Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Merawat Akal Sehat dalam Berdemokrasi

Merawat Akal Sehat dalam Berdemokrasi

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 6 Okt 2019
  • visibility 84
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh Muhammad Syukur Mandar, S.H., M.H.

Jakarta, Garda Indonesia | Indonesia adalah bangsa besar, bangsa yang merdeka dari kekuatan rakyat, direbut dengan tumpahan darah dan jiwa juang yang tinggi oleh para pahlawan di medan laga tanpa pamrih.

Kini usia bangsa tak lagi muda, meski segenap agenda kebangsaan yang tersirat dalam falsafah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, belum ditunaikan oleh para pemimpin bangsa.

Umpamanya, Pasal 33 UUD 1945, tujuan dan cita-cita bangsa yang nyata belum dicapainya. Padahal kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia adalah nawa cita pendiri bangsa. Seluruh jiwa dan raga pejuang ditumpahkan bukan sekadar merebut kemerdekaan, melainkan juga untuk mencapai kemakmuran sebagai sebuah bangsa.

Kini jiwa raga bangsa ini terus dilaga, terkoyak antara aksi kepalsuan atas cita- cita dan kesungguhan mengapai nawa cita. Para pemimpin bangsa dituntut bersikap kesatria. Menorehkan mata melihat jiwa rakyat yang terus & semakin merana.

Kemiskinan datang tak henti dan perlahan lahan merenggut satu persatu nyawa anak bangsa. Menghilangkan banyak harapan anak ibu pertiwi. Tapi tak ada getar getir demonstrasi mahasiswa yang meradang, begitu pula nasib pengungsi Wamena (akibat rusuh) dan pengungsi Maluku (akibat gempa) yang tak terurus dengan baik oleh mereka yang seharusnya mengurus.

Tapi juga tak ada suara riak nan lantang mahasiswa atas nama ketidakadilan. Banyak anak cucu Ibu Pertiwi menjerit oleh jepitan ketidakadilan, Mereka yang ditindas bencana nyaris tersiksa oleh duka dan lara di medan pengungsian.

Sementara pada sisi lain, para pejuang masa kini atas nama demokrasi angkat bicara soal narasi kebangsaan yang lantang atas sandiwara politik senayan. Demonstrasi sana sini sibuk digelar, berjatuhan korban anak cucu bangsa yang tak kuasa menahan air mata.

Lalu mengapa kita begitu cinta pada bangsa dan siapkan jiwa raga sebagai taruhannya?, oleh karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang dilahirkan oleh Ibu Pertiwi melalui perjuangan keras di medan laga.

Hari ini nyaris nyata benturan antara akal sehat dan kekerasan di depan mata, dalam narasi demonstrasi & perang akal sehat. Semua atas nama bangsa, semua atas nama negara, seolah berdiri pada tujuan yang sama, tetapi nyata pada posisi yang berbeda.

Siapa diantaranya Nakula dan siapa sebagai Sadewa?, tak mampu kita membedakannya. Kita seolah kehilangan petunjuk akan nawa cita leluhur (the founding fathers).

Presiden pun dibuat nyaris hilang nyali, mungkin tak biasa atau takut menjadi bara demonstrasi mahasiswa, Perpu dipandang perlu untuk direvisi, revisi seolah jawaban nyata bagi akal sehat berantas korupsi. Batalkan Perpu menjadi tuntutan sejumlah agenda yang disuarakan mahasiswa.

Roh negara besar (big country) hampir berubah dan terancam menjadi negara barbar (barbaric country). Negara barbar adalah Negara yang napas pemerintahannya ditentukan di jalanan oleh tekanan masa. Ini bukanlah anugerah melainkan sebagai insentif bencana masa datang buat negara dan anak cucu bangsa.

Tak ada yang salah bila rakyat bersuara, mengkritik yang dianggap keliru olehnya dan tidak sepatutnya, tapi tak juga harusnya pemerintah menjadi gampang meradang, dan tanpa narasi ikut tekanan massa.

PERPU adalah suatu produk yang luar biasa pentingnya pada suatu negara hukum. Perpu mahal harganya bila digadaikan, dengan harga sebuah demonstrasi. Demonstrasi adalah soal demokrasi dan Perpu adalah soal wibawa bernegara. Pada sisi ini kita seolah menjawab teka teki silang dan harus mengisinya, meskipun pada soal yang tak ada jawabnya.

Bukan soal setuju atau tidak, atau sekadar ada atau tidak adanya Perpu, tetapi Perpu harus dilahirkan atas kondisi darurat hukum dan sejenisnya pada sebuah bangsa dan negara. Tak harus menjadi pintu keluar dari tuntutan massa, Perpu harus menjelma sebagai suatu kekuatan istimewa sebuah produk hukum negara yang kehadirannya mampu menyelamatkan kondisi negara dalam darurat. itulah falsafah adanya sebuah Perpu sebaliknya perlu tak kita harapkan hadir menyelinap di tengah teriakan kerumunan massa.

