Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » ‘Hela Keta’ Tradisi Orang Timor Tengah Utara

‘Hela Keta’ Tradisi Orang Timor Tengah Utara

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sab, 17 Jul 2021
  • visibility 378
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Melkianus Nino

Hela Keta adalah sebutan bahasa Dawan Timor yang bermakna “buka jalan”. Hela Keta merupakan tradisi adat  istiadat orang Timor di wilayah administratif Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

‘Hela Keta’ sering diartikan oleh tua-tua adat sebagai simbol yang memiliki makna yang besar. Makna yang penting itu, sebagai lambang perkenalan dari hati ke hati. Tradisi adat yang turun – temurun dihelat dengan maksud untuk menyatukan dua insan (laki dan perempuan, red) untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.

Penyatuan ini, bermula dari satu kerja sama yang matang yakni kesepakatan di antara orang tua kedua belah pihak. Penentuan kesepakatan sudah diselenggarakan sebelum hari dan tempat perhelatan tradisi adat ‘Hela Keta’ dilangsungkan dengan satu tujuan yang sama, demi jalannya upacara adat ini.

Tradisi adat istiadat Orang Dawan yang satu ini tidak bisa ‘terlewatkan’ begitu saja karena memiliki makna adat yang sangat mendasar dan mendarah daging. Tempat berlangsung prosesi Hela Keta berada di sungai atau kali, di mana tradisi adat dilangsungkan.

Tradisi ini, sudah diawali dengan tahap perencanaan konsep pembicaraan berawal dari adat, gereja dan pemerintah. Ketiga tungku ini, diharuskan sejalan, searah sehingga penuh kesan bermakna.

Tradisi ‘Hela Keta’ akan menjadi cerita baru ketika mengingatkan pada pertemuan para tetuah adat. Konsep yang kompleks, menurut bahasa ibu masing- masing. Entah suku Dawan, Bunak, Tetun, Kemak dan daratan Flores lainnya. Tujuannya agar yang terdahulu (leluhur, red) dapat menyaksikan dari ‘Kegelapan’ serta menyetujui maksud dan tujuan.

Persetujuan yang tidak dengan kasat mata saat binatang (Babi, Ayam dan lainya, red) disembelih sebagai persembahan terlihat pada urat nadi atau ‘Lilo’ dengan sendirinya dapat diketahui oleh tua adat yang dipercaya. Pembiasaan ini, sudah menjadi satu garis  yang tidak terpisah-pisahkan.

Tradisi adat ‘Hela Keta’, sering dilangsungkan di sungai yang memiliki air mengalir, sebagai arti untuk melepas semua masa lalu sehingga jalan menjadi terbuka. Saat darah binatang yang disembelih ‘berderai’ yang pertama dan utama yakni dibuang pada air sungai yang mengalir, dengan maksud membuang semua keluh-kesah, kebimbangan, kebencian serta masa yang lalu. Biarkan terbawa arus air .

Tulisan ini, berangkat dari kehadiran pantauan jurnalis Garda Indonesia, saat menyaksikan perhelatan tradisi ‘Hela Keta’, bertempat di Sungai Ekafalo – Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Perhelatan upacara ada ‘Hela Keta’ dihadiri oleh kedua keluarga besar serta undangan lain. Beragam pertanyaan akan ‘membenak’ bakal turut keheranan mengikuti irama di tradisi adat ini.

Tradisi ‘Hela Keta’, akan menjadi satu-kesatuan yang tak dapat terpisahkan karena telah menganut satu pepatah ‘ Tak kenal maka tak sayang’. Pepatah yang  sudah menjadi populer dan tampak di situasi adat ‘Hela Keta’.

