Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » HAM (Hak Asasi Munarman) : Logika Akal Sehat & Logistik Akal Bulus

HAM (Hak Asasi Munarman) : Logika Akal Sehat & Logistik Akal Bulus

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 2 Mei 2021
  • visibility 89
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

Jangan heran kalau mereka yang membela Munarman di ruang publik atau media sosial itu tidak memedulikan HAM dari masyarakat yang tidak berdosa, yang kerap jadi korban aksi terorisme.

Mereka hanya peduli HAM versi mereka sendiri dengan menge-klaim bahwa cara penangkapan Munarman yang sampai ketinggalan sendalnya serta ditutup matanya itu berlebihan dan kurang kerja. Bagi mereka HAM adalah Hak Asasi Munarman!

Lha memang begitu ‘kan cara berpikir dan bersikapnya kelompok teroris. Kelompoknyalah yang memonopoli kebenaran menurut cara interpretasi mereka. Pokoknya semau-maunya sendiri.

Entah itu teroris yang pakai bom maupun teroris verbal yang bergerilya di media sosial untuk propaganda, menyebar kebohongan, dan intimidasi. Bahkan sampai ada yang bermisi untuk membunuh karakter seseorang.

Mereka yang membela Munarman seperti Fadli Zon, Andi Arief, Mardani Ali Sera, MCA, Amnesti Internasional, Komnas HAM dan Gerakan Pemuda Kristen (ini ormas apa?) dengan lantang membela Hak Asasi Munarman, Sang Penyiram. Di media sosial mereka ini akan dengan kepala batu alias ngeyel bin mbalelo bakal terus fokus pada segmen penggelandangan Munarman (isu sendal dan penutup mata). Walau penutup mata itu adalah SOP penangkapan seorang teroris. Dan Munarman memang ditangkap dengan sangkaan terorisme. Tentang itu mereka tidak akan peduli.

Dari pantauan narasi yang beredar di media sosial (medsos) dikabarkan ada kelompok yang memang dibayar untuk terus mengeyel membela Munarman dan terus menghajar Jokowi serta pendukungnya. BuzzeRp, istilahnya.

Rupanya Jokowi masih dianggap sebagai tonggak penghalang utama gerakan mereka. Mereka itu siapa dan gerakan apa? Ya siapa lagi kalau bukan bohir-bohir yang selama ini punya kepentingan dengan gerakan skenario hitam mereka. Apa skenario hitam itu?

Skenario hitam itu adalah rancangan mempertahankan hasil bancakan masa lalu, upaya melanggengkan bancakan masa kini (lewat penggarongan APBN, APBD, BUMN, Mafia Migas, Mafia Alkes, Mafia Impor, dan lain-lain) supaya bisa terus bertahan selama mungkin ke masa depan.

Mafia 3C-Plus (Cendana, Chaplin, Cikeas, Plus Oknum Parpol Penguasa) ini memang licin, laksana belut dilumuri oli. Mereka bergerak lewat berbagai antek-anteknya. Siapa antek-anteknya? Ya mereka yang barusan ditangkap serta mereka yang berkicau membela.

Gerakan radikalisme berbasis agama tertentu beserta derivatifnya dimanfaatkan (ditunggangi) oleh para gembong ini. Setidaknya mereka bisa saling berkelindan dengan prinsip simbiosis-mutualisme.

Selama saling menguntungkan mereka akan berkolaborasi, tatkala sudah tak dibutuhkan mereka tak sungkan-sungkan untuk saling tikam. Jangan pandang enteng, ditengarai bahwa para mafia ini juga punya jejaring di lembaga eksekutif, legislatif sampai yudikatif. Parpol-parpol pun dijadikan mabes (markas-besar) untuk menarik tali-tali (pulling the string) dari boneka-boneka Stromboli mereka yang sudah dipasang di berbagai pos (kementerian, pemda, BUMN, dan lain-lain).

Setoran dana preman sejak dulu sampai sekarang diduga mesti dan masih mengalir dan bermuara ke gembong mafia 3C-Plus. Ini semacam sistem upeti (tributary system) ala Kartel Kolombia sana.

