Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Artikel » Nalar Diserahkan Hidup Ikut Diatur

Nalar Diserahkan Hidup Ikut Diatur

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 1 Feb 2026
  • visibility 297
  • comment 0 komentar

Loading

Di banyak tempat, orang menjalani hari dengan pola yang nyaris sama. Bangun, bekerja, memenuhi kewajiban, lalu mengulanginya esok hari. Di sela-sela itu, muncul keluhan tentang aturan, sistem, atau orang-orang yang “berkuasa”. Anehnya, keluhan sering berhenti di sana. Jarang berlanjut menjadi pertanyaan yang lebih dalam: mengapa kita begitu mudah menerima, bahkan ketika merasa tidak sepakat?

Sebuah survei yang dirangkum dalam laporan OECD tentang literasi orang dewasa menunjukkan bahwa banyak pembaca berhenti membaca buku serius setelah usia sekolah, bukan karena tak mampu, tetapi karena merasa tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Buku-buku pemikiran dianggap berat, padahal di sanalah latihan bernalar dilakukan. Dalam bahasa sederhana, nalar jarang dipakai bukan karena rusak, melainkan karena jarang diajak bekerja. Inilah masalah utama yang sejak lama disoroti William Godwin: ketika akal sehat tidak dilatih, manusia cenderung menyerahkan hidupnya pada kebiasaan dan otoritas.

Pelan-pelan saja. Tidak ada tuntutan untuk menjadi berbeda secara drastis. Yang penting adalah memahami beberapa gagasan dasar yang bisa membantu menata ulang cara memandang diri dan dunia.

Menyadari hak bernalar

Godwin percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan bernalar yang setara. Masalahnya bukan pada kecerdasan, tetapi pada keberanian menggunakan nalar itu. Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa urusan besar adalah urusan mereka yang “lebih tahu”. Akibatnya, kebiasaan berpikir mandiri jarang dipakai, seperti otot yang lama tidak digerakkan.

Pada kehidupan sehari-hari, ini tampak sederhana. Ketika mendengar aturan baru di tempat kerja, banyak yang langsung patuh tanpa bertanya tujuan atau dampaknya. Bukan karena setuju, tetapi karena merasa bertanya hanya akan menambah masalah. Padahal, bertanya bukan tanda melawan, melainkan tanda memahami. Godwin melihat kesadaran diri dimulai saat seseorang berani mengakui: aku punya nalar, dan berhak menggunakannya.

Kesadaran ini sering datang dari momen kecil. Saat membaca berita dan merasa janggal, lalu mencari sumber lain. Saat berdiskusi dan menyadari bahwa pendapat sendiri berubah setelah mendengar argumen berbeda. Proses ini tidak nyaman, tetapi justru di sanalah kebebasan berpikir tumbuh. Kesadaran diri bukan tentang merasa paling benar, melainkan tentang tidak menyerahkan pikiran begitu saja.

Kebiasaan yang meninabobokan

Setelah kesadaran muncul, tantangan berikutnya adalah kebiasaan. Godwin mengingatkan bahwa kebiasaan sosial sering lebih kuat daripada paksaan. Orang bisa hidup bertahun-tahun dalam pola yang tidak disukai, hanya karena sudah terbiasa. Kebiasaan membuat sesuatu terasa normal, meski sebenarnya merugikan.

Contohnya ada di sekitar. Banyak orang terbiasa menyebut sesuatu “sudah aturan”, tanpa pernah tahu siapa yang membuat dan mengapa. Di rumah, anak jarang diajak berdiskusi karena dianggap belum pantas. Di kantor, ide segar disimpan karena takut dianggap aneh. Kebiasaan ini tidak lahir dari niat jahat, tetapi dari rasa aman semu.

Godwin melihat bahaya kebiasaan yang tidak disadari: ia mematikan refleksi. Ketika sesuatu dilakukan otomatis, nalar berhenti bekerja. Padahal kebebasan tidak pernah tumbuh dari otomatisasi hidup. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilatih sadar, seperti membiasakan membaca argumen berbeda, atau meluangkan sepuluh menit untuk berpikir ulang sebelum menyetujui sesuatu. Kebiasaan baru ini memang terasa canggung di awal, tetapi pelan-pelan menghidupkan kembali daya pikir.

