Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Cerita Genre Musik Tradisional & Post Rock dalam Jelajah Nada Timor

Cerita Genre Musik Tradisional & Post Rock dalam Jelajah Nada Timor

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 6 Des 2022
  • visibility 89
  • comment 0 komentar

Loading

Tarwis Lifani Haning atau dikenal dengan nama panggungnya, SHAGAH, segera meluncurkan mini album terbarunya. Mini album terbarunya masih dalam proses produksi ini mempertemukan genre musik tradisional dari 5 (lima) kota/kabupaten di Nusa Tenggara Timur dengan genre musik post rock yang merupakan ciri khas SHAGAH. Mini album ini akan menjadi produk akhir dari proyek Jelajah Nada Timor yang dikerjakan SHAGAH bersama tim produksi.

Ide awal untuk menciptakan sebuah karya musik yang mengawinkan musik tradisional dan post rock atau ambience bukan baru tahun ini muncul dalam kepala SHAGAH. Menurut penuturannya, dia sudah pernah melakukan eksperimen ini dalam beberapa track di album keduanya yang berjudul Deru Nelangsa yaitu Tanah dan Gelombang dan Futun Bikase Mese.

Dalam proses produksi album keduanya, ia berkesempatan beberapa kali mengunjungi Desa Oeteta di Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Dalam kunjungan-kunjungannya tersebut, ia mendengar beberapa anak di sana menyanyikan lagu-lagu daerah, ia juga berkenalan dengan seorang ba’i (bahasa Melayu Kupang untuk orang tua laki-laki, red) yang bisa menyampaikan tuturan adat. Nyanyian dan tutur adat ini kemudian ia rekam dan kawinkan dengan musik ambient untuk menghasilkan dua track di album kedua.

Baginya tutur adat, syair, atau musik tradisional menarik untuk dieksplorasi lebih jauh karena masing-masing daerah memiliki alat musik dan gaya bernyanyi yang berbeda. Dalam riset Jelajah Nada Timor, misalnya, ia menemukan bahwa orang Helong memiliki tradisi kamusang atau tradisi bertutur, dengan sedikit bentuk nyanyian dengan bahasa Helong yang dituturkan saat menyambut bayi yang baru lahir.

Ide awal yang dikembangkan dalam produksi album kedua kini memiliki kesempatan untuk dieksplorasi secara lebih serius melalui proyek Jelajah Nada Timor. Dalam pengerjaan mini album kali ini, SHAGAH secara teknis lebih mumpuni dibanding ketika ia mengerjakan album keduanya. Dengan alat rekaman dan produksi yang lebih berkualitas, jika di album kedua SHAGAH lebih banyak bermain dengan ambience, mini album kali ini akan lebih banyak mengeksplorasi post rock untuk dikawinkan dengan musik tradisional.

Dalam melakukan riset, SHAGAH menceritakan bahwa ia menemukan berbagai hal menarik mengenai musik tradisional. Menurutnya, dalam musik terkandung kekayaan intelektual dari nenek moyang kita yang berharga. Ia menemukan bahwa di Helong ada sebuah alat musik bernama klingu pola (dibaca: kliung pola), semacam trompet yang terbuat dari daun lontar.

Dalam kepercayaan orang Helong, diyakini bahwa pada waktu malam roh tanaman pergi dan menjelajah ke berbagai tempat. Pada subuh jam 4, roh tanaman harus dipanggil pulang dengan menggunakan klingu pola. Kepercayaan ini menunjukkan bahwa bagi orang Helong musik bukan sekadar hiburan (seperti yang menjadi fungsi utama musik di era budaya populer), tapi merupakan sarana untuk terhubung dengan ciptaan lain dan menjadi bagian dari spiritualisasi mereka.

Di samping berbagai hal menarik yang ditemukan dalam riset Jelajah Nada Timor, ternyata proses produksi musik untuk mengawinkan genre musik tradisional dan post rock bukan tanpa tantangan. Instrumen musik seperti gitar yang digunakan oleh SHAGAH merupakan instrumen yang tercipta dan berkembang dalam kebudayaan yang jauh dari Timor. Perbedaan seperti standar dalam tuning dan tempo tentu menjadi hal mendasar yang membedakan alat musik tradisional dengan alat musik lainnya. Hal-hal seperti inilah yang menjadi tantangan ketika melakukan produksi musik. Apakah akan tetap mempertahankan tuning dari alat musik tradisional yang kemungkinan besar akan terdengar “fals” di telinga yang telah terbiasa dengan standar tuning pada umumnya atau kah mempertahankan ciri khas musik tradisional?

Post rock sebagai genre musik yang minimalis, tidak menggunakan banyak melodi progresif, memberikan kesempatan kepada musik tradisional dan juga syair atau tutur adat untuk menampakkan dirinya. Inilah yang kemudian membuat SHAGAH tertarik untuk mengawinkan kedua jenis genre musik ini.

