Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Aceh Resmi Minta Bantuan Dunia Internasional

Aceh Resmi Minta Bantuan Dunia Internasional

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Rab, 17 Des 2025
  • visibility 515
  • comment 0 komentar

Loading

Mualem sepertinya “geram” dengan pemerintah pusat. Para profesor Aceh sampai kirim surat terbuka ke Prabowo. Status darurat nasional dianggap masih belum penting. Dengan sikap gagah, Sang Gubernur Aceh secara resmi minta bantuan internasional.

Aceh akhirnya melakukan sesuatu yang oleh sebagian orang disebut “berani”, oleh sebagian lain disebut “nekat”, dan oleh warga pengungsian disebut “alhamdulillah, akhirnya ada yang berpikir jauh.” Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem, di tengah lumpur setinggi lutut, listrik putus-putus, dan angka korban yang naik seperti grafik saham gorengan, mengirim surat ke UNDP dan UNICEF. Bukan surat cinta, bukan surat keluh kesah, tapi surat yang isinya kira-kira begini: dunia, tolong lihat kami, ini bukan banjir biasa, ini kiamat versi basah.

Mari kita jujur. Kalau korban sudah tembus 1.030 jiwa, pengungsi mendekati angka satu kota kecil, dan longsor masih hobi turun tiap hujan, lalu masih ada yang bertanya, “Kenapa minta bantuan internasional?” itu bukan pertanyaan kritis, itu pertanyaan dari orang yang rumahnya masih kering dan sinyal Wi-Fi-nya lancar. Bagi Aceh, banjir bandang dan longsor ini bukan sekadar bencana alam, ini paket kombo: air, lumpur, trauma sejarah, dan administrasi yang jalannya pakai sandal jepit putus.

Mualem tahu betul, Aceh punya memori kolektif bernama tsunami 2004. Memori itu bukan kenangan Instagram, tapi luka yang masih nyeri kalau ditekan sedikit. Saat itu, dunia datang, PBB datang, lembaga internasional datang, dan Aceh bangkit. Ketika hari ini Aceh kembali berdarah, secara harfiah dan sosial, logikanya sederhana, kalau dulu berhasil dengan solidaritas global, kenapa sekarang harus sok kuat sendirian?

UNDP diminta bukan buat pasang baliho motivasi, tapi buat berpikir pembangunan berkelanjutan yang waras, rekonstruksi yang tidak asal tambal, dan memperkuat pemerintah daerah supaya ke depan tidak cuma jago bikin laporan, tapi juga siap menghadapi bencana. UNICEF diminta karena di tenda-tenda pengungsian itu bukan cuma ada orang dewasa, tapi anak-anak yang sekolahnya hanyut, gizinya terancam, dan masa depannya ikut basah. Ini bukan drama, ini fakta lapangan.

Lalu muncul suara-suara sakti, “Eh, ini kan urusan luar negeri, harus lewat pusat.” Betul. Semua juga tahu. Bahkan Mualem pun tahu. Surat itu bukan bypass Presiden, bukan kudeta diplomatik, bukan juga Aceh mau buka kedutaan sendiri. Itu sinyal. Alarm. Teriakan dari daerah yang bilang, “Kami butuh bantuan besar, sekarang.” Mendagri bilang akan dipelajari, dan itu wajar. Tapi mempelajari bencana sambil korban bertambah tiap hari itu seperti membaca manual payung saat hujan sudah badai.

Lucunya, sebelum surat itu dikirim, Malaysia sudah datang dengan obat-obatan dan tim medis, Tiongkok sudah kirim tim SAR dengan seragam biru. Mereka datang bukan karena Aceh viral, tapi karena bencananya memang segede itu. Solidaritas internasional sudah jalan di lapangan, sementara sebagian elite masih sibuk memastikan stempel dan tanda tangan rapi.

Di tengah semua ini, Dewan Profesor Aceh menulis surat terbuka ke Presiden Prabowo. Isinya bukan basa-basi akademik, tapi tamparan moral. Ini sudah layak bencana nasional, jangan tunggu rakyat habis dulu baru statusnya naik kelas. Mereka mengingatkan tsunami, trauma, dan kewajiban negara melindungi rakyat. Ini bukan oposisi, ini jeritan orang-orang berpendidikan yang masih punya hati.

Presiden Prabowo sendiri sudah dua kali datang ke Aceh. Turun ke pengungsian, minta maaf soal listrik, duduk satu mobil dengan Mualem. Simbolnya jelas, pusat dan daerah sedang berusaha satu barisan. Tapi simbol tanpa percepatan itu seperti foto keluarga tanpa makan malam, hangat di gambar, lapar di perut.

