Cerita Orang Tua dari Anak SD di NTT Tewas Bunuh Diri Gegara Tak Dibelikan Buku
- account_circle Penulis
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 219
- comment 0 komentar

![]()
Sehari-hari, selain bersekolah, Yohanes kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.
Ngada | Maria Goreti Te’a (47) ibu kandung dari YBR (11) menceritakan pagi terakhir sebelum tragedi itu, anaknya Yohanes (11) mengeluh pusing.
YBR juga tidak mau berangkat ke sekolah. Namun karena khawatir ia tertinggal pelajaran, sang ibu tetap memintanya masuk sekolah dan mengantar dengan ojek. Siang harinya, kabar duka itu datang, menghantam keluarga tanpa peringatan.
Sang ibu pun kaget mendengar kabar yang tak seharusnya datang.
“Saya kaget ada kabar, dari tetangga, saya pikir ada pergi sekolah,” ungkap Maria, saat dijumpai di rumah duka, Selasa, 3 Februari 2026.
Sehari-hari, selain bersekolah, Yohanes kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.
Dari pantauan lapangan dan keterangan warga, keluarga Yohanes hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga. Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas.
Ironisnya, keluarga ini juga tercatat luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik bantuan rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya. Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.
Sebelumnya, YBR (11) seorang siswa kelas IV SDN Rutowaja, Desa Nenawea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis siang, 29 Januari 2026.
Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah.
Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.
Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih. Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa).
Kertas Ti’i Mama Reti”
Mama galo Ze’e
Mama Molo, Galo Ja’o Mata, Mama Ma’e Rita ee Mama
Mamo Galo Ja’o Mata, Ma’e Woe Rita Ne Gae Nga’o ee
MOLO MAMA
Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu memiliki arti:
kertas untuk Mama Reti.
Mama terlalu kikir (pelit)
Mama baik sudah, kalau saya mati mama jangan menangis ee mama.
Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee. (*)
- Penulis: Penulis
- Sumber: Hary Riwo Buky











Saat ini belum ada komentar