Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Komitmen PKB Merawat Pluralisme

Komitmen PKB Merawat Pluralisme

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 12 Mei 2021
  • visibility 97
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh Yucundianus Lepa

Menghadapi percaturan politik  Pilpres tahun 2024, sejumlah partai berbasis Islam mencoba meramu strategi untuk tampil sebagai kekuatan alternatif. Berawal dari pertemuan antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), pertemuan ini menarik masuk PKB ke dalam bayang-bayang koalisi. Ide ini juga direspons positif oleh Partai Bulan Bintang (PBB) dan Masyumi, walaupun dua partai politik yang disebutkan terakhir tidak memiliki kursi di parlemen.

Sebaliknya PKB dengan peroleharan suara 9,4 % pada Pemilu 2019, terlihat sangat antusias dan berusaha untuk menjadi pimpinan koalisi. Berbeda dengan PKB yang memberi respons positif, Partai Amanant Nasional justru menolaknya. Partai yang kelahirannya dekat dengan pemilih di kalangan Muhammadiyah ini memandang poros koalisi partai Islam tak sejalan dengan semangat rekonsiliasi nasional yang saat ini terus digaungkan pasca-polarisasi hebat yang terjadi pada Pemilu 2019.

PAN mengkhawatirkan hadirnya poros baru ini hanya akan memantik kembali isu SARA dan perpecahan di tengah masyarakat (Kompas, 4 Mei 2021).

Langkah Mundur

Sejarah mencatat bahwa partai politik dengan ideologi Islam pernah mencapai kejayaan pada Pemilihan Umum tahun 1955 yang direpresentasekan oleh Partai NU dan Masyumi. Dalam perjalanan selanjutnya, kesuksesan ini tidak cukup kuat bertahan. PPP sebagai hasil fusi dari partai-partai Islam tidak memperoleh dukungan yang signifikan dalam pemilu di era Orde Baru hingga era reformasi.

Hilangnya kegayutan partai politik berideologi Islam sudah terasa sejak 80-an ketika Nurcholis Madjid menggaungkan prinsip “Islam Yes Partai Islam No”. Ada kejenuhan masyarakat terhadap kecenderungan menggunakan agama sebagai instrumen politik. Suasana batin ini mempercepat pergeseran Islam sebagai ideologi menjadi Islam sebagai identitas.

Sejarawan Anhar Gonggong menyebut ideologi Partai Islam yang dipegang sejumlah partai politik saat ini telah bergeser. “Ada pergeseran. Islam tidak (lagi) menjadi idelogi tetapi hanya jadi identitas,” ujarnya dalam diskusi perspektif Indonesia, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Maret 2019.

Pergeseran ini tentu saja berakibat koalisi poros Partai Islam ibarat membangun rumah di atas pasir. Kekuatan politik yang dibangun tidak menjadi representase dari basis massa yang telah meninggalkan idelogi yang sama dan hanya sebagai identitas. Menjadi sebuah kemunduran, manakala pergeseran ini justru menggiring “Poros Partai Islam” kembali membangun politik identitas, sebuah praktik politik yang bertentangan secara diametral dengan demokrasi modern.

Patut diakui bahwa ada perbedaan yang signifikan dari partai-partai berbasis massa Islam dalam hal platform perjuangan dan orientasi nilai. PKB kelahirannya atas istikhoroh NU dalam menjaga pluralitas dalam bingkai NKRI. Spirit perjuangan yang menjadi  mental-kultur NU ini diadopsi menjadi platform perjuangan PKB dan terbukti menjadi daya tarik tersendiri dan berkontribusi secara politik untuk meraih dukungan.

Raihan yang mengejutkan dalam Pemilu 1999 tidak terlepas dari aspek ini. PKB sebagai wadah perjuangan NU dalam menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam ahlussunnah waljamaah, yang memiliki empat prinsip utama, yakni tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), ‘dan adalah (adil). Menjadi sebuah kemunduran besar jika platform perjuangan yang mengusung keterbukaan, pluralitas demi kemaslahatan umat secara menyeluruh ini diabaikan hanya untuk kepentingan politik sesaat.