Maka ketika Mualem menyurati UNDP dan UNICEF, itu bukan aksi cari panggung, bukan juga drama politik. Itu keputusan realistis dari pemimpin daerah yang melihat angka korban, mendengar tangisan pengungsi, dan sadar bahwa menunggu terlalu lama itu sama saja dengan membiarkan bencana bekerja lembur. Dalam situasi begini, keberanian bukan melanggar aturan, tapi berani mengatakan bahwa kapasitas nasional perlu ditopang solidaritas global.

Aceh tidak sedang mengemis, Aceh sedang menyelamatkan warganya. Kalau ada yang masih sibuk memperdebatkan prosedur sambil duduk nyaman di ruangan ber-AC, mungkin yang perlu disurati berikutnya bukan UNDP atau UNICEF, tapi nurani kolektif kita sendiri.(*)

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KTT G20 Bali Aman, Presiden Perancis Apresiasi Polri

    KTT G20 Bali Aman, Presiden Perancis Apresiasi Polri

    • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mendapatkan apresiasi dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Hal itu disampaikan Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Simak video blusukan ala Presiden Perancis Emmanuel Macron: https://youtu.be/k-NMmVyb09A Kapolri menjelaskan, Presiden Macron mengapresiasi pengamanan yang dilakukan Polri selama mengamankan seluruh event Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. Menurut […]

  • Pohon Sepe Jalan Nangka Tumbang Tindih Mobil, Warga Gotong Royong Pangkas

    Pohon Sepe Jalan Nangka Tumbang Tindih Mobil, Warga Gotong Royong Pangkas

    • calendar_month Sab, 3 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Hujan deras disertai angin kencang dampak dari siklon tropis, mengakibatkan sebuah Pohon Sepe (Flamboyan, red) berusia sekitar 30-an tahun di Jalan Nangka, RT 05 RW 02, Kelurahan Oeba, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); tumbang dan menghalangi arus lalu lintas pada Sabtu siang, 3 April 2021 […]

  • Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB)  Mengawal Kupang Menuju Kota Layak Anak

    Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) Mengawal Kupang Menuju Kota Layak Anak

    • calendar_month Sab, 7 Jul 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang-NTT, gardaindonesia.id – Jaringan Peduli Anak Bangsa (JPAB) bekerja secara nasional dan punya panduan nasional dan menjadi kontributor dengan mengajak para mitra dan stakeholder untuk berkontribusi kepada pemerintah agar terciptanya Kota Layak Anak (KLA). Program Gerakan Ramah Anak yang menyasar di 3 (tiga) pilar yakni Gereja, Sekolah dan LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial) /Panti Asuhan […]

  • Kecelakaan Mudik Lebaran 2022 Turun Dibandingkan Tahun 2021

    Kecelakaan Mudik Lebaran 2022 Turun Dibandingkan Tahun 2021

    • calendar_month Rab, 4 Mei 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Posko Operasi Ketupat tahun 2022 melaporkan bahwa terjadi 51 kecelakaan di Jalan Tol sepanjang musim arus mudik Lebaran 2022. Angka itu rekapitulasi mulai 23 April hingga 2 Mei 2022. “Sementara kecelakaan di jalan non-tol terjadi sebanyak 2.894 kejadian,” urai Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo, pada Selasa, 3 Mei 2022. Jika […]

  • Kasus Hubungan Sedarah di Lampung, Menteri PPPA Geram & Kutuk Keras

    Kasus Hubungan Sedarah di Lampung, Menteri PPPA Geram & Kutuk Keras

    • calendar_month Sel, 26 Feb 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kemen PPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) mengecam peristiwa dan pelaku perbuatan inses (hubungan sedarah) yang dilakukan ayah, kakak, dan adik kandung korban berinisal M (45), SA (24), dan YF (15) terhadap perempuan berinisial AG (18) di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise […]

  • ‘Update Covid-19 NTT’ Hingga 31 Maret 2020, ODP Capai 628 & PDP 6 Orang

    ‘Update Covid-19 NTT’ Hingga 31 Maret 2020, ODP Capai 628 & PDP 6 Orang

    • calendar_month Rab, 1 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT yang juga juru bicara Covid-19, Dr. Jelamu Ardu Marius, M.Si meng-update data terkini terkait penanganan Corono Virus Desease (Covid)-19 di Provinsi NTT. Hingga Selasa, 31 Maret 2020 pukul 21.00 WITA, Orang Dalam Pemantauan (ODP) tembus angka 628 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) […]

expand_less