Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Cerita Genre Musik Tradisional & Post Rock dalam Jelajah Nada Timor

Cerita Genre Musik Tradisional & Post Rock dalam Jelajah Nada Timor

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 6 Des 2022
  • visibility 85
  • comment 0 komentar

Loading

Tarwis Lifani Haning atau dikenal dengan nama panggungnya, SHAGAH, segera meluncurkan mini album terbarunya. Mini album terbarunya masih dalam proses produksi ini mempertemukan genre musik tradisional dari 5 (lima) kota/kabupaten di Nusa Tenggara Timur dengan genre musik post rock yang merupakan ciri khas SHAGAH. Mini album ini akan menjadi produk akhir dari proyek Jelajah Nada Timor yang dikerjakan SHAGAH bersama tim produksi.

Ide awal untuk menciptakan sebuah karya musik yang mengawinkan musik tradisional dan post rock atau ambience bukan baru tahun ini muncul dalam kepala SHAGAH. Menurut penuturannya, dia sudah pernah melakukan eksperimen ini dalam beberapa track di album keduanya yang berjudul Deru Nelangsa yaitu Tanah dan Gelombang dan Futun Bikase Mese.

Dalam proses produksi album keduanya, ia berkesempatan beberapa kali mengunjungi Desa Oeteta di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Dalam kunjungan-kunjungannya tersebut, ia mendengar beberapa anak di sana menyanyikan lagu-lagu daerah, ia juga berkenalan dengan seorang ba’i (bahasa Melayu Kupang untuk orang tua laki-laki, red) yang bisa menyampaikan tuturan adat. Nyanyian dan tutur adat ini kemudian ia rekam dan kawinkan dengan musik ambient untuk menghasilkan dua track di album kedua.

Baginya tutur adat, syair, atau musik tradisional menarik untuk dieksplorasi lebih jauh karena masing-masing daerah memiliki alat musik dan gaya bernyanyi yang berbeda. Dalam riset Jelajah Nada Timor, misalnya, ia menemukan bahwa orang Helong memiliki tradisi kamusang atau tradisi bertutur, dengan sedikit bentuk nyanyian dengan bahasa Helong yang dituturkan saat menyambut bayi yang baru lahir.

Ide awal yang dikembangkan dalam produksi album kedua kini memiliki kesempatan untuk dieksplorasi secara lebih serius melalui proyek Jelajah Nada Timor. Dalam pengerjaan mini album kali ini, SHAGAH secara teknis lebih mumpuni dibanding ketika ia mengerjakan album keduanya. Dengan alat rekaman dan produksi yang lebih berkualitas, jika di album kedua SHAGAH lebih banyak bermain dengan ambience, mini album kali ini akan lebih banyak mengeksplorasi post rock untuk dikawinkan dengan musik tradisional.

Dalam melakukan riset, SHAGAH menceritakan bahwa ia menemukan berbagai hal menarik mengenai musik tradisional. Menurutnya, dalam musik terkandung kekayaan intelektual dari nenek moyang kita yang berharga. Ia menemukan bahwa di Helong ada sebuah alat musik bernama klingu pola (dibaca: kliung pola), semacam trompet yang terbuat dari daun lontar.

Dalam kepercayaan orang Helong, diyakini bahwa pada waktu malam roh tanaman pergi dan menjelajah ke berbagai tempat. Pada subuh jam 4, roh tanaman harus dipanggil pulang dengan menggunakan klingu pola. Kepercayaan ini menunjukkan bahwa bagi orang Helong musik bukan sekadar hiburan (seperti yang menjadi fungsi utama musik di era budaya populer), tapi merupakan sarana untuk terhubung dengan ciptaan lain dan menjadi bagian dari spiritualisasi mereka.

Di samping berbagai hal menarik yang ditemukan dalam riset Jelajah Nada Timor, ternyata proses produksi musik untuk mengawinkan genre musik tradisional dan post rock bukan tanpa tantangan. Instrumen musik seperti gitar yang digunakan oleh SHAGAH merupakan instrumen yang tercipta dan berkembang dalam kebudayaan yang jauh dari Timor. Perbedaan seperti standar dalam tuning dan tempo tentu menjadi hal mendasar yang membedakan alat musik tradisional dengan alat musik lainnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadi tantangan ketika melakukan produksi musik. Apakah akan tetap mempertahankan tuning dari alat musik tradisional yang kemungkinan besar akan terdengar “fals” di telinga yang telah terbiasa dengan standar tuning pada umumnya atau kah mempertahankan ciri khas musik tradisional?

