Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » ‘Cut-Off’ Vitamin D

‘Cut-Off’ Vitamin D

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 3 Mar 2021
  • visibility 142
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Dahlan Iskan

Kenapa orang Indonesia banyak yang kekurangan Vitamin D? Padahal kita hidup di negara tropis? Yang lebih sering terkena sengatan sinar matahari?

Baru kemarin malam saya tahu jawabnya. Yakni ketika saya diminta jadi pembicara di pertemuan Zoom Diaspora Indonesia.

“Memang sinar matahari itu sumber Vitamin D. Tapi perlu protein tertentu yang bisa menjadi perantara. Agar sinar matahari itu benar-benar bisa menjadi vitamin D-3,” ujar dr. Roy Panusunan yang juga jadi salah satu pembicara.

Moderator forum Zoom ini beberapa orang. Satu di New York, Lia dan James Sundah. Satu di Austria, EA Adoracion. Satu lagi di Belanda, Sisca Hotrop dan Titiek van Houten, Lainnya di Jakarta. Pembicaranya banyak. Ada yang dari Atlanta (USA), Moskow (Rusia),  Washington DC, dan juga Shanghai.

Semua berbicara tentang pengalaman vaksinasi. Yang di Moskow mendapat vaksinasi merek Sputnik – bikinan Rusia. Tidak ada masalah. Tidak merasakan efek samping apa-apa.

Yang di Atlanta mendapat vaksin Moderna. Buatan Amerika. Juga tidak merasakan apa-apa. Hanya lengan kirinya sakit. Tidak bisa tidur miring ke kiri. Pun hari berikutnya sakit itu hilang. Padahal ia punya gula darah dan hipertensi – yang terkontrol karena disiplin minum obat.

Daniel Fu, orang Atlanta itu, juga baru menjalani operasi jantung – triple bypass. Yakni setelah ia kembali dari Jakarta. “Waktu di Jakarta saya banyak makan macam-macam,” kata Daniel.

Ia merasa tidak punya keluhan apa-apa. Olahraganya juga kuat. Menjelang kembali ke Amerika pundaknya terasa tegang –sampai ke punggung. Ketika tiba di Atlanta ia dipaksa istri untuk periksa ke dokter keluarga. Hasilnya: ia harus operasi bypass.

Intinya: vaksinasi ini aman. Pun bagi orang seperti Daniel.

Lia Sundah – moderator yang di New York – juga sudah suntik vaksin. Yakni di stadion Queen, New York. Yang melakukan penyuntikan adalah Marinir AS.

Lia mendapat vaksin Pfizer. Juga tidak mengalami masalah apa-apa.

Lia Sundah sudah 20 tahun di New York. Lia menjadi pengacara di sana. Lia memang Doktor Hukum lulusan Boston – meski lulus S-1 dari jurusan musik, juga di Boston.

Di New York Lia hidup bersama suami: James Sundah –pencipta lagu ”Lilin-Lilin Kecil” yang terkenal itu. Karena itu, di awal dan di akhir forum ini dimeriahkan oleh konser musik. Yang menampilkan lagu ciptaan James itu. Yang dinyanyikan oleh penyanyi dari banyak negara. Pemain musiknya pun dari segala macam penjuru dunia.

Lia sendiri ternyata anak tokoh pers senior saya: Aristides Katoppo – pemimpin redaksi harian Sinar Harapan. “Cita-cita awal saya memang menjadi wartawan. Ternyata jadi lawyer di New York,” ujar Lia.

Menurut dokter Roy, protein yang bisa mengubah sinar matahari menjadi Vitamin D-3 adalah yang datang dari susu, yogurt, atau mentega. “Di sinilah yang kita kurang. Mataharinya melimpah tapi minum susu atau yogurt-nya kurang,” ujar Roy.

Roy sendiri ahli hormon. Lulus S-1 dan S-2 dari Universitas Indonesia, Jakarta. Lalu mendalami hormon sampai ke Harvard Medical School, Boston.

Saat di Harvard itulah Roy tahu soal hubungan sinar matahari dengan protein dari susu. Banyak data ia pelajari. Mengejutkan. Terutama data mengenai orang Indonesia.

“Dari 1.000 orang Indonesia yang kekurangan Vitamin D sebanyak 950 orang,” katanya. Berarti hanya 50 orang yang vitamin D-nya cukup. Tentu termasuk istri saya. Yang tidak bisa minum susu. Yang level vitamin D-nya 55. Yang karena itu tidak tertular Covid dari saya.

Saya sendiri, saat terkena Covid, baru ketahuan: Vitamin D saya hanya 23,4. Bahkan anak wedok saya, Isna Iskan, payah sekali. Level vitamin D Isna hanya 16. Padahal dia itu gila sepeda. Praktis tiap hari menempuh jarak setidaknya 50 Km – kadang 150 Km.

Ternyata sinar matahari saja tidak cukup. Sinar itu harus diantarkan oleh protein susu agar bisa menjadi vitamin D.