Cenderung akan menjadikan satu suasana yang hikmah, juga indah. Keindahan tampak dari selembar Selendang Tunbaba dijadikan pengalungan cinta. Niscaya kerinduan dari kedua keluarga besar akan menjadi cerita yang tak terlupakan di momen ‘Hela Keta (*)

Penulis merupakan Pegiat Literasi dan Jurnalis

Foto utama (*/istimewa koleksi pribadi)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pose Perempuan Berjilbab Hitam di Antara Bunga Pluralisme

    Pose Perempuan Berjilbab Hitam di Antara Bunga Pluralisme

    • calendar_month Sen, 17 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Marsel Robot Dua ahad lalu (Senin, 3 Februari 2020), Kota Bandung (Jawa Barat) tersedak. Sejumlah perempuan berjilbab hitam melakukan demo di depan Balai Kota Bandung. Perempuan-perempuan itu menolak Parade Lintas Agama yang saat itu rencananya diselenggarakan pada 15 Februari 2020 oleh Pemerintah Kota Bandung. Menurut mereka, Parade Lintas Agama mengandung pluralisme yang justru membahayakan […]

  • NTT Patut Waspada Meski Zona Hijau, Marius : Tren OTG Cenderung Naik

    NTT Patut Waspada Meski Zona Hijau, Marius : Tren OTG Cenderung Naik

    • calendar_month Ming, 26 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Provinsi NTT yang juga Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si. mengatakan, meski Provinsi NTT kembali ke jalur atau zona hijau karena pasien 01 telah sembuh. Namun masyarakat NTT diminta untuk tetap waspada. […]

  • Kolaborasi dengan Kalbe, 11 Provinsi Jadi Mitra Ekonomi Kementerian PPPA

    Kolaborasi dengan Kalbe, 11 Provinsi Jadi Mitra Ekonomi Kementerian PPPA

    • calendar_month Sen, 8 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pada momentum peringatan Hari Perempuan Internasional, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) dan PT Kalbe Farma, Tbk. melalui Fatigon meresmikan secara simbolis kolaborasi dalam mendukung “Perempuan Kebanggaan Indonesia, Perempuan Wirausaha” di Kantor Kemen PPPA Jakarta pada Senin, 8 Maret 2021. Kolaborasi yang didukung juga oleh UN Women, UNDP, dan […]

  • Ketika Para Penulis Belajar “Kudeta” Gaya Politisi

    Ketika Para Penulis Belajar “Kudeta” Gaya Politisi

    • calendar_month Ming, 1 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Denny Januar Ali RA Kartini sudah menulis sebelum tahun 1911. Di tahun itu, kumpulan suratnya diterbitkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Bung Karno sudah menulis di tahun 1917—1925. Tulisannya di era ini kemudian dibukukan dengan judul “Di bawah Bendera Revolusi.” Para penulis sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1911, 1917, seratus sepuluh […]

  • Warga muslim Bali Pertanyakan Konsep Pariwisata Halal Sandiaga Uno

    Warga muslim Bali Pertanyakan Konsep Pariwisata Halal Sandiaga Uno

    • calendar_month Sel, 26 Feb 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Loading

    Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Ide calon wakil presiden dari pasangan 02 Sandiaga Uno untuk mengembangkan pariwisata halal di Bali tidak hanya memantik penolakan dari para pelaku pariwisata, tetapi juga dari Warga Muslim sendiri. Salah satunya adalah Mohammad. Bakkri, tokoh komunitas muslim yang bermukim di Canggu, Kuta Utara. “Gak masuk akal ide- nya Pak Sandi itu,” […]

  • Presiden Macron Diduga Langgar Aturan Candi Borobudur

    Presiden Macron Diduga Langgar Aturan Candi Borobudur

    • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Loading

    Aksi yang sama juga dilakukan Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya. Ketiganya menginjak stupa untuk menyentuh patung Buddha. Aksi rombongan kenegaraan ini pun ramai jadi perbincangan di media sosial.   Magelang | Kunjungan Presiden Prancis, Emmanuel Macron beserta rombongan ke Candi Borobudur, Jawa Tengah; disoroti karena melanggar aturan. Seperti aksi merogoh stupa hingga tidak menggunakan […]

expand_less