Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Formasi Spiritualitas Iman Kristiani di Tengah Pandemi Covid-19

Formasi Spiritualitas Iman Kristiani di Tengah Pandemi Covid-19

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 9 Mar 2021
  • visibility 135
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Edmario Da Cunha, Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira-Kupang

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa setahun terakhir ini umat manusia disibukkan dengan wabah Corona Virus Disease  (Covid-19). Implikasi dari merebaknya Covid-19 turut menghadirkan fenomena-fenomena baru dalam interaksi sosial manusia. Realitasnya, kemana-mana orang harus mengenakan masker, menggunakan hand sanitizer, rajin mencuci tangan dan membatasi diri untuk berinteraksi dengan sesama. Lebih lanjut, banyak hal yang tampaknya berubah. Semisal, adanya “degradasi” etika di mana kebiasaan untuk berjabatan tangan diubah menjadi sekadar membungkukkan badan ketika bertemu, pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah dan kampus-kampus beralih menjadi pembelajaran berbasis daring, bahkan misa pun dilakukan secara online.

Covid-19 memaksakan satu dimensi hidup baru dan menjadi keharusan untuk diterima manusia secara global. Mengingat bahwa pandemi tidak hanya menambah jumlah orang sakit, tetapi juga dapat mengakibatkan kematian. Harus diakui pula, bahwa cara aman untuk tidak terpapar virus tersebut adalah dengan menaati protokol kesehatan yang telah diimbau oleh WHO (World Health Organization) dan juga pemerintah. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu adalah kunci bagi terputusnya rantai penyebaran Virus Corona. Karena itu, baik pemerintah maupun Gereja menerapkan kegiatan berbasis daring guna menyelamatkan banyak orang dari ancaman Covid-19.

Spiritualitas di Tengah Pandemi

Spiritualitas pertama-tama dapat dimaknai sebagai suatu daya atau semangat. Orang yang memiliki spiritualitas adalah orang yang hidup dengan bimbingan Roh atau hidup dalam Roh. Artinya, setiap orang yang hidup dalam Roh harus memiliki visi untuk mengarahkan hidupnya pada kebaikan dan segi sosial-politis. Di sisi lain, dengan memiliki spiritualitas, maka seseorang dapat mendemonstrasikan kehidupan yang berarti, bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi bagi orang lain dan lingkungannya.

Harus diakui bahwa spiritualitas seseorang adalah menyangkut hal rohani. Karenanya, penghayatan rohani seseorang harus terpancar melalui melalui sikap hidupnya terhadap Allah, lingkungan sosial, dan alam sekitarnya. Sikap seperti ini menjadi bukti bahwa seseorang memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama sebagai co-creator Allah.

Bagaimana spirit Iman Katolik dibentuk dalam situasi Covid-19? Dalam konteks pandemi sekarang ini, spiritualitas Iman Katolik hendaknya dimaknai secara realistis. Sederhananya, seseorang dapat mengambil sikap yang tidak merugikan diri sendiri, sesama dan lingkungan tempat ia berada. Spiritualitas Iman Katolik tidak hanya terbatas pada relasi vertikal personal dengan yang Ilahi, tetapi juga harus sampai pada bagaimana seseorang memaknainya dalam pola laku dan gaya hidupnya setiap hari sebagai tanggapan atas revelasi Allah. Secara lebih mengena, tanggung jawab itu setidaknya dapat ditunjukkan melalui kesadaran untuk menaati protokol kesehatan demi terputusnya mata rantai penyebaran Covid-19.

Spirit orang yang beriman kepada Allah mestinya ada sebagai tokoh kunci dalam mengusahakan kebaikan bersama. Konsistensi untuk tetap beriman di tengah pandemi menjadi suatu semangat untuk membuktikan essensi dari kemahakuasaan Allah. Dengan kata lain, spiritualitas Iman Katolik yang diwujud nyatakan ada sebagai bukti eksistensi Allah yang tidak dibatasi oleh pandemi.

Membangun Kekuatan Iman dari Rumah

Gereja melalui berbagai cara berupaya untuk menjaga keutuhan iman setiap anggota Gerejanya di tengah pandemi Covid-19. Adapun upaya Gereja menyata dalam menggunakan media komunikasi sosial sebagai sarana pewartaan. Di sana Gereja terus menyemangamati umatnya untuk tetap tangguh dalam iman.

Dalam situasi ini, sebagai anggota Gereja mestinya juga memiliki pola pikir yang berdaya inovatif. Gereja yang sedang berperan untuk menjaga stabilitas iman umat di tengah pandemi ini, mengharapkan kolaborasi dan respon balik  yang baik dari setiap anggota Gereja. Dengan mengikuti misa Live Streaming dari rumah, umat menyadari sebuah keutamaan akan kecintaannya pada Allah. Hal substansial yang diciptakan oleh situasi ini adalah adanya kerinduan mendalam akan perjumpaan dengan Yesus Kristus yang diimaninya dalam Ekaristi. Kesempatan ini dapat menjadi peluang yang baik untuk memupuk formasi spiritualitas iman di tengah pandemi Covid-19 dari rumah.

