Arsip Tag: wakil gubernur ntt

Menteri Jhonny Plate ke Labuan Bajo, Tinjau ‘Super WiFi’ Pertama di Indonesia

205 Views

Labuan Bajo, Garda Indonesia | Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Johnny Gerard Plate didampingi oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Josef Nae Soi (JNS) melakukan kunjungan kerja di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat yang, pada Kamis, 24 September 2020.

Menteri Johnny Plate mengungkapkan fasilitas Super WiFi di Labuan Bajo diharapkan dapat membantu masyarakat yang masih kesulitan mengakses informasi melalui jaringan internet. Hal tersebut diungkapkannya saat melakukan peninjauan salah satu titik Super WiFi di halaman Masjid Nurul Huda Gorontalo di Labuan Bajo.

“Super Wifi ini tentunya kita harapkan juga akan mendukung Pariwisata Super Premium di sini (Labuan Bajo) yang menjadi bagian penting dalam menunjang pariwisata di NTT,” ujarnya.

Foto bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Johnny Gerard Plate dan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi di salah satu titik super WiFi di halaman Masjid Nurul Huda Gorontalo di Labuan Bajo

Menurut Menteri Kominfo RI, super WiFi yang di bangun di Labuan Bajo ada 23 Spot (Pilot Project). Ini merupakan Super WiFi pertama di Indonesia dengan jangkauan radius mencapai 500 meter. 20 di antaranya sudah aktif dan 3 sedang dipasang. Jika sukses kita akan bangun di daerah lainnya. Yang mana diharapkan Super WiFi tersebut dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan ekonomi, sosial, politik dan pertahanan,” katanya.

“Walaupun dalam keadaan pandemi Covid-19, kita terus mendorong akselerasi dan transformasi digital. Hal ini wujud dari bagaimana sektor informasi dan komunikasi yang bertumbuh positif di saat sektor-sektor lain mengalami kontraksi atau pertumbuhannya negatif. Di kuartal I pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi yaitu 9,06% dan di kuartal ke-2 naik 2 digit jadi 10,88% di saat yang sama hanya ada 1 sektor lainnya yang masih positif yaitu sektor pertanian dengan tantangan yang begitu besar,” jelas Menteri Kominfo RI.

Wagub Josef Nae Soi mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden RI yang begitu konsen membangun Labuan Bajo pasca ditetapkannya sebagai Destinasi Wisata Super Premium diikuti dengan Super WiFi.

“Saya bersama Pak Gubernur menyampaikan terima kasih kepada bapak Presiden RI yang sudah melihat NTT secara komprehensif dengan ditetapkannya Labuan Bajo sebagai Destinasi Wisata Super Premium dan saat ini juga apresiasi kepada Pak Menteri yang menindaklanjuti kebijakan tersebut dengan membangun Super WiFi di Labuan Bajo.” alas Wagub Josef.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Menteri Yasin Limpo Dukung Peradaban Baru dan Program TJPS di NTT

282 Views

Sumba-NTT, Garda Indonesia | Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama jajarannya dan didampingi oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi (JNS), pada Selasa, 22 September 2020, melakukan Kunjungan Kerja di Sumba Tengah pada Lokasi Pertanian Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

Menteri Pertanian mengajak seluruh stakeholder terkait di Sumba untuk mensyukuri atas anugerah Sang Pencipta untuk memastikan hari esok lebih baik. “Mari kita pastikan hari esok lebih baik, jangan pernah mengatakan NTT tanahnya tidak subur, yakinlah kita hidup di atas tanah yang subur sekarang tergantung bagaimana kita mengolahnya.” ujar Menteri Yasin Limpo

Lebih lanjut Menteri Yasin mengatakan kehadirannya di Sumba Tengah atas dasar dua alasan, yang pertama atas Perintah Bapak Presiden dan kedua, atas Komunikasi Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur dengan niat tulus untuk membangun peradaban baru di NTT.

“Saya datang ke sini atas dua permintaan, yang pertama, saya di perintahkan Bapak Presiden untuk ke sini (Sumba Tengah-NTT); kedua: Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sama-sama pekerja keras untuk itu saya datang untuk bersinergi dalam mewujudkan peradaban baru di NTT,” ungkap Yasin Limpo.

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini juga mengajak Bupati, Camat dan Kepala Desa untuk melindungi rakyatnya, bekerja bersama rakyatnya dan menaati kebijakan negara.

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama jajarannya dan didampingi oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi (JNS), pada Selasa, 22 September 2020, melakukan Kunjungan Kerja di Sumba Tengah pada Lokasi Pertanian Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS)

“Bupati, camat, kepala desa, areal ini bagus sekali, mari kita buat lebih bagus ke depannya, ajak rakyat kalian untuk bekerja sepenuh hati, tugas kita melindungi dan menyejahterakan mereka, akan tetapi masyarakat juga harus patuh terhadap kebijakan negara,” imbau Yasin Limpo.

Di lokasi kunjungan kerja di Desa Umbu Pabal Kecamatan Umbu Ratu Nggai Barat, Ia memerintahkan seluruh jajarannya untuk 100 hari ke depan melihat hasil dengan cara kerja bersinergi dengan Pemerintah Daerah dan TNI-POLRI untuk mewujudkannya dengan “Cara Mekanisasi.”

“Saya mau semua Dirjen dan staf ahli bersinergi dengan Pemerintah Daerah dan TNI-POLRI serta terlibat kerja di hamparan ini pakai cara mekanisasi. Mengurus Pertanian itu ada 4 hal menurut saya, Harus ada air, Lahannya tidak bermasalah, pelatihan petani, dukungan pengawalan dari TNI/Polri dan 100 hari dari sekarang kita lihat hasilnya di akhir.” pungkasnya.

Sementara itu, Wagub Josef Nae Soi yang berulang tahun bertepatan dengan Kunjungan Kerja Menteri Pertanian, mengatakan bahwa kehadiran Menteri Pertanian tidak hanya datang untuk mendukung TJPS saja melainkan juga untuk bersama meningkatkan peradaban baru di NTT. “Pak Menteri, Terima kasih atas doanya, beliau jauh-jauh datang ke sini untuk mendukung TJPS yang selanjutnya bersama kita meningkatkan Peradaban Baru di NTT,” ujar Wagub Josef.

Wagub Josef menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian atas dukungannya terhadap pertanian di NTT. “Saya bersama Gubernur atas nama masyarakat NTT menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pak Menteri yang telah mendukung Pembangunan Pertanian di NTT hingga saat ini.” tandas Wagub Josef Nae Soi. (*)

Sumber berita dan foto (*/Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Expo Kreatif Anak Negeri 2020, Wagub Josef: Wujudkan UMKM Berdaya Saing

176 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Expo Kreatif Anak Negeri 2020 menghadirkan para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), perbankan dan pasar atau investor yang diharapkan terbangun komunikasi dengan jejaring yang ada demi mendorong geliat ekonomi NTT melalui sektor UMKM dihelat pada 16—17 September 2020 dibuka oleh Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/09/11/dorong-geliat-ekonomi-ntt-melalui-expo-kreatif-anak-negeri-16-17-september-2020/

Wagub Josef Nae Soi mengatakan peningkatan kapasitas dan kualitas Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sangat diperlukan untuk membantu pemulihan ekonomi pada masa pandemi Covid-19. Hal tersebut disampaikannya saat membuka acara Expo Kreatif Anak Negeri 2020 dengan tema ‘Menggairahkan Ekonomi Melalui UMKM’ yang dilaksanakan di Millenium Ballroom Kupang pada Rabu 16 September 2020.

“Kita perlu mewujudkan UMKM yang memiliki daya saing dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas untuk bisa terus mendorong pemulihan ekonomi saat ini. UMKM harus didukung dengan sebaik-baiknya. Kemudian kita mau agar bisa terbangunnya komitmen perangkat daerah untuk mendata UMKM _by name, by adrress, by phone, by product dan by sector_. Produknya apa saja, oleh pihak mana saja supaya kita bantu bersama,” jelas Wakil Gubernur.

“Kita harus mampu membuat pasar produk dan pasar unggulan yang kreatif dan inovatif dengan saling memberikan motivasi. Pemberdayaan UMKM dan penumbuhan wirausaha baru perlu dilaksanakan oleh pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat secara menyeluruh dan berkesinambungan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Wakil Gubernur mengatakan dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, salah satu sektor yang terkena dampak adalah UMKM maka perlu penanganan yang serius karena UMKM sebagai pilar utama ekonomi memiliki peran strategis baik dari jumlah, sebaran usaha, dan juga penyerapan tenaga kerja yang besar.

