Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Biboki, Sebuah Kerajaan ‘Bufferzone’

Biboki, Sebuah Kerajaan ‘Bufferzone’

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 14 Jun 2021
  • visibility 295
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : RD. Mikhael Valens Boy, Fakultas Filsafat Unwira

Sebelum ketibaan bangsa Portugis di abad XV dan Belanda di abad XVII di Pulau Timor, sudah terdapat satu kerajaan tradisional di pusaran Pulau Timor berbernama Biboki.  Kata ‘Biboki’ terkomposisi dari dua kata, yaitu preposisi ‘Bi’ yang berarti ‘Di’, dan kata benda ‘Boki’ artinya ‘Penyangga’, ‘Penyeimbang’. Menurut Schulte Nordholt, Kerajaan Biboki adalah Kerajaan ‘Bufferzone’, yaitu Kerajaan Penyangga, Penyeimbang.

Ada beberapa alasan mengapa Kerajaan Biboki dikatakan demikian. Yang pertama, secara geografis tanah Biboki bersama dengan tanah Belu sungguh-sungguh terletak pada ‘pinggang’ dari Pulau Timor, yaitu di tengah-tengah Pulau Timor. Yang kedua, Kerajaan Biboki berada persis pada pusaran dari dua wilayah teritorial-kultural yang besar, yaitu Belu-Tetun dan TTU hingga Kupang, yang Dawan.

Ketiga, secara etnis masyarakat Biboki terkomposisi dari manusia yang berasal dari arah Matahari Terbit (Timur), yaitu ‘Mansa Saena’ (bahasa Dawan) atau ‘Loro Sae’ (bahasa Tetun), dan dari arah Matahari Terbenam (Barat), yaitu ‘Mansa Moufna’ (bahasa Dawan) atau ‘Loro Monu’ (bahasa Tetun).

Pada umumnya yang berasal dari Timur berbahasa Tetun, sedangkan yang berasal dari Barat berbahasa Dawan. Akan tetapi menurut beberapa suku di Biboki, mereka sesungguhnya berasal dari Timur, namun mereka berbahasa Dawan. Hal ini menunjukkan bahwa asimilasi dan pemfusian ‘Timur dan Barat’ secara etnis dan kultural di Biboki sudah berlangsung lama, sudah tua. Bahwa pemfusian dan asimilasi etnis dan kultural di Biboki sudah tua dapat dibuktikan pula dengan adanya kenyataan sekarang di mana sebagian besar masyarakat Biboki berbahasa Dawan dengan logatnya yang khas walau berasal dari Timur. Dan yang kedua, motif kain tenunan aslinya berwarna dasar ‘merah’ seperti yang ada pada masyarakat ‘Fialaran-Belu Utara’. ‘Merah’ adalah ‘motif matahari terbit’ – ‘Loro Sae’. Biasanya Biboki dikonotasikan dengan ‘merah, bakar menyala’.

Karakter ‘penyeimbang’ masyarakat tradisional Biboki juga tampak dalam sistem kekeluargaannya. Bila di Molo, Miomafo dan Amfoang (Sonbai) sistem kekeluargaannya menganut prinsip patrilineal murni, maka  Biboki dan juga Insana menganut sistem patrilineal tidak murni. Betapa pun ada belis, yaitu pembayaran mahar untuk memasukkan ibu dan anak-anak ke marga ayah, tetapi paling tidak seorang anak dikembalikan ke marga ibu sebagai ‘sekaf’, yaitu sebagai pengganti ibu. Di sini terjadi bahwa sistem kekeluargaan matrilineal di Malaka, ‘Liurai’, mempengaruhi sistem kekeluargaan patrilineal orang Biboki. Dalam sistem matrilineal Malaka, semua anak masuk ke marga ibu, namun seorang anak dikembalikan kepada ayah sebagai ‘matamusan’, sebagai pengganti ayah.

