Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Singa Selatan—Sejarah Barongsai di Indonesia

Singa Selatan—Sejarah Barongsai di Indonesia

  • account_circle Penulis
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 53
  • comment 0 komentar

Loading

Barongsai, dikenal sebagai barongan Cina, Merujuk pada kamus online Kemendikbud, Barongsai adalah tarian tradisional yang kerap dipertunjukkan saat perayaan Imlek. Tarian tradisional ini berasal dari Tiongkok dan biasanya ditarikan oleh dua orang yang mengenakan kostum menyerupai singa.

Populer di Indonesia, terutama di daerah dengan mayoritas masyarakat keturunan Tionghoa, Barongsai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek.

Pada pertunjukkan Barongsai, satu orang memainkan peran depan dengan memakai topeng kepala singa, sementara yang lainnya berperan sebagai kaki belakang. Meskipun istilah “barongsai” hanya dikenal di Indonesia, namun asal-usulnya mencakup dua kata, yaitu “Barong” dari seni tari Bali dan “Sai” dari bahasa Hokkian yang berarti singa.

Di Tiongkok, tarian ini dikenal dengan nama “Wu Shi” dan secara internasional dikenal sebagai “Lion Dance“. Barongsai sendiri menjadi salah satu wujud dari akulturasi budaya Tionghoa dengan Indonesia, bahkan pada tahun 2010 telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.

Dari perspektif Feng Shui, barongsai memiliki beberapa makna yang mendukung peningkatan energi positif:

  • Menghilangkan energi negatif: Suara drum yang keras dan gembira akan membersihkan daerah dari energi negatif, menggantikannya dengan energi yang positif.
  • Mengusir roh jahat: Kekuatan dan keberadaan barongsai diyakini cukup untuk mengusir roh jahat, memastikan kesuksesan dalam usaha yang dilakukan.
  • Membawa keberuntungan: Sebagai simbol kekuatan dan keberuntungan, kehadiran barongsai dianggap membawa keberuntungan bagi tempat yang dikunjungi.

Berbekal nilai-nilai simbolis yang terkandung di dalamnya, Barongsai tidak hanya menjadi bagian dari perayaan budaya, tetapi juga memberikan harapan dan optimisme bagi masyarakat yang merayakannya.

Sejarah Barongsai

Berdasarkan kepercayaan masyarakat Tionghoa, singa dianggap sebagai simbol keberanian, kekuatan, kebijakan dan keunggulan. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini dengan tujuan untuk mendatangkan keberuntungan, hal ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Qin sekitar abad ketiga sebelum Masehi.

Kesenian Barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu, pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda hingga sekarang.

Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat, dan Singa Selatan yang bersisik dan bertanduk. Penampilan singa Utara lebih mirip singa karena berbulu tebal, bukan bersisik.Tarian naga berasal dari zaman Dinasti Han dan di percaya sebagai metode penyembuhan dan pencegahan penyakit.

Barongsai ini diiringi dengan musik yang meriah, menggunakan alat musik simbal, gong, dan trompet.

Tarian singa atau barongsai/Foto: Pixabay.com

Singa Utara

Di Indonesia, Singa Utara (Mandarin: Bei Shi) biasa disebut Peking Sai. Singa Utara memiliki bulu yang lebat dan panjang berwarna kuning dan merah, biasanya Singa Utara dimainkan dengan 2 Singa dewasa dengan pita warna merah di kepalanya yang menggambarkan Singa Jantan dan Pita Hijau (kadang bulu hijau di kepalanya) untuk menggambarkan Singa Betina.

Pekingsai dimainkan dengan Akrobatik dan Atraktif, seperti berjalan di tali, berjalan di atas bola, menggendong, berputar, dan gerakan-gerakan akrobatis lainnya. Tidak jarang juga, Pekingsai dimainkan dengan anak singa, atau seorang ‘pendekar’ yang memegang benda berbentuk bola yang memimpin para Singa. Biasanya, sang pendekar melakukan beberapa gerakan-gerakan beladiri Wushu.

Konon, atraksi Pekingsai digunakan untuk menghibur keluarga kerajaan di istana Tiongkok.

Singa Selatan

Singa Selatan inilah yang sering kita lihat, atau kita sebut Barongsai. Singa Selatan lebih ekspresif dibanding Singa Utara. Kerangka kepala Singa Selatan dibuat dari bambu, lalu ditempeli kertas, lalu dilukis, dan ditempeli bulu dan dihias. Bulu yang memiliki kualitas tinggi untuk pembuatan Barongsai adalah bulu domba atau bulu kelinci. Tetapi, untuk harga yang murah, biasanya digunakan bulu sintetis. Pada zaman modern, kerangka barongsai mulai dibuat dengan aluminium atau rotan.

Singa Selatan memiliki berbagai macam jenis. Singa yang memiliki tanduk lancip, mulut seperti kucing, dahi yang tinggi, dan ekor yang lebih panjang disebut Fut San (juga disebut Fo Shan, atau Fat San). Sedangkan Singa yang memiliki mulut moncong ke depan, tanduk yang tidak lancip, dan ekor yang lebih kecil disebut Hok San. Keduanya diambil dari nama tempat di Tiongkok.

Barongsai Futsan dimainkan dengan kuda-kuda dan gerakan yang lebih memerlukan tenaga. Barongsai Futsan biasanya dimainkan di dalam kategori Barongsai Tradisional. Kuda-kuda dan gerakan barongsai hoksan lebih santai daripada Barongsai futsan. Barongsai futsan biasanya digunakan di sekolah-sekolah kungfu, dan hanya murid terbaik yang dapat menarikannya.