Risiko menyerahkan pikiran

Jika kebiasaan patuh terus dipelihara, risikonya tidak langsung terasa, tetapi dalam jangka panjang sangat nyata. Godwin menilai bahwa menyerahkan pikiran kepada otoritas siapa pun bentuknya membuat manusia kehilangan tanggung jawab atas pilihannya sendiri. Ketika hasilnya buruk, yang disalahkan selalu pihak luar.

Pada kehidupan sehari-hari, ini terlihat saat orang berkata, “Saya cuma ikut perintah.” Kalimat ini terdengar netral, tetapi menyimpan bahaya. Ia memutus hubungan antara tindakan dan tanggung jawab moral. Seseorang bisa melakukan hal yang tidak ia yakini, hanya karena merasa tidak punya pilihan.

Risiko terbesar dari sikap ini adalah tumpulnya empati dan penilaian moral. Ketika nalar tidak digunakan, manusia mudah terbawa arus. Godwin khawatir bukan pada kekacauan, melainkan pada kepatuhan tanpa pikir. Masyarakat seperti ini tampak tertib, tetapi rapuh. Begitu aturan berubah atau otoritas keliru, sedikit yang mampu berdiri dengan penilaian sendiri.

Solusi melalui dialog dan nalar

Bagi Godwin, solusi tidak datang dari revolusi mendadak, melainkan dari dialog rasional yang terus-menerus. Ia percaya bahwa kebenaran lebih kuat jika lahir dari pertukaran gagasan, bukan dari paksaan. Ini terdengar sederhana, tetapi jarang dipraktikkan.

Di kehidupan nyata, dialog rasional bisa dimulai dari hal kecil. Diskusi keluarga tanpa nada menggurui. Rapat kerja yang memberi ruang berbeda pendapat tanpa sanksi sosial. Lingkungan belajar yang menghargai pertanyaan, bukan hanya jawaban cepat. Semua ini membangun kepercayaan pada nalar kolektif.

Godwin menekankan bahwa perubahan yang sehat tidak membutuhkan figur sempurna. Ia membutuhkan orang biasa yang mau berpikir jujur dan mendengarkan. Ketika dialog menjadi kebiasaan, otoritas tidak lagi berdiri di atas ketakutan, melainkan di atas persetujuan yang sadar. Inilah solusi yang tidak spektakuler, tetapi berakar kuat.

Konsistensi dalam mengelola pikiran

Kesadaran, kebiasaan, risiko, dan solusi akan sia-sia tanpa konsistensi. Godwin melihat kebebasan sebagai proses panjang, bukan tujuan instan. Menggunakan nalar sekali-dua kali tidak cukup. Ia harus dilatih seperti kebiasaan harian.

Konsistensi tampak dari pilihan kecil: tetap membaca meski lelah, tetap bertanya meski tidak populer, tetap berpikir meski hasilnya belum jelas. Seperti menyisihkan waktu lima belas menit sehari untuk refleksi, atau menunda keputusan impulsif dengan berpikir ulang. Tidak heroik, tetapi nyata.

Dengan konsistensi, seseorang tidak mudah goyah oleh tekanan sesaat. Ia tahu mengapa memilih, dan siap menanggung akibatnya. Inilah kebebasan versi Godwin: tenang, rasional, dan bertanggung jawab. Bukan bebas tanpa batas, melainkan bebas dalam mengelola diri.

Pada akhirnya, hidup tidak menunggu kondisi ideal untuk berubah. Ia bergerak ketika seseorang memutuskan menggunakan nalarnya, lalu menjaganya tetap hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Perubahan besar lahir dari pengelolaan kecil yang konsisten.

Jika selama ini banyak keputusan diambil tanpa benar-benar dipikirkan, pertanyaannya sederhana: kapan terakhir kali nalar diberi ruang untuk memimpin, bukan sekadar mengikuti? (*)

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mimpi Hanya Satu dan Paling Berat, VBL : Berapa Data Orang Miskin NTT?

