Pandji Pragiwaksono Dikecam Gegara Jadikan Adat Toraja Candaan
- account_circle melihatindonesia
- calendar_month Rab, 5 Nov 2025
- visibility 345
- comment 0 komentar

![]()
Pernyataan Pandji itu memicu kemarahan Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI). Ketua PMTI Makassar, Amson Padolo, menilai materi tersebut tidak pantas dan melukai hati masyarakat Toraja.
Toraja | Komika Pandji Pragiwaksono menuai kecaman setelah potongan video stand up comedy-nya yang menyinggung adat Toraja, Rambu Solo, viral di media sosial. Dalam video itu, Pandji menyebut banyak warga Toraja jatuh miskin karena memaksakan diri menghelat pesta kematian, bahkan menggambarkan jenazah keluarga yang belum dimakamkan dibiarkan di ruang tamu, tepat di depan televisi.
“Di Toraja, kalau ada keluarga yang meninggal pemakaman pakai pesta yang mahal sekali. Bahkan banyak orang Toraja yang jatuh miskin habis bikin pesta untuk pemakaman keluarganya,” ujar Pandji dalam video tersebut.
“Dan banyak yang ga punya duit untuk pemakaman, akhirnya jenazahnya dibiarkan begitu saja. Ini praktik umum. Jenazahnya ditaruh saja di ruang TV di ruang tamu begitu. Kalau untuk keluarganya sih biasa saja ya, tapi kalau ada yang bertamu kan bingung ya. Menonton apa pun di TV berasa horor,” lanjutnya disambut tawa penonton.
Pernyataan Pandji itu memicu kemarahan Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI). Ketua PMTI Makassar, Amson Padolo, menilai materi tersebut tidak pantas dan melukai hati masyarakat Toraja.
“Kami sangat menyayangkan seorang tokoh publik berpendidikan seperti Pandji menjadikan adat Toraja sebagai bahan lelucon,” kata Amson, dikutip dari detikSulsel, Senin, 3 November 2025.
Amson menegaskan ada dua hal yang menyinggung masyarakat Toraja. “Pertama, pernyataannya bahwa banyak warga Toraja jatuh miskin karena pesta adat. Kedua, anggapan bahwa jenazah disimpan di ruang tamu atau depan TV. Itu tidak benar dan sangat menyinggung,” tegasnya.
Ia menjelaskan, dalam tradisi Toraja, jenazah disemayamkan di ruang khusus jika keluarga belum siap menghelat Rambu Solo, bukan di ruang tamu.
“Sementara, kalau keluarga memang belum mampu, akan ada kesepakatan bersama untuk memakamkan. Tidak pernah ada yang menaruh jenazah di depan TV,” terangnya.
Amson menuntut Pandji bertanggung jawab moral dan meminta maaf secara terbuka. “Kami menuntut Pandji meminta maaf secara terbuka. Ini bukan hanya soal satu suku, tapi pelajaran bagi semua pihak agar tidak seenaknya mempermainkan budaya orang lain, sekalipun dalam konteks humor,” ujarnya.
Menurutnya, humor seharusnya digunakan untuk membangun kesadaran, bukan memperkuat stereotip. “Tidak semua hal bisa dijadikan bahan tertawaan. Bagi kami, ini bukan lucu, ini menyakitkan. Apalagi diucapkan oleh publik figur,” ucap Amson.
Ia menegaskan bahwa Rambu Solo bukan pesta kemewahan, melainkan penghormatan terakhir bagi yang meninggal. “Esensi Rambu Solo itu penghormatan kepada orang tua atau kerabat yang telah meninggal. Ini adalah bentuk akulturasi antara ajaran Aluk Todolo dan nilai kekristenan. Bukan soal pesta atau kemewahan, tapi rasa hormat dan cinta kasih,” tuturnya.
Amson juga menyoroti bahwa budaya Toraja telah mendunia dan bahkan UNESCO menempatkan kawasan Toraja sebagai warisan budaya takbenda dunia.
“Pandji seharusnya memahami konteks ini sebelum melontarkan candaan yang justru melukai perasaan banyak orang,” tambahnya.
Kecaman serupa datang dari Anggota Komisi I DPR RI, Frederik Kalalembang, yang menyayangkan isi candaan Pandji. “Kalau benar video tersebut, sangat disayangkan karena bisa merembet ke mana-mana. Apalagi dijadikan guyonan atau olok-olokan. Kita tunggu saja keterangan resmi dari yang bersangkutan,” ujarnya.
Frederik mengatakan akan mengundang Pandji untuk memberikan klarifikasi. Ia menegaskan tidak ada orang Toraja yang jatuh miskin karena adat. “Tidak ada orang Toraja menjadi miskin karena menghargai leluhurnya dan memegang teguh adat,” katanya.
“Kalau dikatakan horor, itu karena melihat sepihak. Apakah orang tua kita yang ada di rumah menantikan acara pelepasan harus ditakuti? Tentu tidak,” sambungnya.
Sementara itu, Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, juga turut mengecam. “Ini sesuatu yang benar-benar menyinggung kami orang Toraja. Jadi ini harus menjadi pembelajaran dan perenungan bagi pekerja seni, khususnya pelawak atau komika,” ujarnya.
Frederik menilai Pandji seharusnya melakukan riset sebelum membawakan materi tentang budaya. “Di Indonesia ada Kementerian Kebudayaan, itu menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap budaya, maka jangan jadikan budaya bahan lelucon,” tegasnya.
Ia bahkan mengundang Pandji datang langsung ke Toraja Utara untuk memahami adat secara benar. “Kami di Toraja Utara mengundang Pandji ke Toraja Utara supaya lebih mengenal budaya Toraja daripada keliru menyampaikan. Saya siap mengajak berkeliling, tidak benar bahwa kami seram,” ujarnya.
Hingga kini, Pandji Pragiwaksono belum memberikan klarifikasi atau permintaan maaf atas desakan masyarakat dan pejabat Toraja.(*)
- Penulis: melihatindonesia
- Editor: Roni Banase











Saat ini belum ada komentar