Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Ekonomi dan Bisnis » Usai Bermitra Bank NTT, Perempuan di TTU Sarjanakan Anak

Usai Bermitra Bank NTT, Perempuan di TTU Sarjanakan Anak

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 29 Nov 2022
  • visibility 108
  • comment 0 komentar

Loading

Mama Yuliana Babu, usianya sudah mendekati senja. Kerutan di wajahnya seolah mengisahkan perjuangannya menghidupi keluarga kecilnya. Gerakannya gesit, dan sangat komunikatif saat diajak berdiskusi. Dia punya kisah sukses dan berdomisili di Desa Lemun, Kecamatan Miomafo Barat Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU).

Tanpa sungkan dia mengisahkan perjuangannya membina usahanya dari skala kecil, hingga kini. “Saya mulai usaha saya di tahun  2012. Saat itu saya produksi dan memasarkan dalam bentuk tradisional satu tahun kemudian, saya diajak Bank NTT mengikuti study banding di Malang,” ujarnya memulai diskusi pada Sabtu siang, 19 November 2022 di pusat penjualan UMKM Fularosa, Desa Eban.

Saat itu, juri Festival Desa Binaan Bank NTT dan Festival PAD Tahun 2022, Stenly Boymau sedang berkunjung ke sana untuk melakukan penjurian tahap kedua dan terakhir. Eban adalah satu dari empat desa lainnya di TTU yang menjadi peserta festival.

Bersama ibu-ibu lainnya, Mama Yuliana yang saat itu berkebaya biru tua dengan bawahan tais Timor,  tanpa sungkan menyampaikan pengalamannya berusaha. “Saya  buat berbagai macam kue,  keripik  pisang, keripik ubi dan lainnya. Suatu saat, saya dibawa oleh Pak Berty (Berty Nope, staf Bank NTT Cabang Kefamenanu) ke Malang untuk belajar tentang cara membuat keripik dan aneka usaha lain yang berkualitas,” jelasnya.

Ternyata itu adalah kali pertama dalam hidupnya bepergian dengan pesawat terbang. Di Malang-lah, dia belajar tentang kelebihan orang lain, lalu merombak cara kerjanya. “Kami bertemu dengan beberapa pelaku UMKM di sana yang juga buat keripik, mereka sudah pakai alat yang modern, irisan pisangnya sama dan pisang mereka pun besar-besar. Saya belajar di sana, sehingga sampai Eban, saya buat keripik yang kualitasnya sama. Tapi saya mau jujur, pisang di Timor sini enak-enak,” ujarnya tulus. Dia ke sana melakukan studi tiru mengenai pengolahan keripik, keripik talas, kacang telur, dan berbagai produk lainnya.

Bekal dari sanalah modal baginya sehingga kini usahanya semakin maju. “Usaha saya lebih berkembang, karena Bank NTT membantu kami dalam diklat, study banding, lalu packaging yang baik, bahkan Bank NTT memfasilitasi pembeli untuk datang dan belanja di kami,” jelas mama Yuliana lagi. Tanpa malu-malu, dia menambahkan bahwa Bank NTT sudah banyak membantu.

“Kami sangat senang, terlalu enak, karena mereka cari kasi kami pembeli,” imbuhnya tulus.

Kini usahanya sudah semakin berkembang, keripiknya diorder oleh banyak kalangan, begitu pula aneka kue. “Kami selalu puas karena jualan kami pasti laku. Bermitra dengan Bank NTT ini bagus karena setiap kali kalau ada pameran, kami dilibatkan. Barang-barang yang kami bawa selalu habis. Pokoknya habis semua,” ungkapnya.

Namun jangan dikira keberhasilannya saat ini datang dari proses yang mudah. Tidak. Dia memulainya dari bawah. Beberapa tahun lalu, dia  memiliki  seorang anak yang kuliah di Jogjakarta, dan sudah 3 (tiga) tahun tidak pulang ke kampung. Karena memang mereka tidak punya uang. Dan, tiga tahun pula mereka tidak pernah bertemu muka.

“Kami baru bisa bertemu saat saya dibawa ke Malang. Dibantu Bank NTT, anak saya datang dari Jogja, dan kami bertemu. Saya senang sekali,” ujar Mama Yuliana sosok yang tidak pernah lupa sejarah. Dia membukanya satu persatu, sembari berharap ada orang lain yang juga sukses melebihinya. Saat ini anaknya sudah menamatkan kuliahnya, dengan jurusan yang diambilnya bagus, tentang perbankan.

“Dia sudah pulang, belum dapat kerja sehingga bantu-bantu kami. Adik-adiknya yang lain juga sudah tamat sekolah, dan kami sudah agak ringan,” urainya masih dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya. Jika dulu, dia sering membuat kue, keripik dan aneka camilan lainnya yang dibawa  suaminya untuk jualan keliling kampung,

Kini, Bank NTT sudah menyiapkan sebuah pusat penjualan produk UMKM, namanya UMKM Fularosa, yang dibangun di atas tanah paroki setempat, tepatnya di Desa Eban, Miomafo Barat-TTU. Di lokasi inilah, ada harapan baru bagi mereka untuk menatap hari esok.

***

Eban memang memiliki koleksi perempuan-perempuan tangguh yang menjadi penopang ekonomi keluarga. Tak hanya Mama Yuliana, melainkan ada juga Mama Serofina Kolo. Dia baru saja bergabung dengan Bank NTT, dalam sebuah program kemitraan.