Keempat, secara sosial-politik Kerajaan Tradisional Biboki merupakan Kerajaan ‘Bufferzone’ (Kerajaan Penyangga atau Penyeimbang)  karena Kerajaan Biboki menyangga dan menjadi penyeimbang terhadap dua Kerajaan Besar, yaitu Kerajaan ‘Liurai’ di Timur dan Kerajaan ‘Sonbai’ di Barat. Sebelum kedatangan bangsa Portugis dan Belanda, Kerajaan Tradisional Biboki ‘berafiliasi’ dengan dua kekuasaan besar ini, yaitu ‘Liurai’ di Timur dan ‘Sonbai’ di Barat. Hal ini dibenarkan oleh didirikan dan adanya dua tugu besar di pusat Kerajaan tradisional Biboki, ‘Tamkesi’. ‘Tamkesi’ artinya ‘penuh dan sempurna’. Tiang tugu  yang di Timur dipersembahkan kepada ‘Liurai’ di Wehali-Waiwiku (Malaka) dan yang di Barat dipersembahkan kepada ‘Sonbai’ di ‘Oenam’, ‘Kono-Oematan’ (Molo-Miomafo).

Hakikat Masyarakat Adat Biboki

Masyarakat Adat Biboki adalah paguyuban sosio-kultural-politik dari ‘Klunin Bo’es, Ba’at Bo’es’, yaitu ‘Sepuluh Pokok, Sepuluh Akar’ dengan bermahkota ‘Loro Biboki’ sebagai raja atau pemimpin tertinggi.  Kesepuluh ‘Pokok dan Akar’ dari masyarakat tradisional Biboki itu adalah ‘Tnesi-Aluman, T’eba-Tautpah, Tahaf-Nafanu, Taitoh-Bukifan, Harneno-Manlea’ ini sesungguhnya merupakan paguyuban dari sepuluh raja ‘berdaulat’ yang masing-masingnya mempunyai komunitas sosial-politiknya, namun yang bekerja sama untuk membentuk dan membangun Kerajaan Biboki, yang disebut ‘Neno Biboki, Funan Biboki’ yaitu ‘Matahari Biboki, Bulan Biboki’.

Dari kesepuluh paguyuban raja ini, ada empat paguyuban yang telah lebih dahulu mendiami tanah Biboki, yaitu ‘Tahaf-Nafanu, Taitoh-Bukifan’. Betapa pun demikian, pengangkatan Loro Biboki tidak dari mereka. Loro Biboki biasanya diangkat dari empat serangkai ini, ‘Tnesi-Aluman, T’eba-Tautpah’. Dua serangkai, ‘Harneno-Manlea’ merupakan dua paguyuban terakhir yang mempersatukan diri dengan kedelapan paguyuban yang lain, dan mereka semua bersama-sama membina Kerajaan Tradisional Biboki.

Dalam membina Kerajaan Biboki, Klunin Boes, Baat Boes harus bekerja sama dengan ‘Bena Naek, Papa Naek’, yaitu ‘Berbahu Besar, Berluka Besar‘. Mereka adalah suku-suku bukan raja, yang mempunyai kewibawaan dan kekuatan yang besar dalam membangun dan menghidupi Kerajaan Biboki. Mereka dikenal sebagai ‘Amafa Naek’, yaitu ‘Bapa yang Besar’. Mereka secara tertentu dapat dibandingkan dengan Bapak-Bapak Bangsa dalam Kitab Suci, betapa pun Abraham, Ishak dan Yakub adalah Bapak-Bapak Bangsa dalam konteks keimanan akan Allah yang Esa.

