Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Anak dan Perempuan » Anak dan Murid Hanya Hiasan dan Ladang Keuntungan

Anak dan Murid Hanya Hiasan dan Ladang Keuntungan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 9 Feb 2020
  • visibility 44
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Mochammad Sinung Restendy, M.Pd.I., M.Sos.

Konflik, pertengkaran ataupun pertikaian orang tua adalah satu dari sekian banyak tekanan psikologis bagi anak, yang sangat berpengaruh dalam proses tumbuh kembang anak.

Seringnya tidak ada perhatian pada kondisi psikologis anak yang kadang dilakukan sebagian orangtua, lingkungan ataupun sekolah dapat menimbulkan anggapan dan suasana negatif bahwa anak hanyalah penghias bagi biduk rumah tangga ataupun lingkungan luar seperti sekolah, seolah memiliki seorang anak hanyalah dihadirkan sebagai objek pelengkap di rumah tangga, atau sebagai murid hanya dianggap sebagai target jumlah yang harus dipenuhi oleh sekolah agar ‘bisnis tetap berjalan’.

Mari kita merenung sejenak untuk membicarakan harapan dan pendapat anak agar bisa didengar. Mari kita kesampingkan ego sebagai orang tua ataupun lembaga yang mengabaikan kepentingan anak, terlebih lagi jika mengeksploitasi anak, apalagi menganggap anak dijadikan lahan mengeruk uang.

Kasus yang kadang sering kita dengar di lingkup sekolah yaitu adanya pungutan liar, negosiasi biaya bahkan jual beli meja kelas menunjukkan anak hanya dilihat sebagai potensi mengeruk uang di mata sebagian sekolah, sedangkan di mata sebagian orang tua anak hanya sebagai penghias rumah tangga mereka, saat tetangga, saudara tahu bahwa anak mereka berada di sekolah favorit maka imbalan yang pantas adalah kerapkali pujian-pujian bagi orangtuanya.

Lagi-lagi psikologis anak tertekan dengan harus memantaskan diri sesuai yang diharapkan orang tua. Begitupun sekolah yang dibutakan untuk melengkapi sarana prasarana juga kompetisi gedung tertinggi antar sekolah sehingga menarik iuran terus menerus dan mengorbankan hak dan prestasi siswa dalam arti sesungguhnya – malah fokus terhadap pembangunan infrastruktur bukan terhadap pembangunan karakter anak-anaknya.

Sekolah juga harus berbenah, pernahkah meminta pendapat murid di mana harus meletakkan tempat bermain, kelas, laboratorium, masjid? Pernahkah diajak duduk bersama menyusun kebutuhan-kebutuhan mereka? Pernahkah diajak duduk bersama untuk memutuskan kebijakan sekolah?

Maka disinilah sekolah harus partisipatif, karena ukuran kesuksesan bukan banyaknya gedung tinggi ataupun ruang kelas tetapi kemampuan siswa yang berkembang tanpa adanya eksploitasi juga penerapan cara penguatan siswa yang salah dengan cara sogokan-sogokan harus dihapuskan. Agar orang tua paham dan benar-benar menerima anak dengan keunikan dan kemampuannya masing masing, bukan hanya memaksa anak terus menerus berhias diri padahal hatinya menangis demi membanggakan orangtuanya masing masing!

Anak perlu ditanyakan apa minat dan bakatnya dan dukung ia agar terus berkembang.

Anak yang dipandang sebagai ziinatun hayat (perhiasan dunia) ataupun qurrota ayun (penyejuk hati) selalu dalam catatan dimana anak tersebut harus mampu berperilaku solih (baik) bukan anak yang melakukan penyimpangan-penyimpangan akibat dari pola pendidikan yang salah, dan pola pendidikan dan pengasuhan yang salah inilah yang mengakibatkan jangka panjangnya bisa saja anak menjadi aduwwun (musuh) ataupun fitnatun (ujian), oleh karenanya perlu dididik dan diajari dengan benar.

Jika menilik dari konsep Watson yang melihat bahwa belajar mengharuskan interaksi dan respon secara natural dan aktif maka sebenarnya ada yang salah dalam pola pengasuhan dan pendidikan di sebagian keluarga juga sekolah di Indonesia. Belum ada upaya secara sadar dan sukarela dari mereka sendiri murid dan anak untuk mengembangkan kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang terjadi sebaliknya yaitu penekanan sebagian orangtua ataupun lembaga.

Memaksakan persepsi orangtua kepada anak jelas tidak bisa, karena simpel saja orang tua ataupun sekolah tidak akan pernah bisa memaksa anak untuk menjadi sesuai dengan kemauan mereka (walaupun tujuan sama tetapi perlu upaya bersama bukan memaksakan). Jadi iya, visi-misi sekolah ataupun di lingkup keluarga boleh sama tetapi penerapan strategi dan metodenya jelas harus berbeda (atau tidak sama rata) pada setiap anak, karena setiap anak memiliki keunikan masing masing (murid boleh berseragam tetapi jiwa dan karakter mereka beragam, jangan selalu disamakan).

Maka dengan diskusi dan membangun konsekuensi logis bersama secara otomotis mengajarkan anak dengan logika dan kedewasaan bukan hanya hukuman-hukuman dan sogokan-sogokan yang terkesan memaksakan! Dari upaya aktif diskusi dan membangun konsekuensi logis maka akan bertahap tertanam dari dini tanggung jawab dan kedisiplinan, dan itu butuh upaya sadar secara aktif partisipatif dari sekolah dan masyarakat sehingga anak dan murid benar-benar dianggap ada dan didengar pendapatnya.

