Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Selamat Jalan Papa (Bagian 1)

Selamat Jalan Papa (Bagian 1)

  • account_circle Roni Banase
  • calendar_month Ming, 12 Mar 2023
  • visibility 261
  • comment 1 komentar

Loading

Oleh: Roni Banase

Tak mudah memulai dan menorehkan tulisan menyangkut kepulangan Papa tercinta ke ribaan Sang Pencipta. Butuh beberapa waktu sejak meninggalnya Papa Paulus Banase pada Minggu pagi, 19 Februari 2023, usai memuji dan memuliakan Tuhan di Kapela Naiola, Kecamatan Bikomi Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Sebelumnya, menurut penuturan adik, Papa sempat menghubungi setiap anak hasil perkawinannya dengan istri tercinta, Lintje Mooy, seorang perempuan hebat asal Pulau Rote pada Desember 1974 silam dan pada Minggu, 19 Februari 2023 sekitar pukul 11.13 Wita, Mama Mooy (sebutan sayang dari anak-anak untuk Mama), menggedor pintu rumah tua di Jalan Nangka Gang Tanjakan RT 05 RW Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang.

“Halo, halo. Ini orang dong pasti masih tidur,” sebut Mama Mooy. Terdengar sayup dari kamar tempatku tidur. Tiga hari sebelumnya, saya pun sempat sakit dan susah tidur. Entah mengapa? Memperoleh mimpi buruk hingga lolongan Covid (anjing peliharaan) pada sekitar pukul 3—4 subuh.

Dengan tergopoh-gopoh dan sempoyongan, kemudian membuka pintu lalu disambut suara sendu Mama Mooy. “Kalian, anak-anak jangan menangis ya!” serunya. Ada apa gerangan? Masih dalam keadaan mengantuk, berupaya menebak, namun tak sempat menggapainya, Mama Mooy pun melanjutkan, “Bapa sudah meninggal!”

Bagaikan antara percaya dan tak yakin, saya pun terduduk lemas di kursi ruang tamu sembari berupaya menahan tangis. Kepergian Papa secara tiba-tiba ibarat mendapatkan kabar hoaks. Dua minggu sebelumnya, Papa sempat meminta untuk menjual Covid dengan alasan hendak membersihkan areal fondasi rencana pembangunan rumah mazbah penyembahan kami kepada-Nya. Namun, tak saya indahkan.

Sejurus kemudian, benak ini melalang buana ke beberapa panggilan telepon dari Papa saat saya sementara bertugas di luar kota. Entah itu di Bali, Jakarta, Medan, Semarang dan di Labuan Bajo. Sosok pria yang menggapai usia 75 tahun itu selalu setia menelepon dan sekadar menanyakan progres pekerjaan hingga organisasi IMO Indonesia, tempat saya mengembangkan karakter kepemimpinan.

Lalu Mama Mooy jeda, dengan berkata, “Roni siap diri sudah ya, kita segera berangkat ke Kefa”.

Papa, sebelum meninggal, selalu mengingatkan kami agar saat beliau meninggal, dapat dikebumikan di desa tempatnya dibesarkan, desa yang dialiri oleh sungai Noemuti dan merupakan salah satu penghasil galian C terbesar di Kabupaten TTU.

Dan ironisnya, kepergian Papa bersamaan momentum dengan fenomena “Gunung Pindah” longsor bukit di Takari, Kabupaten Kupang (perbatasan Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan [TTS]) pada Jumat, 17 Februari 2023. Kondisi tersebut, melumpuhkan sementara arus lalu lintas. Kami sekeluarga pun terdampak, tak bisa membawa beberapa mobil untuk mobilisasi saat di Desa Naiola.

Terpaksa, kami (Mama Mooy, kakak-adik, menantu dan cucu) memakai bus Pemprov NTT hingga ke Takari, kemudian estafet memakai bus ke Kefa. Kondisi di Takari pada 19 Februari 2023 sekitar pukul 16.25 Wita, sementara  crowded, berseliweran sekitar lima eksavator berupaya menggali dan memindahkan gundukan tanah hingga membuka akses jalan. Kami pun harus berjalan kaki sekitar 1,2 km seraya menggendong barang bawaan.

Tiba di SoE, ibu kota kabupaten TTS, bus yang kami tumpangi sejenak menepi mengisi solar kemudian serempak kami pun mampir ke Alfamart untuk sejenak mengisi lambung dengan mengonsumsi mie gelas, sereal, atau meneguk teh atau kopi. Dan saat, saya meng-update perkembangan longsor Takari pada grup Forum Pengurangan Risiko Bencana. Dikabarkan, akses jalan sementara dibuka dengan sistem buka tutup. Puji Tuhan!

Namun, saya pun terkesiap. Ada apa? Kalau saja kami sekeluarga dari Kupang sekitar pukul 18.00 Wita, maka dapat membawa mobil sendiri dan dapat melintas di Takari pada sekitar pukul 20.45 Wita. Ini pertanda bahwa Papa hendak menunjukkan kepada kami bagaimana beliau selalu menggunakan bus dari Kefa—Kupang pergi pulang. Perjalanan sekitar empat jam baginya hal lumrah.

“Papa sonde capek ko?,” tanyaku dengan aksen Melayu Kupang kepadanya. “Papa bikin Kefa—Kupang kayak Kupang—Oesao,” tekanku kepadanya saat dirinya berkunjung sembari menanyakan progres penulisan buku “Agustinus Jatmiko—Jalan Terang Menuju NTT Sejahtera” (buku kisah perjalanan dan pengabdian General Manager PLN UIW NTT periode 2020—2022).