Wagub NTT Josef Nae Soi saat memperoleh produk UMKM NTT

“Di NTT sendiri, jumlah pelaku UMKM kurang lebih 105.000 unit apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk NTT 5,5 juta jiwa yang berarti total masyarakat yang bergerak di sektor wirausaha hanya 1,9%. Oleh sebab itu, seyogianya harus memacu pertumbuhan ekonomi suatu daerah minimal 2 % total penduduknya harus bergerak di sektor wirausaha,” ujarnya di hadapan para penyelenggara antara lain Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan Provinsi NTT (FKLJK); Pemprov NTT (Biro Ekonomi dan Kerja Sama, Biro Umum, Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja); Bank NTT, Himbara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTT, dan Kanwil DJPb Provinsi NTT.

“Dalam mewujudkan visi NTT Bangkit Menuju masyarakat sejahtera, Pemprov NTT juga secara khusus berkomitmen memprioritaskan pembangunan ekonomi berbasis ekonomi kerakyatan maka saya harapkan dengan pemberdayaan masyarakat dan sumber daya yang ada dengan expo ini juga menunjukkan potensi sumber daya daerah dapat dikembangkan menjadi produk-produk unggulan,” ujar Wagub Josef.

Ia juga berterima kasih kepada Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat yang terus memperkenalkan dan mempromosikan kain tenun asal NTT sebagai produk kekayaan budaya untuk dikenal dunia serta apresiasi kepada Biro Ekonomi dan Kerja Sama NTT bersama Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan (FKLJK) yang sudah menggagas dan melaksanakan kegiatan expo tersebut.

Sementara itu, Kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama Setda Provinsi NTT Lery Rupidara, mengatakan Pemprov NTT bersama dengan FKLJK menginisiasi expo ini untuk menjadi sarana menampilkan produk unggulan NTT yang berbasis pada pertanian, peternakan, kelautan perikanan, kehutanan dan dan pariwisata serta mempertemukan produsen dan distributor bersama konsumen dalam peningkatan kapasitas UMKM.

Untuk diketahui yang berpartisipasi pada expo tersebut diantaranya UMKM Binaan PT Jamkrida,UMKM Binaan Bank NTT, UMKM Binaan Bank Indonesia, PT Telkom Indonesia, Dekranasda NTT, BPJS Ketenagakerjaan, Dinas Kesehatan dan BPOM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Penanaman Modal dan PTSP, Biro Ekonomi dan Kerja Sama, Dinas Koperasi,Tenaga Kerja dan Transmigrasi, PT Kawasan Industri Bolok, PT BPR TLM, Perbarindo, PT Pegadaian, , dan PNM.(*)

Sumber berita dan foto (Meldo Nailopo—Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Jejak Karya Dua Tahun Kepemimpinan Viktor Laiskodat — Josef Nae Soi

404 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sabtu, 5 September 2020, Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dan Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS) genap 2 (dua) tahun memimpin Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dua tahun sebelumnya, dua sahabat karib ini, dilantik oleh Presiden Joko Widodo, menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT pada Rabu, 5 September 2018, bertempat di Istana Negara, Jakarta.

Dua tahun, secara logika adalah waktu yang masih terlalu singkat. Tetapi, dalam siklus kepemimpinan politik lima tahunan, dua tahun tetaplah rentang waktu yang sangat menentukan.

Selain sangat bermakna bagi Viktor dan Josef, dua tahun menjadi sangat penting bagi rakyat. Bagi rakyat, dua tahun menakhodai NTT sudah sepantasnya dinilai. Sebaliknya bagi Victory-Joss, dua tahun adalah waktu yang terlalu singkat. Dua tahun berlalu begitu cepat. Dalam parade waktu, yang tersimpan hannyalah sulaman momen-momen bersejarah, dan meninggalkan jejak yang terus dikenang.

Sebagai ucapan syukur, maka dihelat acara Berbagi Informasi Jejak-jejak Karya 2 Tahun Kepemimpinan VBL – JNS pada Sabtu, 5 September 2020 di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT; melibatkan para pekerja media cetak, elektronik dan online. Dimoderatori oleh Kadis Informasi dan Komunikasi (Infokom) Provinsi NTT, Aba Maulaka dan menghadirkan Asisten I Setda NTT, Benyamin Lola; Kepala Bappelitbangda NTT, Cosmas Lanang; dan Staf Khusus Gubernur NTT, Prof. Daniel D. Kameo, S.E., M.H., Ph.D.

Pagelaran deretan kinerja Duet VBL–JNS pun disampaikan dan dibalut dengan interaksi para pekerja media.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL)

Pernyataan menggelegar yang paling dikenang dari pidato politik Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), dua tahun silam di hadapan Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi NTT, pada Senin, 10 September 2018, Gubernur VBL dengan lugas menyampaikan apa yang menjadi spirit moral, yang ada di kedalaman sukma bahwa menjadi pemimpin, bukanlah tujuan utama.

“Menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur bukanlah tujuan utama kami. Tujuan utama kami adalah mewujudkan panggilan moral spiritual, untuk menolong dan mengangkat masyarakat NTT keluar dari lembah kemiskinan.” ujar VBL.

Jabatan, bagi duet pemimpin yang lebih dikenal dengan brand politik, Victory-Joss, adalah untuk mewujudkan panggilan moral-spiritual; untuk membaktikan diri secara utuh, dengan kesungguhan dan ketulusan hati, dan bekerja secara fokus. Cara-cara luar biasa yang digunakan dalam setiap gagasan dan kerja nyata akan membebaskan rakyat NTT dari belenggu kemiskinan.

Itulah spirit dan passion yang dipegang teguh, jabatan adalah jalan pengabdian. Bukan prestise, apalagi sesuatu yang luar biasa untuk dibanggakan. Kalimat yang lahir dari hasil refleksi dan permenungan mendalam, termanifestasi dalam visi “NTT bangkit, NTT Sejahtera”, dan 5 Misi, antara lain:

  1. Mewujudkan masyarakat sejahtera dan adil;
  2. Membangun NTT sebagai salah satu gerbang dan pusat pengembangan pariwisata nasional (Ring of Beauty);
  3. Meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur untuk mempercepat pembangunan;
  4. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia;
  5. Mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Dua tahun, ibarat lukisan Tuhan tentang perjuangan siang-malam, berpikir dan bekerja keras demi mewujudkan mimpi ”NTT Bangkit, NTT Sejahtera.” Itulah konsekuensi logis sebuah kekuasaan.

Kritik dan cercaan akan tetap mewarnai masa-masa kepemimpinan VBL-JNS.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS)

Tapi, penilaian tentu harus fair. Harus dipahami bahwa, dua tahun silam, saat Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi, mengestafet kepemimpinan NTT, kondisi NTT tidak dalam keadaan yang sangat ideal. NTT saat itu, ibarat “negeri sejuta masalah”. Secara empirik, kala itu NTT masih dibelit dengan berbagai persoalan.

NTT, provinsi termiskin nomor tiga di Indonesia dengan sejumlah masalah krusial lainnya. Berkaca pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017, masih ada 1,1 juta jiwa atau 21,28 % masyarakat NTT yang hidup dalam kemiskinan. Kondisi ini di bawah angka kemiskinan nasional yakni 9,8 %. Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT masih sangat rendah. IPM NTT saat itu hanya 63,72 %, berada di urutan ketiga terendah dari seluruh provinsi di Indonesia.

Sejak memimpin, duet Victory-Joss juga langsung dihadapkan pada berbagai persoalan pelik yang sudah akut dan sekian lama mencengkeram hidup masyarakat NTT. Mulai dari masalah kemiskinan yang masih tinggi, ketimpangan yang melebar, pengangguran, kelaparan, gizi buruk, stunting dan human trafficking. NTT juga dibelit masalah buruknya tingkat kesehatan ibu dan anak, DBD yang terus meneror, masalah sanitasi, serta parahnya infrastruktur jalan, jembatan, listrik dan air. Masalah Sumber Daya Manusia juga harus mendapat perhatian lebih, khusus pada tingkat literasi masyarakat NTT di beberapa wilayah yang masih rendah. Masalah-masalah pelik tersebut ibarat batu uji yang pasti dijadikan masyarakat untuk menilai reputasi mereka.

