Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Nono vs Mono – Tepis Stigma Namkak NTT

Nono vs Mono – Tepis Stigma Namkak NTT

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
  • visibility 43
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Jondry Siki, CMF

Nusa Tenggara Timur; salah satu provinsi yang unik di Indonesia. Keunikannya cukup mencolok di mata nasional. Hal ini dapat dilihat dari pelbagai aspek sosial di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah kesehatan, ekonomi dan pendidikan. Berbicara tentang bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi, NTT sering dan bahkan terus-menerus disoroti oleh pemerintah pusat.

Nusa Tenggara Timur kerap dilabeli sebagai provinsi 3 T; terdepan, terluar, dan tertinggal. Pelabelan itu tidak terlepas dari kenyataan yang ada di NTT seperti selalu terbelakang dalam hal indeks prestasi Nasional, hal ini tidak mengherankan jika Muhadjir Effendy mengatakan bahwa pendidikan NTT membuat indeks pendidikan nasional menurun.

Selain pendidikan, ada juga dua isu lain yakni kesehatan dan ekonomi. Provinsi NTT juga mendapat predikat sebagai provinsi termiskin. Hal ini mendorong pemerintah pusat untuk membangun banyak bendungan untuk meningkatkan produksi pertanian di NTT.

Isu berikutnya adalah tentang kesehatan. Nusa Tenggara Timur mendapatkan sorotan karena angka gizi buruk masih tinggi yakni stunting. Pemerintah daerah dan pusat bekerja sama menanggulangi gizi buruk di NTT agar membebaskannya dari predikat termiskin dan terbelakang.

Nono “Angkat Citra Pendidikan NTT”

Ketika jagat maya disibukkan dengan Fajar Sadboy dan Ayya, ada satu sosok yang tidak dikenal mengharumkan nama Indonesia dari balik perbukitan Amarasi dia adalah Nono. Siswa SD kelas 2 berhasil meraih juara 1 (satu) Abacus Brain Gym (ABG) International Mathematics Competition 2022

Setelah nama Nono tercium oleh media akan kecerdasannya dalam ilmu matematika, ia pun diundang oleh media nasional ke Jakarta untuk wawancara dan bincang-bincang seputar lomba dan kecerdasan serta kecepatan dalam menghitung kendati tanpa bantuan kalkulator.

Pemilik nama lengkap Caesar Archangels Hendrik Meo Tnunay atau akrab disapa Nono ini pun seketika mendadak viral sehingga perbincangan media tentang Fajar Sadboy pun tergantikan. Nono bocah jenius asal Amarasi telah membuat nama NTT semakin harum dan dihargai. Kecerdasan Nono membuka mata kita bahwa meski terkendala oleh fasilitas namun karena kemauan yang kuat setiap tantangan bisa di atasi.

Namkak: Biang Kerok ketertinggalan?

Beberapa label atau cap bagi NTT yang lahir dari NTT sendiri adalah “Namkak” kata ini berasal dari bahasa Timor Dawan dari bentuk kata benda “Mkakat” yang artinya menganga, kebingungan dan kebodohan. Kata “Namkak” merupakan perubahan bentuk dari “Mkakat” yang digunakan untuk subjek orang ketiga.

Untuk subjek orang pertama (saya) dari kata “Mkakat” adalah “umkak” artinya saya bingung, saya ternganga, saya bodoh. Lalu untuk subjek orang kedua (kamu) adalah “mumkak” yang artinya kamu bingung, kamu ternganga dan kamu bodoh. Lantas yang selama ini kita gunakan adalah subjek orang ketiga (dia, mereka). Artinya kata Namkak tidak melibatkan saya dan kamu atau kita tetapi itu tentang mereka.

Sehingga bentuk ketiga dari “Mkakat” adalah “Namkak” yang artinya dia bingung, dia bodoh atau mereka bingung, mereka bodoh. Lantas yang yang dimaksudkan mereka adalah orang-orang yang tidak menyadari apakah mereka Namkak atau tidak karena fasilitas yang ada belum memadai.

Nono vs Mono

Presentasi yang diraih Nono mencoba untuk mengurangi stigma tentang NTT yang Namkak serta bodoh. Kecerdasan Nono patutlah diapresiasi mengingat Nusa Tenggara Timur selalu terbelakang dalam hal pendidikan. Rupanya dengan prestasi yang diraih Nono membuka mata nasional bahasa NTT juga bisa.

Selama ini NTT masih terbelenggu dengan cap “mono” artinya bodoh karena prestasi belajar NTT secara nasional selalu urutan ketiga dari belakang setelah Papua dan Papua Barat. Namun, kita tetap bangga bahwa di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan, masih ada siswa NTT yang bisa mengharumkan nama NTT dan Indonesia di mati dunia.