Proyek Jelajah Nada Timor yang akan menghasilkan satu mini album ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi anak muda untuk menikmati musik tradisional atau kekayaan adat di Nusa Tenggara Timur dengan cara yang berbeda. Lewat musik, diharapkan timbul rasa ingin tahu yang semakin tinggi mengenai kekayaan budaya tradisional dan ada usaha-usaha yang lebih besar untuk mengarsipkan pengetahuan lokal menjadi kekayaan yang berharga untuk generasi masa sekarang.(*)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Purnatugas Pj Bupati Belu, Zaka Moruk Pamit Pulang ke Kupang

    Purnatugas Pj Bupati Belu, Zaka Moruk Pamit Pulang ke Kupang

    • calendar_month Rab, 28 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Masa tugas Zakarias Moruk, M.M. sebagai penjabat Bupati Belu sejak 27 Maret 2021 telah berakhir; ditandai dengan dilakukannya serah terima jabatan (Sertijab) kepada Bupati dr. Agustinus Taolin dan Wakil Bupati Aloysius Hale Serens di Ruang Rapat Paripurna Istimewa DPRD Belu, pada Selasa, 27 April 2021. Zaka Moruk atas nama pemerintah dan […]

  • 1 Tahun Pandemi di Indonesia, Momentum “Refocusing’ Kebijakan Dunia Usaha

    1 Tahun Pandemi di Indonesia, Momentum “Refocusing’ Kebijakan Dunia Usaha

    • calendar_month Sel, 2 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | 1 (satu) tahun lalu tepatnya pada Senin, 2 Maret 2020, Indonesia pertama kali mengonfirmasi kasus Covid-19. Saat itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit corona virus disease (Covid-19) yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Kemudian, pandemi pun menyebar ke berbagai provinsi di Indonesia, […]

  • Demi Ekonomi Masyarakat, Tokoh Adat Poco Leok Dukung PLTP Ulumbu

    Demi Ekonomi Masyarakat, Tokoh Adat Poco Leok Dukung PLTP Ulumbu

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Ruteng, Garda Indonesia | Kelompok tua adat masyarakat Gendang Rebak-Poco Leok, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) mendukung pengembangan PLTP Ulumbu demi memajukan perekonomian masyarakat setempat. Narsisius selaku anak dari “Tua Gendang” kampung Rebak, Desa Lungar, Kecamatan Satarmese, merasa yakin, bahwa dengan pengembangan PLTP Ulumbu di wilayah Poco Leok, putra daerah khususnya asal Poco Leok bisa […]

  • HANI 2021, Menuju Kabupaten Rote Ndao Bersih dari Narkoba

    HANI 2021, Menuju Kabupaten Rote Ndao Bersih dari Narkoba

    • calendar_month Sel, 29 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Rote Ndao-NTT, Garda Indonesia | Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2021 tingkat nasional dihelat pada Senin, 28 Juni 2021, sebagai puncak perayaan HANI 2021 oleh Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) mengusung tema “Perang Melawan Narkoba (War On Drugs) di Era Pandemi Covid 19 Menuju Indonesia Bersih Narkoba (Bersinar).” Perhelatan puncak HANI 2021 oleh […]

  • Dampak Covid-19, Tempat Hiburan Malam di Kota Kupang Ditutup Selama 14 Hari

    Dampak Covid-19, Tempat Hiburan Malam di Kota Kupang Ditutup Selama 14 Hari

    • calendar_month Sel, 24 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Sebagai upaya pencegahan Covid-19, Pemerintah Kota Kupang melakukan pemantauan di sejumlah tempat hiburan malam, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut atas instruksi presiden, imbauan Gubernur NTT dan Wali Kota Kupang untuk menutup sementara tempat hiburan malam selama 14 hari. Aksi tersebut dipimpin langsung Pj. Sekda Kota Kupang Ir. Elvianus […]

  • Kumham & Dekranasda NTT Diseminasi MPIG Tenun Tradisional Sumba Barat Daya

    Kumham & Dekranasda NTT Diseminasi MPIG Tenun Tradisional Sumba Barat Daya

    • calendar_month Rab, 13 Okt 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Loading

    Sumba Barat Daya, Garda Indonesia | Kolaborasi dan sinergi Dekranasda Provinsi NTT dan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kumham) melakukan diseminasi dan memberikan perlindungan terhadap kekayaan intelektual komunal (KIK) di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Kakanwil Kumham NTT, Marciana Dominika Jone mendukung penuh upaya pemerintah daerah dengan hadir sebagai narasumber dalam Sosialisasi Masyarakat Perlindungan […]

expand_less