Tetapi sebagai pemimpin yang sudah mendapat kepercayaan dan legitimasi rakyat NTT, Victory-Joss sangat percaya diri. Bahwasanya, dengan garansi jam terbang yang dimiliki, baik sebagai politisi, pengusaha nasional, maupun pengalaman di berbagai bidang tugas, jejaring dan kemampuan lobi yang dimiliki. Mereka meyakini mampu membawa NTT keluar dari belit berbagai persoalan tersebut dengan dukungan semua pihak. Sudah saatnya masyarakat NTT bekerja secara sungguh-sungguh, dalam semangat kolaborasi dan saling mendukung.

Poinnya ada pada birokrasi yang kuat. Di bawah nakhoda VBL-Nae Soi, mentalitas birokrasi harus diubah. Cara kerja para pemimpin wilayah di setiap tingkatan dan masyarakat sendiri, harus berubah. Mereka harus bisa berkorban dalam semangat kolaborasi. Sebab persoalan NTT yang demikian luar biasa, hanya bisa dihadapi juga dengan cara-cara extraordinary.

Arahan Gubernur VBL

Keyakinan ini bergandengan dengan komitmen pemerintahan Victory-Joss, yakni fortiter in re et suaviter in modo, yang diwujudkan melalui pemerintahan yang bersih, berwibawa, berkarakter, dan melayani. Semua sektor wajib berkolaborasi, berbenah diri dan melakukan lompatan-lompatan besar lewat inovasi-inovasi dan terobosan baru. Tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara lama dan biasa-biasa saja. Harus out of the box. Sebagai pemimpin NTT, VBL dan JNS yakin, dengan keterlibatan semua pihak dan kerja keras semua stakeholders terkait di seluruh wilayah NTT, mimpi “NTT Bangkit, NTT Sejahtera” akan terwujud.

Sebagaimana kata-kata Gubernur VBL sendiri, “Kita harus berjuang secara sungguh-sungguh. Sebab, target kita adalah kehormatan. Dan kehormatan itu hanya bisa digapai dengan pengorbanan semua pihak.”

Sebagai pemimpin yang lahir dari “rahim” kemiskinan, Gubernur VBL dan Wagub Josef Nae Soi juga sangat paham tentang kemiskinan. Bagi Victory-Joss, miskin itu masalah psikologis. Kemiskinan itu menyakitkan karena merendahkan martabat seorang manusia. Miskin tidak hanya tentang kekurangan pendapatan. Menurut Viktor dan Josef, kemiskinan menimbulkan efek psikologis yang diderita seseorang, yakni perasaan rendah diri dan terhina.

“Kemiskinan telah menjadi sejarah hidup saya dan pak Josef Nae Soi. Kami pernah merasakan betapa pahit dan getirnya hidup dalam kemiskinan. Kami telah berjuang dan bertarung untuk keluar dari kemiskinan. Karena itu, ketika masyarakat telah mempercayakan tampuk kepemimpinan ini ke atas pundak kami, maka sudah tibalah saatnya kami menabuh tambur perang melawan kemiskinan. Kami berdua mau menjadi serva servorum bagi masyarakat NTT yang kami cintai.” ungkapnya dengan penuh ketegasan.

Gubernur VBL dan Wagub Josef Nae Soi saat membuka El Tari Memorial Cup (ETMC) di Kabupaten Malaka

Momentum dua tahun kepemimpinan dapat digunakan rakyat untuk mengevaluasi capaian kinerja mereka. Dua tahun adalah waktu yang krusial. Ada capaian dan tentu saja, ada juga kegagalan. Tetapi ukuran berhasil dan gagal dalam sebuah pemerintahan, akan dipotret dengan angka-angka capaian yang regi dan bersifat statistika.

Narasi capaian pembangunan NTT selama dua tahun di tangan VBL-Nae Soi akan menunjukkan pembuktian dari janji-janji politik yang disampaikan. Tujuannya adalah agar masyarakat bisa memahami dan menilai secara fair, sejauh mana kiprah duet pemimpin ini. Apakah NTT masih tetap berada pada kondisi awal ketika duet Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi mengestafet kepemimpinan NTT di kala itu, atau kah sudah ada lompatan-lompatan hebat yang berhasil ditorehkan?

Setelah dua tahun NTT dinakhodai Victory-Joss, apa yang didesain dalam visi dan misi sudah mulai memberikan hasil. Harus diakui bahwa, NTT pasca dua tahun, sudah mulai bangkit. Minimal bangkit dari beberapa persoalan serius di masa lalu. Bangkit dari belenggu kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, kelaparan, gizi buruk, serta bangkit dari belit masalah klasik yang sudah begitu akut, yaitu masalah stunting dan human trafficking.

Berdasarkan data BPS 2019, jumlah orang miskin di NTT ternyata mulai berkurang. Kemiskinan NTT sudah berkurang sebesar 0,19% (20,43%) di tahun 2019 dari 20,62%. Inilah buah kegigihan Gubernur Viktor dan Wagub Josef dalam bekerja dengan tanpa henti berkeliling ke berbagai wilayah NTT.

Masalah stunting, gizi buruk, kematian ibu dan anak juga sudah berhasil dikendalikan peningkatannya. Ukurannya adalah, berdasarkan data e-PPGBM (elektronik Pengukuran Pencatatan Gizi Berbasis Masyarakat) tahun 2019, angka prevalensi stunting menurun dari 42,6% pada tahun 2018, menjadi 27,9% (Februari 2020) dan bahkan kondisi kasus Gizi Buruk agregat provinsi mulai berubah ke angka 2,4% (di bawah standar WHO) pada Februari 2020. Bersamaan dengan itu pula, kasus Gizi Kurang mengalami pengurangan menjadi 8,2% (di bawah standar WHO). Pencapaian penurunan kasus kematian ibu, bayi dan balita juga menunjukkan kinerja yang memuaskan.

Hal ini juga merupakan buah dari ketegasan duet kepemimpinan ini. Sejak awal, Gubernur Viktor selalu menekankan tentang pentingnya NTT memiliki pusat data yang kredibel. Karena salah satu masalah krusial yang membuat NTT tetap miskin dan salah urus adalah soal data. Gubernur Viktor selalu menggugat pemaparan kemiskinan dalam bentuk persentase. “Ke depan, saya tidak tertarik bicara persentase, baik pada level provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa. Saya lebih tertarik kalau seorang camat datang bawa laporan jumlah orang miskin berapa, keluarganya siapa dan terapinya apa. Karena yang kita terapi itu orang, bukan persentase,”. Dengan model pendekatan by name by address, program pengentasan kemiskinan, penanganan stunting dan masalah kematian ibu dan bayi, sudah mulai memberi hasil nyata.

Setelah dua tahun bekerja, angka kematian ibu menurun dari 163 orang menjadi 98 orang pada tahun 2019. Angka kematian bayi menurun dari angka 1.044 bayi menjadi 822 bayi pada tahun 2019 dan kematian balita dari 1.174 balita menjadi 83 balita pada tahun 2019. Upaya pencapaian universal health coverage (UHC) pada tahun 2019 juga sudah mencapai persentase 84,67%. Selain itu, skor indeks pembangunan gender mencapai angka 96,67% dan indeks pemberdayaan gender pada skor 97,42 pada tahun 2019.

Pencapaian tersebut semakin menggetarkan lonceng kemenangan dalam memerangi kemiskinan hingga 2023, dengan mendorong peningkatan kualitas SDM dan fasilitas kesehatan. Persoalan rumah yang tidak layak huni dan yang belum berlistrik, selama dua tahun terakhir sudah bisa ditangani dengan benar dan lebih terukur di semua wilayah dengan melibatkan pemerintah kabupaten lewat dana desa.

Kunjungan Kerja Gubernur VBL ke Kabupaten Kupang

Memasuki dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, keyakinan mereka bahwa pariwisata akan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menggerakkan kebangkitan sektor lainnya. Pariwisata yang ditetapkan sebagai Prime Mover pembangunan dapat memicu kebangkitan sektor-sektor lainnya seperti pertanian, peternakan dan kelautan, juga sektor pendukung seperti infrastruktur, akhirnya mulai memberi hasil yang menggembirakan.