Anak akan menjadi aduwwun (musuh ) dan fitnatun (ujian) jika dibesarkan dengan sogokan-sogokan, bullying, hukuman fisik dan psikis yang bisa menyebabkan trauma panjang dan akan merubah tingkah laku anak yang cenderung menabrak norma sosial kedepannya.

Anak itu melihat figur baik di rumah ataupun sekolah, yang akan dijadikan acuan dalam setiap tahap perkembangan dan pertumbuhan kehidupannya mulai dari pembiasaan, penanaman pengertian sampai kepada bisa bijak dan menjadi guru bagi dirinya sendiri. Jika yang menjadi role model baik personal atau kelembagaan bagus, maka akan membentuk karakter kuat dan juga bagus bagi anak dan murid, tetapi jika yang muncul adalah upaya eksploitasi demi nafsu, ego pribadi orangtua dan lembaga juga mafia-mafia pendidikan maka karakter anak dan murid yang terbentuk bisa berbahaya bagi kemajuan bangsa dan negara.

Dari itulah anak bisa menjadi hiasan saat berkembang di alam bebas mereka dengan membentuk jati diri yang mandiri dengan tetap ada arahan, partisipatif dan konsultatif positif dari lingkungan, lembaga dan keluarga sehingga bermanfaat dan jadi kebanggaan masyarakat yang secara garis lurus merupakan keuntungan tersendiri bagi diri, keluarga, masyarakat dan negara. Demi SDM unggul Indonesia! (*)

(*/Penulis merupakan Dosen dan Pengamat Komunikasi Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Editor: Derry Fahrizal Ulum Foto oleh Rony Banase

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • PAKAR Peduli Terhadap Masyarakat  Karangasem

    PAKAR Peduli Terhadap Masyarakat Karangasem

    • calendar_month Sel, 30 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Loading

    Bali, Garda Indonesia | Peduli dan empati kepada sesama menjadi bagian responsibility masyarakat secara luas, hal tersebut diwujudkan oleh Paguyuban Karangasem (PAKAR) Se-Jababodetabek sebagai organisasi sosial yang bergerak dalam bidang Sosial, Kemanusiaan, dan Keagamaan. PAKAR hadir ditengah masyarakat untuk dapat memberikan kontribusi bantuan secara langsung kepada Nyoman Pudak yang telah berumur 71 Tahun Desa Baturinggit, […]

  • Aksi Sosial ‘Adventure Trail’ Tapal Batas, Bupati Belu Minta Patuhi Prokes

    Aksi Sosial ‘Adventure Trail’ Tapal Batas, Bupati Belu Minta Patuhi Prokes

    • calendar_month Sen, 28 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Bhayangkara pada 1 Juli 2021, Polres Belu bekerja sama dengan Belu Trail Club Atambua melakukan adventure ‘jelajah’ tapal batas dan penyaluran bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat. Kegiatan ini dilepas langsung oleh Bupati Belu, dr. Taolin Agustinus, Sp.PD-KGEH, FINASIM  didampingi Kapolres Belu, Dandim 1605/Belu, dan Danyon […]

  • Mei 2024, Bank NTT Bertransformasi Digital pada Layanan Rumah Sakit

    Mei 2024, Bank NTT Bertransformasi Digital pada Layanan Rumah Sakit

    • calendar_month Rab, 6 Mar 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | PT. Bank Pembangunan Daerah Nusa Tenggara Timur atau Bank NTT bakal bertransformasi melalui pemanfaatan ekosistem digital untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Direktur Kredit Bank NTT, Paulus Stefen Messakh usai perhelatan strategi dan implementasi program transformasi digital ekosistem kesehatan Provinsi NTT, di Labuan Bajo pada Selasa, 5 Maret 2024; […]

  • Kenaikan Kasus Omicron di Indonesia dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri

    Kenaikan Kasus Omicron di Indonesia dari Pelaku Perjalanan Luar Negeri

    • calendar_month Sel, 11 Jan 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Hingga saat ini, penyebaran kasus Covid-19 varian Omicron telah menyebar ke 150 negara di dunia, sebagian besar di antaranya menginfeksi berbagai negara maju hingga mencapai puncaknya dan lebih tinggi dari gelombang sebelumnya yaitu varian Delta. Di Indonesia, sebagian besar peningkatan kasus Covid-19 disebabkan oleh pelaku perjalanan luar negeri (PPLN). Demikian disampaikan […]

  • Gejolak di TVRI, Helmy Yahya & Seluruh Direksi Tetap Akan Laksanakan Tugas

    Gejolak di TVRI, Helmy Yahya & Seluruh Direksi Tetap Akan Laksanakan Tugas

    • calendar_month Jum, 6 Des 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 33
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia tengah dirundung konflik internal, hal tersebut mencuat dalam surat No. 1582 /1.1/TVRI/2019 tanggal 5 Desember 2019, yang diterbitkan pada hari yang sama pasca bergulirnya surat keputusan Dewan Pengawas No. 3 Tahun 2018 yang diantar kepada direksi melalui surat No. 241/ DEWAS/TVRI/2019 tangal 5 Desember 2019. […]

  • Anies Baswedan : SIKM Jadi Syarat Mutlak untuk Masuk Wilayah DKI Jakarta

    Anies Baswedan : SIKM Jadi Syarat Mutlak untuk Masuk Wilayah DKI Jakarta

    • calendar_month Sen, 25 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Nomor 47 Tahun 2020 tentang Surat Izin Keluar-Masuk (SIKM) sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki oleh warga untuk keluar atau masuk ke wilayah Jakarta. Adapun keputusan yang diatur melalui Pergub tersebut adalah untuk menekan angka kasus Covid-19 yang juga disesuaikan […]

expand_less