Dalam konteks masyarakat adat Biboki, ‘Bena Naek, Papa Naek’ merupakan kekuatan-kekuatan kerakyatan yang besar. Ada empat ‘Bena Naek, Papa Naek’ di Biboki, yaitu ‘Pai-Sanaunu” di Timur dan ‘Bel-Sikone’ di Barat. Pasangan ‘Pai-Sanaunu’ dan ‘Bel-Sikone’ ini merupakan paguyupan-paguyuban kerakyatan yang besar dan kuat yang menjadi ‘pendukung utama dan kepercayaan’ dari Loro Biboki. Dari istilah ‘Bena Naek, Papa Naek’, yang secara harafiah berarti ‘berbahu besar, berluka besar’ dapat disimpulkan bahwa mereka menjadi ‘tangan kanan’ dari Loro Biboki karena jasa-jasa dan korban-korbannya bagi kehidupan Kerajaan Tradisional Biboki. Mereka biasanya menjadi ‘bride givers’ bagi kelompok raja-raja, khususnya bagi ‘Tnesi-Aluman, Teba-Tautpah’.

Pemimpin tertinggi dari Kerajaan Biboki atau dalam bahasa adatnya, ‘Neno Biboki, Funan Biboki’ adalah ‘Loro Biboki’ (bahasa Tetun), yang secara harafiah berarti ‘Matahari Biboki’, tetapi yang juga bermakna ‘Cahaya Biboki’.  Dalam bahasa Dawan ia disapa atau bergelar ‘Usi Koko’, yaitu ‘Raja yang Keramat’. Karena hakikatnya juga sebagai ‘Atupas’, yang secara harafiah berarti ‘Hanya Tidur – Tidak Bergerak’, yaitu ‘tidak boleh dikenai panas dan hujan’, maka dalam menjalankan pemerintahannya, Loro Biboki ‘didampingi’ oleh ‘komunitas eksekutif’ yang dikepalai oleh ‘Monemnasi Pah Tuan’, yang secara harafiah berarti ‘Laki-Laki Tua, Raja Bumi’. Kehadiran ‘Monemnasi Pah Tuan’ ini kadang ditafsir sebagai terjadinya ‘dualisme’ kepemimpinan tertinggi di Kerajaan Biboki. Tetapi, tidak!

Kaisar atau Loro Biboki tetaplah pemimpin tertinggi dari Kerajaan Biboki dalam masyarakat adat ‘Klunin Boes, Baat Bo’es’, dan ‘Monemnasi Pah Tuan’ adalah ‘Perdana Menteri’. Dalam konteks budaya Jawa ia dapat disamakan dengan seorang ‘Mangkubumi’. Loro Biboki sebagai ‘Atupas’ (Hanya Tidur), sesungguhnya menampilkan dimensi kesakralan dan ‘keimaman’ dari penguasa tertinggi Biboki ini. Dialah ‘Dewa’, yaitu ‘Usi Kok Leu’ (Raja yang sangat keramat). Dialah ‘Uis Neon Ana’ (Putra Langit) sebagaimana istilah ‘Maromak Oan’ (Anak Allah) untuk penguasa tertinggi Liurai, Wehali-Waiwiku di Malaka.

Kata ‘Atupas’ perlu dimengerti dalam maknanya yang lain, yaitu bukan ‘Hanya Tidur’, tetapi ‘Penidur’, – Yang menidurkan’. Artinya Loro Biboki adalah ‘pengayom dan kedaulatan’ dari seluruh masyarakat tradisional Biboki. Dialah ‘Bapa, Jiwa dan Roh’ dari masyarakat tradisional Biboki. Loro Biboki merupakan ‘personifikasi dan representasi’ dari seluruh kesatuan dan kedaulatan masyarakat ‘Klunin Bo’es, Ba’at Bo’es’ Biboki. Dialah “mikrokosmos” dari ‘kosmos Biboki’. Loro Biboki bisa ‘meminta hujan’, ‘mengusir tulah’ dan ‘menurunkan berkat’ bagi masyarakat tradisional Biboki.(*)

Foto utama oleh roni banase

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mendagri Hormati MK Sahkan Suket Jadi Syarat Coblos  Pemilu 2019