Penegasan Gubernur Viktor dan Wagub Josef sejak awal bahwa membangun pariwisata adalah membangun peradaban, menciptakan dan melayani ekspektasi imajinasi manusia. Artinya, kualitas hidup masyarakat desa dan kota harus berubah ke level yang lebih berkualitas, agar disukai para wisatawan. Pariwisata semestinya mewujudkan kualitas hidup atau quality of life masyarakat NTT melalui aspek 5 A (atraksi, akomodasi, aksesbilitas, amenitas dan awareness), agar bisa menjadi opportunity of business. Sebagai sebuah komoditas, pariwisata NTT semakin memberi dampak secara ekonomi.

Dalam dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, geliat pembangunan pariwisata NTT yang berbasiskan pendekatan community based tourism mulai menunjukkan progres yang menggembirakan. Kualitas destinasi wisata prioritas yaitu pantai Liman, pegunungan Fatumnasi, Koanara, desa para pemburu Paus Lamalera, pantai Wolwal, pantai Praimadyta dan kawasan Mulut Seribu, berdasarkan kelima aspek tersebut mulai memberi dampak nyata bagi masyarakat. 4 (empat) destinasi yang disebut telah diresmikan Gubernur VBL yakni, Mulut Seribu (15 Juni 2020), Panti Liman (3 Juli 2020), Lamalera (28 Juli 2020) dan Wolwal (31 Juli 2020). Selanjutnya, dalam rencana, pada tanggal 8 September 2020 mendatang, Gubernur VBL akan meresmikan Cottage dan Restaurant di Praimadita, Sumba Timur.

Jika berkunjung ke Lamalera, dijamin tersedia akomodasi yang memadai. Di sana, Gubernur VBL dan Wagub JNS memberi sentuhan dengan membangun 20 unit homestay di 20 rumah penduduk. Hasil pembenahan sektor pariwisata lainnya adalah pembangunan cottage di destinasi wisata Pantai Liman, Pantai Praimadyta dan Pantai Mulut Seribu. Dukungan pengembangan pariwisata NTT di destinasi wisata prioritas melalui peningkatan akses jalan, pembangunan sumber air bersih berupa sumur bor (Pantai Liman, Fatumnasi) penyediaan PLTS (Mulut Seribu dan Fatumnasi), dan pembangunan fasilitas amenitas lainnya, seperti; restoran, lopo, toilet, gerai-gerai karya UMKM, areal parkir, dan fasilitas kesehatan sedang dalam pengerjaan. Di samping penyediaan sumber-sumber bahan pokok dari hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan yang terus digiatkan hingga saat ini.

Sebuah capaian yang luar biasa di sektor pariwisata adalah, duet kepemimpinan Victory-Joss juga berhasil melobi dan mendapat persetujuan Pemerintah Pusat untuk bersama-sama mengelola Destinasi Super Premium Labuan Bajo. Dalam pengelolaan bersama ini, sedang disiapkan sistem pengindraan digital di atas dan di dalam air di perairan Labuan Bajo demi keamanan dan keselamatan lingkungan hidup, varanus komodoensis, warga lokal dan turis dari berbagai ancaman yang merusak. Untuk mewujudkan pengindraan digital ini, Pemerintah Provinsi NTT sedang bekerja sama dengan ST Engineering, suatu perusahaan hebat dari Singapura.

Dengan pendekatan pembangunan yang terintegrasi, wajah pariwisata NTT mulai kelihatan paras cantiknya. Besarnya energi yang dikeluarkan dalam membangun Pariwisata mampu mewujudkan ekspektasi imajinasi para wisatawan. Artinya, keadaan riil dari sebuah destinasi sinkron dengan apa yang ada dalam imajinasi mereka (para wisatawan). Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan bertemu masyarakat, Gubernur Viktor dan Wagub Josef terus mengajak masyarakat untuk membuat orang yang datang ke NTT, harus merasa betah dan nyaman, sampai melupakan lamanya waktu mereka tinggal di NTT. Ketika mereka lupa pulang dan bahkan ingin kembali lagi ke NTT, juga mengajak teman-temannya datang ke NTT, maka perwujudan ekspektasi imajinasi itu sudah sukses dilakukan.

Apalagi, dalam pandangan Gubernur Viktor, dengan pembangunan pariwisata yang berbasis masyarakat maka bukan orang luar NTT saja yang akan menikmati hasilnya, tetapi juga orang NTT sendiri. Pasalnya, wisatawan yang masuk ke NTT tidak lagi tergantung pada hotel, cafe, dan resto untuk mendapatkan pelayanan yang nyaman dan berkualitas, tetapi juga rumah-rumah warga yang sudah disiapkan secara layak dan nyaman. Oleh karena itu, adagium Victory-Joss dalam pembangunan pariwisata adalah masyarakat lokal NTT harus menjadi tuan di tanah mereka sendiri. Dengan asumsi seperti itu maka dengan adanya potensi pariwisata NTT yang saat ini masif dikembangkan hingga ke pelosok-pelosok desa, nilai tambah secara ekonomi bagi masyarakat lokal akan bertumbuh. Dari situlah, mimpi pemerataan ekonomi yang mampu menyentuh hingga ke level paling bawah masyarakat NTT, akan nyata dan terukur.

Gubernur VBL bersama Bupati Sikka

Untuk menciptakan pariwisata yang unggul, daya dukung dari sektor lainnya terus digenjot. Salah satunya adalah dukungan komoditas dan konektivitas kewilayaan. Program pariwisata strategis Victory-Joss akan mewujudkan Ring of Beauty. Semua kawasan pulau dan kabupaten di NTT, terus didorong selama dua tahun terakhir untuk berada dalam satu kawasan Ekonomi yang terkoneksi yaitu Masyarakat Ekonomi NTT. Saat ini, pemerintah terus berjuang menyambungkan pulau-pulau di NTT sebagai kawasan hinterland yang kaya akan High Value Agriculture Product, seperti Vanili, Rumput Laut, Kakao, Alpokat juga beras serta Garam.

Bagi Gubernur Viktor dan Wagub Josef, apa yang sedang mereka kerjakan adalah “emas”. Mengapa? Karena pada suatu waktu, perekonomian NTT akan menguat. Arus keluar uang dari NTT sudah bisa dibendung, sehingga masyarakat NTT sendiri yang menjadi pemasok semua produk yang dibutuhkan dalam konsumsi masyarakat di semua Kabupaten/Kota di NTT. Itulah kerja besar yang sedang dan terus digarap duet kepemimpinan ini di sektor pariwisata dan sektor pendukung lainnya.

Di bidang infrastruktur lompatan besar juga sedang dilakukan Victory-Joss. Sebagaimana janji keduanya dalam kampanye di masa Pilgub NTT 2018 bahwa, dalam tiga tahun, masalah buruknya infrastruktur jalan provinsi akan tuntas diselesaikan. Kini, setelah dua tahun kepemimpinan Victory-Joss, persoalan ini sudah mendapat atensi khusus dan dilakukan percepatan yang luar biasa, di mana dari total 2.650 km jalan Provinsi di seluruh NTT, dan sekitar 906,47 km yang dikategorikan dalam kondisi tidak mantap; rusak ringan dan rusak berat, kini sudah dan terus dikebut penyelesaiannya. Dalam roadmap pemerintahan ini, di tahun 2020, targetnya adalah 497,62 km ruas jalan provinsi yang sudah dan sedang diperbaiki. Selanjutnya pada tahun 2021 akan diselesaikan sisanya. Tetapi akibat pandemi Covid-19 dan masalah keterbatasan anggaran, di Tahun 2020 ini, panjang jalan provinsi yang bisa diselesaikan sampai akhir tahun nanti adalah sekitar 372,74 km. Meski meleset dari target, Victory-Joss berkomitmen untuk menuntaskannya di tahun 2021.

Sebagai solusi dalam penyelesaian jalan provinsi, pemerintah menggunakan beberapa pendekatan. Seluruh pengerjaan jalan tidak seluruhnya menggunakan konstruksi aspal hotmix atau Hot Roller Sheet (HRS) tetapi dikombinasikan dengan Grading Operation (GO). Pendekatan ini membuat lapisan berbutir dari sirtu gunung atau kali serta GO plus dengan modifikasi struktur, dicampur dengan semen dan zat adiktif. Hal tersebut setara dengan agregat dan konstruksi bina marga. Sebab jika harus menggunakan aspal seluruhnya maka dibutuhkan dana sebesar Rp.4 triliun lebih. Sementara, anggaran di bidang ini sangat terbatas. Untuk itu, mengingat anggaran yang terbatas, konstruksinya juga selalu disesuaikan dengan spesifikasi. Untuk tempat yang parah, akan digunakan GO dan GO plus, sementara untuk tanjakan atau critical point akan digunakan HRS.

