Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Kematian Ternak Babi di Belu, Kadis Peternakan Pastikan Bukan Penyakit ASF

Kematian Ternak Babi di Belu, Kadis Peternakan Pastikan Bukan Penyakit ASF

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sab, 25 Jan 2020
  • visibility 120
  • comment 0 komentar

Loading

Belu- NTT, Garda Indonesia | Terkait kematian ternak babi yang sedang terjadi akhir- akhir ini di wilayah Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kepala dinas Peternakan, Umbu Niko memastikan bukan akibat dari adanya jangkitan virus African Swine Fever (ASF).

“Sampai saat ini, sesuai dengan hasil lab., sampel darah babi sakit yang kami kirim ke Denpasar- Bali sebagai otorisasi, hasilnya negatif. Artinya, kita belum ada (ASF,red),” ungkap Umbu Niko saat ditemui Garda Indonesia di Kantor Camat Tasifeto Barat, Kimbana pada Jumat, 24 Januari 2020 sore.

Walaupun jarak antara Timor Leste dan Indonesia (Belu, Atambua) hanya batas darat, lebih lanjut, Umbu mengaku besar kemungkinan bahwa 50% ke atas itu ternak babi di Belu akan terjangkit ASF, tetapi pihaknya sudah mengantisipasi sejak September 2019 lalu. “Kita dengar Timor Leste sudah kena. Maka, mulai dari Oktober 2019, bupati sudah keluarkan instruksi untuk melarang ternak babi yang masuk dari Timor Leste ke Belu. Juga, melarang hewan- hewan untuk keperluan adat dalam bentuk olahan yang dibawa dari Timor Leste ke Belu,” terangnya.

Umbu menguraikan, mulai dari Oktober sampai dengan saat ini, pihaknya tetap melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara terus- menerus di sekitar wilayah perbatasan RI- RDTL, di pasar- pasar, di gereja, dan di sekolah. “Kami sebarkan pamflet, kami sebarkan instruksi bupati terkait dengan ASF ini. Memang, ASF tidak menyerang manusia, tetapi ASF ini sangat ganas. Dalam tempo 4—5 hari babinya langsung mati. Ciri- cirinya: babi muntah darah, berak darah dan kejang- kejang dan langsung mati. Dan ini kalau satu sudah kena, maka itu sudah endemik (wabah,red). Dengan radius 1 kilometer, babinya harus dimusnahkan atau daerah itu harus diisolasi,” imbuhnya.

Jenis penyakit yang sekarang ada di Belu ini, menurut Umbu, ada dua jenis, yaitu Kolera dan Septicemia epizootica (SE). Sedangkan, yang biasanya mematikan itu kolera. Kolera ini yang penyebarannya cepat. Untuk daerah Belu ini sudah merupakan endemik. Karena itu, setiap tahun itu ada vaksin. “Kami ada Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan, red) di setiap kecamatan, otomatis setiap saat petugas kami ada di sana. Mereka ada di setiap kecamatan dan mereka ada bersama masyarakat. Kami harapkan sikap proaktif dari masyarakat. Kalau tidak dilaporkan, maka kami kesulitan untuk menjangkau karena petugas kami ini setiap kecamatan hanya empat orang. Saya sudah kasih tahu petugas untuk laporkan saat evaluasi bulanan,” tukasnya.

Kesulitan yang sering dihadapi oleh pihaknya, beber Umbu, masyarakat menunggu babinya sudah sekarat baru melaporkan ke petugas. Seharusnya, kondisi fisik babi itu dilaporkan setiap saat sehingga petugas turun rutin untuk kontrol.

Umbu pun menyarankan agar babi yang mati akibat kolera sebaiknya dikuburkan, tidak boleh dikonsumsi karena sudah mengandung virus dan bakteri.

Umbu menambahkan, setiap tahunnya dari pihak desa, melakukan pengadaan ternak babi dan sapi bagi masyarakat yang sumber dananya dari ADD. Kalau bisa bantuan itu diberikan kepala desa kepada mereka yang ternaknya mati.

