Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Sensus Pertanian 2023 di Tengah Kinerja Pertanian Pasca-pandemi

Sensus Pertanian 2023 di Tengah Kinerja Pertanian Pasca-pandemi

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 11 Mei 2023
  • visibility 131
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Yezua H.F.H. Abel (Statistisi BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Sektor pertanian masih memegang peranan penting dan strategis dalam perekonomian Indonesia terlebih di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada beberapa alasan mengapa sektor pertanian disebut sebagai sektor yang penting dan strategis.

Pertama, kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, berdasarkan data PDB tahun 2022, sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 12,40 persen dari total PDB Indonesia di bawah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan.

Kedua, sekalipun hanya berkontribusi terhadap PDB di urutan ke-3, namun sektor pertanian merupakan sektor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Pada rilis data ketenagakerjaan kondisi  Agustus 2022, penduduk yang bekerja di sektor pertanian mencapai 28,60 persen, jauh melampaui sektor perdagangan sebesar 19,36 persen dan sektor industri pengolahan sebesar 14,17 persen.

Untuk provinsi NTT sendiri, sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar pertama di mana pada tahun 2022 kontribusi sektor pertanian mencapai 29,60 persen, di atas sektor jasa administrasi pemerintahan sebesar 12,82 persen dan konstruksi sebesar 10,20 persen. Nilai penting dan strategis dari sektor pertanian di Provinsi NTT juga terlihat dari serapan tenaga kerja sektor ini, di mana pada tahun 2022 jumlah penduduk NTT yang bekerja di sektor pertanian mencapai 49,36 persen, di atas industri pengolahan sebesar 11,43 persen dan perdagangan sebesar 11,03 persen.

Kinerja Sektor Pertanian Sebelum dan Selama Pandemi

Kinerja perekonomian secara nasional pada tahun 2017, 2018, dan 2019 masing-masing sebesar 5,07 persen, 5,17 persen, dan 5,02 persen. Kinerja perekonomian Provinsi NTT juga tumbuh sebaik tingkat nasional pada tahun 2017, 2018 dan 2019 tercatat masing-masing sebesar 5,16 persen, 5,11 persen dan 5,25 persen.

Kinerja sektor pertanian secara nasional pada tahun 2019 sebesar 12,72 persen di mana kontribusinya yang terus menurun, dibandingkan tahun 2017 dan 2018 masing-masing sebesar 13,16 persen dan 12,81 persen. Sementara, dari sisi laju pertumbuhan, sektor pertanian pada tahun 2017, 2018 dan 2019 tercatat masing-masing sebesar 3,92 persen, 3,89 persen dan 3,61 persen.

Pada tingkat Provinsi NTT, kontribusi sektor pertanian juga cenderung menurun pada tahun 2017, 2018, dan 2019 di mana kontribusinya masing-masing sebesar 28,81 persen, 28,34 persen, dan 27,93 persen.  Pertumbuhan sektor pertanian NTT sedikit berfluktuasi pada periode 2017, 2018 dan 2019 yang masing-masing tumbuh sebesar 4,88 persen, 2,94 persen dan 3,69 persen.

Pada awal 2020, perekonomian nasional dilanda badai pandemi global dengan menyebarnya virus Covid-19. Pembatasan pergerakan atau mobilitas penduduk, bahkan penutupan wilayah dilakukan untuk menghambat penyebaran Covid-19 yang mengakibatkan aktivitas ekonomi menurun drastis. Banyak perusahaan atau usaha yang kolaps bahkan tutup, hal ini tercermin dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2020 menjadi 2,97 persen.

Pandemi semakin dalam memukul perekonomian Indonesia pada triwulan II, III dan IV 2020 di mana secara berturut-turut pada ketiga triwulan tersebut pertumbuhan ekonomi terkontraksi sebesar -5,32 persen, -3,49 persen dan -2,17 persen.

Sektor pertanian tidak luput dari hantaman krisis ini, yang mana hal tersebut terlihat dari melambatnya pertumbuhan sektor ini pada triwulan I, II, III dan IV 2020 yang masing-masing sebesar 0,02 persen, 2,20 persen, 2,17 persen dan 2,63 persen, dari sebelumnya di triwulan IV 2019 tumbuh sebesar 4,25 persen.

Pada tingkat Provinsi NTT, pengaruh pandemi juga terlihat pada melambatnya perekonomian di triwulan I 2020 yang tumbuh melambat sebesar 2,98 persen dibanding sebelumnya triwulan IV 2019 yang tumbuh sebesar 5,62 persen. Dampak pandemi semakin dalam terasa di triwulan berikutnya, hal tersebut terlihat dari pertumbuhan ekonomi NTT yang terkontraksi pada triwulan II, III dan IV tahun 2020 masing-masing sebesar -1,97 persen, -1,75 persen dan -2,28 persen.