Para mafia kelas yang lebih rendah kastanya seperti mafia petral, mafia bansos, mafia lelang jabatan, mafia impor (gula, jagung, kedelai, daging, bawang, garam, beras, alkes, minyak, dan lain-lain), mafia anggaran (APBN, APBD, Otsus), sampai ke ormas-ormas oportunis berbungkus jubah mesti ikut menari dalam irama genderang yang ditabuh para gembong mafia 3C-Plus. Dengan demikian mereka “terlindungi” oleh payung hitam para gembong.

Jadi bagaimana? Apa yang mesti kita lakukan?

Mesti ada disrupsi terhadap tatanan politik yang ada. Ya disrupsi politik, lantaran politiklah yang sementara ini jadi panglima, hukum adalah yang kedua, dan ekonomi di urutan ketiga. Politik, Hukum dan Ekonomi, segitiga emas pengendali jalannya Republik.

Lalu di mana publik? Bukankah dalam kata Republik (Res-Publica) itu artinya urusannya publik? Ya, publik bagi mereka adalah sekedar alat justifikasi eksistensi politik mereka, dan kemudian memperalat hukum dan ekonomi untuk menipu dan memeras mereka. Itu saja.

Fenomena Gus Dur adalah disrupsi pertama pasca-orba yang sayangnya hanya berjalan singkat lantaran konspirasi tatanan lama masih kuat untuk saling berkelindan untuk menjatuhkannya. Bacalah buku “Menjerat Gus Dur” yang ditulis oleh jurnalis Virdika Rizky Utama.

Disusul oleh fenomena Jokowi sebagai disrupsi kedua pasca-orba yang sukses memasuki periode keduanya yang seyogianya “tanpa beban” politik. Popularitas serta elektabilitasnya yang tinggi telah memaksa “Geng Anak Menteng” menyerah dan “membiarkan” Jokowi yang tampil, paling tidak untuk dua periode terakhir ini.

Namun, Jokowi mesti dengan cerdik berselancar di atas banyak jebakan-jebakan politik yang dipasang oposisi, maupun koalisi palsu alias musuh dalam selimut yang saat ini sedang fokus dengan Pemilu 2024 ketimbang tugas utamanya sebagai pembantu presiden.

Dengan taktis Jokowi – lewat berbagai instrumennya – mesti melawan siasat licik para gembong 3C-Plus ini. Ia memang mesti bermain cantik, sambil terus membakar semak para “anjing penggigit” (attacking dogs)-nya para gembong mafia politik ini (3C-Plus). Koruptor dana bansos maupun benur lobster yang nota-bene adalah kader parpol yang berada dalam jajaran kabinetnya pun disikat tanpa tedeng aling-aling. Itu sinyal keras yang dikirim Jokowi.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang Kristen itu dipasang oleh Jokowi untuk mendidik bangsa ini tentang esensi NKRI yang Bineka Tunggal Ika, sekaligus signal yang dikirim ke arah kelompok radikal bahwa ia tidak bisa didikte. Dan rupanya sang Kapolri baru ini juga cerdas dan berani, bersama panglima TNI ia sekarang bakal membabat habis kelompok-kelompok separatis yang dicurigai sengaja dipelihara oleh oknum-oknum tertentu lewat jejaring lokal maupun interlokal.

Jadi intinya, kita juga mesti cerdas dan berani. Jangan mau ikut menari dalam genderang yang ditabuh oleh gembong mafia politik itu. Mereka – lewat semua anteknya di lapangan – akan terus menyebar hoaks, ngeyel di media (medsos maupun mainstream).

Jadi, ya lawan terus, caranya? Caranya dengan terus menyebar kebenaran, dan tidak takut dengan intimidasi (teror) mereka. Karena mereka memang teroris (tukang teror), penebar ketakutan, lewat teror fisik maupun teror verbal.

Para penyebar hoaks ini memang tak perlu logika dan akal sehat, mereka hanya perlu logistik dan akal bulus.