Perempuan bertalenta ini jago meracik jamu, dan banyak yang sudah merasakan keampuhan tangan dinginnya. “Saya berusaha sejak tahun 2005, dan usaha saya itu adalah jamu jahe kunyit instan, kunyit putih, saya produksi Minyak Gosok Asli Mutis, fermentasi anggur dari buah pisang maupun kulitnya,” tuturnya saat ditemui di Eban, 19 November kemarin.

Jamu dan minyak gosoknya sangat berkhasiat, dan bahkan dia memiliki banyak pelanggan tak saja di Eban melainkan Kefa serta kota-kota sekitarnya. Karena itu, ke depan dia akan mengajukan pinjaman dengan nominal yang lebih besar lagi, untuk mendukung usahanya. “Usaha ini saya semakin besar, banyak yang cocok dengan ramuan ini sehingga dengan bantuan Bank NTT, saya akan kembangkan lagi,” tegasnya menambahkan, dia yakin kalau Bank NTT akan membantunya memasarkan produk-produk yang dihasilkannya.

“Anak saya tiga orang sudah tamat SMA karena usaha ini, sehingga ke depan saya akan ambil pinjaman lagi. Tahap pertama saya dikasi modal usaha Rp5 juta, lalu tambah lagi Rp.15 juta. Saya mau usaha saya ini berhasil sehingga saya akan ambil lebih besar lagi.”

Jangan ditanya bagaimana cara melunasinya. “Terlalu bisa,” ujarnya singkat. Dia pun tertawa lepas, disambut anggukan sobatnya, Mama Yuliana yang berada persis di sampingnya.

Kini, UMKM Fularosa yang dibangun oleh Bank NTT, menjadi media penampung berbagai produk UMKM warga desa. Romo Ignas Kabosu, Pr., Romo Frengky Atitus, Pr., Leonardus Kefi selaku perangkat desa Eban, dan Ketua BPD Yuniperus Anin serta Rince Nesi selaku Kepala Capem Eban, hari itu ikut men-support mereka.

Sumber (*/Humas Bank NTT)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Magang Penggiat Literasi Nasional di Sabu Raijua pada 13—27 Agustus 2021

    Magang Penggiat Literasi Nasional di Sabu Raijua pada 13—27 Agustus 2021

    • calendar_month Sel, 10 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Loading

    Sabu Raijua-NTT, Garda Indonesia | Sabu Raijua di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperoleh kehormatan menjadi tuan rumah perhelatan Magang Penggiat Literasi Nasional di 9 provinsi dan 10 kabupaten di Indonesia di antaranya Bandung Provinsi Jawa Barat, Jepara Provinsi Jawa Tengah, Tegal Provinsi Jawa Tengah, Serang Provinsi Banten, Yogyakarta Provinsi DI Yogyakarta, Deli Serdang Provinsi […]

  • Prabowo Subianto Pakai IKN Tahun 2028

    Prabowo Subianto Pakai IKN Tahun 2028

    • calendar_month Ming, 3 Nov 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Loading

    Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, meminta agar pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara diselesaikan dalam waktu 4 (empat) tahun.   Jakarta | Pada retret Kabinet Merah Putih di Akademi Militer Magelang, Sabtu, 26 Oktober 2024, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengatakan Prabowo berharap kalau Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPR/MPR) RI tahun […]

  • Kapolri Usut Dugaan Kebocoran Putusan MK “Coblos Partai”

    Kapolri Usut Dugaan Kebocoran Putusan MK “Coblos Partai”

    • calendar_month Sen, 29 Mei 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo angkat bicara soal heboh seputar bocornya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait diterimanya gugatan sistem pemilu menjadi sistem proporsional tertutup atau dikenal dengan sebutan “Coblos Partai”. Kapolri telah mendapat instruksi langsung dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam), Mahfud MD, untuk mengusut dugaan kebocoran guna […]

  • Coffee Morning Tanpa Kopi

    Coffee Morning Tanpa Kopi

    • calendar_month Ming, 11 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase Pada perhelatan coffee morning di pagi hari, sering dijumpai panitia acara kerap tak menyediakan kopi. Aroma kopi di pagi hari diyakini dapat melecut ide hingga karya. Bagi Anda para penikmat kopi, pasti setuju kan? Layaknya acara coffee morning para wartawan bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena pada Sabtu pagi, […]

  • “7 Ritual Pagi” Agar Hari Anda Selalu Menyenangkan

    “7 Ritual Pagi” Agar Hari Anda Selalu Menyenangkan

    • calendar_month Sab, 18 Agu 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT (18/08/18) – Pagi hari sebagai awal yang baru bagi anda untuk memulai semua aktivitas. Tentunya anda butuh banyak hal positif, semangat, dan perasaan bahagia dalam menjalani hari. Berikut 7 tips yang perlu dilakukan agar perasaan anda tetap positif, penuh semangat, dan bahagia : 1. Bangun Tepat waktu Tidak ada hal yang benar-benar buruk selain […]

  • BPS: “Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) NTT 2017 Turun 6,98 persen“

    BPS: “Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) NTT 2017 Turun 6,98 persen“

    • calendar_month Sen, 3 Sep 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id– Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) merupakan indikator komposit/gabungan yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek demokrasi, yaitu: Kebebasan Sipil (Civil Liberty), Hak-Hak Politik (Political Rights), dan Lembaga-Lembaga Demokrasi (Institution of Democracy). Adapun metodologi penghitungan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) menggunakan 4 sumber data, yaitu : (1) […]

expand_less