Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » HAM (Hak Asasi Munarman) : Logika Akal Sehat & Logistik Akal Bulus

HAM (Hak Asasi Munarman) : Logika Akal Sehat & Logistik Akal Bulus

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 2 Mei 2021
  • visibility 38
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

Jangan heran kalau mereka yang membela Munarman di ruang publik atau media sosial itu tidak memedulikan HAM dari masyarakat yang tidak berdosa, yang kerap jadi korban aksi terorisme.

Mereka hanya peduli HAM versi mereka sendiri dengan menge-klaim bahwa cara penangkapan Munarman yang sampai ketinggalan sendalnya serta ditutup matanya itu berlebihan dan kurang kerja. Bagi mereka HAM adalah Hak Asasi Munarman!

Lha memang begitu ‘kan cara berpikir dan bersikapnya kelompok teroris. Kelompoknyalah yang memonopoli kebenaran menurut cara interpretasi mereka. Pokoknya semau-maunya sendiri.

Entah itu teroris yang pakai bom maupun teroris verbal yang bergerilya di media sosial untuk propaganda, menyebar kebohongan, dan intimidasi. Bahkan sampai ada yang bermisi untuk membunuh karakter seseorang.

Mereka yang membela Munarman seperti Fadli Zon, Andi Arief, Mardani Ali Sera, MCA, Amnesti Internasional, Komnas HAM dan Gerakan Pemuda Kristen (ini ormas apa?) dengan lantang membela Hak Asasi Munarman, Sang Penyiram. Di media sosial mereka ini akan dengan kepala batu alias ngeyel bin mbalelo bakal terus fokus pada segmen penggelandangan Munarman (isu sendal dan penutup mata). Walau penutup mata itu adalah SOP penangkapan seorang teroris. Dan Munarman memang ditangkap dengan sangkaan terorisme. Tentang itu mereka tidak akan peduli.

Dari pantauan narasi yang beredar di media sosial (medsos) dikabarkan ada kelompok yang memang dibayar untuk terus mengeyel membela Munarman dan terus menghajar Jokowi serta pendukungnya. BuzzeRp, istilahnya.

Rupanya Jokowi masih dianggap sebagai tonggak penghalang utama gerakan mereka. Mereka itu siapa dan gerakan apa? Ya siapa lagi kalau bukan bohir-bohir yang selama ini punya kepentingan dengan gerakan skenario hitam mereka. Apa skenario hitam itu?

Skenario hitam itu adalah rancangan mempertahankan hasil bancakan masa lalu, upaya melanggengkan bancakan masa kini (lewat penggarongan APBN, APBD, BUMN, Mafia Migas, Mafia Alkes, Mafia Impor, dan lain-lain) supaya bisa terus bertahan selama mungkin ke masa depan.

Mafia 3C-Plus (Cendana, Chaplin, Cikeas, Plus Oknum Parpol Penguasa) ini memang licin, laksana belut dilumuri oli. Mereka bergerak lewat berbagai antek-anteknya. Siapa antek-anteknya? Ya mereka yang barusan ditangkap serta mereka yang berkicau membela.

Gerakan radikalisme berbasis agama tertentu beserta derivatifnya dimanfaatkan (ditunggangi) oleh para gembong ini. Setidaknya mereka bisa saling berkelindan dengan prinsip simbiosis-mutualisme.

Selama saling menguntungkan mereka akan berkolaborasi, tatkala sudah tak dibutuhkan mereka tak sungkan-sungkan untuk saling tikam. Jangan pandang enteng, ditengarai bahwa para mafia ini juga punya jejaring di lembaga eksekutif, legislatif sampai yudikatif. Parpol-parpol pun dijadikan mabes (markas-besar) untuk menarik tali-tali (pulling the string) dari boneka-boneka Stromboli mereka yang sudah dipasang di berbagai pos (kementerian, pemda, BUMN, dan lain-lain).