Dokter Roy –alumnus SMAN 3 Jakarta itu– kini bekerja di RS Pertamina. Ia ingin agar suatu saat ditemukan cut-off Vitamin D khusus untuk orang Indonesia.

“Selama ini belum ada patokan berapa vitamin D minimal yang harus dimiliki orang Indonesia,” ujar dokter Roy.

“Kan minimal 40,” kata saya.

“Itu cut-off untuk orang kulit putih,” jawab dokter Roy. “Belum ditemukan berapa cut-off untuk orang Indonesia,” katanya. “Siapa tahu lebih rendah dari 40 itu,” katanya.

Tentu saya juga menunggu-nunggu laporan satu ini: apakah semua orang Indonesia yang terkena Covid itu level vitamin D-nya rendah. Kalau dibuka ke publik akan sangat membantu.

Tentu RS khusus Covid sudah menghimpun datanya.

Jam 00.00 forum Zoom ini baru ditutup. Saya sudah sangat mengantuk. Tapi yang di New York baru bangun pagi.(*)

Foto utama (*/istimewa)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perempuan Indonesia Harus Berani Bermimpi dan Mewujudkan Mimpi

    Perempuan Indonesia Harus Berani Bermimpi dan Mewujudkan Mimpi

    • calendar_month Rab, 3 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mendorong perempuan mengambil setiap kesempatan. Saat ini di Indonesia, akses dan manfaat pembangunan sudah semakin setara bagi perempuan dan laki-laki serta dijamin oleh Konstitusi Negara melalui Undang-Undang. Meski begitu, Menteri Bintang menuturkan di samping adanya akses dan kesempatan, terdapat faktor lain yang […]

  • Kasus KDRT Menurun, Kemen PPPA Konsisten Dorong Layanan Saat Pandemi

    Kasus KDRT Menurun, Kemen PPPA Konsisten Dorong Layanan Saat Pandemi

    • calendar_month Jum, 29 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Berada di rumah selama masa pandemik Covid-19 ternyata tidak menghilangkan risiko kekerasan bisa terjadi dalam rumah tangga. Meski laju pertumbuhan kekerasan terhadap perempuan (KtP) dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menunjukkan penurunan, namun kasus kekerasan masih terjadi dalam lingkup domestik. “Kelompok perempuan dan anak paling rentan mengalami kekerasan. Kondisi ini dapat […]

  • Radikalisme Kaum Intoleran Sudah di Depan Pintu Tapi Negara Masih Ragu

    Radikalisme Kaum Intoleran Sudah di Depan Pintu Tapi Negara Masih Ragu

    • calendar_month Ming, 9 Agu 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Rudi S Kamri Penyerangan yang berujung tiga orang luka di Mertodranan, Pasar Kliwon, Kota Solo yang terjadi pada Sabtu, 8 Agustus 2020, bagi saya adalah letupan kecil dari rentetan peristiwa tragis yang akan berujung pada pusaran bom waktu yang akan membelah negeri ini. Pembiaran yang selalu berulang terjadi semakin menahbiskan suatu realita bahwa negara […]

  • Bandara Ngurah Rai Diperketat, Kapolsek Udara Bantah Publisitas Media Asing

    Bandara Ngurah Rai Diperketat, Kapolsek Udara Bantah Publisitas Media Asing

    • calendar_month Sab, 8 Jun 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Loading

    Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Adanya pemberitaan media tentang peningkatan keamanan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pasca kejadian bom di Sukoharjo Jawa Tengah di salah satu media asing (The JP) termasuk berita lain yang sama dan viral di sosial media pada Rabu (5/6/19), dibantah keras oleh Kapolsek Udara Polresta Denpasar. Kapolsek Udara Polresta Denpasar, Kompol […]

  • Ongkos Politik dan Beban Kepemimpinan

    Ongkos Politik dan Beban Kepemimpinan

    • calendar_month Sen, 9 Sep 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Darius Beda Daton Rasanya berat mengharapkan suatu periode pemerintahan berjalan efektif jika ongkos politik secara finansial ketika pemilu begitu tinggi. Biasanya gotong-royong biaya dan itu akan berdampak pada penguasaan proyek, monopoli dagang, dominasi penguasaan arus barang dan jasa serta bagi-bagi jabatan. Begitu yang sudah dikeluarkan, setidaknya begitu pula gantinya. Istilahnya balik modal. Ini […]

  • Istana Berbatik di Kacamata Duta Besar Negara Sahabat

    Istana Berbatik di Kacamata Duta Besar Negara Sahabat

    • calendar_month Sel, 3 Okt 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Perhelatan Istana Berbatik di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada Minggu, 1 Oktober 2023, mengundang kesan menarik dari para peserta yang hadir. Di antaranya sejumlah duta besar negara sahabat yang juga turut memamerkan koleksi busana motif batik mereka di hadapan Presiden Joko Widodo. Duta Besar Fiji untuk Indonesia, Amenatave V. Yauvoli, menyampaikan […]

expand_less