Pada sektor pertanian dampak pandemi baru terlihat pada triwulan II 2020  pertumbuhannya mengalami kontraksi -0,33 persen, sebelumnya pada triwulan I masih tumbuh positif sebesar 3,11 persen. Pada triwulan III dan IV 2020 kembali tumbuh meskipun melambat sebesar 0,55 persen, dan 0,93 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki ketahanan yang cukup menghadapi pandemi yang meningkat pada tahun 2020.

Seiring dengan menurunnya kasus Covid-19 pada periode 2021 dan 2022, maka perekonomian nasional maupun Provinsi NTT mulai kembali menggeliat.  Di Provinsi NTT, kinerja perekonomian pada tahun 2021 juga tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, di mana pada triwulan I, II, III dan IV 2021 tumbuh masing-masing sebesar 0,23 persen, 4,32 persen, 2,36 persen dan 3,10 persen. Sektor pertanian juga terus meningkat kinerjanya pada tahun 2021, pada triwulan I, II, III dan IV masing-masing tumbuh sebesar 10,57 persen, 3,54 persen, 4,18 persen dan 2,01 persen.

Memasuki tahun 2022, kasus Covid-19 sudah jauh menurun, sehingga berdampak positif terhadap proses pemulihan kinerja perekonomian baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat provinsi, termasuk peningkatan pada kinerja sektor pertanian. Pada tingkat nasional hal itu terlihat secara keseluruhan, ekonomi tumbuh sebesar 5,31 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2021 yang tumbuh 3,27 persen dan tahun 2020 yang terkontraksi -2,07 persen.

Sektor pertanian secara nasional juga tumbuh 2,25 persen pada tahun 2022, lebih tinggi dari tahun 2021 yang sebesar 1,87 persen dan tahun 2020 yang terkontraksi sebesar -1,77 persen.

Pada tingkat Provinsi NTT pada tahun 2022 ekonomi juga tumbuh secara keseluruhan sebesar 3,51 persen, lebih tinggi dari tahun 2021 yang tumbuh sebesar 2,52 persen, dan lebih tinggi dari tahun 2020 yang terkontraksi sebesar -0,84 persen. Sementara, kinerja sektor pertanian pada tahun 2022 tumbuh sebesar 3,77 persen, melambat dibandingkan tahun 2021 yang tumbuh sebesar 4,93 persen, namun lebih baik dibanding tahun 2020 sebesar 1,00 persen.

Sensus Pertanian di Tengah Kinerja Sektor Pertanian Pasca-pandemi 

Pada tahun 2023, perekonomian Indonesia dihadapkan dengan berbagai dinamika global termasuk perang Rusia-Ukraina yang masih berlanjut. Ketidakpastian menjadi pengingat Indonesia untuk tidak saja optimis, namun juga waspada dalam menjaga perekonomian domestik. Beberapa Lembaga internasional memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Misalnya Asian Development Bank (ADB) memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia 2023 menjadi 4,8 persen secara tahunan (year on year/yoy). Proyeksi ini menurun dibandingkan target sebelumnya di kisaran 5 persen. (Sumber:

https://www.inews.id/finance/makro/outlook2023prospekekonomiindonesiaditengahancamanresesidunia)

Di triwulan I 2023, pada tingkat nasional ekonomi tumbuh sebesar 5,03 persen, dan sektor pertanian tumbuh 0,34 persen. Kinerja ekonomi nasional pada triwulan I hanya meningkat sedikit dibandingkan triwulan IV 2022 yang tumbuh sebesar 5,01 persen, bahkan kinerja sektor pertanian melambat jauh dibandingkan triwulan IV 2022 yang tumbuh sebesar 4,51 persen

Di Provinsi NTT, pada triwulan I 2023 ekonomi tumbuh lebih lambat dibanding nasional yaitu sebesar 3,05 persen dan sektor pertanian tumbuh sebesar 3,68 persen. Kinerja ekonomi NTT pada triwulan I 2023 ini sedikit lebih lambat dibandingkan dengan triwulan IV 2022 yang tumbuh sebesar 3,45 persen, begitu juga pada sektor pertanian melambat dibandingkan triwulan IV 2022 yang tumbuh sebesar 4,53 persen.

Capaian pertumbuhan ekonomi nasional maupun Provinsi NTT belum bisa dikatakan sepenuhnya kembali normal. Secara nasional capaian di triwulan I 2023 ini memang lebih tinggi dibandingkan kinerja sebelum krisis di triwulan IV 2019 yang tumbuh sebesar 4,96 persen, akan tetapi capaian ini dinilai pengamat lebih disebabkan karena masih berlanjutnya faktor low base effect yang cukup dalam di tahun 2020 yang lalu. Sementara di Provinsi NTT, kinerja ekonomi pada triwulan I 2023 masih lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2019 yang tumbuh sebesar 5,62 persen, menandakan bahwa kegiatan ekonomi di NTT belum kembali normal seperti pada masa sebelum pandemi.