Kepala dinas Peternakan Kabupaten Belu, Umbu Niko (Foto oleh Voxntt)

Umbu menjelaskan, bahwa terobosan yang kini sedang dilakukan dinas peternakan di bawah pimpinannya itu, setiap peternak harus siapkan pakan sebelum diberikan bantuan ternak. Selain itu, calon peternak diwajibkan untuk belajar terlebih dahulu dari kelompok lain baru akan dikasih kesempatan memelihara. Jadi, bantuan yang akan diberikan oleh dinas peternakan bukan untuk pemerataan tetapi bantuan hanya kepada mereka yang betul- betul mau, sehingga waktu ternaknya kami kasih, ternaknya bisa berkembang. Di situlah mulai ada peningkatan populasi ternak.

“Saya sudah sering sampaikan di peternakan, bantuan itu diberikan kepada masyarakat yang sudah siapkan pakan ternak. Kalau tidak, setelah diberikan mereka langsung jual. Kalau pemerataan nanti percuma karena dia tidak tahu piara sapi, tidak tahu piara babi. Satu dua bulan kemudian dia akan jual,” ulas mantan Kasat Pol PP itu.

Umbu pun sudah meminta semua kepala desa agar pengadaan sapi atau babi, ambil dari luar. Dan, itu harus ada SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan, red) dari dinas peternakan. Karena menurutnya, ada tim yang akan turun memeriksa. Untuk semua kabupaten di NTT sudah ada pergub (peraturan gubernur, red) bahwa setiap lalulintas ternak harus ada SKKH untuk pastikan hewan itu bebas dari penyakit.

Umbu mengutarakan, dari total 12 kecamatan yang tersebar di kabupaten Belu, kematian babi itu merata karena daerah ini Endemik Kolera. Dari dulu memang sudah ada penyakit itu. Kalau SE itu bakteri. Penyebarannya itu bisa lewat manusia, lewat binatang lain atau lewat daging olahan itu sendiri. “Laporannya memang sudah ada. Kami punya petugas di lapangan. Kami sudah sampaikan lewat sosialisasi dalam beberapa bulan ini. Apabila masyarakat melihat bahwa ternaknya sudah ada gejala sakit segera laporkan ke petugas kami di lapangan untuk kami ambil tindakan cepat. Segera laporkan ke poskeswan (Pos Kesehatan Hewan,red) di setiap kecamatan. Dan di situ ada kepala resor dengan dibantu oleh petugas- petugas lapangannya. Jangan kuatir,” tegasnya.

Soal pembiayaan, katanya, untuk sementara melalui vaksin dan obat- obatan itu pihaknyalah yang menyediakan. Walaupun ada sedikit untuk jasa kepada petugas, tetapi itu tidak besar. Biaya yang diberikan kepada petugas hanya sebatas pengganti biaya obat- obatan, tidak sampai Rp.50.000 (lima puluh ribu rupiah,red), tergantung jenis obat yang dipakai. “Saya sudah sampaikan ke petugas untuk tidak boleh memaksa. Kalaupun kurang ya, terima saja itu. Lalu, laporkan ke dinas. Kadang- kadang diberikan itu ya bukan diminta,” katanya lagi.

Untuk diketahui, Penyakit Septicemia epizootica (SE) atau ngorok adalah suatu penyakit infeksi akut atau menahun pada sapi dan kerbau. Sesuai dengan namanya, pada kerbau dalam stadium terminal akan menunjukkan gejala ngorok (mendengkur), di samping adanya bengkak busung pada daerah-daerah submandibula dan leher bagian bawah.