Secara ringkas, untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, terus dipacu pelaksanaannya dengan target meningkatnya mobilitas dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Tiap tahun anggaran pembangunan jalan dan jembatan terus meningkat sesuai kemampuan fiskal Pemerintah Provinsi NTT. Tahun 2018 Rp. 168.359.716.870 meningkat hampir 315%, dan pada tahun 2019 menjadi Rp. 529. 347.810.113,55. Tahun 2020 berdasar data nilai pagu revisi Pergub IV mencapai Rp. 731.448.801.154. Ada kenaikan hampir 450% dari tahun 2018. Dengan peningkatan anggaran, total pengerjaan jalan provinsi NTT pada tahun 2019 sepanjang 139,47 km dan pada tahun 2020 dikerjakan 357,313 km dengan rincian: 158,65 km (HRS), 14,5 km (GO+), 234,163 (GO). Paket SMI 2020, 154,1 km dan Bank NTT: 108,55 km. Kolaborasi multi pihak dalam pembangunan infrastruktur jalan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi dapat ditunjukan oleh pengerjaan jalan untuk mendukung pembangunan Observatorium Timau yang merupakan pusat kajian astronomi terbesar di Asia Tenggara bahkan di Asia yaitu pengerjaan jalan sepanjang 40 km dari total 57 km panjang ruas jalan Bokong-Lelogama-Timau.

Selain masalah infrastruktur, kepiawaian duet kepemimpinan ini dalam menakhodai NTT juga terbukti ampuh dalam memerangi berbagai problem pembangunan lainnya lewat pilihan-pilihan kebijakan yang strategis. Salah satunya, dengan pelibatan semua stakeholders (perguruan tinggi dan lembaga keagamaan) dan kolaborasi dengan kabupaten/kota se-NTT. Spirit kerja sama menjadi pilihan utama VBL- Josef Nae Soi sebagaimana disentil dalam pidato VBL ketika amanah menjadi pemimpin ditempatkan di pundak kami, maka tiba saatnya untuk menabur tambur perang melawan kemiskinan. Kita harus berjuang bersama-sama memenangkan peperangan melawan kemiskinan. Itu menjadi tekad dan komitmen kami agar NTT tidak lagi dilihat sebelah mata sebagai provinsi yang terkenal dengan keterbelakangan.

Dua tahun menakhodai NTT, spirit pembangunan manusia NTT yang bermutu terus ditularkan ke anak-anak NTT. Atensi ini semakin menorehkan prestasi yang prestisius. Anak-anak NTT termotivasi dengan celoteh sang pemimpin tentang spirit kerja cerdas, dengan dukungan kualitas SDM yang mumpuni dan berdaya saing. Terbukti, kualitas pelayanan pendidikan menunjukkan kinerja positif, di antaranya; angka partisipasi sekolah penduduk usia 16—18/SMA-SMK pada tahun 2019 naik menjadi 75,04% dari tahun 2018 sebesar 74,83%. Akreditasi sekolah minimal B pada SMA telah mencapai 51,8% pada tahun 2019 dari 20,9% pada tahun 2018; SMK mencapai 32% pada tahun 2019 dari 8,5% pada tahun 2018; SLB mencapai 9,5% pada tahun dari sebelumnya 2,94%.

Gubernur VBL saat bertemu Uskup Ruteng

Mewujudkan NTT Bangkit dan Sejahtera harus terintegrasi dengan pembangunan di bidang lainnya, yaitu sektor peternakan, pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan dan perindustrian juga terus digenjot. Pembangunan sektor pertanian dan peternakan misalnya, pada tahun kedua kepemimpinan Victory-Joss ini dilakukan dengan gebrakan besar berupa program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS). Selain itu juga, pengembangan populasi ternak dan pengembangan marungga. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dilakukan melalui kegiatan Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang merupakan konsep kolaborasi pertanian peternakan. Terbukti, hingga Agustus 2020, tersedia luas tanam sebesar 1.435,61 ha (14,35%) dari 10.000 ha. Bibit jagung yang didistribusikan antara lain jagung komposit sebanyak 31.045 kg dan jagung hibrida sebanyak 64.099 kg. Hasil panen jagung tersebut juga digunakan untuk pembelian ternak sehingga tingkat kepemilikan ternak di masyarakat meningkat.

Jumlah populasi ternak sapi hingga tahun 2019 sebanyak 1.087.761 ekor dengan tingkat realisasi sebesar 99.88%. Peningkatan populasi ini selain dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat, juga dikembangkan di 7 instalasi ternak. Untuk ternak kecil populasi yang paling mendominasi adalah ternak babi sebanyak 2.266.222 ekor, ternak kambing 835.614 ekor, ayam buras 10.984.790 ekor, ayam broiler 7.300.378 ekor, dan ayam layer sebanyak 225.389 ekor.

Pembangunan sektor kehutanan diarahkan untuk pengembangan potensi hutan dan sumber daya alam yang ada. Gagasan pembangunan pariwisata NTT di bawah nahkoda VBL-JNS menyentuh juga penataan dan pemanfaatan lingkungan kehutanan, sehingga mendorong aktivitas ekonomi. Pembangunan hutan wisata sedang dilaksanakan melalui pembuatan ekowisata dan ecogreenpark. Pengembangan hutan wisata di Kabupaten Ende, Timor Tengah Utara dan Manggarai Barat serta pengembangan Hutan Wisata pada Lokasi Mangrove di Kabupaten Rote Ndao, yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana berupa rumah pohon, kolam, panggung, spot-spot foto dan jalur untuk bersepeda serta wahana-wahana lain yang mendukung aktifitas wisata, disesuaikan dengan karakteristik lahan yang ada.

Pada prinsipnya, penataan lingkungan kehutanan dilakukan melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) dengan capaian yang dicapai hanya pada penanaman yang dilaksanakan pada kawasan hutan dan jenis tanaman endemik lokal. Dari luasan RHL yang dilakukan seluas 6.515 Ha hanya 6.000 Ha saja yang dilaksanakan dalam kawasan hutan dan hanya seluas 4.005,35 Ha yang dilakukan dengan menggunakan jenis endemik lokal. Luasan lahan hutan yang dapat dimanfaatkan adalah 279.087,27 Ha kawasan hutan produksi, 186.188,89 Ha kawasan hutan produksi terbatas dan 80.962,95 Ha hutan produksi konversi. Areal hutan ini dimanfaatkan untuk pengembangan kemiri, jambu mete, kopi, kakao, kenari, kelor, porang, kayu putih, madu dan komoditi kehutanan lainnya.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat NTT di bawah nakhoda VBL-Nai Soi digerakkan juga pada sektor kelautan dan perikanan. Dengan spirit kerja keras, terbukti pada tahun 2019 produksi perikanan tangkap sebanyak 20.040 ton dan hingga Mei 2020 sebanyak 10,714 ton. Untuk pengembangan budidaya rumput laut dilakukan melalui pengembangan 5 kluster rumput laut dan penguatan kelompok serta fasilitasi pengembangan kelompok nelayan pembudidaya rumput laut dengan jumlah produksi rumput laut pada tahun 2019 sebanyak 2.395.752 ton. Hasil ini melampaui target produksi di tahun yang sama (2,381.000 ton). Pada tahun 2020 melalui fasilitasi kepada 4.000 pembudidaya yang tersebar di Kabupaten Sabu Raijua, Alor, Lembata, Flores Timur dan Sikka dengan produksi rumput laut yang ditargetkan sebanyak 2.619.000 ton dan realisasi hingga Mei 2020 sebanyak 1.309.500 ton. Peningkatan produksi perikanan melalaui pembudidayaan dengan keramba jaring apung (Kakap &Kerapu) yang telah dikembangkan di Labuan Kalambu sejumlah 1 juta ekor kerapu dan di Mulut Seribu sejumlah 500 ribu ekor kakap putih. Pengembangan ini menunjang ketersediaan pangan berbasis perikanan di lokasi pariwisata estate. Selain itu pengembangan kegiatan perikanan juga ditujukan di lokus-lokus stunting melalui pemberian sistem rantai dingin (coolbox berinsulasi) di 22 Kab/Kota dan pemberian makanan tambahan olahan berbahan dasar ikan.