Ya, beliau memang sigap dan gesit pada umur begitu. Masih kuat berjalan kaki hingga berkilo-kilo, ke sawah berjalan kaki, dan selalu bangun pagi pada sekitar pukul 05.00 setiap hari..

Kembali kepada perjalanan kami ke rumah duka, tiba pada sekitar pukul 22.18 Wita, tampak telah terpasang tenda duka dan begitu banyak orang memadati areal halaman rumah tua kedua di Desa Naiola.

Kami pun bergegas berhamburan ke dalam rumah duka, dan satu per satu mulai menjerit dan menangis dengan berbagai ritme.

  • Penulis: Roni Banase

Komentar (1)

    Silahkan tulis komentar Anda

    Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

    Rekomendasi Untuk Anda

    • Rumah Adat Suku Telitae di Raimanuk – Belu Ludes Dilahap Api

      Rumah Adat Suku Telitae di Raimanuk – Belu Ludes Dilahap Api

      • calendar_month Kam, 6 Agu 2020
      • account_circle Penulis
      • visibility 163
      • 0Komentar

      Loading

      Belu-NTT, Garda Indonesia | Keluarga besar Suku Telitae dirundung nestapa. Betapa pula, rumah adat yang terletak di wilayah RT 01/ RW 01 Dusun Subaru A, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu ludes dilalap si jago merah, pada Rabu 5 Agustus 2020 sekitar pukul 16.30 WITA. Disaksikan Garda Indonesia di […]

    • 1.344 Orang NTT Meninggal dari 6.125 Penderita HIV/AIDS Periode 1997—2018

      1.344 Orang NTT Meninggal dari 6.125 Penderita HIV/AIDS Periode 1997—2018

      • calendar_month Sab, 15 Des 2018
      • account_circle Penulis
      • visibility 182
      • 0Komentar

      Loading

      Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan tugas sesuai Permendagri nomor 20 tahun 2007 dengan beberapa tugas memfasilitasi Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten/Kota; mendorong terbentuknya LSM/Kelompok Peduli HIV dan AIDS dan melakukan monev pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS, beserta tujuan dan fokus area penanggulangan HIV/AIDS tetap pada pencapaian Tri Zero yakni Zero New […]

    • Biro Umum Setda NTT Budidaya Sorgum, Panen Perdana oleh Gubernur VBL

      Biro Umum Setda NTT Budidaya Sorgum, Panen Perdana oleh Gubernur VBL

      • calendar_month Sen, 29 Mar 2021
      • account_circle Penulis
      • visibility 186
      • 0Komentar

      Loading

      Kupang-NTT, Garda Indonesia | Biro Umum Setda NTT bekerja sama dengan Sejati Petani Sorgum Indonesia (Sepasi) menggarap dan menanam Sorgum varian Bioguma 3 di lahan tidur seluas 2 hektar di lokasi helipad samping rumah jabatan Gubernur NTT. Selain di lokasi tersebut, Sorgum juga ditanam di lahan tidur masing-masing 2 hektar di Takari dan Oesain Amarasi, […]

    • Serahkan Bantuan Kepada Petani Pukdale, Ini Pesan Anita Jacoba Gah

      Serahkan Bantuan Kepada Petani Pukdale, Ini Pesan Anita Jacoba Gah

      • calendar_month Ming, 10 Mei 2020
      • account_circle Penulis
      • visibility 152
      • 0Komentar

      Loading

      Kab. Kupang, Garda Indonesia | “Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa hari ini kita dapat bertemu, walaupun kita semua tahu bahwa kondisi bangsa kita saat ini tidak beda dengan bangsa-bangsa lain di luar sana. Karena banyak jiwa meninggal akibat Covid-19 ini,” kata Anita Jacoba Gah pada Sabtu, 9 Mei 2020 sebelum menyerahkan bantuan kepada warga Desa […]

    • Tantangan Petugas PLN Rawat Transmisi 70 kV Pulau Flores

      Tantangan Petugas PLN Rawat Transmisi 70 kV Pulau Flores

      • calendar_month Sel, 11 Mar 2025
      • account_circle Penulis
      • visibility 139
      • 0Komentar

      Loading

      Pohon dan vegetasi di sepanjang jalur tol listrik Flores tumbuh lebih cepat dibandingkan di daerah lain, menciptakan potensi gangguan terhadap jaringan transmisi PLN.   Flores | Pulau Flores dikenal dengan tanahnya yang subur sebagai dampak positif dari endapan vulkanik gunung berapi yang tersebar di beberapa wilayah pulau Flores. Kesuburan ini membawa keuntungan bagi sektor pertanian, […]

    • Timor Creative People Rengkuh Kaum Milenial Cintai Tenun Ikat NTT

      Timor Creative People Rengkuh Kaum Milenial Cintai Tenun Ikat NTT

      • calendar_month Rab, 10 Apr 2019
      • account_circle Penulis
      • visibility 334
      • 0Komentar

      Loading

      Kupang-NTT, Garda Indonesia | Timor Creative People (TCP) sebagai sebuah Komunitas Pecinta Tenun Ikat NTT yang berdiri pada 14 Juni 2014, kini semakin eksis dan terus bertumbuh menjadi komunitas yang mempunyai peran strategis untuk turut serta mempromosikan dan melestarikan tenun ikat Didukung oleh 15 model pada awal berdiri dan sekarang terdapat 40 model dengan kisaran […]

    expand_less