Teropong Putra Lembata Terhadap Pembangunan Geotermal di Atadei
- account_circle Roni Banase
- calendar_month Ming, 8 Mar 2026
- visibility 243
- comment 0 komentar

![]()
Kupang | Saat ini, sistem kelistrikan Flores memiliki kapasitas terpasang 114 MW dengan beban puncak 99,14 MW. Namun, sekitar 85 persen bauran energinya masih didominasi fosil, dengan impor 108.600 ton batu bara dan 92,6 juta liter solar B35 per tahun. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperbesar kontribusi energi baru terbarukan.
PLTP menjadi solusi unggulan karena mampu menyediakan listrik stabil, tidak bergantung pada cuaca, serta memiliki emisi karbon rendah, sekitar ±75 gram CO₂e per kWh, jauh lebih kecil dibanding pembangkit berbasis fosil. Beberapa wilayah kerja panas bumi (WKP) yang tengah dikembangkan, antara lain Ulumbu di Manggarai, Atadei di Lembata, Oka Ile Ange di Flores Timur, serta Wae Sano di Manggarai Barat.
Selama lebih dari dua dekade, warga Lembata mendambakan agar potensi panas bumi di wilayah mereka dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan listrik yang andal dan mendorong kemajuan daerah. Harapan itu kini kian nyata seiring komitmen pemerintah dan PLN dalam mengembangkan energi bersih di Flores.
Respons positif datang dari Direktur CIRMA, John Mangu Ladjar. Sebagai anak asli Desa Nubahaeraka, yang saat ini menjadi salah satu lokus eksplorasi panas bumi Atadei, memandang pembangunan geotermal secara prinsip sebagai langkah yang positif.
Menurut John Ladjar, saat ini kita sedang berada dalam era transisi energi. Ketergantungan pada pembangkit berbasis fosil semakin tidak relevan, baik dari sisi keberlanjutan iklim maupun efisiensi jangka panjang. Energi panas bumi adalah salah satu sumber energi terbarukan yang lebih rendah emisi dan relatif stabil dibandingkan pembangkit berbasis batu bara maupun diesel.
Namun, pertanyaannya bukan sekadar apakah diperlukan atau tidak, melainkan bagaimana proyek ini dijalankan dan siapa yang benar-benar merasakan manfaatnya. Jika geotermal Atadei ingin menjadi simbol kemajuan Lembata, maka proyek ini harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah eksplorasi. Ia tidak boleh berdiri sebagai proyek energi semata, tetapi harus menjadi instrumen transformasi kesejahteraan lokal.
Ditekankan John Ladjar, ada beberapa prinsip penting yang perlu dijaga yakni
• Mitigasi risiko secara ketat dan transparan
Aktivitas eksplorasi dan eksploitasi panas bumi memiliki potensi risiko geologi, lingkungan, maupun sosial. Karena itu, kajian ilmiah yang komprehensif, mekanisme mitigasi yang jelas, serta komunikasi publik yang terbuka kepada masyarakat menjadi keharusan.
• Manfaat ekonomi lokal yang terukur
Masyarakat sekitar harus masuk dalam rantai nilai proyek—baik melalui peluang kerja, penguatan usaha lokal, maupun dukungan terhadap sektor pertanian, perkebunan dan peternakan sebagai sumber penghidupan utama.
• Skema pemberdayaan komunitas yang sistematis
Pembangunan energi harus berjalan paralel dengan penguatan kapasitas masyarakat. Pelatihan keterampilan, pengembangan kewirausahaan, penguatan kelembagaan ekonomi desa, serta akses pada layanan pendukung menjadi bagian penting agar masyarakat dapat keluar dari lingkaran kemiskinan secara berkelanjutan.
Sesuai konteks ini, CIRMA (Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri), dengan pengalaman mendampingi ribuan petani kecil di Timor Barat dalam penguatan kelembagaan, livelihood, dan ketahanan iklim, pada prinsipnya terbuka untuk bermitra dengan pemerintah maupun pengembang proyek guna memastikan bahwa pembangunan energi ini benar-benar menghadirkan keadilan sosial dan ekonomi bagi komunitas terdampak.
Bagi John Ladjar, geotermal Atadei adalah peluang. Ia diperlukan untuk masa depan energi Lembata. Tetapi keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh sejauh mana proyek ini inklusif, aman, transparan, dan berpihak pada masyarakat lokal.
“Energi terbarukan harus bukan hanya ramah iklim, tetapi juga ramah rakyat,” tekan John Ladjar pada Rabu, 4 Maret 2026.
- Penulis: Roni Banase











Saat ini belum ada komentar