Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month 15 jam yang lalu
  • visibility 88
  • comment 0 komentar

Loading

Perbedaan sering dielu-elukan dalam slogan, tetapi ditolak dalam praktik sehari hari. Banyak orang dewasa berkata ingin anaknya toleran, namun tanpa sadar memperlihatkan sikap sinis terhadap yang berbeda. Anak menangkap kontradiksi itu jauh lebih cepat daripada nasihatnya.

Riset perkembangan sosial menunjukkan bahwa sikap terhadap perbedaan terbentuk sejak usia dini, bahkan sebelum anak mampu menjelaskannya dengan kata kata. Otak anak menyerap pola sikap dari lingkungan terdekat, bukan dari ceramah tentang toleransi yang terdengar indah tetapi kosong pengalaman.

Dalam kehidupan sehari hari, perbedaan hadir dalam bentuk sederhana. Teman yang logat bicaranya tidak sama, kebiasaan makan yang berbeda, atau cara berpikir yang tidak sejalan. Anak sering bertanya dengan jujur, kenapa dia begitu, dan jawaban orang dewasa pada momen ini menentukan arah berpikir anak ke depan.

Mengajarkan anak menghargai perbedaan bukan tentang memaksa mereka setuju dengan semua hal. Ini soal membantu anak memahami bahwa dunia tidak dibuat seragam untuk kenyamanan satu sudut pandang saja. Dari pemahaman ini, empati dan kedewasaan berpikir tumbuh secara alami.

1. Mulai dari contoh nyata, bukan definisi

Anak belajar lebih cepat dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar. Saat orang tua berbicara hormat tentang orang yang berbeda pendapat, anak menyerap pesan bahwa perbedaan tidak identik dengan ancaman.

Contoh sederhana muncul saat berdiskusi di rumah. Ketika pendapat anak tidak disetujui, respons tenang dan argumentatif menunjukkan bahwa tidak sepakat bukan berarti tidak menghargai. Dari sini anak belajar bahwa perbedaan bisa dikelola tanpa konflik.

2. Validasi rasa tidak nyaman tanpa membenarkannya

Perbedaan kadang membuat anak merasa aneh atau tidak nyaman. Mengabaikan perasaan ini justru membuat anak mencari pembenaran sendiri yang sering berujung prasangka.

Dengan mengakui rasa itu ada, orang dewasa membuka ruang dialog. Anak diajak memahami dari mana rasa tersebut muncul, lalu perlahan melihat situasi dari sudut pandang yang lebih luas. Proses ini jauh lebih efektif daripada langsung menuntut anak bersikap dewasa.

3. Gunakan cerita dan pengalaman sehari-hari

Cerita memiliki kekuatan membangun empati tanpa paksaan. Kisah tentang tokoh dengan latar berbeda membantu anak melihat dunia melalui mata orang lain.

Dalam keseharian, pengalaman kecil seperti bermain dengan teman yang kebiasaannya tidak sama bisa menjadi bahan obrolan reflektif. Diskusi semacam ini sering menjadi pintu masuk untuk pembahasan lebih dalam tentang logika sosial dan cara berpikir yang beragam, topik yang kerap diulas secara eksklusif dalam ruang pembelajaran berbasis refleksi kritis.

4. Ajarkan bedanya tidak setuju dan merendahkan

Banyak anak tumbuh dengan asumsi bahwa berbeda berarti salah. Padahal tidak setuju adalah bagian alami dari interaksi manusia.

Dengan menunjukkan cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan, anak belajar batas yang sehat dalam berpendapat. Mereka memahami bahwa argumen menyerang ide, bukan orangnya, sebuah keterampilan penting dalam kehidupan sosial jangka panjang.

5. Libatkan anak dalam lingkungan yang beragam

Paparan langsung jauh lebih kuat daripada teori. Berinteraksi dengan orang dari latar belakang berbeda membantu anak melihat bahwa stereotip sering tidak sesuai kenyataan.

Lingkungan beragam melatih fleksibilitas berpikir. Anak belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitasnya sendiri, sebuah keseimbangan yang menjadi ciri kedewasaan sosial.

6. Hindari label dan generalisasi

Ucapan sederhana yang menggeneralisasi kelompok tertentu bisa tertanam kuat di benak anak. Label semacam ini menyederhanakan realitas yang sebenarnya kompleks.

Dengan membiasakan bahasa yang lebih spesifik dan adil, anak belajar menilai individu berdasarkan tindakan, bukan identitas kelompok. Pola pikir ini membangun keadilan kognitif yang jarang terbentuk dari nasihat singkat.