Nono telah menepis Mono. Banyak anak NTT menjadi “mono” karena tidak ada daya juang untuk mendapatkan prestasi belajar. Anak-anak NTT yang berprestasi selalu gagal untuk menggapai cita-cita karena ada konspirasi di institusi negara yang ada di provinsi ini.

Bahkan Putra putri daerah NTT tak satu pun yang lolos dalam rekrutmen perwira Polri di NTT. Ini salah satu bentuk tak langsung bahwa anak-anak NTT masih “mono”. Kendati demikian, kejujuran perlu diperhatikan sebab banyak anak NTT yang berprestasi namun gagal dalam meraih cita-cita.(*)

*/Penulis merupakan Pegiat Literasi NTT & Alumnus Fakultas Filsafat Unwira Kupang

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‘Be Celeng’ & Samsam Babi Guling Bali Hadir di Kota Kupang

    ‘Be Celeng’ & Samsam Babi Guling Bali Hadir di Kota Kupang

    • calendar_month Ming, 31 Jul 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Anda penikmat kuliner olahan ‘Be Celeng’ (bahasa Bali) untuk makanan olahan dari daging Babi? Anda tak perlu lagi harus merogoh kocek dalam untuk ke Bali. Saat ini, telah hadir Rumah Makan Triasih Boga di Jalan W J Lalamentik (sebelah barat Hotel Romita), Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara […]

  • Langkah George Hadjoh Menuju Wali Kota Kupang

    Langkah George Hadjoh Menuju Wali Kota Kupang

    • calendar_month Jum, 12 Apr 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase “George Hadjoh mau mendengar orang,” sebut seorang warga. “Dia itu ko Penjabat Wali Kota Kupang,” kata seorang Oma saat mendengar suara George Hadjoh meski tak melihat wajah. “George Hadjoh bertangan dingin, ia mengubah wajah GOR Flobamora Oepoi dan membawa anak-anak Kempo meraih prestasi dunia,” ungkap seorang atlet. “Eh, dia (George Hadjoh) […]

  • Per 8 Oktober 2020, Pemprov NTT Sesuaikan “Tarif Swab” 900 Ribu Rupiah

    Per 8 Oktober 2020, Pemprov NTT Sesuaikan “Tarif Swab” 900 Ribu Rupiah

    • calendar_month Kam, 8 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Loading

    Ruteng-NTT, Garda Indonesia | Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran bernomor HK.02.02/I/3713/2020 tentang Batas Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Dalam surat edaran tersebut, batas biaya maksimal tes PCR mandiri adalah Rp.900.000,- (sembilan ratus ribu rupiah). Terkait kondisi tersebut, maka Pemerintah Provinsi NTT menyesuaikan tarif pemeriksaan swab secara mandiri […]

  • Asal Usul Pizza dan Ragamnya

    Asal Usul Pizza dan Ragamnya

    • calendar_month Rab, 26 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Loading

    Pizza adalah hidangan gurih sejenis adonan bundar dan pipih, yang dipanggang di oven dan biasanya dilumuri saya tomat serta keju dengan bahan makanan tambahan lainnya yang bisa dipilih sesuai selera. Keju yang dipakai biasanya mozzarella atau keju piza, bisa juga parmesan dan beberapa jenis keju lainnya. Jenis bahan lain yang biasa ditaruh di atas piza, di antaranya daging dan saus, seperti salami pepperoni, ham, bakon, buah seperti nanas dan zaitun, sayuran kayak cabai, […]

  • Larangan Bekarang versus Kuliner Lokal Larantuka

    Larangan Bekarang versus Kuliner Lokal Larantuka

    • calendar_month Sen, 14 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Loading

    Larantuka | Bekarang adalah dialek melayu tempatan, yang merupakan suatu praktik sosial budaya masyarakat Larantuka dalam mencari ikan atau biota laut lainnya ketika air laut surut. Kesempatan ini digunakan orang-orang di Larantuka dan sekitarnya untuk turun Bekarang, orang dewasa hingga anak-anak akan turun ke laut membawa serta ember, pisau, nere (anyaman dari daun lontar berbentuk […]

  • 734 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri, Tersebar di 33 Negara & Kapal Pesiar

    734 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri, Tersebar di 33 Negara & Kapal Pesiar

    • calendar_month Sel, 12 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mencatat sekiranya 734 Warga Negara Indonesia (WNI) terpapar Covid-19 di luar negeri sesuai data per Minggu, 10 Mei 2020. Para WNI tersebut tersebar di 33 negara/teritori dan 20 kapal pesiar. “Hingga kemarin, 10 Mei 2020 terdapat 734 kasus yang terpapar Covid-19,” ungkap Menteri Luar […]

expand_less