Wagub Josef Nae Soi saat memberikan bantuan kepada susteran

Sektor perindustrian dan perdagangan juga mendapat atensi VBL-JNS sejak menakhodai NTT. Fokus pembangunan sektor industri dan perdagangan diarahkan untuk pembangunan industri pakan ternakdi NTT yang belum terpenuhi dengan baik sampai sekarang. Di tahun kedua menakhodai NTT, pembangunan industri pakan ternak sedang dalam proses kajian. Bagaimana dengan industri garam? Itikad baik VBL-JNS mengembangkan industri garam di NTT mendapat sambutan hangat dan positif Presiden Jokowi saat meninjau pengembangan Industri garam di NTT, khususnya di Kabupaten Kupang. Menurut Presiden Jokowi, dari total 600 hektare, sudah 10 hektar lahan garam yang dikembangkan. NTT seharusnya mampu memberikan sumbangsih besar dalam mengembangkan 21.000 hektar lahan di Indonesia. Dua tahun VBL-JNS memimpin, optimisme pembangunan industri garam terus diperjuangkan.

Di sektor bahari, sebagai provinsi kepulauan, telah digodok pembangunan dan peningkatan pelabuhan-pelabuhan NTT bertaraf internasional yang melibatkan konsultan global yang bermarkas di Singapore Seaport. Pembangunan pelabuhan ini akan membawa NTT menjadi provinsi bahari yang andal dalam kaitan konektivitas dalam daerah, nasional hingga internasional. Pembangunan pelabuhan ini akan diikuti dengan perluasan terminal yang terintegrasi dengan rencana Kawasan Industri Bolok-Tenau di lahan seluas 900 Ha.

Untuk mitigasi bencana, mengingat kondisi NTT sebagai supermarket bencana alam nasional karena berada persis di Ring of the Fire (lingkaran gunung api), gagasan dan aksi nyata pembentukan dan pengembangan Desa/kelurahan Tangguh Bencana secara bertahap digencarkan pada 22 Kabupaten/Kota NTT. Ini menjadi salah satu strategi memberdayakan masyarakat itu sendiri agar tanggap terhadap bencana.

Problem krusial lainnya yang masih mewarnai pembangunan NTT adalah pembangunan prasarana sanitasi lingkungan berupa penyediaan air bersih dan sarana pengelolaan limbah. Penyediaan air bersih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air di daerah-daerah krisis air bersih dan penyediaan air di destinasi wisata melalaui pembangunan sumur bor. Pada tahun 2019 sebanyak 35 unit sumur bor eksplorasi, 8 unit optimalisasi sumur bor dan 10 unit sumur bor produksi telah selesai dikerjakan. Sarana pengelolaan limbah yang akan disediakan adalah melalui pembangunan UPTD Pengelolaan limbah B3 dengan skala pelayanan regional yang di bangun di Kabupaten Kupang dan di Manggarai Barat.

Penyediaan prasarana energi melalui bantuan pemasangan instalasi listrik sambungan rumah bagi masyarakat tidak mampu yang direncanakan di tahun 2020 sebanyak 1.061 yang tersebar di Kabupaten Alor, TTS, TTU, Sabu Raijua, Ngada, Manggarai Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya dengan tingkat elektrifikasi yang rendah. Action pembangunan belum dikerjakan mengingat kondisi pandemi Covid-19. Untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah yang belum dilayani oleh jaringan PLN, dikembangkan sumber energi alternatif yaitu pembangunan PLTS sehen sebanyak 357 unit pada tahun 2019.

Gubernur VBL saat bersama Sekda NTT, Benediktus Polo Maing dan Staf Khusus Gubernur

Di bidang reformasi birokrasi, Gubernur Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi sangat percaya bahwa dengan menerapkan prinsip-prinsip good governance, sehingga visi besar tentang birokrasi yang andal akan tercapai. Dalam dua tahun kepemimpinan, Victory-Joss sudah berupaya menerapkan prinsip-prinsip good governance tersebut. Terbukti, beberapa perubahan fundamental dari aspek pelayanan dan penerapan teknologi dalam manajemen pemerintahan yaitu e-government telah diwujudkan. Kebijakan anggaran yang ditetapkan memprioritaskan belanja publik sebesar 70% dari total anggaran.

Dua tahun menakhodai NTT, Victory-Joss berhasil memberi pesan tegas dan positif tentang aura dan geliat pembangunan di NTT, di mata Pemerintah Pusat. Lewat berbagai pola pikir dan cara kerja inovatif yang digaungkan duet VBL-JNS, posisi daya saing NTT di skala nasional menunjukkan peningkatan luar biasa dan sungguh menggembirakan. Laporan Indeks Daya Saing Daerah Provinsi NTT tahun 2020 menggambarkan kondisi pembangunan NTT selama dua tahun terakhir pada aspek kelembagaan, ekosistem inovasi, sumber daya manusia dan ekonomi mengalami peningkatan drastis dari 0 di tahun 2018 menjadi 3,07 di tahun 2020. Hasil ini dikategorikan tinggi dan mendapat apresiasi dari Kementerian Ristek-BRIN, meski terdapat beberapa pilar pembangunan, seperti; kesigapan teknologi, kapasitas inovasi, ukuran pasar dan dinamika bisnis yang terus dibenahi. Ini menjadi konsentrasi VBL-JNS dalam mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Sedangkan untuk Indeks Inovasi Daerah, telah diikutsertakan 55 jenis Inovasi, dengan skor 5.632 dalam Innovation Government Award 2020.

Dalam urusan penataan aset daerah, VBL-JNS memiliki sikap yang tegas dan tetap memerhatikan aspek humanis dan persuasif. Di tahun kedua kepemimpinannya, beberapa aset daerah seperti renegosiasi pemanfaatan aset kawasan Lippo Plaza dan sekitarnya, Hotel Sasando (64.300 m2), tanah di Manulai II (231.524 m2) untuk pembangunan Rumah Sakit Pusat yang sedang dikerjakan, pantai Pede (31.670 m2), dan lahan Besipae (37.800.000 m2). Persoalan batas daerah (Matim-Ngada dan Sumba Barat-Sumba Barat Daya) juga telah diselesaikan lewat pendekatan kooperatif dan humanis VBL-JNS.

Pembuktian karya pembangunan VBL- JNS selama dua tahun sepatutnya diapresiasi. Tidak sebatas pada jejak karya yang ditinggalkan tetapi gagasan-gagasan brilliant pembangunan yang telah tercatat apik dalam sejarah pembangunan NTT dua tahun belakangan ini. Gagasan pemberdayaan ekonomi local community melalui produk minuman tradisional (minol) “Sophia” telah di-launching dan diproduksi. Gagasan inovasi pengembangan kelor mulai dirintis para pelaku UMKM dengan varian produk, seperti teh kelor, kue lapis kelor, kripik kelor, susu kelor dan sebagainya. Yang masih menjadi pekerjaan rumah di sisa tiga tahun terakhir adalah pengembangan industri kelor. Untuk mewujudkan pengembangan industri kelor, Pemerintah Provinsi telah menyediakan lahan dengan populasi kelor yang telah ditanam sebanyak 2.137.871 pohon. Butuh energi yang lebih besar lagi untuk mewujudkan cita-cita pembangunan kelor ini.

Gubernur VBL saat kunjungan kerja di Kabupaten Alor

Untuk mendukung pembangunan ekonomi NTT, VBL- JNS menginisiasi pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Provinsi NTT yang terdiri dari (Liman, Melolo, Teluk Kupang, Mulut Seribu, Mbay, Teluk Maumere, dan Wolwai). Ekspektasi yang diinginkan adalah terjalin perdagangan domestik di kawasan NTT dengan sumber daya yang dihasilkan dari bumi Flobamora.

Kini, sudah terlihat bahwa ada banyak karya nyata yang ditorehkan. Bukti karya VBL-JNS selama dua tahun mulai memperlihatkan kemenangan demokrasi di NTT. Sebuah kepemimpinan yang demokratis, dalam pandangan Gubernur VBL harus bisa memberi kesejahteraan. Sebab, demokrasi adalah jalan menuju kesejahteraan. Demokrasi tanpa kesejahteraan adalah sebuah kemunafikan; Sebuah dosa politik.