Setoran dana preman sejak dulu sampai sekarang diduga mesti dan masih mengalir dan bermuara ke gembong mafia 3C-Plus. Ini semacam sistem upeti (tributary system) ala Kartel Kolombia sana.

Para mafia kelas yang lebih rendah kastanya seperti mafia petral, mafia bansos, mafia lelang jabatan, mafia impor (gula, jagung, kedelai, daging, bawang, garam, beras, alkes, minyak, dan lain-lain), mafia anggaran (APBN, APBD, Otsus), sampai ke ormas-ormas oportunis berbungkus jubah mesti ikut menari dalam irama genderang yang ditabuh para gembong mafia 3C-Plus. Dengan demikian mereka “terlindungi” oleh payung hitam para gembong.

Jadi bagaimana? Apa yang mesti kita lakukan?

Mesti ada disrupsi terhadap tatanan politik yang ada. Ya disrupsi politik, lantaran politiklah yang sementara ini jadi panglima, hukum adalah yang kedua, dan ekonomi di urutan ketiga. Politik, Hukum dan Ekonomi, segitiga emas pengendali jalannya Republik.

Lalu di mana publik? Bukankah dalam kata Republik (Res-Publica) itu artinya urusannya publik? Ya, publik bagi mereka adalah sekedar alat justifikasi eksistensi politik mereka, dan kemudian memperalat hukum dan ekonomi untuk menipu dan memeras mereka. Itu saja.

Fenomena Gus Dur adalah disrupsi pertama pasca-orba yang sayangnya hanya berjalan singkat lantaran konspirasi tatanan lama masih kuat untuk saling berkelindan untuk menjatuhkannya. Bacalah buku “Menjerat Gus Dur” yang ditulis oleh jurnalis Virdika Rizky Utama.

Disusul oleh fenomena Jokowi sebagai disrupsi kedua pasca-orba yang sukses memasuki periode keduanya yang seyogianya “tanpa beban” politik. Popularitas serta elektabilitasnya yang tinggi telah memaksa “Geng Anak Menteng” menyerah dan “membiarkan” Jokowi yang tampil, paling tidak untuk dua periode terakhir ini.

Namun, Jokowi mesti dengan cerdik berselancar di atas banyak jebakan-jebakan politik yang dipasang oposisi, maupun koalisi palsu alias musuh dalam selimut yang saat ini sedang fokus dengan Pemilu 2024 ketimbang tugas utamanya sebagai pembantu presiden.

Dengan taktis Jokowi – lewat berbagai instrumennya – mesti melawan siasat licik para gembong 3C-Plus ini. Ia memang mesti bermain cantik, sambil terus membakar semak para “anjing penggigit” (attacking dogs)-nya para gembong mafia politik ini (3C-Plus). Koruptor dana bansos maupun benur lobster yang nota-bene adalah kader parpol yang berada dalam jajaran kabinetnya pun disikat tanpa tedeng aling-aling. Itu sinyal keras yang dikirim Jokowi.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang Kristen itu dipasang oleh Jokowi untuk mendidik bangsa ini tentang esensi NKRI yang Bineka Tunggal Ika, sekaligus signal yang dikirim ke arah kelompok radikal bahwa ia tidak bisa didikte. Dan rupanya sang Kapolri baru ini juga cerdas dan berani, bersama panglima TNI ia sekarang bakal membabat habis kelompok-kelompok separatis yang dicurigai sengaja dipelihara oleh oknum-oknum tertentu lewat jejaring lokal maupun interlokal.

Jadi intinya, kita juga mesti cerdas dan berani. Jangan mau ikut menari dalam genderang yang ditabuh oleh gembong mafia politik itu. Mereka – lewat semua anteknya di lapangan – akan terus menyebar hoaks, ngeyel di media (medsos maupun mainstream).

Jadi, ya lawan terus, caranya? Caranya dengan terus menyebar kebenaran, dan tidak takut dengan intimidasi (teror) mereka. Karena mereka memang teroris (tukang teror), penebar ketakutan, lewat teror fisik maupun teror verbal.