Minggu, 2 Mei 2021

Penulis merupakan Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)

Foto utama (*/ilustrasi/google image)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • 34.000 PMI Pulang ke Tanah Air pada Mei & Juni 2020, Pemerintah Siapkan Skema

    34.000 PMI Pulang ke Tanah Air pada Mei & Juni 2020, Pemerintah Siapkan Skema

    • calendar_month Sen, 11 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo, saat memimpin rapat terbatas mengenai percepatan penanganan pandemi Covid-19, meminta jajarannya untuk menyiapkan skema khusus terkait kepulangan puluhan ribu pekerja migran Indonesia. Diperkirakan terdapat 34.000 Pekerja Migran Indonesia yang akan kembali ke Tanah Air pada Mei dan Juni mendatang. “Kepulangan pekerja migran Indonesia agar betul-betul berjalan dengan baik […]

  • Aktivitas di 36 Bandara Lancar Usai Libur Sekolah, Natal & Tahun Baru

    Aktivitas di 36 Bandara Lancar Usai Libur Sekolah, Natal & Tahun Baru

    • calendar_month Sen, 7 Jan 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Setelah menghabiskan waktu liburan sekolah yang bertepatan dengan masa Natal 2018 dan Tahun Baru 2019, Senin/ 7 Januari para pelajar akan kembali memulai kegiatan belajar mengajar. Aktivitas penumpang di 36 bandara terpantau cukup ramai namun berjalan lancar tanpa adanya kendala. Masa liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019 telah memasuki hari terakhir […]

  • BNN Provinsi NTT Kolaborasi Bea Cukai Tangkap Dua Tersangka Narkotika di Bajawa

    BNN Provinsi NTT Kolaborasi Bea Cukai Tangkap Dua Tersangka Narkotika di Bajawa

    • calendar_month Kam, 21 Okt 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (BNNP NTT) berkolaborasi dengan Bea Cukai mengungkap peredaran narkoba jenis ganja di Bajawa, Kabupaten Ngada pada Rabu, 29 September 2021 sekitar pukul 10.00 WITA Kerja kolaborasi tersebut diawali saat petugas BNN Provinsi NTT mendapat informasi dari masyarakat bahwa akan ada pengiriman narkotika diduga jenis […]

  • Wisuda Perdana UPG 45 NTT – Momentum Kebangkitan

    Wisuda Perdana UPG 45 NTT – Momentum Kebangkitan

    • calendar_month Jum, 28 Sep 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id – Wisuda Perdana UPG 1945 NTT yang dilaksanakan Jumat/28 September 2018 di Aula El Tari Kupang merupakan Momentum Kebangkitan Marwah (Kehormatan Diri) atau Ruh dari Semangat PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) yang sempat tercerai berai sepanjang 3 (tiga) tahun lalu saat proses transisi dari Universitas PGRI menjadi Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 NTT. […]

  • Bareskrim Polri Periksa Rocky Gerung

    Bareskrim Polri Periksa Rocky Gerung

    • calendar_month Sen, 4 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Bareskrim Polri memanggil pengamat politik Rocky Gerung, Senin (4/9). Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittpidum) Bareskrim akan meminta klarifikasi terhadap Rocky Gerung terkait penyelidikan dugaan penyebaran berita bohong. “Rencana hari ini, 4 September 2023, penyidik akan mengundang saudara Rocky Gerung untuk kami mintai keterangan klarifikasi,” kata Direktur Tipidum Bareskrim Polri Brigjen […]

  • KPK RI : ‘Konflik Kepentingan Pemicu Korupsi di Indonesia!’

    KPK RI : ‘Konflik Kepentingan Pemicu Korupsi di Indonesia!’

    • calendar_month Kam, 21 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Ketua KPK RI, Saut Situmorang mengajak para Bupati/Walikota se-NTT untuk menghindari conflict of interest atau konflik kepentingan dalam menjalankan pemerintahan. Korupsi tidak akan pernah selesai kalau kita tidak mau berubah. “Setelah pemimpin itu selesai dipilih oleh rakyat, berikutnya adalah urusan bapak (pemimpin) dengan Tuhan bapak. Tidak boleh ada yang ngatur-ngatur. […]

expand_less