VBL-JNS menyudahi periode kepemimpinan NTT 2018—2023. Apakah akan ada banyak torehan keberhasilan pembangunan yang diraih di sisa tiga tahun terakhir? Masih banyak karya yang semestinya dituntaskan untuk membawa NTT menuju Bangkit dan Sejahtera. Capaian selama dua tahun ini telah membuktikan kerja keras dan kerja cerdas yang luar biasa. Narasi optimisme VBL- JNS dalam visi NTT Bangkit, NTT Sejahtera, pada waktunya terwujud. Sebagaimana kata-kata Gubernur VBL sendiri, “NTT Bangkit merupakan suatu gerakan restorasi untuk mendobrak batu penghalang kemajuan dan berani keluar dari masa lalu dan masuk ke dalam masa pengharapan”. (*)

Sumber (*/Biro Humas dan Protokol Setda NTT)  Foto-foto (*istimewa)
Editor (+rony banase)

Irjen (Pol) Lotharia Latif Jabat Kapolda NTT Ganti Irjen Hamidin, Ini Pesan VBL

1.255 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Gubernur dan Wakil Gubernur tidak bisa bergerak sendiri, harus ada bantuan dari teman-teman Forkopimda agar kita satu gerakan untuk kita membangun daerah ini melihat masa depan. NTT miliki atraksi alam yang paling bagus dan lengkap dari semua daerah lainnya,” pesan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) pada acara Malam Kenal Pamit Kapolda NTT dari Irjen (Pol) H. Hamidin kepada Irjen (Pol) Lotharia Latif di Hotel Aston Kupang, pada Rabu malam, 2 September 2020.

Selanjutnya, Irjen (Pol) Hamidin akan bertugas di Mabes Polri sebagai Analisis Kebijakan Utama Itwasdum.

Gubernur VBL pun menegaskan, kebangkitan NTT maju menuju sejahtera, tidak bisa dilakukan sendiri. Tapi harus ada sinergisitas dengan semua pemangku kepentingan termasuk Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkpimda). Semua mesti terus bergerak bersama dalam satu gerakan untuk urus NTT mencapai sejahtera.

Pose bersama Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dengan Irjen Pol Hamidin dan istri

Maka, imbuh Gubernur VBL saat menyampaikan sambutan, saya di sini akan mendesain Provinsi NTT menjadi provinsi yang terpandang.

VBL juga meminta pejabat yang akan ditempatkan di NTT tidak perlu takut dan menyesal. Karena NTT masih dikategorikan sebagai daerah termiskin ketiga. VBL mengajak semua yang ditempatkan di NTT harus sungguh-sungguh bekerja.

“Saya minta Forkopimda untuk bekerja melampaui tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) masing-masing. Harus terlibat dan turut serta secara aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di NTT,” pinta mantan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI itu.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi memberikan selamat kepada Kapolda NTT, Irjen Pol Lotharia Latif

Sementara itu, mantan Kapolda NTT, Irjen Hamidin mengatakan, saat ini tindakan kejahatan di NTT semakin berkurang. Indeks Persepsi Korupsi di NTT meningkat tajam. Juga menjadi salah satu daerah dengan perkembangan kasus Covid-19 yang rendah di Indonesia.

“Ini merupakan tanda kerja keras yang bagus bagi kita semua” tandas Irjen (Pol) Hamidin.

Turut hadir pada kesempatan tersebut Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi , Ketua DPRD NTT, Emy Nomleni; Unsur Forkompinda NTT, Wali Kota Kupang , Bupati Belu, kepala tokoh agama, tokoh masyarakat, insan pers dan undangan lainnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Aven Rame – Biro Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Julie Laiskodat Jadi Bunda PAUD, Wagub Josef : Revolusi Bentuk Manusia NTT

822 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Josef Nae Soi (JNS) mengatakan, untuk membentuk sumber daya manusia NTT yang berkualitas, dibutuhkan upaya luar biasa. Harus dipersiapkan sejak awal sehingga bisa menghasilkan manusia-manusia berkualitas.

“Kita harus melakukan suatu revolusi radikal. Ini harus dilakukan secara serius. Masalah pembentukan sumber daya manusia di NTT tidak bisa kerja dengan cara-cara biasa, tapi dengan cara luar biasa. Mengubah manusia NTT butuh inovasi terus-menerus,” jelas Wagub Nae Soi saat memberikan sambutan pada Pengukuhan Julie Sutrisno Laiskodat sebagai Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Provinsi NTT di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, pada Jumat, 7 Agustus 2020.

Mengutip pendapat psikolog besar Sigmund Freud tentang peranan alam bawah sadar yang sangat besar, Wagub JNS menekankan, mengubah karakter seseorang tidak mudah. Namun kalau hal ini dilakukan sejak dini, lebih khusus sejak dalam kandungan, maka akan menghasilkan kualitas manusia yang mumpuni.

“Mengubah orang harus dilakukan sejak usia dini bahkan harus dibentuk sejak dalam kandungan. Tak heran, bila ibu-ibu yang mengandung sering mengusap-usap kandungannya dan berbicara dengan janin sejak usia tiga bulan untuk membentuk alam bawah sadar anaknya,” jelas Wagub.

Lebih lanjut pria asal Ngada itu menyatakan, peranan PAUD dalam membentuk dan memberi warna pada karakter anak sangatlah vital. Pendidikan harus dilakukan secara sadar dan terus-menerus dengan lakukan bimbingan, pengajaran dan latihan sehingga anak-anak bisa memiliki spiritualitas, akhlak dan kompetensi sejak kecil.

“Minimal ada enam karakter yang bisa dibentuk sejak PAUD yakni kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan. Dan untuk tercapainya hal-hal ini, pendekatan dan hati seorang ibu sangat dibutuhkan,” ungkap Wagub Josef.

Mantan Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM itu, memberikan apresiasi dan penghargaan besar terhadap apa yang telah dilakukan oleh tim penggerak PKK dan para Bunda PAUD di Provinsi dan Kabupaten/Kota se-NTT untuk menghasilkan generasi NTT yang lebih bermutu ke depannya.

“Ke depan, saya minta teman-teman di perangkat daerah agar cukup jadi regulator saja. Kita jangan sungkan-sungkan kolaborasi dengan PKK dan para Bunda PAUD karena mereka memiliki cinta lebih dari kita. Cinta dalam arti care atau perhatian, fair atau keadilan, dan shared atau berbagi dengan tulus. Mereka kerja tanpa gaji dan selalu bersama dengan masyarakat dan anak-anak,” pungkas Wagub Nae Soi.

Foto bersama usai pengukuhan Julie Laiskodat sebagai Bunda PAUD NTT

Sementara itu, Bunda PAUD NTT, Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan, selama dua tahun PKK NTT telah menjalankan tugas untuk mengembangkan PAUD. Mengambil bagian dalam semangat membangun NTT dengan fokus pada pengembangan sumber daya manusia.

“Kami, para perempuan dan wanita seluruh NTT ingin membantu pa Gub dan Wagub dalam pengembangan sumber daya manusia. Kita memiliki sekitar 3.236 desa di seluruh NTT, kami sadar belum mampu menjangkau semua. Karenanya kami sepakat memilih 22 desa model PKK selama dua tahun ini. Kami fokus di desa-desa ini. Dan di desa-desa ini, kami punya PAUD model,” kata Juli Sutrisno Laiskodat.

Dikatakan anggota Komisi IV DPR RI itu, cita-citanya sebagai koordinator para Bunda PAUD di NTT adalah mendorong semakin banyaknya PAUD di NTT terakreditasi. Karena menurut data dari UNICEF, di NTT banyak PAUD yang liar dan tidak terakreditasi.

“Para orang tua umumnya berpikir PAUD hanya sebagai tempat penitipan anak. Padahal pendidikan harusnya dimulai dari masa ini. Di desa model, kami mengedukasi para orang tua tentang peranan penting PAUD sebagai tempat dimulainya dasar pembentukan sumber daya manusia,” jelas ketua Dekranasda tersebut.

Dalam kesempatan itu, Julie Sutrisno mengharapkan dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi NTT untuk peningkatan sarana, prasarana dan alat-alat permainan. Fokus kerja ke depan adalah juga meningkatkan kompetensi dan sertifikasi guru-guru PAUD.