Post rock sebagai genre musik yang minimalis, tidak menggunakan banyak melodi progresif, memberikan kesempatan kepada musik tradisional dan juga syair atau tutur adat untuk menampakkan dirinya. Inilah yang kemudian membuat SHAGAH tertarik untuk mengawinkan kedua jenis genre musik ini.

Proyek Jelajah Nada Timor yang akan menghasilkan satu mini album ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi anak muda untuk menikmati musik tradisional atau kekayaan adat di Nusa Tenggara Timur dengan cara yang berbeda. Lewat musik, diharapkan timbul rasa ingin tahu yang semakin tinggi mengenai kekayaan budaya tradisional dan ada usaha-usaha yang lebih besar untuk mengarsipkan pengetahuan lokal menjadi kekayaan yang berharga untuk generasi masa sekarang.(*)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

    Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

    • calendar_month Ming, 11 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Loading

    Perbedaan sering dielu-elukan dalam slogan, tetapi ditolak dalam praktik sehari hari. Banyak orang dewasa berkata ingin anaknya toleran, namun tanpa sadar memperlihatkan sikap sinis terhadap yang berbeda. Anak menangkap kontradiksi itu jauh lebih cepat daripada nasihatnya. Riset perkembangan sosial menunjukkan bahwa sikap terhadap perbedaan terbentuk sejak usia dini, bahkan sebelum anak mampu menjelaskannya dengan kata […]

  • 8 Ribuan Orang Terdampak Erupsi Lewotobi Laki-laki di Flores Timur

    8 Ribuan Orang Terdampak Erupsi Lewotobi Laki-laki di Flores Timur

    • calendar_month Jum, 8 Nov 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Loading

    Pusdalops merekomendasi agar masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki dan pengunjung/wisatawan tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 7 Km dari pusat erupsi dan mengikuti arahan Pemda serta tidak mempercayai isu-isu yan tidak jelas sumbernya.   Larantuka | Pusdalops PB BPBD Provinsi NTT dalam laporan perkembangan atau update pasca-erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada Minggu malam, […]

  • Kapolsek Raimanuk: Laporan Perusakan Rumah Sudah Diterima SPKT Polres Belu

    Kapolsek Raimanuk: Laporan Perusakan Rumah Sudah Diterima SPKT Polres Belu

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Dugaan tindakan perusakan rumah oleh massa terhadap rumah milik Clara Balok dan Gabriel Manek (alm.) di Dusun Motamauk, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah dilaporkan korban ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Belu pada Senin, 2 Maret 2020. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2020/03/02/rumah-warga-desa-mandeu-di-belu-rusak-diserang-massa/ Berdasarkan hasil konfirmasi media […]

  • Bank NTT Dukung Petani Nagekeo Garap 30 Ribu Hektar Lahan TJPS

    Bank NTT Dukung Petani Nagekeo Garap 30 Ribu Hektar Lahan TJPS

    • calendar_month Rab, 13 Apr 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Nagekeo, Garda Indonesia | Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) pola kemitraan telah disepakati antara pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah daerah Nagekeo, dan Bank NTT; dengan pola di mana petani menyiapkan lahan, Pemda Nagekeo menyiapkan penyuluh pertanian lapangan (PPL), benih jagung disiapkan Pemprov NTT, dan Bank NTT mendukung pembiayaan dengan skema Kredit Mikro […]

  • Sejarah Hari Bahasa Ibu Internasional

    Sejarah Hari Bahasa Ibu Internasional

    • calendar_month Ming, 21 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Loading

    Hari Bahasa Ibu Internasional berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh. Resolusi bahasa internasional ini disarankan oleh Rafiqul Islam, seorang Bangli yang tinggal di Vancouver, Kanada. Ia menulis surat kepada Kofi Annan pada tanggal 9 Januari 1998, memintanya mengambil langkah untuk menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother […]

  • Bukankah Kita Butuh Tanah dan Perhatian?

    Bukankah Kita Butuh Tanah dan Perhatian?

    • calendar_month Sab, 23 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Lejap Yuliyant Angelomestius, S. Fil. Sore itu, Jona berkunjung ke gubukku. Ia adalah sahabat kecilku di Dili. Kami memang pernah hidup bersama sebagai tetangga sebelum akhirnya berpisah setelah kami sama-sama memutuskan integrasi ke Indonesia di tahun 1999. Kini, Ia dan keluarga tinggal di Lakmaras, sebuah desa kecil di bagian utara Kabupaten Belu, sedangkan aku […]

expand_less