Bobby Nasution Respons Viral Banjir Kayu Gelondongan Terjang Sumut
- account_circle Penulis
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 109
- comment 0 komentar

![]()
Banjir bandang yang melanda Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga memang terlihat membawa tumpukan kayu gelondongan, memicu dugaan warganet soal praktik ilegal logging.
Medan | Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution buka suara soal viralnya kayu gelondongan yang terbawa banjir bandang di berbagai daerah Sumut. Ia mengatakan akan mengecek langsung temuan tersebut.
“Ya nanti kita lihat ya (soal banyaknya gelondongan kayu),” kata Bobby di Lanud Soewondo Medan, Kamis, 27 November 2025. Ia menegaskan fokus utama saat ini adalah evakuasi dan percepatan distribusi logistik bagi warga terdampak, termasuk kebutuhan bayi seperti pampers.
Banjir bandang yang melanda Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, hingga Sibolga memang terlihat membawa tumpukan kayu gelondongan, memicu dugaan warganet soal praktik ilegal logging.
Bobby menetapkan status tanggap darurat banjir, longsor, dan gempa bumi di Sumut melalui Keputusan Gubernur Nomor 188.44/836/KPTS/2025, berlaku 27 November–10 Desember 2025 dan dapat diperpanjang.
Instansi terkait diminta segera melakukan langkah penanggulangan. “Melalui SK Gubernur ini diharapkan seluruh instansi/perangkat daerah mengambil langkah yang dibutuhkan untuk menanggulangi bencana alam yang terjadi,” kata Kadis Kominfo Sumut, Erwin Hotmansyah Harahap.
Hingga 27 November 2025, bencana ini telah menelan 48 korban jiwa dan 88 orang hilang, tersebar di Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Pakpak Bharat, Nias Selatan, Sibolga, dan Padangsidempuan. BNPB menambahkan empat korban meninggal di Humbang, total lebih dari 1.168 warga mengungsi dan 81 luka-luka.
Di Tapanuli Utara, jumlah meninggal bertambah menjadi 11 orang, dengan 35 warga masih hilang. “Masih ada 17 lokasi longsor yang sedang kita bersihkan,” kata Aiptu Walpon Baringbing.
Polda Sumut melaporkan total 62 korban meninggal, 33 di antaranya dari Sibolga, serta 65 orang hilang. Ada 367 titik bencana akibat banjir dan longsor.
Di Aceh Tenggara, banjir merendam 16 kecamatan dan 98 desa, menyebabkan 1.879 jiwa terdampak, 23 hilang, dan banyak akses serta jaringan internet terputus. Situasi serupa terjadi di Bireuen, dengan tiga korban meninggal dan jembatan Krueng Peusangan terputus.
Di Sumatra Barat, banjir merendam 11 kecamatan di Padang Pariaman, berdampak pada 10.575 penduduk, dengan satu warga hilang setelah terseret arus saat jembatan ambruk.
Meluasnya dampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar membuat sejumlah anggota DPR mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional. Kerusakan besar, korban yang terus bertambah, serta komunikasi yang terputus menjadi alasan utama.
Terpisah, Anggota Komisi V DPR, Ruslan M Daud mengatakan negara harus hadir lebih cepat, sedangkan Hinca Panjaitan menyebut belum jelas alasan pemerintah belum menaikkan status bencana. “Meski belum nasional, saya berharap all out dan memberikan penyelamatan maksimal,” ujarnya.(*)
- Penulis: Penulis
- Editor: Roni Banase
- Sumber: melihatindonesia











Saat ini belum ada komentar