Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Prof. Dr. Cornelis Lay, MA. Duka Cita Bagi Guru, Sahabat, & Cendekiawan Soekarnois

Prof. Dr. Cornelis Lay, MA. Duka Cita Bagi Guru, Sahabat, & Cendekiawan Soekarnois

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 5 Agu 2020
  • visibility 93
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Hasto Kristiyanto

Berita pagi ini dari Mas Pratik, Menteri Sekretaris Negara tentang dipanggilnya Mas Conny kehadirat Ilahi begitu mengejutkan saya. Seluruh perasaan campur aduk: kesedihan, duka cita, dan sekaligus terbentanglah seluruh rekam jejak sejarah perjalanan bersama Sosok Cendekiawan Soekarnois yang begitu saya kagumi.

Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A. merupakan sosok akademisi yang mampu membuat sintesis yang tepat antara pemikiran Bung Karno dan jalan politik Megawati Soekarnoputri. Sintesis pemikiran yang lahir dari kesadaran untuk menjadikan politik sebagai keyakinan ideologis; politik sebagai dedikasi bagi kepentingan umum; politik sebagai kesabaran revolusioner untuk memperjuangkan sebuah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bebas dari berbagai belenggu penjajahan. Melalui sosok seperti Cornelis Lay, Ibu Megawati Soekarnoputri dapat berdialog berjam-jam, melakukan ‘recalling’ keseluruhan ide, gagasan, cita-cita, dan perjuangan Bung Karno yang dibumikan dalam alam kekinian. Keduanya secara intens membaca apa yang tidak tertulis, merasakan apa yang tidak tampak, dan mencari makna atas setiap peristiwa politik dengan “terang” pemikiran Bung Karno.

Ibu Megawati Soekarnoputri-Cornelis Lay, menjadi sahabat justru karena “sikap bebas” Cornelis Lay yang terus hadir sebagai sosok pemikir-intelektual. Ia tidak melibatkan diri dalam jabatan kekuasaan politik praktis. Ia lebih memilih berdedikasi di dalam mengurai dan memformulasikan sintesa setiap gagasan Bung Karno dalam praktik politik Megawati Soekarnoputri.

Tak heran, dalam setiap langkah, hingga jebakan politik yang sering diciptakan kala berhadapan dengan pemerintahan otoritarian Orde Baru, Ibu Megawati sering kali menempuh jalan diam. Diam sebagai strategi. Diam membangun ruang kontemplasi dan diam penuh kesabaran diri.

Dalam jalan diam itulah, Cornelis Lay hadir, dan menjadi teman, sahabat, sekaligus sparing-partner diskusi Ibu Megawati. Dalam diam itulah sosok Cornelis hadir dan bersama Megawati menggali pemikiran banyak tokoh, merasakan pemikiran itu dalam kesatuan akal budi dan hati.

Dalam periode 1998 hingga 2014, saya sering mendampingi, atau tepatnya mengantar Mas Conny ke Kebagusan, Teuku Umar dan di berbagai tempat, menjadi saksi atas dialog politik yang selalu terjadi dalam keheningan, sebab yang dibahas adalah masa depan negeri. Dalam keseluruhan perjalanan politik, saya sungguh bersyukur, bahwa saya berkesempatan mendapatkan “mutiara gagasan” yang ikut membentuk seluruh kesadaran ideologi, kesadaran politik, dan kesadaran berorganisasi, serta kesadaran berkebudayaan, yang di belakang hari begitu berguna dalam seluruh perjalanan politik saya di PDI Perjuangan.

Melalui Prof. Dr. Cornelis Lay pula, saya memahami keteguhan sikapnya untuk tetap berdiri pada jalan intelektual. Jalan yang menjaga jarak dengan politik, namun menceburkan diri dengan sikap “lepas-bebas” agar tetap bertahan pada obyektivitas dan mengawal kebenaran dalam politik. Apa yang dilakukan Mas Conny ini sejalan dengan sikap intelektual, yang berangkat dari makna ilmu pengetahuan yang digagas Bung Karno untuk diterapkan guna mengabdi pada perjuangan kemanusiaan.

Perjuangan politik kemanusiaan inilah yang terus digagas dan ditekuni oleh Mas Conny. Dengan demikian, penemuannya terhadap Jalan Ketiga Peran Intelektual sebagai Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan tidak terlepas dari dialog panjang, dan koneksitas gagasan Bung Karno yang dipraktikkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri.

Interaksi ilmu pengetahuan dan kekuasaan sebagaimana digagas Mas Conny, pernah disampaikan Bung Karno ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa Ilmu Hukum, 19 September 1951. Ilmu pengetahuan hanya berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi pada praktik hidupnya manusia, atau praktik hidupnya bangsa, atau praktik hidupnya kemanusiaan… Itulah sebabnya mengapa Bung Karno selalu mencoba menghubungkan ilmu dengan amal; menghubungkan pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuan ialah untuk perbuatan dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Buatlah ilmu berdwitunggal dengan amal!