Para penyebar hoaks ini memang tak perlu logika dan akal sehat, mereka hanya perlu logistik dan akal bulus.

Minggu, 2 Mei 2021

Penulis merupakan Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)

Foto utama (*/ilustrasi/google image)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bantuan Subsidi Upah Rp.2,4 Juta per Orang bagi 15,7 Juta Pekerja

    Bantuan Subsidi Upah Rp.2,4 Juta per Orang bagi 15,7 Juta Pekerja

    • calendar_month Kam, 27 Agu 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 42
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo resmi meluncurkan program stimulus ekonomi berupa Bantuan Subsidi Upah bagi para pekerja yang terdampak pandemi Covid-19. Peluncuran program tersebut digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2020. Dalam acara tersebut, turut hadir sejumlah perwakilan pekerja yang termasuk ke dalam 2,5 juta pekerja gelombang pertama yang akan […]

  • Gubernur NTT Ajak Masyarakat Lakukan Diversifikasi Pangan

    Gubernur NTT Ajak Masyarakat Lakukan Diversifikasi Pangan

    • calendar_month Sab, 28 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, mengajak masyarakat untuk melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pangan di kebun atau lahannya.Hal ini untuk menghindari ketergantungan pada salah satu pangan. “Kita harus melakukan diversifikasi atau penganekaragaman pangan. Kita berkewajiban mewujudkan penganekaragaman pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh kita, ” jelas Gubernur Viktor dalam sambutannya yang […]

  • GPB Tolak Kehadiran Habib Rizieq Shihab ke Kota Medan

    GPB Tolak Kehadiran Habib Rizieq Shihab ke Kota Medan

    • calendar_month Sel, 1 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Loading

    Medan, Garda Indonesia | Massa Gerakan Pemersatu Bangsa (GPB) ikut menyatakan menolak kehadiran Habib Rizieq Shihab (HRS) ke kota Medan. Penolakan ini disampaikan dalam bentuk aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Sumut jalan Imam Bonjol dan titik nol kota Medan di depan kantor pos besar, pada Selasa siang, 1 Desember 2020. GPB menilai kehadiran HRS […]

  • Nyepi–Hari Suci Umat Hindu di Bali

    Nyepi–Hari Suci Umat Hindu di Bali

    • calendar_month Ming, 14 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Loading

    Nyepi adalah hari raya Umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sari amerta air hidup. Untuk itu Umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Hari Raya Waisak, bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983. Makna Nyepi Nyepi […]

  • Korupsi Pengadaan Barang/Jasa, Bupati Banggai & 15 Orang Ditangkap KPK

    Korupsi Pengadaan Barang/Jasa, Bupati Banggai & 15 Orang Ditangkap KPK

    • calendar_month Sab, 5 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 61
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Komisi Pemberantasan Korupsi telah melakukan OTT (operasi tangkap tangan) atas dugaan tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji terkait pengadaan barang atau jasa di lingkungan pemerintah Kabupaten Banggai Laut Provinsi Sulteng TA 2020. “Dalam upaya pemberantasan korupsi, KPK berkomitmen melakukan penindakan secara tegas dan profesional,” ujar Ketua KPK Firli Bahuri, […]

  • PLN Jadi Keluarga Poco Leok, Bangun Geotermal dengan Ritual Adat Penti

    PLN Jadi Keluarga Poco Leok, Bangun Geotermal dengan Ritual Adat Penti

    • calendar_month Rab, 20 Nov 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Loading

    Dukungan masyarakat semakin menguat setelah ritual adat Penti ini, yang mengukuhkan PLN sebagai Ase Kae di sepuluh gendang yang tersebar di Poco Leok. Kehadiran masyarakat dalam prosesi ini menegaskan harapan agar pembangkit listrik berbasis panas bumi dapat segera terealisasi demi kesejahteraan dan kemajuan bersama.   Manggarai | Guna menjunjung tinggi dan menghormati adat istiadat di […]

expand_less