Sedangkan, Endemik adalah istilah yang banyak digunakan dalam bidang kesehatan. Jika suatu penyakit menyerang beberapa orang dalam suatu wilayah yang luas, maka hal ini dinamakan endemik. Pengertian endemik adalah wabah suatu penyakit yang terjadi pada satu daerah. (*/HH)

Penulis (*/HH)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga muslim Bali Pertanyakan Konsep Pariwisata Halal Sandiaga Uno

    Warga muslim Bali Pertanyakan Konsep Pariwisata Halal Sandiaga Uno

    • calendar_month Sel, 26 Feb 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Loading

    Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Ide calon wakil presiden dari pasangan 02 Sandiaga Uno untuk mengembangkan pariwisata halal di Bali tidak hanya memantik penolakan dari para pelaku pariwisata, tetapi juga dari Warga Muslim sendiri. Salah satunya adalah Mohammad. Bakkri, tokoh komunitas muslim yang bermukim di Canggu, Kuta Utara. “Gak masuk akal ide- nya Pak Sandi itu,” […]

  • Maballa dan Mahoro Nomor Urut 1 dalam Pilkada di Sabu Raijua

    Maballa dan Mahoro Nomor Urut 1 dalam Pilkada di Sabu Raijua

    • calendar_month Jum, 25 Sep 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Loading

    Sabu-NTT, Garda Indonesia | Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sabu Raijua telah melakukan penarikan nomor urut pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Sabu Raijua pada Kamis, 24 September 2020 dengan hasil paket Helama Tona Ie (Nikodemus Rihi Heke dan Johanis Uly Kale) mendapat nomor urut 1, Orient Riwu Kore dan Thobias Uly (Ie Rai) […]

  • Aksi Bank NTT Bantu Korban Banjir &Tanah Longsor di Desa Inerie Ngada

    Aksi Bank NTT Bantu Korban Banjir &Tanah Longsor di Desa Inerie Ngada

    • calendar_month Ming, 5 Sep 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Loading

    Bajawa, Garda Indonesia | Hujan lebat disertai angin pada Kamis malam, 3 September 2021 pukul 23.00 WITA mengakibatnya terjadi banjir di alur sungai kering dan tanah longsor di Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Dampak banjir tersebut berupa 5 (lima) rumah rusak berat, 3 (tiga) korban meninggal akibat hanyut oleh […]

  • JasNas Anti TPPO : Hukum Oknum Artis Pelaku Prostitusi Online Pakai UU TPPO

    JasNas Anti TPPO : Hukum Oknum Artis Pelaku Prostitusi Online Pakai UU TPPO

    • calendar_month Sel, 23 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Polda Metro Jaya pada tanggal 13 Maret 2021 melakukan operasi penggerebekan terhadap sebuah hotel yang terletak di Tangerang, diduga menjadi tempat aktivitas terjadinya perdagangan orang untuk tujuan prostitusi, diduga melibatkan artis berinisial CA yang merupakan pemilik hotel. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2021/03/20/saraswati-prostitusi-online-melibatkan-anak-harus-dihentikan/ Menyoroti persoalan di atas, Jaringan Nasional Anti TPPO (JarNas Anti […]

  • Wali Kota Kupang Pecat Jabatan ASN & Honorer Dinas Perhubungan

    Wali Kota Kupang Pecat Jabatan ASN & Honorer Dinas Perhubungan

    • calendar_month Sab, 19 Jan 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, gardaindonesia.id | Wali Kota Kupang mengambil tindakan tegas dengan melakukan pemecatan dari jabatan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Perhubungan Kota Kupang termasuk tenaga honorer (Jumat,18/1/2019). Tindakan tegas tersebut diambil Wali Kota Kupang sebagai akibat dari adanya indikasi korupsi uang negara berupa uang parkir “Semua ASN dipecat dari jabatannya termasuk honor diberhentikan”, ujar […]

  • Pilkada di Tengah Pandemi, Menko Mahfud: Jaga Situasi Tetap Kondusif

    Pilkada di Tengah Pandemi, Menko Mahfud: Jaga Situasi Tetap Kondusif

    • calendar_month Sen, 23 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menko Polhukam Mahfud MD meminta penyelenggara Pilkada Serentak, peserta pilkada, Pemerintah Daerah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga agar situasi tetap berlangsung kondusif hingga di tanggal pelaksanaan pada 9 Desember 2020. “Dua belas hari ke depan kita jangan sampai lengah, kita jaga betul agar situasi tetap kondusif. Masa tenang […]

expand_less