Bahwa jika Perpu dikeluarkan karena desakan massa demonstrasi, maka tidak saja preseden buruk bagi kelangsungan hukum dan pemerintahan dalam kita bernegara. Cerita ini akan memiliki efek sosio politik dan menjadi tradisi baru bernegara dan akibatnya ke depan bangsa kita terbiasa menyelesaikan masalah bangsa dengan cara-cara jalanan. Kita akan hilang dari falsafah musyawarah mufakat yang mencirikan kita sebagai Negara Pancasila. (*)

Penulis (*/Praktisi Hukum dan Dosen Fakultas Hukum)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Usai Diperiksa Bareskrim Polri, Edy Mulyadi Jadi Tersangka

    Usai Diperiksa Bareskrim Polri, Edy Mulyadi Jadi Tersangka

    • calendar_month Sel, 1 Feb 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 86
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) resmi menetapkan eks calon legislatif (Caleg) Edy Mulyadi sebagai tersangka kasus dugaan penghinaan Ibu Kota Negara (IKN) Baru. Hal itu disampaikan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan. “Penyidik melakukan gelar perkara dan penyidik menetapkan status EM dari saksi menjadi tersangka,” tutur Ahmad di Mabes […]

  • Bareskrim Polri Tangkap Buron Kasus Penipuan 223 Miliar Rupiah

    Bareskrim Polri Tangkap Buron Kasus Penipuan 223 Miliar Rupiah

    • calendar_month Rab, 6 Okt 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 101
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) menangkap buronan kasus dugaan penipuan senilai Rp.233 miliar, Burhanuddin. Polri membenarkan penangkapan tersebut. “Ya betul,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono di Jakarta, pada Rabu 6 Oktober 2021. Tersangka kasus penipuan itu ditangkap penyidik Dit Tipidum Bareskrim pada Selasa 5 Oktober 2021 sekira pukul 21:00 […]

  • ‘Colorful East Nusa Tenggara’ Jadi Tema Malam Final Putri Indonesia 2020

    ‘Colorful East Nusa Tenggara’ Jadi Tema Malam Final Putri Indonesia 2020

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Penasehat Utama Yayasan Puteri Indonesia Putri Kis Wisnu Wardani mengatakan, melalui pemilihan Puteri Indonesia 2020 juga menjadi ajang promosi destinasi wisata di Indonesia. Khususnya wisata budaya karena Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. “Puteri Indonesia diharapkan berperan aktif menjadi jembatan bagaimana mengembangkan daerahnya nanti, terutama kaitannya dengan pariwisata Indonesia. Mereka […]

  • Mariano Parada Pimpin Pena Batas RI – RDTL Periode 2022—2024

    Mariano Parada Pimpin Pena Batas RI – RDTL Periode 2022—2024

    • calendar_month Sab, 19 Feb 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Loading

    Belu – NTT, Garda Indonesia | Mariano Parada didaulat (terpilih) sebagai Ketua Persatuan Jurnalis Perbatasan (Pena Batas) RI – RDTL Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2022—2024. Rapat pemilihan berlangsung secara demokratis, dan diikuti oleh 19 (sembilan belas) orang anggota Pena Batas di Nekafehan, Kecamatan Atambua Kota pada Jumat, 18 Februari 2022; dipimpin […]

  • Kamis/6 September; Gubernur & Wagub NTT Tiba di Kupang

    Kamis/6 September; Gubernur & Wagub NTT Tiba di Kupang

    • calendar_month Rab, 5 Sep 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id – Usai dilantik sebagai Gubernur & Wakil Gubernur NTT periode 2018-2023 oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Rabu/5 September 2018 pukul 10.00 Wib, Viktor Laiskodat dan Josef Nai Soi bertolak kembali ke Kota Kupang-Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis/6 September 2018. Informasi yang diperoleh gardaindonesia.id dari Kepala Biro Humas Setda NTT, […]

  • WBK/WBBM di Kemenkumham NTT, Ombudsman : Jangan Hanya Seremonial

    WBK/WBBM di Kemenkumham NTT, Ombudsman : Jangan Hanya Seremonial

    • calendar_month Sen, 8 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT,  Garda Indonesia | Mengawali tahun 2021, seluruh jajaran Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) di seluruh Indonesia mencanangkan zona integritas. Kemenkumham Provinsi NTT pun telah menyepakati untuk mencapai 18 target kinerja dengan melaksanakan Deklarasi Janji Kinerja dan Pencanangan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Untuk jajaran Kemenkumham […]

expand_less