Pariwisata Bali Terdampak Perang Timur Tengah dan Bencana Hidrometeorologi
- account_circle Penulis
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 79
- comment 0 komentar

![]()
Denpasar | Sektor pariwisata Bali tengah dihantam badai dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, bencana hidrometeorologi memicu banjir di sejumlah kawasan wisata utama. Di sisi lain, memanasnya konflik antara Israel dan Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, ikut menambah kekhawatiran global yang berdampak pada arus kunjungan wisatawan mancanegara.
Dampaknya sudah terasa nyata. Ribuan wisatawan asal Australia, pasar utama Bali, dilaporkan membatalkan rencana liburan mereka usai banjir bandang melanda sejumlah titik di Bali Selatan pada Selasa, 24 Februari. Genangan air masih terlihat di beberapa kawasan hingga memicu kekhawatiran soal keamanan dan kenyamanan wisata.
Ketua PHRI Badung sekaligus Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, mengakui gelombang pembatalan ini berdampak serius. Kawasan seperti Kuta dan Seminyak yang menjadi jantung pariwisata Kabupaten Badung terdampak cukup parah, bahkan sempat dilakukan evakuasi tamu hotel akibat kondisi yang dinilai tidak aman.
Menurutnya, persoalan banjir kian kompleks akibat alih fungsi lahan hijau menjadi bangunan permanen. Area resapan air menyusut drastis, sementara curah hujan tinggi mengguyur selama berhari-hari. Ia mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi sungai dan penataan tata ruang agar krisis serupa tak terus berulang.
Kerugian pun tak terhindarkan. Pembatalan massal ini membuat pelaku usaha kehilangan potensi pendapatan miliaran rupiah, sementara pemerintah daerah terancam kehilangan pemasukan dari sektor pajak hotel dan restoran. Saat ini tingkat hunian hotel di Badung berada di kisaran 60–65 persen—angka yang dikhawatirkan terus merosot jika situasi tak segera membaik.
“Kalau sampai muncul travel warning, dampaknya bisa lebih menghancurkan,” ujarnya cemas.
Di tengah situasi tersebut, bayang-bayang konflik Timur Tengah turut memperkeruh keadaan. Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya, mengungkapkan pihaknya terus berkoordinasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk memantau potensi pembatalan penerbangan, terutama dari kawasan Timur Tengah.
Sejumlah negara seperti Iran, Israel, Irak, Yordania, Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Suriah dilaporkan menutup wilayah udara mereka akibat eskalasi konflik. Padahal, pasar Timur Tengah menjadi salah satu target pengembangan wisata Bali dalam beberapa tahun terakhir.
Meski belum ada data resmi soal pembatalan penerbangan dari kawasan tersebut, kekhawatiran terus membayangi. Pelaku industri berharap konflik tidak meluas agar Bali tidak semakin terpuruk.
Pulau Dewata yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata terbaik dunia kini diuji oleh kombinasi bencana alam dan ketidakpastian geopolitik. Jika tak segera diatasi, bukan tak mungkin badai ini berubah menjadi krisis berkepanjangan bagi industri pariwisata Bali. (*)
- Penulis: Penulis
- Editor: Roni Banase
- Sumber: Bali Express











Saat ini belum ada komentar