Di tengah potensi ketidakpastian global dan kinerja sektor pertanian yang belum sepenuhnya pulih, Badan Pusat Statistik (BPS) pada periode Juni – Juli 2023 akan melaksanakan Sensus Pertanian yang merupakan kegiatan sensus 10 tahunan yang diamanahkan oleh Undang-undang Statistik Nomor 16 Tahun 1997.

Sensus Pertanian Tahun 2023 atau disingkat dengan ST2023 akan mencakup seluruh usaha pertanian perorangan, perusahaan pertanian yang berbadan hukum, dan usaha pertanian lainnya. ST2023 akan memutakhirkan banyak sekali informasi tentang sektor pertanian, mulai dari luas lahan dan tipe kepemilikan, lahan beririgasi, penggunaan pupuk dan pestisida, dan lain-lain.

Untuk itu, keterlibatan dan dukungan dari berbagai pihak akan menjadi faktor penentu keberhasilan ST2023 ini.

Mari, kita sukseskan ST2023 untuk pembangunan pertanian yang berkelanjutan di Indonesia dan khususnya di Provinsi NTT.(*)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Cerita Pilu Yuliana Wulla Bulu” – Pengelola Panti Asuhan Syalom

    “Cerita Pilu Yuliana Wulla Bulu” – Pengelola Panti Asuhan Syalom

    • calendar_month Sen, 30 Jul 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 272
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id – Pengelola Panti Asuhan Syalom Kupang, Yuliana Wulla Bulu kepada gardaindonesia.id bercerita pilu tentang kondisi yang dihadapinya dalam mengelola dan mengurus 48 (empat puluh delapan) anak panti; kisaran umur 4—18 tahun (ada yang belum bersekolah; [ada yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA], 4 (empat) anak kuliah di Poltek, 1 (satu) […]

  • Kapal Tenggelam di Selat Pukuafu, 2 Anak Tewas & 8 Orang Belum Ditemukan

    Kapal Tenggelam di Selat Pukuafu, 2 Anak Tewas & 8 Orang Belum Ditemukan

    • calendar_month Ming, 5 Jul 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kasus kecelakaan laut di perairan Selat Pukuafu, dialami oleh Perahu Lempara [perahu penangkap ikan] “Kasih 25” milik Yos Doro beralamat di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Lampara [perahu penangkap ikan] tersebut berangkat dari pelabuhan laut Tablolong sekira pukul 09.00 WITA dengan tujuan ke pulau Pulau Rote, setibanya di perairan […]

  • PLN Pasang Listrik Gratis 2.821 Keluarga Prasejahtera

    PLN Pasang Listrik Gratis 2.821 Keluarga Prasejahtera

    • calendar_month Kam, 21 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Loading

    Dukungan juga datang dari Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos. Menurutnya, Light Up The Dream merupakan program yang sangat positif dari seluruh pegawai PLN untuk masyarakat Indonesia.   Jakarta | PT PLN (Persero) memberikan kado spesial bagi masyarakat di Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia dengan menyalurkan bantuan sambungan listrik gratis kepada 2.821 keluarga […]

  • Hujan Lebat Masih Berlanjut 5 Hari Kedepan,Waspada Banjir & Longsor

    Hujan Lebat Masih Berlanjut 5 Hari Kedepan,Waspada Banjir & Longsor

    • calendar_month Kam, 15 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memonitoring dan menganalisis curah hujan yang menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia telah diguyur hujan selama beberapa pekan terakhir yang menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan puting beliung. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Prabowo (Kamis,15/11/18), menjelaskan bahwa dalam 5 (lima) hari ke depan berdasarkan […]

  • Bank NTT & PT Talasi Teken MoU Ciptakan Aplikasi Bagi Petani

    Bank NTT & PT Talasi Teken MoU Ciptakan Aplikasi Bagi Petani

    • calendar_month Sel, 20 Des 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Waitabula, Garda Indonesia | Pada Senin siang, 19 Desember 2022 di kawasan produksi PT. Talasi Tru Origin di Jalan Rumah Budaya Wee Londa, Kecamatan Kota Tambolaka, Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); berlangsung penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara PT. Talasi Tru Origin dengan Bank NTT. Hadir saat itu, Gubernur NTT Viktor Bungtilu […]

  • Gempa Bumi M 4.5 Guncang Flores Timur, Tidak Berpotensi Tsunami

    Gempa Bumi M 4.5 Guncang Flores Timur, Tidak Berpotensi Tsunami

    • calendar_month Sen, 4 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Flores Timur, pada hari Senin, 04 Maret 2019. Hasil analisis BMKG menunjukan bahwa gempa bumi terjadi pada pukul 06:51:47 WITA dengan kekuatan M=4.5 Skala Richter dengan episenter terletak pada koordinat 8.13 LS dan 122.95 BT atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 20 km Barat Laut […]

expand_less