Ilmu dan amal yang digaungkan Bung Karno, dalam praktik politik tidak mudah diimplementasikan. Apalagi ketika selama pemerintahan Orde Baru, dunia akademis sering digunakan untuk melegalisasi kebijakan pemerintah sehingga terjadi “kebekuan” antara dunia akademis dan politik pemerintahan.

Kejernihan Mas Conny terlihat ketika menyintesis pemikiran Bung Karno dengan praktik politik Megawati Soekarnoputri yang berupaya menegakkan prinsip bahwa ilmu pengetahuan dan kekuasaan politik harus berjalan seiring dalam bahasa kemanusiaan.

Ibu Megawati mengalami praktik-praktik politik kotor, homo homini lupus. Manusia dilihat sebagai serigala bagi sesamanya. Bahkan di era politik kontemporer saat ini, praktik menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan masih terus dilakukan. Aktor politik banyak melakukan pembunuhan karakter, fitnah, sampai pada penghilangan nyawa lawan politik sebagai satu hal yang biasa.

Refleksi kritis atas berbagai praktik politik kotor yang dialami Ibu Megawati dan PDI Perjuangan, bagi sosok Cornelis Lay menjadi api harapan bahwa jalan politik bukan semata-mata meraih kekuasaan tetapi bersatu dengan rakyat dalam bahasa kemanusiaan, sebab politik itu beradab.

Politik beradab dan jalan kemanusiaan itulah buah ‘dialog batin’ antara Ibu Megawati dan Mas Conny. “Sebagai politisi, setiap kader PDI Perjuangan harus kedepankan politik kemanusiaan, politik humanis, sebagai perwujudan ilmu dan amal”, ujar Mas Conny suatu ketika. Bahkan dalam suatu perjalanan pulang pasca ‘geger politik” Sidang Umum MPR 1999, ketika saya masih awam terhadap berbagai bentuk ‘penjegalan politik’, saya mencatat kata bijak sosok pemikir pejuang tsb: “antara pemilu legislatif dan apa yang terjadi di Sidang Umum MPR 1999 seharusnya merupakan satu nafas kehendak rakyat, one electoral processes. Etika dan moral kekuasaan politik inilah yang harus dipegang. Untuk apa sebuah kemenangan dalam kontestasi politik bila harus mengoyak rasa keadilan dan rasa kemanusiaan serta mengabaikan kehendak rakyat yang disuarakan melalui Pemilu. Maka politik tidak boleh kehilangan watak kemanusiaan itu”.

Jalan kemanusiaan adalah esensi pokok semangat pembebasan yang dikumandangkan oleh Bung Karno. Suatu jalan yang dipraktikkan dalam politik melalui cara berpikir dialektis, berpikir kritis. “Sebab yang diubah bukan hanya tatanan hidup, tetapi juga mentalitas, dan struktur sosial yang tidak adil”, kata mas Conny yang selalu merasuk dalam pikiran saya, membentuk landasan sikap ideologis dan jalan intelektual khas bagi sosok Cornelis Lay.

Karena itulah, saya tidak heran atas gagasan jalan ketiga peran intelektual yang digagas Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A. dalam pidato pengukuhan guru besar UGM tersebut. Ke semuanya bertopang dari daya kritisnya.

Melalui daya kritis dan tradisi intelektual yang sama, Mas Conny, memberikan pemaknaan secara akademis atas label melekat yang ditujukan ke PDI Perjuangan seperti demokrasi arus bawah, mimbar demokrasi, posko gotong royong, penggembira politik, hingga label PDI Perjuangan sebagai Partai Wong Cilik. Pemaknaan secara akademis tersebut menjadi basis intelektual atas proses konsolidasi demokrasi dan kristalisasi ideologi. Melalui dialog intens dengan Megawati, Cornelis Lay juga mampu mengurai kegelisahannya ketika berkiprah di dua bidang yang diperhadapkan-hadapkan. Ia adalah ilmuwan yang akrab dengan dunia politik. Penghayatannya pada ajaran-ajaran Bung Karno, dan pengalaman empiris selama berinteraksi dengan Ibu Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan membuktikan bahwa peran intelektual sangat dibutuhkan dalam melaksanakan kekuasaan. Akan tetapi watak dan cara kekuasaan yang terbentuk harus berinti pada kemanusiaan.

Pemikiran Mas Conny sangat kontekstual. Harus ada ruang tradisi intelektual dalam kekuasaan agar terjadi konvergensi antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang dipertemukan dalam bentuk pengabdian pada kemanusiaan. Jalan ketiga dalam politik Indonesia kontemporer bagi kaum intelektual sebenarnya mewujud pada diri Cornelis sendiri. Ia mampu memberikan warna intelektualisasi pada praktik politik di PDI Perjuangan. Di sisi lain, ia juga tidak kehilangan kekritisan akademis ketika berada di antara para politisi.