Kesuksesan PKB dan sejumlah partai lainnya, dalam Pemilu 1999, memunculkan fenomena politik baru yakni personalisasi politik yang ikut menggeser keberadaan ideologi politik. Euforia reformasi yang memicu lahirnya sejumlah besar partai politik tidak dapat bertahan dalam panggung politik nasional. Apapun ideologinya, banyak partai politik tereliminasi karena tidak memiliki tokoh sentral yang menjadi personifikasi partai.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), adalah salah satu contoh dari kuatnya personalisasi politik. Sejak awal pendiriannya tahun 1998 PKB identik dengan tokoh Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur. Sebelum pendirian PKB, Gus Dur adalah sosok yang telah jamak dikenal publik sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), seorang tokoh pluralis yang disegani. Bermodalkan kekuatan basis massa NU dan ketokohan Gus Dur, partai ini berhasil melenggang dalam posisi empat besar dalam Pemilu 1999. Raihan ini juga menguatkan personalisasi politik dalam pemilihan umum.

Dalam konteks pilpres, personalisasi parpol telah menghadirkan pengaruhnya secara signifikan. Pengamat politik Amerika Serikat, David J Samuels, dalam tulisannya berjudul Presidentialized Parties: The Separation of Powers and Party Organization and Behavior (2002) mengungkapkan, personalisasi politik dalam pemilihan presiden kerap kali mendominasi pemilihan dalam sistem presidensialisme dibandingkan dengan pemilihan legislatif.

Dampaknya, sebagian partai lebih mengandalkan efek ekor jas atau coattail effect dari figur personal yang diusung dalam pilpres dibandingkan dengan identitas kolektif organisasi.. Dengan demikian, koalisi yang hanya mengusung identitas tidak memiliki daya tarik politik untuk tawaran kepada publik.

Konsistensi PKB

PKB sebagai partai politik sekaligus menjadi wadah perjuangan Kaum Nahdliyin,  sejak awal berdiri hingga sekarang mengusung identitas kepartaian yang inklusif melalui ideologi nasionalis-religius. Dengan identitas ini PKB berhasrat membumikan ruh politik “rahmatan lil alamin” yang memberi terang kepada kemaslahatan umat manusia tanpa membedakan suku, ras, agama dan golongan.

Karakter Mental Nasionalis membuka ruang bagi tumbuhnya pluralisme yang inklusif  sebaliknya religiusitas merujuk pada nilai-nilai universal yang menjadi spiritualitas keagamaan. Platform perjuangan PKB ini menjadi salah satu daya tarik dan berkontribusi secara signifikan dalam dukungan politik.

Dengan demikian, respons PKB untuk bergabung dalam Koalisi Poros Partai Islam adalah langkah yang gegabah dan sikap inkonsistensi PKB dalam merawat pluralitas dan inklusifitas. Sejumlah langkah DPP PKB dalam konteks kaderisasi dan restrukturisasi yang mengindikasikan sikap “tebang pilih”, penyeragaman, penyingkiran, semakin menguatkan kesan bahwa PKB mulai hilang kesetiaannya pada demokrasi politik yang inklusif.

Layak menjadi catatan bahwa dukungan PKB yang terus menguat di wilayah Timur Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari inklusifitas, pluralitas, dan konsistensi PKB dalam membumikan spiritualitas nasionalis-religius NU dan ketokohan Gus Dur sendiri yang diyakini sedang menjiwai praktik politik PKB kini dan seterusnya. Setiap kealpaaan politik yang mengabaikan eksistensi nasionalis-religius dengan pluralitas, berpotensi mencederai nurani pendukung setia PKB maupun masyarakat luas. (*)

Penulis merupakan Ketua Dewan Tanfidz DPW PKB NTT periode 2000—2021

Ketua Fraksi PKB DPRD NTT periode 2004—2009 dan 2014—2019

Foto utama (*/nu.or.id)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pilkada Mau Ditarik, Rakyat Mau Diparkir