Sementara, Barongsai hoksan biasanya dikenal karena ekspresif, langkah kaki yang unik, penampilan yang impresif, dan musik yang bertenaga. Diperkirakan, pendiri Barongsai Hoksan adalah Feng Gengzhang pada abad ke 20. Feng lahir di desa, di kota He Shan, dan dia diajarkan beladiri Tiongkok dan Barongsai dari ayahnya. Kemudian, ia mempelajari bela diri dan Barongsai dari Fo Shan sebelum pulang ke desanya dan membuat sasananya sendiri. Dia menciptakan gaya menarikan barongsai yang unik, dan menciptakan teknik baru memainkan barongsai dengan mempelajari mimik dan gerak kucing, seperti “menangkap tikus, bermain, menangkap burung, dan berguling”.

Setelah beberapa waktu, terciptalah kepala barongsai bergaya Hok San, ia merendahkan dahi Barongsai, melengkungi tanduknya, dan membuat mulutnya menjadi seperti paruh bebek. Badannya juga menjadi terlihat lebih bertenaga dan berwarna lebih mencolok, bersama dengan langkah kaki yang lebih unik dan tangkas, Feng menciptakan gaya musik baru dalam bermain Barongsai yang disebut “Seven Star Drum”.

Sekitar tahun 1945, pemain Barongsai hoksan diundang untuk tampil di berbagai tempat di Tiongkok dan bagian Asia Tenggara. Di Singapura, Barongsai hoksan menjadi terkenal dan mendapatkan julukan “Raja dari Raja Barongsai” dan memiliki tulisan “Raja” (王) di dahi Barongsai Hoksan. Perbaikan lebih lanjut, asosiasi Barongsai hoksan di Singapura membuat Barongsai hoksan menjadi lebih mirip seperti seekor kucing dengan memendekkan ekornya, dan membuat ketukan drum yang baru untuk tarian singa ini.(*)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polri-TNI : Pengamanan Perayaan Natal dan Tahun Baru 2022 Optimal

    Polri-TNI : Pengamanan Perayaan Natal dan Tahun Baru 2022 Optimal

    • calendar_month Ming, 26 Des 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Polri dan TNI memastikan pengamanan perayaan malam Natal dan Tahun Baru 2022 berjalan optimal. Umat Kristiani dipastikan bisa menjalankan ibadah secara aman. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo meninjau persiapan perayaan malam Natal di Gereja Katedral, Jakarta Pusat. Turut pula hadir Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Ketua DPR RI Puan Maharani, hingga […]

  • Perdana di Kota Kupang! 100 Perahu Kayu Partisipasi dalam Lomba Perahu Hias

    Perdana di Kota Kupang! 100 Perahu Kayu Partisipasi dalam Lomba Perahu Hias

    • calendar_month Sen, 19 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Masih dalam rangkaian peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia dan ‘Festival Ayo Berubah’ yang dicanangkan oleh Pemkot Kupang, pada Senin, 19 Agustus 2019 diselenggarakan Lomba Perahu Hias bagi para nelayan di pesisir Pantai Namosain, Kecamatan Alak Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Perhelatan Lomba Perahu Hias mengambil start di Pantai Namosain […]

  • Komitmen PLN UP2B NTT Bulan K3 Nasional 2026, Karyawan Sehat Listrik Andal

    Komitmen PLN UP2B NTT Bulan K3 Nasional 2026, Karyawan Sehat Listrik Andal

    • calendar_month Jum, 23 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Loading

    Manager UP2B NTT, Andi Martha Siswahyudi, menegaskan bahwa kesehatan pegawai merupakan fondasi utama dari keandalan operasional. Ia berharap kegiatan ini dapat mentransformasi perspektif pegawai mengenai keselamatan kerja.   Kupang | Menjamin keandalan pasokan listrik di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan hanya soal menjaga mesin dan jaringan, melainkan juga memastikan kesiapan fisik para personel di […]

  • BPKP RI Pastikan PLN NTT Junjung ‘Good Governance’ di Labuan Bajo

    BPKP RI Pastikan PLN NTT Junjung ‘Good Governance’ di Labuan Bajo

    • calendar_month Jum, 30 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Loading

    General Manager PLN UIW NTT, Fransiskus Eko Sulistyono, turut menegaskan bahwa pengawasan dari BPK RI merupakan bentuk konkret dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG).   Labuan Bajo | Komitmen PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (UIW NTT) melalui Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Flores untuk senantiasa mengedepankan akuntabilitas dan tata kelola perusahaan […]

  • dr Domi Mere : NTT Tambah 1 Kasus Positif Covid-19

    dr Domi Mere : NTT Tambah 1 Kasus Positif Covid-19

    • calendar_month Sen, 4 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bertambah lagi 1 (satu) kasus Positif Corona Virus Disease (Covid-19) di Provinsi Nusa Tenggara (NTT), sehingga kasus positif Covid-19 tercatat hingga Senin, 4 Mei 2020 sebanyak 11 kasus (1 kasus telah sembuh, 7 kasus dirawat di RS Bhayangkara Kupang, 2 kasus di Labuan Bajo, dan 1 kasus baru). Kepastian penambahan kasus […]

  • EBT NTT Melimpah, VBL Dorong Generasi Muda Mampu Kelola Potensi

    EBT NTT Melimpah, VBL Dorong Generasi Muda Mampu Kelola Potensi

    • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), mendorong para generasi muda NTT untuk lebih peka dan paham akan kekayaan energi yang dimiliki Provinsi NTT sehingga mampu dikelola dengan baik dan berguna bagi masyarakat. Harapan tersebut, bagi VBL, sejalan dengan upaya dunia pada pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang tengah […]

expand_less