Publik sempat terkejut. Banyak yang bertanya-tanya apa hubungan seorang kontroversial media sosial dengan perusahaan pengelola jalan tol.

Permadi Arya sempat mengiyakan kabar tersebut dan meminta doa. Akan tetapi pihak perusahaan segera mengeluarkan klarifikasi resmi, tidak ada pengangkatan tersebut.

Akhirnya, Abu Janda tetap menjadi fenomena khas zaman internet. Ia adalah produk algoritma, anak kandung budaya viral, dan bukti bahwa di era media sosial seseorang bisa menjadi sangat terkenal bukan karena prestasi akademik atau karya monumental, tetapi karena keberanian untuk terus berbicara di tengah badai komentar.

Satu pelajaran yang tersisa dari kisah ini cukup sederhana namun tajam, gelar dari Inggris tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan, popularitas tidak selalu lahir dari ketenangan, dan di dunia digital, kadang-kadang cara tercepat untuk dikenal adalah dengan menjadi badai yang tidak pernah berhenti berputar di dalam botol linimasa.(*)

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Jokowi: Indonesia Mampu Bangkit di Tahun 2021

    Presiden Jokowi: Indonesia Mampu Bangkit di Tahun 2021

    • calendar_month Sab, 2 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Selama tahun 2020, pandemi Covid-19 yang melanda sekiranya 215 negara telah mengakibatkan krisis kesehatan dan perekonomian dunia. Bangsa Indonesia pun tak luput dari cobaan yang tidak mudah. Namun, dalam pernyataannya di penghujung tahun 2020, Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap bersyukur karena tetap mampu menghadapi persoalan global tersebut. “Bangsa […]

  • Pemerintah Akan Hapus Tunggakan Iuran JKN Masyarakat

    Pemerintah Akan Hapus Tunggakan Iuran JKN Masyarakat

    • calendar_month Kam, 29 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 365
    • 0Komentar

    Loading

    Melalui kebijakan ini, masyarakat akan dibantu untuk terbebas dari beban tunggakan sehingga dapat kembali menjadi peserta aktif JKN dan memperoleh hak atas layanan kesehatan secara penuh.   Jakarta | Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) terus memperkuat komitmen negara dalam melindungi masyarakat rentan melalui terobosan kebijakan di sektor kesehatan. Salah satu langkah strategis […]

  • PLN Siap Pasok Listrik di Perbatasan Papua Nugini

    PLN Siap Pasok Listrik di Perbatasan Papua Nugini

    • calendar_month Ming, 16 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) siap memenuhi kebutuhan listrik antar-negara di Desa Wutung, batas wilayah Indonesia dan Papua Nugini. Sebagai tindak lanjut kunjungan bilateral Presiden RI Joko Widodo pada Juni lalu, membahas kerja sama Indonesia dan Papua Nugini, PLN melakukan pertemuan dengan perwakilan pemerintah Papua Nugini, pada Jumat, 14 Juli 2023. Pada momen […]

  • Aksi Kecil Bripka Robert Larimanu bagi Pedagang Asong & Buruh Tenau Kupang

    Aksi Kecil Bripka Robert Larimanu bagi Pedagang Asong & Buruh Tenau Kupang

    • calendar_month Jum, 17 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pelabuhan Laut Tenau Kupang sejak resmi ditutup pada 13 April—30 Mei 2020, menyebabkan para pedagang asong dan buruh pelabuhan kehilangan ladang penghasilan, yang mana selalu mengandalkan rezeki dari para penumpang kapal. Karena kondisi tersebut, mereka tak dapat lagi mengais rezeki seperti biasa akibat dampak penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) yang merebak […]

  • Kemenparekraf Terapkan Kebijakan Bekerja dari Rumah bagi ASN

    Kemenparekraf Terapkan Kebijakan Bekerja dari Rumah bagi ASN

    • calendar_month Rab, 18 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menerapkan kebijakan bekerja dari rumah bagi sebagian aparat sipil negara (ASN) dalam upaya menekan penyebaran wabah Covid-19. Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dalam pernyataannya, pada Senin, 16 Maret 2020, mengatakan keputusan ini diambil sesuai dengan […]

  • Ayodhia Kalake ‘Push’ NTT Maju Sejahtera

    Ayodhia Kalake ‘Push’ NTT Maju Sejahtera

    • calendar_month Jum, 15 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Penjabat (Pj.) Gubernur NTT, Ayodhia Gehak Lakunamang Kalake menghadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kantor Perwakilan BI NTT pada Rabu, 13 September 2023; meminta BI NTT bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menyiapkan langkah-langkah antisipatif dalam menghadapi risiko inflasi akibat El Nino. “Saat ini […]

expand_less