“Para Guru PAUD ini sebagian besar tidak digaji dan dibayar. Hanya karena mereka punya hati untuk mengajar dan berbagi. Karenanya kami meminta Pemerintah Provinsi khususnya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa agar memberikan masukan buat para Kepala Desa untuk memanfaatkan Dana Desa bagi pengembangan PAUD. Juga untuk memberikan insentif kepada para guru PAUD,” pungkas Julie Sutrisno.

Pengukuhan Julie Sutrisno Laiskodat berdasarkan SK Gubernur NTT Nomor 239/KEP/HK/2020. Para Ketua Tim Penggerak PKK/Bunda PAUD Kabupaten/Kota se-NTT mengikuti acara pengukuhan ini secara virtual.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut Wakil Ketua PKK NTT, Ibu Maria Fransiska Jogo, Kepala Balai PAUD dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) NTT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Maria B. Advensia Salem, Kadis Kesehatan NTT, perwakilan organisasi perempuan, para mitra PAUD dan undangan lainnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

Menteri PUPR Tinjau Progres Pembangunan Bendungan Napung Gete di Sikka

280 Views

Sikka-N.T.T, Garda Indonesia | Menteri PUPR RI, Ir. M. Basoeki Hadimoeljono didampingi Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi (JNS) dan bersama sejumlah pejabat Kementerian PUPR mengunjungi Bendungan Napung Gete di Desa Ilin Medo, Kecamatan Waiblama, Kabupaten Sikka, pada Rabu, 5 Agustus 2020. Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk meninjau perkembangan pembangunan Bendungan Napung Gete.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi mengatakan rakyat NTT sangat berterima kasih pada Presiden Jokowi dan Kementerian PUPR yang telah memberi perhatian dengan pembangunan bendungan bagi masyarakat NTT.

“Tentunya Pemerintah dan masyarakat NTT harus berbangga dan berterima kasih pada Presiden Jokowi bersama Bapak Menteri PUPR yang memberikan perhatian tinggi bagi masyarakat NTT. Tidak berlebihan saya katakan demikian karena pembangunan bendungan bagi masyarakat NTT ini sangat membantu terkhususnya menopang kebutuhan air bersih bagi masyarakat,” ujar Wagub Josef.

“Dulu di sini tempatnya kering. Tapi sebentar lagi bendungan akan segera selesai dibangun dan bisa menampung air dalam jumlah yang banyak dan tentunya daerah ini pasti akan subur. Sekali lagi terima kasih pada pemerintah pusat yang sudah membantu kita di sini,” ungkap Nae Soi.

Menteri PUPR RI Ir. M. Basoeki Hadimoeljono mengatakan pembangunan bendungan Napung Gete tersebut juga merupakan gagasan dan instruksi dari Presiden Jokowi yang ditujukan demi kesejahteraan masyarakat NTT.

Menteri PUPR RI, Basoeki Hadimoeljono (berbaju batik) saat disambut di lokasi pembangunan Bendungan Napung Gete

“Pembangunan Bendungan Napung Gete ini adalah bagian dari perhatian khusus Bapak Presiden yang menginginkan minimal tujuh bendungan untuk masyarakat NTT. Bapak Presiden juga mengatakan bahwa dengan pembangunan bendungan tentunya akan membantu Pemerintah Provinsi dalam mendorong perubahan di bidang pertanian masyarakat NTT,” jelas Menteri Basoeki.

Di Pulau Timor, imbuh Menteri Basoeki, sudah ada empat bendungan, di Flores baru ada dua yaitu satu di sini (bendungan Napung Gete -Sikka) dan satu lagi di Mbay. Dan baru satu lagi di Weilikis (Atambua). “Program pembangunan bendungan ini juga untuk menghijaukan NTT dengan memanfaatkan tampungan air,” jelasnya.

Menteri Basoeki juga mengatakan Kapasitas Bendungan Napung Gete mencapai 11 juta meter kubik air yang hampir sama dengan bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang. “Saya harap dengan anggaran lebih dari 800 miliar di sini mudah-mudahan pembangunannya dapat diselesaikan cepat untuk digunakan bagi masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Ir. Agus Sosiawan, menjelaskan luas genangan air bendungan Napung Gete akan mencapai 99,78 Ha dengan kapasitas 11 juta meter kubik air dan pembangunannya membutuhkan lahan seluas 184,47 Ha.

Menteri PUPR juga kemudian menuju Labuan Bajo untuk meninjau lokasi pengerjaan Penataan Kawasan Puncak Waringin.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)

“Joni” Sapi Kurban dari Presiden Jokowi bagi Masjid Tertua di Pulau Timor

366 Views

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi menyerahkan seekor sapi kurban bantuan Presiden Joko Widodo kepada Masjid Agung Al Baitul Qadim, Kelurahan Air Mata, Kota Kupang, pada Jumat, 31 Juli 2020.

Sapi kurban yang merupakan persilangan antara Sapi Bali dan Sapi Berangus melalui kawin suntik atau seminasi buatan dengan bobot 980 kilogram ini diberi nama Joni.

Wagub Nae Soi langsung menyerahkan sapi kurban tersebut kepada H. Musa Imran selaku Ketua Yayasan Masjid Agung Al Baitul Qadim Air Mata.

Dalam kesempatan tersebut Wagub JNS mengucapkan terima kasih kepada Presiden Jokowi atas sumbangan hewan kurban kepada masyarakat NTT pada perayaan Idul Adha 1441 Hijriyah. “Terima kasih kepada Bapak Presiden Jokowi yang telah memberikan perhatian yang begitu besar kepada Masyarakat NTT terlebih pada hari ini telah memberikan sapi satu ekor yang beratnya sangat luar biasa, dan masyarakat NTT memberikan salam hangat kepada Bapak Presiden, selamat Idul Adha, semoga Bapak diberi kesehatan yang prima untuk membangun nusa dan bangsa ini, serta selalu arif dan bijaksana dalam memimpin republik ini, terlebih dalam masa Covid ini,” kata Wagub JNS.

Lebih lanjut Wagub mengungkapkan, berkurban tidak harus dengan kegiatan formal seperti penyerahan hewan kurban secara simbolis. Esensi dari berkurban, kata dia, adalah memberi dan berbagi terhadap sesama dari kekurangan yang kita miliki.

Wagub Josef Nae Soi saat menyerahkan bantuan sapi kurban “Joni” dari Presiden Jokowi

“Idul Adha tidak harus sekedar kita merayakan penyembelihan hewan, tapi hewan yang kita sembelih itu harus sesuai dengan apa yang kita niatkan, kita berikan kepada Allah SWT, serta sebagai umat beriman kita juga harus dapat memberi kepada orang lain di saat kita sendiri miskin dan dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Agama,” jelas Wagub Nae Soi.

Di akhir sambutannya, pria asal Ngada tersebut tidak lupa memberi ucapan selamat kepada seluruh umat Muslim di NTT dalam merayakan Idul Adha 1441 H dan berharap agar momentum hari spesial ini dapat menjadi cambuk bagi kita semua untuk memperkuat spirit pengorbanan dan kepedulian demi mewujudkan NTT yang lebih baik lagi.

“Saya atas nama Pemerintah NTT, Gubernur NTT Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur NTT saya sendiri Josef Nae Soi mengucapkan kepada seluruh umat muslim di seluruh NTT Selamat Idul Adha, mudah-mudahan pengorbanan kita tidak hanya sampai di sini, tapi pengorbanan kita harus terus berlanjut ke depan, supaya kita dapat membangun NTT ini hari lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari pada hari ini,” pungkas Wagub Josef mengakhiri sambutannya.

Untuk diketahui bahwa Masjid Agung Al Baitul Qadim Air Mata merupakan Masjid Tertua di Pulau Timor yang sudah berdiri sejak tahun 1806 dan tercatat dalam 100 Masjid Tua bersejarah di Indonesia.

Tampak hadir pada kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Mohammad Ansor, Ketua MUI NTT, H. Abdul Kadir Makarim, Asisten III Administrasi Umum Setda NTT, Kosmas Lana, Pimpinan Perangkat Daerah lingkup Provinsi NTT, Staf Ahli Gubernur NTT, Samuel Pakereng; Ketua Yayasan Masjid Agung Al Baitul Qadim, H. Musa Imran beserta pengurus, insan pers dan undangan lainnya.(*)

Sumber berita dan foto (*/Humas dan Protokol Setda NTT)
Editor (+rony banase)