    Pilkada Mau Ditarik, Rakyat Mau Diparkir

    • calendar_month Sel, 30 Des 2025
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 253
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Rosadi Jamani Tukang sablon, tukang jahit, pemasang baliho, digital printing, biro iklan, pengincar amplop, kumpul di sini sebentar. Soalnya, Prabowo and the geng, akan mengubah Pilkada tidak lagi secara langsung, melainkan cukup dipilih DPRD. Kalau ini gol, semua kalian akan gigit jari, tak ada order lagi macam dulu. Order itu diperuntukkan bagi wakil […]

  • BPKP RI Pastikan PLN NTT Junjung ‘Good Governance’ di Labuan Bajo

    BPKP RI Pastikan PLN NTT Junjung ‘Good Governance’ di Labuan Bajo

    • calendar_month Jum, 30 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Loading

    General Manager PLN UIW NTT, Fransiskus Eko Sulistyono, turut menegaskan bahwa pengawasan dari BPK RI merupakan bentuk konkret dari penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG).   Labuan Bajo | Komitmen PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (UIW NTT) melalui Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Flores untuk senantiasa mengedepankan akuntabilitas dan tata kelola perusahaan […]

  • 1.019 Sekolah di Kab Kupang Rawan Bencana Angin Puting Beliung & Banjir

    1.019 Sekolah di Kab Kupang Rawan Bencana Angin Puting Beliung & Banjir

    • calendar_month Rab, 27 Feb 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Loading

    Oelamasi, Garda Indonesia | Banyak sekolah di Kabupaten Kupang yang tidak memadai dan tidak aman bencana, menurut data dari Dinas Pendidikan Prov NTT terdapat 1.019 sekolah rawan bencana dan tersebar hampir di 24 kecamatan di Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Meski di Kabupaten Kupang telah terdapat 20 orang perempuan dan 15 orang laki-laki sebagai […]

  • “Kita Sesama Pendosa” Refleksi Atas Perikop Injil Yohanes 8:1—11

    “Kita Sesama Pendosa” Refleksi Atas Perikop Injil Yohanes 8:1—11

    • calendar_month Rab, 24 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Fernando Mau, Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Dalam perikop Injil Yohanes 8:1—11 ditampilkan sebuah kejadian yang menggugah kita untuk memberikan tafsiran dan tanggapan kritis atas realitas saat ini. Kalau kita membaca dan merenungkan teks Kitab Suci ini, maka kita dapat menyaksikan bagaimana seorang wanita yang melakukan perbuatan zinah dibawa ke hadapan Tuhan Yesus untuk dihakimi […]

  • Terima Komisi I DPRD Provinsi NTT, Bupati Belu Pastikan Lintas Batas Diperketat

    Terima Komisi I DPRD Provinsi NTT, Bupati Belu Pastikan Lintas Batas Diperketat

    • calendar_month Jum, 2 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Loading

    Belu–NTT, Garda Indonesia | Bupati Belu, dr. Taolin Agustinus, Sp.PD – KGEH., FINASIM., didampingi Wakil Bupati Belu, Drs. Aloysius Haleserens, M.M., menerima kunjungan kerja (Kunker) Komisi l Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (DPRD Prov. NTT) di ruang kerja Bupati Belu, pada Kamis, 1 Juli 2021. Bupati Belu, menyampaikan, penularan Covid–19 menjadi tren […]

  • Dirut Bank NTT, Ishak Rihi : “Kantor Bank NTT Sejumlah Pengguna Smartphone”

    Dirut Bank NTT, Ishak Rihi : “Kantor Bank NTT Sejumlah Pengguna Smartphone”

    • calendar_month Kam, 11 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Bank NTT sebagai Bank Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur terus berupaya menjadi lebih baik dalam pelayanan dan menjadi corong investasi dan motor penggerak ekonomi bagi masyarakat, pengusaha dan investor. Dalam coffee morning yang dihelat oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTT pada Selasa, 9 Juli 2019 […]

expand_less