    Mimpi Hanya Satu dan Paling Berat, VBL : Berapa Data Orang Miskin NTT?

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Kita punya masalah serius di sini, hobi melihat orang susah. Kalau dia lebih susah, maka mereka lebih senang lagi. Ini cara berpikir ciri khas orang miskin, selalu berpikir mundur dan tidak pernah berpikir maju. Saya melihat Nusa Tenggara Timur, harus mulai kita dorong cara berpikirnya agar mampu kekuatan dan sinergi menjadi […]

  • Listrik Padam Se-Daratan Timor, Ini Penjelasan GM PLN UIW NTT

    Listrik Padam Se-Daratan Timor, Ini Penjelasan GM PLN UIW NTT

    • calendar_month Sab, 18 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sistem Tenaga Listrik Pulau Timor kembali pulih, listrik kembali mengalir langsung ke rumah, gedung dan instalasi pelanggan setelah terjadinya pemadaman tidak terencana di sebagian wilayah Kota Kupang, Soe, hingga Atambua pada Sabtu, 18 April 2020  pukul 18.06—21.26 WITA. General Manager PLN UIW NTT Ignatius Rendroyoko menyampaikan, Sistem Timor sudah normal kembali […]

  • 21 Tahun Pejuang Eks Timor-Timur Ditelantarkan Pemerintah Indonesia

    21 Tahun Pejuang Eks Timor-Timur Ditelantarkan Pemerintah Indonesia

    • calendar_month Ming, 21 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Bertepatan dengan kunjungan kerja Menko Polhukam RI, Prof. Mahfud MD dan Mendagri, Prof. Tito Karnavian ke Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Kamis 18 Juni 2020; sejumlah perwakilan Eks Pejuang Timor- Timur menggelar Jumpa Pers di Atambua. Para eks pejuang integrasi yang tergabung dalam Paguyuban Pejuang Timor-Timur (PPTT) itu, diketuai […]

  • Pasca-Kerusuhan, Aktivitas Dua Bandara di Papua Barat Tetap Normal

    Pasca-Kerusuhan, Aktivitas Dua Bandara di Papua Barat Tetap Normal

    • calendar_month Sel, 20 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kementerian Perhubungan memastikan aktivitas dua bandara besar di Papua Barat tetap beraktivitas normal. Kedua bandara itu yakni Bandara Domine Eduard Osok Sorong dan bandara Rendani Manokwari. http://gardaindonesia.id/2019/08/19/rusuh-terjadi-di-manokwari-perusuh-membakar-sejumlah-fasilitas-umum/ Saat ini, Bandara Domine Eduard Osok Sorong tetap kondusif, Direktorat Jenderal Bandar Udara berkoordinasi Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah IX untuk melakukan pengawasan pasca-kerusuhan […]

  • Perpustakaan Digital Kemen PPPA bagi Kemajuan Literasi Perempuan & Anak

    Perpustakaan Digital Kemen PPPA bagi Kemajuan Literasi Perempuan & Anak

    • calendar_month Sel, 10 Des 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak meluncurkan Perpustakaan Digital bernama I-Perempuan & Anak, pada Senin 9 Desember 2019. Menurut Sekretaris Kementerian PPPA, Pribudiarta Nur Sitepu saat ini jumlah pembaca buku fisik merosot berbanding terbalik dengan banyaknya pengguna gawai di Indonesia. Hal ini mendorong Kemen PPPA melakukan terobosan dan inovasi untuk meningkatkan […]

  • Serpihan Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Jakarta-Pontianak Ditemukan

    Serpihan Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Jakarta-Pontianak Ditemukan

    • calendar_month Sab, 9 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Serpihan pesawat diduga Sriwijaya Air ditemukan di sekitar perairan Kepulauan Seribu. Diketahui, Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu siang, 9 Januari 2021. Dilansir dari merdeka.com, Petugas dan warga menemukan kabel dan serpihan diduga milik pesawat di perairan Pulau Laki Kepulauan Seribu pada Sabtu sore. Petugas gabungan dibantu sejumlah […]

expand_less