Kerinduan akan Yesus dalam Ekaristi hendaknya membawa kita untuk menyadari satu hal yang lebih utama di mana meningkatkan spiritualitas dalam keluarga. Covid-19 mengajari kita untuk membangun satu tatanan hidup rohani dalam rumah tangga (Ecclesia Domestica) sebagai bentuk formasi spiritual melalui; doa, baca Kitab Suci dan merenungkannya, hingga merenungkan kisah sengsara Yesus di masa prapaskah bersama-sama. Pewartaan melalui media sosial tidak lagi menjadi hal yang baru bagi Gereja, karena Gereja sudah menggunakan sarana ini jauh sebelum terjadi pandemi ini demi kelancaran pastoral Gereja ke seluruh dunia. hal ini juga telah ditegaskan oleh Konsili Vatikan II, dalam Dekrit tentang Upaya-Upaya Komunikasi Sosial Inter Mirifica, No. 1., yang menyatakan “penemuan-penemuan teknologi yang mengagumkan”.

Di sini juga mau ditegaskan bahwa, pewartaan dan eksistensi  Gereja tidak dapat dikurung oleh ruang dan waktu, juga Covid-19. Dengan situasi pandemi ini, menuntut suatu bentuk atau cara Gereja dalam menekankan dimensi kehadiran Allah yang hadir dalam diri umat dengan sebuah pemahaman yang datang dari umat sendiri. Melalui sarana komunikasi sosial Gereja hadir secara langsung bukan semata virtual saja namun Gereja memberikan dimensi kehadiran Allah yang mempunyai potensi penuh demi iman umat.

Salah satu upaya konkrit yang telah dilakukan oleh penulis sebagai anggota Gereja untuk membangun fondasi iman yang kuat dari rumah adalah dengan mengusahakan pemberdayaan Keluarga Kristiani. Pemberdayaan ini berupa wejangan dan nasihat-nasihat injili yang berdaya guna tidak hanya bagi diri mereka sendiri tetapi juga bagi orang lain di sekitar mereka. Dengan demikian, pemberdayaan ini bersifat kontinu. Artinya, apa yang telah mereka peroleh dalam wejangan dan nasihat-nasihat injili itu kemudian menjadi bekal bagi mereka untuk dibagikan kepada orang lain di sekitar mereka.(*)

Foto utama (*/koleksi pribadi)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • AICHR Jadikan NTT Daerah Percontohan Pemberantasan TPPO

    AICHR Jadikan NTT Daerah Percontohan Pemberantasan TPPO

    • calendar_month Kam, 11 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id– AICHR (ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights) adalah Komisi Hak Asasi Manusia Antar Pemerintah ASEAN yang dibentuk pada tahun 2009. Tiap negara ASEAN punya satu orang wakil yang bertugas mengembangkan program untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia di ASEAN. Para wakil itu berkumpul secara rutin untuk menegosiasikan bentuk-bentuk pemajuan dan perlindungan HAM yang […]

  • Rumah Sejuta Mimpi–Wadah Pecut Mimpi Anak Kurang Mampu & Putus Sekolah

    Rumah Sejuta Mimpi–Wadah Pecut Mimpi Anak Kurang Mampu & Putus Sekolah

    • calendar_month Sab, 18 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Loading

    Kab.Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Anak NTT takut bermimpi tinggi, karena takut bermimpi tinggi, mereka lebih memilih bermimpi untuk menjadi budak di Malaysia. Mereka keluar dari Sekolah Dasar (SD) langsung jalan karena tidak pernah didorong untuk bermimpi tinggi”, ujar Imaculata Bete, Pengelola Rumah Sejuta Mimpi yang berlokasi di Fatuboki Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang-Provinsi Nusa Tenggara Timur […]

  • 45 Kali Gempa Bumi Guncang Sumba Barat,Tidak Berpotensi Tsunami

    45 Kali Gempa Bumi Guncang Sumba Barat,Tidak Berpotensi Tsunami

    • calendar_month Rab, 23 Jan 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Sebanyak 45 kali guncangan gempa bumi melanda Pulau Sandalwood(Sumba), lebih tepat di Kabupaten Sumba Barat Sejak tanggal 22—23 Januari 2019 dengan 3 kali gempa bumi dengan intensitas guncangan keras yang diawali dengan gempa bumi M6,2 pada Senin,22/1/2019 pukul 06.59,21 WIB pada kedalaman 10 km dengan pusat gempa berada di laut 103 km […]

  • Jangan Jadi Beban Bapakmu ya Mas !

    Jangan Jadi Beban Bapakmu ya Mas !

    • calendar_month Jum, 11 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Rudi S Kamri Meskipun belum ada pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat maupun daerah, sudah hampir dapat dipastikan putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka akan menjadi Wali Kota Surakarta (Solo). Begitu pun sang menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution juga akan menjadi Wali Kota Medan. Hasil Quick Count Gibran telak memenangi kontestasi […]

  • TERPILIH AKLAMASI, Petrus Eryah Pimpin BEM FKIP Undana

    TERPILIH AKLAMASI, Petrus Eryah Pimpin BEM FKIP Undana

    • calendar_month Ming, 24 Mar 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 97
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Formatur badan legislatif mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (BLM FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) melakukan pemilihan ketua badan eksekutif mahasiswa (BEM) di lantai satu  kantor FKIP Undana Kupang pada Sabtu, 23 Maret 2024. Hasil dari pemilihan tersebut, Petrus Eryah mahasiswa semester lima (V) dari program studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan […]

  • Kinerja Bank NTT Tahun Buku 2019, Gapai Laba Rp.390 Miliar

    Kinerja Bank NTT Tahun Buku 2019, Gapai Laba Rp.390 Miliar

    • calendar_month Rab, 1 Jan 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kinerja Bank NTT Tahun Buku 2019 bertumbuh secara signifikan karena adanya dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten/Kota, sehingga diperoleh kepercayaan (trust) yang cukup tinggi dari pihak luar. Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi dalam sesi Konferensi Pers pada Selasa, 31 Desember 2019 […]

expand_less