    Mendagri Hormati MK Sahkan Suket Jadi Syarat Coblos Pemilu 2019

    • calendar_month Jum, 29 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menghormati dan menyambut baik terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi terhadap UU Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum dengan Nomor Perkara 20/PUU-XVII/2019 yang mengesahkan Surat Keterangan (Suket) menjadi syarat mencoblos pada Pemilu Serentak Tahun 2019. “Kemendagri menghormati Putusan MK yang mengesahkan Surat […]

  • Doni Monardo Harap ITB Jadi Pelopor Perguruan Tinggi Tangguh Bencana

    Doni Monardo Harap ITB Jadi Pelopor Perguruan Tinggi Tangguh Bencana

    • calendar_month Ming, 3 Nov 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Loading

    Bandung, Garda Indonesia | Guna mendukung upaya-upaya pengurangan risiko bencana, Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana menghelat Forum Group Discussion (FGD) dan Launching Menuju ITB Perguruan Tinggi Tangguh Bencana di Gedung Rektorat ITB, Bandung, Jawa Barat pada Jumat, 1 November 2019. Selain bertujuan untuk membangun Kampus Tangguh Bencana dan Berkelanjutan, kegiatan FGD […]

  • Unwira Kupang Helat Pekan Ilmiah & Seni Mahasiswa Sedaratan Timor

    Unwira Kupang Helat Pekan Ilmiah & Seni Mahasiswa Sedaratan Timor

    • calendar_month Jum, 4 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang menghelat Pekan Ilmiah dan Seni Mahasiswa (PISMA) 4, yang resmi dibuka pada Kamis, 3 Oktober 2019 bertempat di Aula Informatika Unwira Kupang. Kegiatan yang mengangkat tema ‘Urgensitas Eksistensi Mahasiswa Milenial Dalam Menjaga Keutuhan Kebinekaan’, dibuka oleh Rektor Unwira, Pater Dr. Philipus Tule, SVD. Kegiatan PISMA […]

  • Tiga Tahun Program Kemitraan Wilayah di Poktan Kaifo Ingu, Ini Capaiannya

    Tiga Tahun Program Kemitraan Wilayah di Poktan Kaifo Ingu, Ini Capaiannya

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Program Kemitraan Wilayah (PKW) di Kelompok Kaifo Ingu dimulai pada tahun 2018 dan akan berakhir di Desember 2020, dengan sumber dana dari DIKTI dan PEMDA Kabupaten Kupang masing-masing sebesar Rp.300 juta dan Rp.600 juta. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/03/04/program-kemitraan-wilayah-wujudkan-agroeduwisata-di-kab-kupang/ Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan tema Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang merupakan […]

  • 39 Ribu Pekerja Migran Kembali ke Tanah Air Periode Januari—25 Juni 2020

    39 Ribu Pekerja Migran Kembali ke Tanah Air Periode Januari—25 Juni 2020

    • calendar_month Sen, 29 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Berdasarkan data SiskoTKLN yang terintegrasi dengan Simkim dari 1 Januari hingga 25 Juni 2020, jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke tanah air mencapai 39.005. Gugus Tugas Nasional menerapkan protokol kepulangan sehingga penularan Covid-19 dari imported case dapat diminimalkan. Menghadapi kepulangan para PMI, Gugus Tugas Nasional bekerja sama dengan Badan […]

  • Misa Rekoleksi di Lapas Atambua, Uskup Domi Saku Ajak WBP Jadi Manusia Baru

    Misa Rekoleksi di Lapas Atambua, Uskup Domi Saku Ajak WBP Jadi Manusia Baru

    • calendar_month Sel, 21 Des 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Loading

    Atambua, Garda Indonesia | Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Atambua, Edwar Hadi menyambut kunjungan Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku Pr. pada Selasa, 21 Desember 2021 pukul 09.00 WITA. Uskup Atambua didampingi Pastor Paroki St. Petrus Tukuneno bersama 2 orang Imam dari Pusat Pastoral keuskupan Atambua, menyambangi warga binaan pemasyarakatan (WBP) beragama […]

expand_less