7. Ajak anak merefleksikan pengalaman berbeda

Refleksi membantu anak mengolah pengalaman menjadi pemahaman. Setelah bertemu atau berinteraksi dengan yang berbeda, obrolan ringan tentang apa yang mereka rasakan dan pelajari memperdalam makna pengalaman tersebut.

Dari refleksi ini, anak mulai melihat perbedaan sebagai sumber belajar, bukan ancaman. Sikap ini menjadi bekal penting untuk hidup di masyarakat yang kompleks dan terus berubah. Menghargai perbedaan bukan keterampilan bawaan, melainkan kebiasaan berpikir yang dibentuk pelan-pelan.(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kisah Tenaga Medis Covid-19 : Butuh Satu Jam Tangani Satu Pasien

    Kisah Tenaga Medis Covid-19 : Butuh Satu Jam Tangani Satu Pasien

    • calendar_month Ming, 19 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Salah satu perawat Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Nurdiansyah menceritakan setidaknya perlu waktu satu jam untuk menangani pasien Covid-19 yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Rujukan. “Ketika kita sampai ruangan pasien, waktu yang dibutuhkan menangani pasien tergantung tindakan. Satu pasien bahkan bisa 1 jam. Misalnya ada pemeriksaan jantung atau […]

  • SPK Jadi Rebutan Foto Emak-emak di Alor

    SPK Jadi Rebutan Foto Emak-emak di Alor

    • calendar_month Rab, 18 Sep 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Loading

    Kalabahi | Calon gubernur NTT, Simon Petrus Kamlasi (SPK) tiba di bandara Mali Alor pada Rabu, 18 September 2024 pukul 14:20 WITA. Ribuan massa telah berkumpul untuk menjemput SPK untuk diarak keliling Kota Kalabahi. Sepanjang jalan SPK mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat Alor. SPK sempat singgah di Gereja Filadelfia Mali di mana SPK […]

  • IMO-Indonesia Kecam Kiriman Kepala Babi ke Kantor Tempo

    IMO-Indonesia Kecam Kiriman Kepala Babi ke Kantor Tempo

    • calendar_month Sab, 22 Mar 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Kepala Komunikasi Presiden, Hasbi Hasan saat diminta tanggapan oleh awak media tentang wartawati @tempodotco yang dikirimkan kepala babi, menjawab dengan banyolan.   Jakarta | Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO) Indonesia, Yakub F Ismail mengecam pihak yang mencoba meneror kerja pers dengan mengirim kepala babi ke kantor media Tempo. “Peristiwa tersebut adalah bentuk intimidasi dan […]

  • Wagub Josef Nae Soi Pinta PLN Terus Tingkatkan Rasio Elektrifikasi di NTT

    Wagub Josef Nae Soi Pinta PLN Terus Tingkatkan Rasio Elektrifikasi di NTT

    • calendar_month Sab, 14 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Wakil Gubernur NTT, Drs. Josef A. Nae Soi, MM mengharapkan agar PLN dapat terus meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT. Sebagai salah satu komponen penting dalam aksesibilitas pendidikan, keberadaan fasilitas listrik yang memadai tentunya akan dapat meningkatkan kemampuan belajar anak-anak NTT. “Walaupun tingkat literasi anak-anak (muda) NTT masih rendah, namun ada kabar […]

  • BNPB : Terdapat 177 Tsunami Besar & Kecil Sejak Tahun 1629—2018

    BNPB : Terdapat 177 Tsunami Besar & Kecil Sejak Tahun 1629—2018

    • calendar_month Rab, 26 Des 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis sejak tahun 1629—2018 terdapat 177 kejadian tsunami besar dan kecil dengan sebaran tsunami diawali di Maluku pada tahun 1629 disusul tahun 1648 di Pulau Timor; kemudian pada tahun 1674 tsunami di Ambon yang menelan korban sebanyak 2.243 orang meninggal, kejadian serupa juga terjadi di Banda. Kepala […]

  • Ngopi Bareng Pena Batas, Kasatreskrim Polres Belu Mohon Dukungan Media

    Ngopi Bareng Pena Batas, Kasatreskrim Polres Belu Mohon Dukungan Media

    • calendar_month Kam, 10 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Loading

    Belu, Garda Indonesia| Kasatreskrim Polres Belu, IPTU Djafar Alkatiri, S.H. ‘ngopi’ bareng para jurnalis yang tergabung dalam organisasi pers Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL di ruang gelar perkara Polres Belu pada Rabu sore, 9 November 2022. Momen obrolan santai dan penuh persaudaraan di awal masa jabatannya […]

expand_less