Kebebasan ruang gerak kaum intelektual ke dalam praktik politik Indonesia tanpa meninggalkan daya kritis keilmuan atau pun menggadaikan pemikiran demi kekuasaan akan menjadi gerbang bagi kebangkitan bangsa di masa depan. Sebab bangkitnya sebuah bangsa sangat ditentukan pada kemampuan menyinergikan kekuatan politik, kekuatan kaum intelektual, dan kekuatan masyarakat.

Kepada Mas Conny, seluruh kader PDI Perjuangan ikut menghayati apa yang menjadi pesan Bung Karno, bahwa dalam setiap perjuangan, pahit-getirnya perjuangan, seluruh romantika, dinamika, dan dialektikanya perjuangan, ke semuanya tidak ada yang sia-sia. Terlebih ketika perjuangan itu didedikasikan bagi kepentingan bangsa dan negara; kepentingan ilmu pengetahuan, dan kepentingan umat manusia pada umumnya. Maka tidak ada perjuangan yang sia-sia, no sacrife is wasted!.

Mas Conny, Bung telah memberikan cahaya terang bagi kehidupan politik yang mengedepankan jalan kemanusiaan. Terimalah rasa terima kasih kami, rasa hormat kami dari seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDI Perjuangan. Selamat jalan Mas Conny, engkau telah pergi, namun pemikiranmu akan semakin bersemi.(*)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Presiden Jokowi Rekayasa Cuaca Jangan Hujan Saat Gala Dinner G20

    Presiden Jokowi Rekayasa Cuaca Jangan Hujan Saat Gala Dinner G20

    • calendar_month Jum, 18 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Loading

    Nusa Dua, Garda Indonesia | Perhelatan G20 di Bali dilaksanakan saat musim hujan menjadi tantangan tersendiri, terutama acara jamuan makan malam bertempat di Garuda Wisnu Kencana (GWK) pada Selasa malam, 15 November 2022. Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo ketika bertemu beberapa pemimpin redaksi media nasional di Hotel Apurva Kempinski, Bali pada Kamis, 17 November […]

  • Jokowi dan PM Laos Bahas Pemberantasan Perdagangan Manusia

    Jokowi dan PM Laos Bahas Pemberantasan Perdagangan Manusia

    • calendar_month Rab, 10 Mei 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo bersama Perdana Menteri (PM) Laos, Sonexay Siphandone, menghela pertemuan bilateral di Hotel Meruorah, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Selasa, 9 Mei 2023. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas mengenai pentingnya peningkatan kerja sama untuk memberantas perdagangan manusia di kawasan ASEAN. “Kedua pemimpin […]

  • Presiden Jokowi & Ibu Negara Kunker ke Kepulauan Bangka Belitung

    Presiden Jokowi & Ibu Negara Kunker ke Kepulauan Bangka Belitung

    • calendar_month Kam, 14 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Loading

    Bangka Belitung, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Kamis, 14 Maret 2019, bertolak menuju Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dalam rangka kunjungan kerja. Keduanya lepas landas melalui Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta pada pukul 08.30 WIB dengan menggunakan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1. Setibanya di Bandar Udara Depati Amir, Kabupaten Bangka […]

  • Insiden ‘Force Down’, Menko Polhukam: Penting Ada Koordinasi Lintas Lembaga

    Insiden ‘Force Down’, Menko Polhukam: Penting Ada Koordinasi Lintas Lembaga

    • calendar_month Sab, 5 Sep 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menko Polhukam Mahfud MD menegaskan pentingnya koordinasi antara Kementerian dan Lembaga dalam penanganan pesawat udara yang dipaksa mendarat (force down). Karena itu, Kemenko Polhukam menginisiasi pembuatan Kesepakatan Bersama Penanganan Pesawat Udara Asing Setelah Pemaksaan Mendarat (Force Down). “Force down yang dilakukan TNI AU kepada Ethiopian Airlines pada 14 Januari 2019 yang […]

  • Pakai Teknologi Adaptif, Sistem Listrik Pulau Timor Lebih Stabil

    Pakai Teknologi Adaptif, Sistem Listrik Pulau Timor Lebih Stabil

    • calendar_month Sel, 17 Jun 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Loading

    Berbekal rampungnya implementasi adaptive defense scheme di seluruh gardu induk di Pulau Timor, PLN UP2B NTT berharap dapat mewujudkan sistem kelistrikan yang lebih tangguh dan efisien.   Kupang | PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) NTT melalui PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) NTT terus berinovasi untuk meningkatkan keandalan sistem jaringan listrik di Pulau […]

  • IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

    IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

    • calendar_month Jum, 18 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) Kupang melaksanakan Tanabae Festival 2019 yang merupakan wujud akuntabilitas publik dari tim IKKON kepada masyarakat Kota Kupang. Kegiatan yang dilangsungkan di alun-alun Subasuka Cafe and Restoran, dimeriahkan oleh pameran berbagai hasil kreasi kolaborasi IKKON Kupang dengan setiap stakeholder kreatif di Kota Kupang. […]

expand_less