Dirut Bank NTT: Festival Desa Binaan Topang Digitalisasi Bank NTT
- account_circle Penulis
- calendar_month Sab, 18 Jun 2022
- visibility 48
- comment 0 komentar

![]()
Kupang, Garda Indonesia | Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho mengatakan, Festival Desa Binaan yang diselenggarakan Bank NTT dimaksudkan untuk menopang digitalisasi Bank NTT.
Ketika tampil pada Special Dialogue Digitalisasi Bank untuk Mendukung UMKM Provinsi saat Live di Channel YouTube Berita Satu pada Kamis, 16 Juni 2022. Harry mengatakan, Festival Desa Binaan menjadi salah satu strategi Bank NTT menopang semakin tingginya penggunaan digitalisasi.
Festival Desa Binaan, kata Harry, meng-capture potensi usaha yang ada di daerah. Potensi usaha itu kemudian dilakukan pendampingan untuk capacity building-nya dan menggali visi usahanya kemudian menghubungkan dengan ekosistem yang dilakukan, hadir Kementerian Hukum dan HAM untuk membantu HAKI kemudian hadir BPOM untuk pengendalian mutu serta menyediakan off taker.
“Kita menciptakan pasar baik itu offline maupun e-commerce bahkan disediakan e-katalog,” tegas Harry.
Dengan digitalisasi, imbuh Harry, informasi produksinya pasar dan sistem pembayaran kemudian promosi ini yang dikembangkan dalam Festival Desa Binaan yang menciptakan kolaborasi dan ekosistem. Digitalisasinya UMKM binaan Bank NTT bukan hanya untuk menaikkan kapasitas usahanya tetapi juga ikut mendongkrak PAD melalui Festival Desa Binaan.
“Jadi semua potensi yang ada di NTT yang bisa dikembangkan yang nantinya berkontribusi bagi daerah didorong dalam ekosistem Festival Desa Binaan. Digitalisasi menjadi salah satu media untuk usaha dan kontribusi bisa terakomodir dengan baik,” katanya.
Menurutnya, peserta Festival Desa Binaan semuanya sudah familier dengan penggunaan digitalisasi. Dilihat dari fee base yang terukur baik untuk mobile banking karena ada transaksi yang meningkat cukup signifikan dan tren menunjukkan pertumbuhan hampir mencapai 30 persen.
“Kita melihat prospek yang sangat baik. Oleh karena itu dengan menggali model-model usaha yang baru akan dikembangkan sambil mendorong digitalisasi untuk memudahkan semua transaksional dan ekosistem yang ada bisa terkoneksi,” katanya.
Harry mengingatkan digitalisasi di dunia usaha sebenarnya sudah mengglobal. Indonesia juga sudah menerapkan sistem ini. Namun kondisi topografi khas NTT yang memiliki tantangan yang luar biasa.
Bank NTT menyiasati kondisi ini dengan terus menurus secara masif dan berkolaborasi dengan semua pihak untuk bekerja sama agar digitalisasi bisa dilakukan dan dirasakan efek positifnya oleh masyarakat terutama oleh para pelaku UMKM.
Ketika Covid-19 menjadi pandemi dan NTT dilanda badai seroja yang ikut menghantam ekonomi, fundamen ekonomi NTT bisa bangkit berkat kehadiran UMKM. Kolaborasi menjadi salah satu strategi terbangunnya satu ekosistem yang di dalam ekosistem itu digitalisasi bisa dilakukan inklusif dengan berbagai pihak termasuk dengan UMKM.(*)
Sumber (*/Humas Bank NTT)
- Penulis: Penulis











Saat ini belum ada komentar